APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel DENDAM INDRIANA

DENDAM INDRIANA

Dunia Indriana hancur seketika setelah pernikahan mendadaknya dengan Andi. Tak hanya kehilangan ayah tercinta, ia juga harus menghadapi kenyataan pahit menjadi janda dalam semalam. Terungkapnya perselingkuhan dan pengkhianatan keji seketika memusnahkan kepercayaannya pada cinta. Kini, putri terpandang yang terluka ini bangkit dengan kemarahan membara. Ia bertekad membalas dendam pada semua orang yang telah merusak hidupnya. Sanggupkah ia melewati ujian berat ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku meraih koperku yang tergeletak di depan pintu kamar.

"Loh kok berat," gumamku.

Aku berjongkok hendak membuka koperku yang sepertinya ada sesuatu di dalamnya. Sehingga terasa berat saat aku akan membawanya ke dalam kamar.

"Bajuku? Apa-apaan ini? Siapa yang melakukan ini?" imbuhku dengan suara sedikit lantang.

Aku berjalan masuk ke dalam kamar. Aku membuka pintu lemari, dan aku kaget saat melihat lemariku sudah kosong.

"Mas Andi!" teriakku memanggil Mas Andi.

Mas Andi tidak terlihat disini, aku pun berniat memanggil yang lain.

"Bi Ratmi! Hana!" teriakku.

Tidak ada sahutan sama sekali dari mereka. Kemana sebenarnya mereka? Kemana Mas Andi? Ada apa ini?

Aku mengambil ponsel berniat menghubungi Mas Andi.

"Ih … Mas, kamu nakal."

Aku terbelalak, telingaku mendengar suara seorang perempuan yang sepertinya sedang bersama seorang laki-laki di kamar ujung lantai atas, yang terhalang satu kamar dari kamarku. Dan itu adalah kamar almarhum Ayahku.

Aku mengurungkan niatku untuk menghubungi Mas Andi.

Aku berjalan mengendap, berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Aku berdiri di depan pintu kamar itu. Aku mencoba menempelkan telingaku pada daun pintu.

"Mas,top mana? Aku atau si Indri, si perempuan naif itu?"

"Tentu saja kamu sayang, semalam aku hanya main-main saja. Tapi tetap, kamu yang paling top!"

 Refleks tanganku mengepal kuat. Aku menduga, suara lelaki itu adalah Andi. Tapi aku berharap aku salah dengar. Tidak mungkin Mas Andi tega melakukan ini terhadapku.

"Main-main kamu bilang? Tapi kamu suka kan?"

"Iya sih … kan sayang masih disegel!"

"Hahahah!"

Tawaan kedua manusia laknat menggema di ruangan kamar itu.

Aku berjalan mundur, kemudian mengambil meja bulat kecil di sudut ruangan atas.

Aku memindahkan vas bunga dari meja itu ke atas lantai.

Perlahan aku mengangkat meja itu, bermaksud ingin mendobrak pintu kamar itu. Aku yakin, kamar itu pasti dikunci dari dalam.

Dengan hitungan 1, 2, 3.

Brak!!!

Daun pintu terbuka lebar. Yang pertama aku lihat, adalah pemandangan yang membuatku tidak bisa berkata apa-apa.

"Mas Andi! Hana! Sedang apa kalian?"

Aku syok melihat suamiku bersama Hana, dalam keadaan tidak berbusana.

"Eh, sayang! Kamu sudah bangun?" sapa Mas Andi seraya tersenyum ke arahku.

"Ini ada apa sebenarnya? Ada skandal apa kalian berdua di belakangku? Hana! Kamu lancang sekali berduaan dengan suamiku. Dan kamu, Mas! Sedang apa kamu berduaan dengan Hana di kamar Ayahku?" berangku.

Tanpa ekspresi terkejut, tanpa takut, dan dengan wajah yang seolah tak berdoa. Mereka berdua hanya menatapku santai.

"Aku lagi melakukan sesuatu yang seperti kita lakukan semalam, sayang!" jawab Mas Andi.

Air mataku spontan terjatuh mendengar ucapan menjijikan dari mulut Mas Andi.

"Kurang ajar! Bajingan kau Andi. Kamu juga Hana! Apa maksud kamu melakukan hal ini dengan suamiku?" bentakku sambil menunjuk-nunjuk wajah menjijikan mereka berdua.

"Sayang, sepertinya kamu harus cepat memberikan pengertian deh sama calon mantan istri kamu itu," imbuh Hana.

Mataku membulat, mendengar ucapan Hana.

"Apa maksud kamu, Hana? Calon mantan istri? Coba jelasin sama aku, Mas!" pungkasku.

"Kami berdua sudah menjalin hubungan selama 1 tahun. Dan kamu, dengan sadar hari ini, jam ini, tahun ini dan bulan ini, aku menalak kamu. Jelas?" sahut Mas Andi.

Bagai disambar petir disiang bolong. Aku tak percaya dengan ucapan yang terlontar dari mulut Mas Andi.

Kemarin pagi Mas Andi menikahiku. Bahkan semalam kami berdua menghabiskan malam pertama dengan penuh gairah. Tapi sekarang, Mas Andi dengan teganya menalakku di depan Hana.

Aku tidak menyangka, pernikahanku hanya bertahan 1 hari. Dalam waktu sekejap, aku sudah menjadi janda.

Air mataku mengalir semakin deras, seiring suara sesenggukan dari mulutku.

Duniaku semakin runtuh, setelah kepergian Ayah dan menyaksikan pengkhianatan yang dilakukan Mas Andi dan Hana secara terang-terangan.

"Tidak tahu diri kamu, Hana. Sekarang, kamu keluar dari rumah saya. Kamu juga Mas, sekarang kamu juga angkat kaki dari rumah saya. Kalian telah lancang berbuat seperti itu di kamar Ayahku. Bajingan kalian berdua," bentakku mengusir mereka berdua.

"Hahaha … nggak salah tuh, kamu ngusir kami? Yang ada kamu yang mesti pergi dari rumah kami," imbuh Hana.

"Apa? Rumah kami? Jangan mimpi kamu Hana. Dasar anak pembantu yang tidak tahu diri. Ternyata selama ini Ayahku telah menolong seekor anjing terjepit," makiku terhadap Hana.

"Jelasin, sayang!" tukas Hana.

Mas Andi beranjak dari tempat tidur Ayahku. Terlebih dulu ia menggunakan celana yang tergeletak di sembarang tempat.

Mas Andi berjalan mendekati laci di kamar Ayahku.

Ia kemudian mengambil sebuah map dan menyerahkannya kepadaku.

"Baca!" titah Mas Andi.

Aku pun membaca isi surat yang di dalam map itu.

"Surat penyerahan semua harta kepada atas nama Andika. Rumah, kendaraan, semua lahan sawah dan perkebunan." Aku membaca detail isi surat itu.

Aku membekap mulutku sendiri, saat melihat ada tanda tanganku disana.

Aku teringat, dinihari tadi jam 03.00. Mas Andi membangunkanku hanya untuk meminta tanda tangan dengan alasan ingin mengajukan pinjaman uang ke bank. Ternyata Mas Andi telah menipuku. Menikahiku ternyata semata-mata karena silau dengan harta Ayah. Pantas saja, saat Ayah memintanya menikahiku, Mas Andi dengan cepat tanpa pikir panjang menyetujui permintaan Ayah. Ternyata ini alasannya. Dan masalah hubungannya dengan Hana? Seketika kepalaku terasa pusing memikirkan ini semua.

"Sudah mengerti, kan? Jadi hari ini kamu tidak berhak menempati rumahku," kata Mas Andi.

Tanganku kembali mengepal kuat. Ingin rasanya aku menghajar lelaki tidak tahu diri itu.

"Saya yakin, itu semua tidak sah!" ucapku penuh keyakinan.

"Tidak sah? Masa? Aku sudah mengurusnya di kantor notaris. Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau. Aku terlalu cerdik, dan kamu tidak tahu itu, Indriana!" sahut Mas Andi.

"Kurang ajar kau Andi. Ternyata kamu dan Hana tidak lain adalah penyakit. Penyakit yang mesti dibasmi dari muka bumi ini!" Aku melangkah dengan geram ke arah Mas Andi.

Plak!!!

Satu buah tamparan mendarat di pipi kiri Mas Andi.

Aku belum puas, aku pun berniat untuk kembali menampar lelaki bajingan itu.

"Apa? Mau menamparku lagi?" sanggah Mas Andi menahan tanganku.

Plak!!!

Mas Andi membalas menamparku, sehingga pipiku terasa sakit dan panas.

Kemudian Mas Andi menyeretku keluar dari kamar Ayah. Tidak sampai itu, aku masih diseret menuju keluar rumah.

Hana pun tidak tinggal diam. Ia menarik koperku dan melemparnya keluar.

"Pergi kau Indri, perempuan miskin," ucap Hana dengan nada mencemooh.

"Hana, kamu manusia tak tahu diri. Ternyata Ayahku salah besar sudah mau menampung mu di rumah ini.Tidak ingatkah kamu, saat Ayahku dengan baiknya menyekolahkan kamu. Ayahku yang mengangkat harkat derajat kamu dan ibumu. Dulu kalian sangat miskin, tapi Ayahku yang membuat kalian tidak kekurangan apapun, karena Ayah memberikan pekerjaan layak buat ibumu. Ingat itu baik-baik, Hana," bentakku.

Aku menatapnya nyalang.

"Ayahku … Ayahku … Ayahku. Iya memang, Ayahmu yang mengangkat keluargaku dari jurang kemiskinan. Tapi itu Ayahmu, bukan kamu! Dan kamu juga harus ingat, Ayah kamu sudah mati!" seloroh Hana.

Tanganku mengepal kuat. Ingin rasanya aku menampar mulutnya yang sangat lancang itu.

"Tunggu apa lagi? Sana pergi!" usir Hana.

Mas Andi tersenyum sambil merangkul Hana. Tak ada sedikitpun rasa kasihan terhadapku. Mereka tidak punya hati, dan mereka sangat pantas dijuluki sebagai sepasang benalu.

Aku mulai berdiri dan menyeret koperku keluar dari pekarangan rumah. Rumah yang menjadi saksi hidupku dari mulai aku dilahirkan dan dibesarkan sampai aku seperti sekarang ini.

Sepanjang jalan, tetangga-tetanggaku banyak yang melihatku dengan tatapan heran. Ada pula yang bertanya kenapa aku seperti ini.

Mulutku sudah lelah berbicara, tak ku hiraukan mereka dan aku terus berjalan melewati mereka. Aku berjalan dengan tangisan yang tak kunjung berhenti. Air mataku seakan dikuras.

Setelah aku berjalan cukup lama. Aku pun sudah keluar dari kampungku, dan kini aku sudah berada di pinggir jalan raya.

"Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi seperti ini? Ujian apa yang Engkau berikan kepada hamba?" Aku terus membatin di sepanjang jalan.

"Ya Tuhan … aku-aku rasanya lemas sekali. Tubuhku, tubuhku terasa melayang. Ada apa ini? Ada apa denganku?" gumamku.

Kepala pun terasa pusing dan ….

Bruk!!!

Semuanya menjadi gelap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Finding A True Love
9.3
Kanaya Amelitta menutup diri dari cinta demi menghindari luka. Namun, kehadiran Gavin Januartha yang hangat sempat mengusik pertahanannya, hingga ia memilih lari saat Gavin menyatakan cinta. Delapan tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi rumit yang mengikat keduanya, meski kini Gavin telah berkomitmen dengan orang lain. Di tengah ketakutan dan rasa benci, sanggupkah Kanaya mengabaikan Gavin yang kini kembali hadir dan bersikap sangat keras kepala?
Sampul Novel Gadisku UniQue
9.5
Uni merintih kesakitan saat Ares mencoba memasukkan sesuatu secara hati-hati. Meski diminta perlahan, rasa sakit membuat Uni membentak Ares dalam situasi panik. Ares lalu mengajak Uni ke kamar mandi agar lebih mudah. Di luar ruangan, Deris tidak sengaja mendengar percakapan ambigu tersebut hingga merasa sangat terkejut dan tidak percaya. Kesalahpahaman pun akhirnya muncul akibat interaksi penuh ketegangan ini.
Sampul Novel Hakikat Cinta
9.5
Alan De Xavirio, pemuda blasteran Jawa-Italia, terpikat oleh pesona Latifah Nur Aisyah, gadis muslimah sederhana dari desa. Walau awalnya tidak mendapat respons, kegigihan Alan berhasil memikat hati Latifah. Mereka pun hanyut dalam asmara remaja yang menggebu, hingga mengabaikan perbedaan keyakinan di antara mereka. Kini, jurang perbedaan agama itu menjadi penghalang besar yang nyata. Sanggupkah mereka bertahan ketika cinta telah membutakan segalanya?
Sampul Novel Kumpulan Cerita Dewasa Untuk 21+++
9.3
Buku ini menghadirkan rangkaian kisah cinta modern yang dikurasi khusus untuk pembaca dewasa. Menyajikan narasi berani dan eksplisit, antologi ini berfokus pada eksplorasi hubungan intim serta momen penuh gairah yang sangat intens. Karena kontennya yang sensual, karya ini sangat tidak dianjurkan bagi mereka yang masih di bawah umur. Pastikan usia Anda telah memenuhi syarat sebelum mulai membaca kumpulan cerita yang ditujukan khusus bagi audiens berusia 21 tahun ke atas ini.
Sampul Novel Penderitaan yang Dipaksa Tersenyum
9.0
Hidup Liana hancur setelah Revan, suaminya, menjual dirinya kepada bos mafia Eropa yang kejam, Dominic Valente, demi melunasi utang judi. Di balik sifat dinginnya, Dominic justru terpikat oleh ketulusan Liana hingga malam kebersamaan mereka menghasilkan sebuah kehamilan. Namun, sebelum Dominic sempat menolongnya, Revan kembali menyeret Liana untuk disiksa sebagai budak. Di saat Dominic mengerahkan segalanya untuk mencari Liana, wanita itu berjuang bertahan hidup demi bayi di kandungannya.
Sampul Novel Setelah Reinkarnasi, Aku Menjauhinya
8.7
Setelah terlahir kembali, aku bertekad menjauhi tunanganku dan membiarkannya bersama cinta pertamanya demi menghindari nasib tragis di kehidupan lalu, di mana aku disiksa hingga mati akibat dituduh memicu bunuh diri kekasihnya. Aku menuruti semua keinginannya untuk pergi jauh hingga menerima lamaran pria lain demi hidup tenang. Namun, saat aku sedang berbahagia bersama keluarga baruku, mantan tunanganku itu justru datang berlutut sambil menangis, memohon agar aku kembali ke pelukannya.