APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Demi Anak, Kuterima Hinaan Mertua

Demi Anak, Kuterima Hinaan Mertua

Keira hancur saat bisnisnya hampir pailit dan sang tunangan memilih berselingkuh dengan perempuan berharta. Di puncak keputusasaan, ia menenggelamkan diri dalam alkohol di sebuah kelab malam. Tak disangka, malam itu membawanya terbangun di ranjang yang sama dengan Aksel Sanjaya, atasan sekaligus CEO dingin di tempatnya bekerja. Keira dan Aksel kini terperangkap dalam konsekuensi rumit akibat peristiwa tak terduga tersebut. Mampukah keduanya menjalani perubahan hidup yang drastis ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Keira duduk di meja barunya di sudut kantor Aksel, laptop menyala, tetapi pikirannya terasa beku. Ia sudah mengirimkan draf proposalnya tentang potensi pasar domestik kepada Aksel. Respons Aksel sangat minim, hanya anggukan singkat yang ambigu, yang entah berarti setuju atau meremehkan.

Ia mencoba fokus pada angka-angka Proyek A-1, tetapi sulit sekali. Setiap kali ia mengangkat kepala, ia melihat Aksel, yang duduk di belakang meja besarnya, sibuk dengan telepon atau dokumen. Rasanya seperti ada spotlight yang mengarah padanya, diawasi setiap detik oleh pria yang semalam... ah, lupakan.

Keira meraih ponselnya untuk mengecek email. Tidak ada yang penting, hanya notifikasi tagihan yang jatuh tempo. Hidupnya memang selalu dikejar-kejar tagihan, dan kini ditambah dengan utang rahasia pada CEO-nya sendiri.

Tiba-tiba, interkom berbunyi. Suara Aksel terdengar dingin, meskipun Keira hanya berjarak beberapa meter.

"Keira, ke sini sebentar."

Keira meletakkan pena dan berjalan mendekat. Aksel meletakkan berkas di depannya. Itu adalah salinan Perjanjian Kerahasiaan yang ia tanda tangani kemarin.

"Ada yang kurang jelas?" tanya Keira.

"Ini kurang mengikat," kata Aksel, sorot matanya tajam. "Saya sudah berkonsultasi dengan pengacara saya. Kami perlu menambah klausul yang lebih keras mengenai pelanggaran. Ini bukan hanya denda. Ini akan melibatkan tuntutan pidana jika kamu terbukti membocorkan informasi."

Keira terkejut. "Tuntutan pidana? Pak Aksel, aku sudah bilang aku tidak akan bicara! Bapak seolah berpikir aku ini pembunuh berantai yang akan menghancurkan hidup Bapak!"

Aksel bersandar di kursinya, memasang wajah tanpa emosi yang ia kuasai. "Dengarkan saya, Keira. Ini bukan tentang kepercayaan. Ini tentang perlindungan aset. Jika ada satu saja celah, pengacara musuh bisa masuk. Dan saat ini, kamu adalah celah terbesar saya."

Ia menunjuk pasal baru yang ditambahkan, yang intinya menyatakan bahwa jika Keira melanggar PK, seluruh asetnya, bahkan gaji Proyek A-1-nya, akan disita sebagai jaminan, dan ia bisa menghadapi tuntutan hukum di pengadilan.

"Aku tidak punya aset apa-apa, Pak! Aku hanya punya hutang!" protes Keira, merasa terpojok.

"Itu tidak masalah. Selama kamu diam, berkas ini hanya akan menjadi tumpukan kertas," ujar Aksel. "Tanda tangani. Sekarang."

Keira merasa tangan dan kakinya dingin. Ini adalah tekanan yang luar biasa. Ia adalah pion di papan catur Aksel. Ia meraih pena, tangannya sedikit bergetar, dan membubuhkan tanda tangan di sebelah pasal-pasal baru yang mengerikan itu. Setelah ia selesai, Aksel mengambil berkas itu kembali, menyimpannya di brankas digitalnya.

"Bagus," kata Aksel, kembali fokus pada laptopnya. Itu adalah akhir dari diskusi. Keira kembali ke mejanya, merasa dirinya baru saja menjual jiwanya demi sebuah pekerjaan yang belum tentu ia pertahankan.

Sore itu, suasana di kantor Aksel terasa lebih tenang. Aksel sedang menerima telepon penting di sofa sudut, suaranya pelan dan tertutup. Keira sibuk menyusun data pasar untuk proposalnya.

Tiba-tiba, ponsel Aksel yang tergeletak di meja bergetar, menampilkan notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Keira tidak bermaksud mengintip, tetapi layar pop-up itu terbuka lebar.

Pesan itu bertuliskan: Laporan sudah saya terima. Staf Marketing Retail bernama Keira Anjani memang mabuk berat setelah menerima telepon yang berisi berita buruk soal utang keluarga dan ditinggalkan tunangan. Tidak ada indikasi ia sengaja menjebak.

Mata Keira membelalak. Ia membaca pesan itu dua kali untuk memastikan. Laporan sudah saya terima.

Aksel ternyata menyewa orang untuk menyelidikinya. Aksel tidak percaya padanya sedikit pun. Setelah ia bersumpah tidak akan bicara, setelah ia menolak uang tutup mulut, Aksel tetap memperlakukannya sebagai ancaman yang harus ditelusuri riwayatnya.

Rasa marah dan sakit hati bercampur aduk. Jadi, Aksel sudah tahu semua kelemahannya: utangnya, depresinya, ditinggalkan tunangan. Aksel tahu Keira benar-benar dalam titik terendah, dan ia menggunakan informasi itu untuk memperketat kendali atas Keira.

Ketika Aksel kembali dari sofa, ia tampak lebih santai.

"Proposalmu cukup bagus, Keira," puji Aksel, nadanya sedikit lebih lunak dari biasanya. "Kita akan gunakan beberapa poinmu. Sekarang, tolong siapkan ringkasan tentang potensi kerugian jika kita kehilangan pasar di sektor B."

"Baik, Pak," jawab Keira, suaranya datar.

Aksel menyadari nada dingin itu. "Ada masalah?"

Keira menatapnya lurus. Ia tidak bisa menanyakan tentang pesan tadi, itu akan membuktikan ia mengintip. Ia harus menahannya. "Tidak ada, Pak. Hanya sedikit pusing."

"Kalau begitu, kamu boleh pulang lebih cepat hari ini," kata Aksel. "Besok kita harus terbang pagi ke Singapura untuk bertemu tim investor. Istirahatlah."

Keira mengangguk, mengambil tasnya. Saat ia berjalan keluar, ia bisa merasakan tatapan Aksel di punggungnya. Tatapan yang sekarang terasa ganda: CEO yang mengawasi aset, dan pria yang tahu semua rahasia tergelapnya.

Keira tiba di kos-kosannya dengan hati yang berat. Begitu ia membuka pintu, ia melihat ada amplop putih yang diselipkan di bawah pintu.

Itu surat tagihan dari leasing motornya yang sudah tertunggak dua bulan, dan sebuah kartu pos. Kartu pos itu bergambar Malioboro, dikirim dari kampung halamannya.

Ia membuka kartu pos itu dengan tangan gemetar. Tulisan tangan itu milik Ibu tirinya.

Keira sayang, Ibu tahu kamu pasti sudah sukses di Jakarta. Keluarga di sini sedang butuh uang mendesak untuk biaya operasi Ayahmu. Pinjaman yang kamu jamin atas nama Ayah sudah jatuh tempo, dan sekarang bunganya makin besar. Tolong segera kirimkan uangnya. Jangan sampai kita malu di kampung karena Ayahmu masuk penjara gara-gara utang.

Dunia Keira terasa runtuh. Ayahnya sakit. Ayah tiri dan ibu tirinya malah membebaninya dengan utang yang harus ia tanggung. Inilah alasan kenapa ia sampai nekat mabuk. Tekanan finansial yang mencekiknya.

Keira menghitung uang di dompetnya. Tidak cukup. Bahkan setelah ia menerima gaji besarnya di Proyek A-1 pun, uang itu mungkin hanya akan cukup untuk membayar sebagian utang itu.

Ponselnya berdering. Itu nomor yang tidak ia kenal.

"Halo?"

"Keira? Ini aku, Bima."

Bima. Mantan tunangannya. Pria yang meninggalkannya karena memilih wanita yang lebih kaya.

"Mau apa lagi kamu?" tanya Keira, suaranya tajam.

"Tenang, Keira. Aku cuma mau tanya," suara Bima terdengar licik. "Aku dengar-dengar dari temanku di Sagara Jaya, kamu sekarang sudah jadi orang penting, ya? Asisten CEO? Itu Aksel Sanjaya, kan?"

"Bukan urusanmu," Keira menggigit bibir.

"Oh, tentu saja urusanku. Aku dengar dia orang kaya, super kaya. Pasti kamu punya akses ke dia, kan?" Bima terdengar seperti lintah darat. "Dengar, Keira. Aku sedang butuh modal cepat. Kalau kamu mau bantu aku mengenalkan ke dia, atau paling tidak pinjamkan uang dari gajimu yang pasti gede itu, aku janji utang keluarga kita yang dulu, yang dijamin sama kamu, akan aku bereskan."

Keira tertawa sinis. "Kamu pikir aku bodoh, Bima? Utang itu kamu yang buat, dan sekarang kamu mau aku menyeret CEO-ku ke masalahmu? Kamu pergi sana!"

"Tunggu, Keira! Jangan tutup teleponnya!" Bima berteriak. "Aku tahu kamu dekat sama dia sekarang. Jangan sampai aku membocorkan ke teman-teman kantor, kenapa kamu mabuk di kelab hari itu! Atau lebih parah, kalau aku kasih tahu tunangan baruku kalau kamu sudah naik jabatan lewat jalan pintas!"

Ancaman itu membuat Keira terdiam. Mantan tunangannya kini menjadi pemeras. Ia benar-benar sampah.

"Aku tidak ada urusan sama Bapakmu, Bima. Jangan pernah hubungi aku lagi," kata Keira, lalu mematikan telepon.

Keira duduk di lantai kos-kosannya, air mata mengalir deras. Aksel sudah mengikatnya secara hukum dan ia mengawasi semua gerak-geriknya. Sementara itu, utang keluarga dan ancaman dari Bima mulai menyeretnya dari belakang.

Ia terjebak. Di depan, ia harus menjadi staf yang brilian di mata Aksel, orang yang baru ia tiduri. Di belakang, ia harus berjuang sendirian melawan utang, keluarga yang menuntut, dan mantan yang memeras.

Keira menyeka air matanya. Ia harus kuat. Tidak ada waktu untuk patah hati. Besok pagi, ia harus terbang ke Singapura bersama Aksel, dan ia harus terlihat sempurna.

Ia membuka laptopnya kembali, mulai menyusun proposal untuk Aksel. Ia tahu, satu-satunya jalan keluar adalah uang. Dan uang hanya bisa didapatkan jika ia berhasil dalam proyek ini, di bawah pengawasan ketat CEO-nya. Ya, Pak Aksel, pikir Keira. Aku terikat padamu sekarang, dan kamu akan melihat betapa bagusnya aku, meski aku harus menjual jiwaku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Harga Sebuah Keperawanan
9.6
Demi keluar dari jerat kemiskinan, Dinda mengambil langkah nekat menjual kesuciannya pada preman seharga lima ratus ribu rupiah. Namun, operasi razia polisi menggagalkan transaksi itu dan mempertemukannya dengan Sergio, seorang polisi tampan yang menyelamatkannya. Walau Sergio telah beristri, Dinda tetap mengejar cintanya hingga mereka menjalin hubungan gelap rahasia. Akankah perselingkuhan ini terbongkar? Bagaimana reaksi sang istri saat tahu suaminya berkhianat?
Sampul Novel Suamiku Meminta Restu Untuk Menikahi Wanita Yang Menyakitiku
8.0
Citra terpaksa menggantikan kakak tirinya, Maya, yang kabur saat pernikahan dengan Bagas yang difabel. Setelah empat tahun hidup harmonis, Maya kembali. Demi mengincar harta, ayah Citra menuntut perceraian. Bagas pun secara tak terduga memohon izin untuk berpoligami. Terluka dalam, Citra mengalah dan memilih pergi. Namun, di balik kerelaannya, Citra telah merancang sebuah rencana besar yang siap menghancurkan keserakahan mereka semua.
Sampul Novel Menikahlah Denganku, Pak!
9.4
Dua kali gagal menembus ujian masuk perguruan tinggi membuat Hanifa, seorang gadis dari keluarga terpandang, merasa sangat putus asa. Di tengah situasi sulit ini, ia mengambil langkah nekat dengan mengajak guru les privatnya menikah. Walau lamaran tak biasa itu langsung ditolak dan dianggap sebagai lelucon belaka, Hanifa tetap teguh pada pendiriannya. Akankah keputusan impulsif ini berujung manis, atau justru menjadi babak kegagalan baru dalam hidup Hanifa?
Sampul Novel Muda, Liar dan Bergairah
9.1
Lucas Traverson, calon koki yang terobsesi dengan kendali diri, harus menghadapi kenyataan pahit saat bekerja untuk Alyssa Deveraux. Mantan penari eksotik yang kini menjadi pemilik restoran barunya itu membawa kembali ingatan akan malam panas masa lalu mereka. Di tengah ketegangan gairah yang membara, Alyssa ternyata menyembunyikan rahasia gelap yang misterius. Lucas kini terjebak dalam batas tipis antara fantasi dan kenyataan berbahaya yang menguji pertahanannya.
Sampul Novel My Posesif Ceo
7.8
Demi mempertahankan pekerjaannya, seorang karyawan terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan atasannya yang keras kepala. Kesepakatan rahasia ini hanya berlaku sementara, tepatnya hingga kekasih sang CEO yang bernama Celine menyelesaikan studinya di luar negeri. Namun, saat menjalani hari-hari sebagai istri pura-pura di bawah ancaman pemecatan, situasi mulai berubah. Akankah dilema pernikahan sandiwara ini justru menumbuhkan perasaan cinta yang tak terduga di antara mereka?
Sampul Novel Salahkah Aku Mendua
9.2
Astrid terperangkap dalam pernikahan dingin tanpa cinta akibat perjodohan. Pengabaian konstan dari sang suami, Tristan, menorehkan luka batin yang begitu dalam baginya. Merasa tak pernah dihargai, Astrid memilih berpaling kembali kepada Deon, mantan kekasihnya. Di balik pencarian kenyamanan tersebut, ia merancang skenario balas dendam untuk memberi pelajaran pada Tristan. Astrid bahkan nekat mengancam akan mencari lelaki lain jika Deon menolak membantunya dalam rencana ini.