
Demi Selingkuh, Suamiku Meracuni Anakku
Bab 3
Ketika aku bangun keesokan harinya, Cullen dan Nelly sedang sarapan di meja makan. Cullen meniup pangsit di hadapannya, lalu menyuapkannya kepada Nelly. Mungkin karena berpikir aku belum bangun, gerak-gerik mereka menjadi lebih berani.
Nelly berkata, "Cullen, aku rasa Kak Yuna sangat baik. Kalau ada waktu, bantu dia jaga anaknya. Bagaimanapun, dia putrimu."
Cullen tersenyum cerah. "Aku nggak peduli dengan anak itu. Kalau harus peduli, aku cuma peduli pada bayi yang ada di perutmu! Ini adalah buah cinta kita!"
Wajah Nelly memerah. "Ah, kamu ini .... Tapi kamu sudah janji, kalau bayinya laki-laki, kamu akan menceraikannya dan menikah denganku."
Cullen segera mengangguk. "Tentu saja, Nelly. Kapan aku pernah membohongimu?"
Aku merekam percakapan ini dan langsung mengirimkannya kepada pengacaraku. Jadi, ini alasan kenapa Cullen tiba-tiba menjadi sangat berani. Rupanya, Nelly mengandung anaknya.
Namun, yang lebih membuatku marah adalah kenyataan bahwa putri yang kulahirkan dengan susah payah ternyata tidak berarti apa-apa di mata Cullen.
Ini bukan kerajaan yang membutuhkan penerus takhta, kenapa harus anak laki-laki? Rasanya, aku ingin muntah. Aku menempatkan Jane di kereta dorong, bersiap untuk keluar rumah mengajaknya jalan-jalan.
Saat aku sampai di ruang tamu, Cullen langsung berhenti menyuapi Nelly dan mendekatiku untuk berbicara, "Sayang, ayo makan sarapan dulu."
Aku melihat makanan sisa di meja dan menolak dengan halus, "Nggak, cuaca hari ini cerah. Aku mau bawa Jane keluar untuk berjemur."
Jane yang masih kecil lantas mengulurkan tangannya ke arah Cullen, meminta untuk digendong. Namun, saat berikutnya, Nelly mengeluh dengan suara keras, "Aduh, perutku sakit sekali."
Ekspresi Cullen langsung berubah. Dia mengabaikan Jane yang masih mengulurkan tangannya dan berlari ke sisi Nelly. "Nelly, ada apa denganmu?"
Nelly memegang lengan Cullen. "Aku juga nggak tahu. Tolong bawa aku ke kamar untuk istirahat."
Cullen langsung menggendong Nelly dan membawanya ke kamar. Aku menenangkan Jane yang tampak kecewa, lalu memakai masker dan keluar rumah. Hari ini, aku berniat menukarkan tiket lotre.
Aku pergi ke loket bersama Jane. Setelah menukarkan tiket, ternyata aku memenangkan 16 miliar. Aku mendonasikan 200 juta ke yayasan anak yatim piatu, berharap bisa membantu lebih banyak anak-anak dan menambah karma baik untuk Jane.
Sisa uang itu menjadi modal untuk meninggalkan Cullen dan memulai hidup mandiri bersama Jane.
....
Kontrak dari pengacara membutuhkan beberapa hari lagi. Untuk menghindari kecurigaan Cullen, aku pulang ke rumah setelah menukarkan lotre.
Sesampainya di rumah, aku menerima telepon dari atasan, yang mengatakan ada laporan kerja yang harus segera kukirimkan.
Melihat itu, Nelly mendekat sambil membawa mainan kecil Jane. "Kak Yuna, aku bantu jaga anakmu sebentar. Kamu bisa fokus bekerja."
Aku menggeleng. "Nggak perlu, Jane bisa bermain sendiri."
Aku menempatkan Jane di dalam pagar mainan untuk melindunginya, lalu segera mencari berkas di komputer. Baru saja aku selesai mengirim laporan itu, kurang dari lima menit, aku mendengar Jane menangis histeris.
Aku bergegas keluar dan melihat lengan Jane terdapat bekas luka yang jelas. Jane adalah nyawaku. Siapa pun yang menyakitinya, sama saja dengan menyakitiku.
Aku menarik rambut Nelly dengan kuat dan menampar wajahnya, "Kamu berani menyakiti putriku?"
Nelly tidak melawan, malah menangis keras. Tangisan itu segera menarik perhatian Cullen. Dia bergegas menghampiri, melindungi Nelly dengan tubuhnya. "Yuna! Apa yang kamu lakukan!"
Aku memeluk Jane yang terus menangis, mencoba menenangkannya. "Aku melakukan apa? Apa kamu nggak lihat dia menyakiti anakmu? Luka ini jelas-jelas dia yang buat!"
Meskipun Cullen tidak terlalu menyayangi Jane, Jane tetap darah dagingnya. Dia langsung mengernyit dan menatap Nelly. "Apa yang terjadi?"
Nelly mengusap air matanya, terlihat sangat menyedihkan. "Cullen, aku nggak sengaja. Tadi aku mau main sama Jane, tapi dia terus menendang perutku. Aku nggak punya pilihan selain menghukumnya sedikit."
Aku hampir tertawa karena marah. "Jane baru satu tahun lebih, mana mungkin dia menendang perutmu?"
Air mata Nelly mengalir lagi. "Cullen, kamu harus percaya padaku ...."
Mungkin karena memikirkan anak yang ada di perut Nelly, Cullen kembali berpihak padanya. Dia memeluk Nelly dan menenangkannya, lalu melirikku dengan tajam. "Yuna, cepat bawa anakmu ke kamar. Jangan mempermalukan diri sendiri lagi."
Aku benar-benar kehilangan harapan pada Cullen. "Mempermalukan diri? Cullen, anakmu disakiti dan kamu nggak peduli?"
Cullen menyeretku ke kamar. Aku yang penuh amarah, langsung menarik rambut Nelly lagi. Nelly yang tidak menduga itu pun tidak sengaja menjatuhkan ponselnya. Seketika, aku melihat sebuah pesan di layar ponselnya. Mataku membelalak kaget.
Anda Mungkin Juga Suka





