APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DIA

DIA

Masyarakat diguncang kepanikan hebat saat sebuah jasad bangkit kembali secara misterius. Fenomena mengerikan di luar nalar ini tidak hanya menyebarkan ketakutan nyata bagi siapa pun yang melihatnya, tetapi juga mulai menyingkap tabir rahasia kelam yang sekian lama tersimpan rapat. Di balik peristiwa mayat hidup yang menggemparkan tersebut, ada sebuah kebenaran terlarang yang siap membongkar segalanya dalam atmosfer misteri yang sangat menegangkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ranti hampir tak percaya ketika tahu Cahyo menghilang. Di antara semua temannya, dia adalah orang yang paling dekat dengan Cahyo. Mereka sudah kenal sejak sebelum mereka bekerja di situs kisah mistis online bernama Candradimuka itu. Mereka sudah pernah bersama menjadi wartawan di sebuah majalah remaja.

Ranti langsung keluar dari mobil, dia tidak memedulikan larangan teman-temannya. Angin dan air hujan langsung menyambutnya. Sekali lagi Ranti tidak peduli. Dia mendekati Bekti.

"Mas Bekti, kita harus mencari Cahyo! Aku tidak mungkin pulang dan memberitahu keluarga Cahyo bahwa Cahyo menghilang. Nanti kita bisa masuk penjara!" teriak Ranti, di tengah angin yang bertiup sangat kencang.

Bekti terlihat bingung. Ranti benar sekali. Keluarga Cahyo adalah keluarga bangsawan. Dan pastilah mereka akan dengan mudah memperkarakan Bekti dan 'Candradimuka' kalau Cahyo tidak segera ditemukan. Bekti mendesah, masalah ini rasanya begitu berat, tetapi akhirnya dia mengangguk juga.

"Kita tunggu hujan reda dulu, ya? Baru setelah itu kita mencari Cahyo," teriak Bekti.

Ranti mengangguk.

"Masuk dulu, Ran! Kamu duduk depan, ya?" teriak Bekti lagi, Ranti mengangguk. Dia berjalan menuju ke kursi samping bagian dengan mobil, tetapi sebelum membuka pintu mobil, Ranti melihat sesuatu. Seperti sekuntum kecil bunga Melati di samping ban. Ranti memungutnya dan segera memasukkan bunga itu ke dalam saku bajunya dan dia segera masuk ke dalam mobil lagi.

****

"Apa yang terjadi, Mas Bekti?" tanya Naira setelah Bekti masuk lagi ke dalam mobil. Naira begitu panik dan pucat. Dia begitu ketakutan setelah tahu Cahyo hilang, apalagi ketika melihat Bekti dan Ranti basah kuyup, Naira bertambah takut dan gugup.

"Kurasa kita harus lapor polisi, kan?" teriak Naira lagi.

Bekti mengangguk.

"Benar! Setelah semua mereda, kita harus segera menghubungi polisi dan warga sekitar sini," jawab Bekti dengan wajah yang juga ketakutan. Dia mengambil HPnya, dan membeliak ketika melihat HPnya basah kuyup dan tidak bisa dinyalakan. Wajahnya berubah sedih, kecewa dan sedikit marah.

"Ah! HPku mati! HPku rusak!" teriak Bekti frustasi, "tolong siapa saja hubungi polisi sekarang juga, beritahu mereka apa yang terjadi!"

Palupi mengangguk. Dia segera melaksanakan perintah Bekti dan menghubungi kenalannya yang bekerja sebagai polisi.

"Kita ada di mana ini, Mas?" tanya Palupi pada Bekti di tengah pembicaraan telponnya. Seperti orang yang ditelepon Palupi menanyakan posisi mereka sekarang. Bekti menelan ludah. Dia juga tidak tahu dia ada di mana.

"Bilang saja kita ada di tengah jalan di sepanjang hutan Lor Kalong. Aku tidak tahu tepatnya," jawab Bekti, dia memandang ke luar jendela.

Palupi mengulangi jawaban Bekti di HPnya dan kemudian Palupi mengucapkan terima kasih dan menutup telponnya. Mereka berpandangan dalam diam dan ketegangan.

"Kita harus menunggu?" tanya Naira. Palupi mengangguk.

"Ya. Temanku bilang akan menghubungi kepolisian Karang Wuni dan Arang Temu. Oh, tidak! Arang Temu kalau dalam bahasa Jawa berarti kan jarang ketemu, kan? Astaghfirullah! Apakah itu suatu pertanda?" desah Palupi. Mereka berpandangan lagi.

"Pertanda bahwa kemungkinan besar Cahyo tidak akan ketemu?" tanya Ayuni. Semua memandang Ayuni dengan marah. Ayuni pucat pasi.

"Astaghfirullah! Astaghfirullah! Aku ... aku tidak bermaksud apa-apa! Astaghfirullah! Maafkan aku!" seru Ayuni berulang-ulang. Semua hanya diam, dan tenggelam dalam ketegangan masing-masing. Mereka nampaknya menahan diri agar tidak terbawa emosi di saat genting seperti ini.

"Lain kali kalau bicara yang baik-baik saja," gumam Bekti tidak jelas. Tidak ada yang menanggapi. Semua diam. Kebanyakan memandang keluar jendela, melihat air hujan yang masih begitu lebat dan angin yang suaranya masih menderu-deru.

Mereka dikejutkan oleh bunyi HP. Mereka semua berpandangan.

"HP siapa?" tanya Palupi. Semua menggeleng, tetapi suaranya seperti dari depan. Semua orang pun memandang ke arah depan. Ke arah Bekti.

"Mas Bekti, itu kan bunyi ringtonenya Mas Bekti!" seru Ranti.

Bekti pucat pasi. Dia mengambil HP dari dashboard mobilnya dengan ragu dan gemetaran. Bukankah tadi HPnya mati, dan bahkan Ranti pun ikut mencoba menghidupkan HPnya?

Bekti melihat HPnya dengan penuh ketakutan. Dia beristighfar lirih. Dia menunjukkan HPnya pada semua temannya di dalam mobil itu.

"Yang menelpon Cahyo ...."

****

Fajri mengembuskan napas panjang. Aneh sekali! Kemarin dulu dia mendengar kisah tentang seorang lelaki yang sudah meninggal tetapi hidup lagi di Karang Wuni, dan sekarang dia mendapat laporan dari salah satu bawahannya bahwa ada kasus orang hilang di hutan Lor Kalong, tepatnya di jalan raya yang membelah hutan Lor Kalong itu dan kabarnya orang yang hilang itu adalah wartawan yang hendak meliput berita tentang orang yang hidup lagi setelah dikafani itu.

Oh, Fajri beristighfar. Pastilah Allah merencakan sesuatu dengan semua kebetulan ini.

****

"Namanya Syaiful. Dia baru tiga bulan di Arang Temu. Dulu dia guru di sebuah SMP swasta di kota, kemudian dia lolos tes pegawai negeri dan menjadi guru SD Inpres di Arang Temu. Orangnya baik, sehingga disukai murid-muridnya, dan sepertinya selalu sehat, Ustadz. Selama tiga bulan di Arang Temu, dia tidak pernah izin tidak masuk sekolah karena sakit," kata Pambudi, yang sengaja bertandang ke Rumah Tahfidz dan Rumah Ruqyah di Karang Wuni.

Dan Doni yang menerima Pambudi. Ustadz Purwa sedang mengikuti pertemuan para pemimpin rumah tahfidz di Tintrim. Beliau baru akan pulang besok dari Tintrim dan Doni yang bertanggung jawab menjadi pengganti Ustadz Purwa sementara beliau pergi.

"Lalu kenapa Pak Syaiful tiba-tiba meninggal, Pak?" tanya Doni.

Pambudi mengembuskan napas panjang. Wajahnya nampak sedih.

"Hari itu kami kerja bakti membersihkan sungai bersama-sama, Pak. Saya bersama dengan Pak Syaiful terus sepanjang hari itu. Menurut saya dia biasa saja. Tidak terlihat sakit atau tidak mengatakan kalau dia sakit. Bahkan dia masih sholat di musholla dengan saya juga. Sholat Maghrib dan sholat Isya. Dan tiba-tiba saja jam sepuluh ada pengumuman beliau meninggal. Saya nggak percaya, Ust ...." Pambudi terbawa emosi. Dia menangis terisak. Dia diam beberapa waktu untuk menghentikan tangisnya.

Doni membiarkan Pambudi menangis dan menyelesaikan semua emosinya. Pambudi mendongak.

"Malam itu saya langsung berlari ke rumah dinas tempat Pak Syaiful dan dua guru lainnya tinggal. Dan ... dan saya melihat Pak Syaiful memang sudah meninggal, Ust. Saya tidak menyangka!" seru Pambudi, dia terisak lagi. Kali ini suara isakannya begitu keras dan membuat tubuhnya terguncang.

Doni menepuk-menepuk bahu Pambudi.

"Istighfar, njih, Pak. Istighfar," bisik Doni. Pambudi beristighfar keras beberapa kali dan emosinya pun perlahan mereda.

"Astaghfirullah, saya sampai memeluk Pak Syaiful berkali-kali, Ustadz. Saya tidak yakin kalau Pak Syaiful sudah meninggal. Lalu ... lalu kami memandikan beliau dan mengkafaninya. Nah, pada saat itu saya melihat beberapa gerakan jari tangannya. Saya pikir saya berhalusinasi saja karena saya sedih. Tetapi akhirnya, ketika hampir menutup wajah Pak Syaiful dengan kafannya, Pak Syaiful batuk dengan keras, membuat kapas yang ada di hidungnya terlontar jauh. Kami semua ketakutan dan berlarian tak menentu, tetapi kemudian saya kembali lagi ke dalam rumah dinas dan melihat Pak Syaiful sudah duduk lagi," cerita Pambudi panjang lebar.

Doni menelan ludah. Dia menunggu kelanjutan cerita itu dengan sabar.

"Lalu Pak Syaiful memandang keheranan ke arah saya dan berkata : 'kalau memandikan jenazah itu jangan keras-keras, sakit!' Saya tidak bisa menjawab, saya hanya diam memandang Pak Syaiful antara bingung, heran, takut dan juga bahagia. Saya bahagia karena Pak Syaiful hidup kembali," kata Pambudi lagi. Air matanya masih berleleran di pipinya. Doni masih menepuk-menepuk bahu Pambudi, memberinya kekuatan.

"Astaghfirullah, jadi begitu ceritanya, ya, Pak? Luar biasa sekali. Apa dokter sempat memeriksa Pak Syaiful setelah beliau terbangun lagi?" tanya Doni.

Pambudi mengangguk.

"Kami langsung menghubungi pamong desa dan juga Dokter Farah yang bekerja di Puskesmas Arang Temu. Dokter Farah langsung menyarankan kami membawa Pak Syaiful ke rumah sakit besar di Karang Wuni dan malam itu juga kami membawa Pak Syaiful ke rumah sakit, dan hasilnya Pak Syaiful sehat, sangat sehat dan baik-baik saja. Tetapi ... tetapi sekarang timbul masalah baru, Ust. Itulah kenapa saya ke sini, Ust," kata Pambudi.

Doni menjengit, dia berdebar.

"Apa itu masalahnya, Pak?" tanya Doni.

"Pak Syaiful sekarang selalu pergi ke bukit di Lor Kalong dan menghabiskan waktu di sana sepanjang hari. Kalau saya tanya kenapa dia selalu ke bukit kecil di Lor Kalong, dia selalu menjawab : 'sebentar lagi ... sebentar lagi' ...."

****

HP Bekti berdering terus. Bekti memegang HPnya seperti memegang barang yang kotor, dia memegang HP itu dengan dua jarinya yang gemetaran.

"Kamu saja yang jawab, ya?" seru Bekti pada Ranti dan setengah melemparkan HPnya pada Ranti.

Ranti sangat terkejut ketika menerima HP Bekti yang bahkan masih basah. Ranti beristighfar dan akhirnya menerima panggilan itu. Ranti segera menghidupkan loud speaker pada panggilan itu dan insting wartawannya membuatnya langsung merekam panggilan itu.

"Halo?" sapa Ranti ragu.

"Hei, Ran! Kalian ke mana saja? Aku sudah sampai di rumah Syaiful!"

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta dan Ilmu Hitam
8.7
Pernikahan ini justru membawa perubahan aneh pada fisikku. Berat badanku melonjak drastis karena rasa lapar ekstrem yang membuatku makan lima kali sehari. Padahal, hasil pemeriksaan medis menyatakan tubuhku normal. Saat melakukan siaran langsung di internet untuk meminta bantuan, seorang warganet mengungkap kenyataan pahit. Suamiku diduga mengirim guna-guna yang menyiksa diriku sebagai istri sah, demi memberi keuntungan bagi selingkuhannya.
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali
9.8
Nindi hampir meregang nyawa akibat syok anafilaksis karena diabaikan oleh suaminya, Bram, yang lebih mementingkan Clara. Penderitaannya kian mendalam saat putra mereka, Leo, tewas tertabrak ketika berusaha mencari pertolongan. Ajaibnya, takdir membawa Nindi kembali ke masa lalu sebelum tragedi itu terjadi. Berbekal memori kelam tentang pengkhianatan suami dan kematian tragis anaknya, ia bertekad melindungi Leo sekaligus membalas dendam kepada semua pihak yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Kisah Cinta Di Negeri Gaib
7.9
Rencana Andrian melamar Afifa di Pulau Sempu bersama sahabat mereka berakhir tragis. Afifa, gadis indigo yang dapat menyentuh makhluk halus, terjebak di dimensi astral setelah memikat hati sosok gaib bernama Aqeel. Di tengah misteri dunia lain, Afifa berjuang keras untuk meloloskan diri. Di alam nyata, Andrian yang setia terus menanti kepulangan kekasihnya yang hilang secara misterius, serta dengan tegas menolak untuk menikahi wanita lain.
Sampul Novel Mantra pemanggil kuntilanak
7.8
Ara, seorang wanita mandiri berparas menawan yang tinggal jauh dari keluarga, kerap memikat hati banyak pria. Di balik daya tariknya, keseharian Ara selalu dilingkupi teror mistis yang mencekam. Ia bahkan menjalin hubungan unik hingga berteman dengan makhluk gaib. Namun, semua gangguan supranatural yang membayangi hidupnya mendadak sirna setelah ia resmi menikah. Kini, kehidupan Ara yang semula penuh misteri berubah drastis menjadi ketenangan yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Sampul Novel PELET DARAH HAID
9.3
Rencana pernikahan Clara hancur total setelah David, sang kekasih, mendadak berpaling pada sahabatnya sendiri. Namun, pengkhianatan pedih ini ternyata bukan kejadian biasa. Diam-diam, Rosa melakukan perbuatan keji dengan mendatangi dukun untuk memikat David lewat jalur hitam. Di balik rusaknya hubungan tersebut, ada rahasia kelam berupa praktik pelet darah haid yang mengerikan, yang sengaja digunakan Rosa demi merampas kebahagiaan Clara secara paksa.
Sampul Novel Suami Polisi Menjadi Gila Karena Kematianku
9.6
Setelah dipaksa masuk rehabilitasi oleh suaminya yang merupakan polisi narkotika, seorang wanita harus menghadapi kenyataan pahit. Suami dan putranya justru memilih tinggal bersama cinta lama sang suami. Ketakutan akan ancaman pembunuhan yang ia sampaikan diabaikan begitu saja, bahkan disumpahi agar mati di tempat sampah. Tragisnya, ancaman itu menjadi nyata seminggu kemudian saat tubuhnya ditemukan termutilasi di berbagai tempat pembuangan. Kini, sang suami bertugas mengusut kasus kematian tragis istrinya sendiri.