
Dia Kehilangan Segalanya
Bab 3
Sejak hari itu, aku dan Timo nyaris tak saling menghubungi.
Dia sibuk mengurus Selina setiap hari, hanya sesekali menanyakan kabarku di tengah malam.
Melihat aku tak pernah membalas pesannya, lama-lama dia pun makin jarang menghubungiku.
Hingga akhirnya, di usia kandungan tiga bulan.
Saat sedang kontrol kehamilan di rumah sakit, aku tanpa sengaja bertemu dengan adik perempuan Timo.
Grace menatapku dengan wajah penuh keterkejutan. Dia langsung merebut laporan hasil pemeriksaan di tanganku, lalu suaranya naik beberapa oktaf karena emosi.
“Nessi, berani-beraninya kamu mengkhianati kakakku? Hamil anak haram laki-laki lain pula?”
Aku langsung mengernyit, tak menyangka dia bisa berpikiran seperti itu.
Aku buru-buru menjelaskan,
“Ini anaknya kakakmu, aku nggak mengkhianatinya!”
Namun, Grace justru menatapku penuh rasa jijik dan tertawa sinis.
“Sudah ketahuan begini masih saja cari alasan? Nessi, aku benar-benar nggak menyangka kamu yang kelihatannya polos ternyata begitu murahan. Hamil anak haram segala!”
“Kamu pikir bisa menjebak kakakku dengan anak ini? Lalu masuk ke keluarga kami dan mengubah nasib jadi nyonya besar?”
Aku tahu Grace memang tak suka padaku, tapi aku tak pernah menyangka kebenciannya sampai segininya.
Suaranya sangat keras.
Tak butuh waktu lama, orang-orang mulai mengerumuni kami.
Berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
Aku menggigit bibir bawahku sampai terasa perih dan berdarah.
Bahkan bernapas pun terasa seperti menusuk, pedih sekali.
Beberapa kali aku mencoba berlari keluar dari rumah sakit, tapi selalu berhasil dicegat oleh Grace.
Akhirnya, aku hanya bisa berdiri di tempat, menatapnya dengan wajah malang dan dengan susah payah bertanya,
“Apa sebenarnya yang kamu mau? Sudah kubilang, ini anak kakakmu!”
“Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa langsung tanya ke dia!”
Grace hanya tertawa dingin dan menatapku sinis.
“Nessi, jangan pikir aku nggak tahu. Anak yang dikandung Kak Selina itu baru benar-benar anak kakakku. Hari ini kakakku juga sedang menemaninya periksa kandungan.”
“Kalau kamu memang mengandung anak kakakku, mana mungkin dia biarkan kamu datang sendiri ke rumah sakit?”
“Beraninya kamu selingkuh dan hamil anak haram, siap-siap saja dapat balasan dari keluargaku!”
Usai bicara, dia melambaikan tangan dan beberapa pengawal langsung muncul di belakangnya.
Aku mulai panik, buru-buru meraih ponsel ingin menelepon Timo.
Namun, detik berikutnya, sebuah tamparan sudah mendarat di pipiku.
Tamparan itu langsung meninggalkan jejak di wajahku dan ponselku juga jatuh ke lantai.
Dengan tatapan buas, Grace mencengkeram rambutku kasar, tatapan matanya tajam penuh kebencian.
“Sampai sekarang masih nggak menyerah? Masih berharap kakakku datang menyelamatkanmu? Nessi, kamu sudah bosan hidup?!”
Aku dipaksa masuk ke mobil Grace oleh para pengawalnya.
Tak butuh waktu lama, kami pun tiba di rumahnya.
Ternyata Timo dan Selina sedang berada di sana, mereka melihatku digiring masuk oleh para pengawal.
Rambutku berantakan, sudut bibirku berdarah dan bajuku lusuh serta kusut tak karuan.
Selina bersandar santai di sofa, wajahnya berseri-seri, menikmati suapan sup ayam dari Timo.
Sementara itu, Grace berdiri dengan kepala terangkat tinggi, tampak sangat puas dengan dirinya sendiri.
“Kak, si Nessi jalang ini selingkuh dan bahkan hamil anak haram.”
“Hari ini dia pergi periksa kandungan dan aku berhasil menangkap basah dia!”
Aku mendongak perlahan, bibirku pucat karena terlalu keras kugigit. Pipi kiriku membengkak, terlihat jelas jejak lima jari.
Aku menatap Timo, masih sempat berpikir dia akan menjelaskannya.
Namun, ternyata dia bahkan tak menoleh. Satu tatapan pun enggan diberikan padaku.
Dia berkata dengan dingin, “Kunci dia di loteng. Tanpa izinku, siapapun nggak boleh biarkan dia keluar!”
Anda Mungkin Juga Suka





