APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dark in Antares City

Dark in Antares City

Dunia kini dicekam teror Eaters, predator mirip manusia yang berubah jadi monster pemangsa daging saat malam tiba. Di tengah situasi mengerikan ini, Rio Rosswel harus menyaksikan ibunya tewas mengenaskan oleh makhluk bercakar tajam tersebut. Sambil bersembunyi di dalam lemari, ia terpaksa menahan tangis serta amarahnya. Kejadian traumatis itu memicu dendam mendalam, hingga Rio bersumpah akan membasmi seluruh Eaters dari muka bumi.
Bab
Bagikan

Bab 3

Melihat itu lantas membuat Rio dengan cepat berlari menuju motornya.

Namun setelah beberapa langkah, ia menyadari ada dua orang pria dengan mata merah menyala sedang menyeringai tepat di sebelah motornya.

Rio berlari sekuat tenaga menjauhi mereka, dalam hatinya ia mengatakan,

"Eaters sialan, jika hanya ada satu, aku mungkin bisa membunuhnya, tapi sial nya dia memanggil kedua temannya, saat ini aku hanya bisa berlari, jangan sampai aku mati di tempat seperti ini."

Sembari menyeringai, tiba-tiba penjaga warung tadi menepukan kedua telapak tangannya sebagai isyarat, menyuruh kedua Eaters itu untuk mengejar Rio.

Kedua Eaters itu berlari dengan kecepatan yang melebihi Rio, sehingga semakin lama berlari semakin dekat mereka mendekati Rio.

Salah satu Eaters itu melompat dengan sangat tinggi menuju punggungnya Rio, lalu menarik tudung jaket yang sedang di kenakan Rio.

Rio dengan refleks membuka jaketnya, sehingga bisa terlepas dari tarikannya, yang sontak membuat Eaters itu pun terjatuh.

"Sialan." Dengan ekspresi yang terlihat kesal, Eaters itu kembali berdiri dan langsung melempar jaket yang di tariknya tadi, lalu mengejar Rio kembali.

Rio pun menoleh ke belakangnnya namun sesaat setelah pandangannya lurus ke depan,

"Brak." pukulan telak mengenai lehernya Rio oleh salah satu Eaters lain.

Itu pun sontak membuat bagian belakang kepalanya Rio membentur aspal dengan sangat keras, sehingga merasakan teramat-amat pusing, yang membuat penglihatannya sangat buram.

Eaters yang memukulnya tadi pun mendekati Rio lalu menjambak rambutnya dengan keras,

"Mau lari kemana hah?" sembari terus membenturkan kepala Rio ke aspal berulang kali.

Rio pun hanya pasrah, karena sudah tidak mungkin lagi dia berdiri.

"Inikah waktu kematianku? betapa menyedihkannya diriku, bisa-bisanya aku terbunuh oleh makhluk menjijikan seperti mereka."

"Pengecut seperti diriku hanya bisa membual, ingin membunuh semua Eaters?,hah, kenyataannya ketika aku berhadapan langsung dengan mereka, aku malah lari ketakutan seperti orang bodoh."

"Maafkan aku bu, aku ga bisa membalaskan dendammu."  ujar Rio dalam hati.

Tak lama kemudian, sembari mencemooh, salah satu Eaters menodongkan kuku tangannya yang tajam menuju lehernya Rio.

Melihat itu, Rio pun hanya pasrah dengan mata yang hampir tertutup.

Tiba-tiba Eaters itu mengangkat tangannya, lalu dengan cepat mengarahkan kukunya menuju leher Rio,

"SRRRTT." terdengar suara tebasan dengan cipratan darah yang begitu banyak menghiasi wajah Rio.

Ternyata darah itu bukan milik Rio melainkan seorang Eaters yang hendak menebas lehernya tadi.

Namun aksinya itu gagal, karena tiba-tiba seseorang terlebih dahulu menebas tangannya sesaat sebelum menebas lehernya Rio.

Dengan samar ia melihat potongan tangan melayang di depan matanya serta seseorang dengan rambut pirang sedang bertarung menggunakan pedangnya melawan kedua Eaters.

Dengan perlahan sedikit demi sedikit mata Rio tertutup dan kesadarannya pun mulai hilang.

..........................

"Akhirnya sadar juga." ucap seorang pria berambut pirang.

Rio terbaring di sebuah ruangan, yang pencahayaannya sangat minim.

"Dimana aku?, kenapa disini sangat gelap?" tanya Rio.

"Setelah tubuhmu pulih, aku akan memperkenalkan mu kepada kakek Henry, sekarang istirahatlah " ujar pria berambut pirang yang pada saat itu sedang menulis sesuatu.

"Tidak, tubuhku sudah baik-baik saja, sekarang jawab! dimana aku, dan siapa kamu?" ucap Rio sembari beranjak dari kasur.

Pria pirang itu menatapnya,

"Baiklah, ikut denganku." sembari menutup buku.

Mereka berdua pun berjalan keluar ruangan itu lalu menuruni tangga, terlihat bawah ada satu pria tua sedang terduduk menghadap tungku perapian dan seorang wanita muda sedang mengelap-elap pedang,

"Ini dia seorang yang kuselamat kan tadi." ujar berambut pirang sembari menuruni tangga.

"Kau seenaknya saja, membawa orang tidak dikenal masuk ke rumah ini." tegas wanita itu dengan tatapan sinis.

"Tenang saja, ia bukanlah Eaters ia hanya manusia biasa, apa salahnya membantu dan merawat lukanya untuk sementara." jawab pria pirang itu.

"Siapa namamu nak?" tiba-tiba tanya seorang kakek yang terus menatap perapian.

"Namaku Rio Rosswell, dan ternyata kalian lah yang menyelamatkanku dari Eaters, aku harus berterima kasih kepada kalian." dengan kepala yang menunduk.

Rio melihat ke arah luar jendela, hanya pohon-pohon yang mengelilingi rumah itu dan tidak melihat satu pun bangunan apapun di dekat rumah ini,

"Siapa kalian? dan kenapa tinggal disini?."

Dengan nada yang berat kakek itu menjawab,

"Kami adalah keluarga, kami tinggal disini untuk menjauhkan diri kami dari bahaya."

"Bukankah tinggal di tempat terpencil seperti ini berbahaya?, bagaimana jika sekelompok Eaters datang menghampiri kalian?" ucap Rio.

"Kau tidak tahu kebenaran apa yang terjadi di kota Antares ini, tidak ada tempat yang aman selain disini, semakin kamu menjauh dari masyarakat semakin kamu aman." jawab kakek Henry.

"Bukankah jika tinggal di tempat ramai Eaters tidak akan muncul?, kalaupun muncul kita bisa memanggil polisi."

Dengan tatapan yang sinis wanita itu berkata,

"Kau ini bodoh sekali, bagaimana kau tahu jika polisi yang kau panggil bukanlah Eaters?"

"Maksudmu, bisa saja Polisi yang kita panggil itu merupakan seorang Eaters?" tanya Rio

"Sudah kubilang kau itu tidak tahu apa-apa yang sebenarnya terjadi di kota Antares ini, Semua orang yang kita jumpai belum tentu mereka manusia biasa, siapapun itu. dan iya benar sekali polisi bisa saja seorang Eaters" kakek Henry menjawab,

"Kita tidak bisa meminta bantuan siapa pun selain diri kita yang mampu bertahan hidup."

"Bukankah pemerintah mengupayakan tentang teror Eaters ini?"  Rio bertanya kembali.

Dengan ekspresi serius kakek itu menatap Rio lalu berkata,

"Bagaimana kau tahu bahwa para petinggi kota Antares bukanlah seorang Eaters?"

"Apakah kamu percaya pemerintah kota sedang mengupayakan pembasmian Eaters? dan bagaimana jika pemerintahlah itu yang merupakan seorang Eaters?"

Rio menjawab,

"Kalau begitu mana buktinya jika para pemerintah itu Eaters, dan jika iya, kenapa mereka tidak langsung memakan para umat manusia?"

Seketika pria pirang menjawab,

"Bukankah buktinya sudah jelas?, menurutmu kenapa pemerintah tahun-tahun ini membiarkan para pengungsi datang dan tinggal di kota ini? lalu bagaimana pemerintah tahu bahwa yang mengungsi bukanlah seorang Eaters?" dengan sedikit senyuman pria pirang itu melanjutkan kalimatnya,

"Kau ingat tidak sebuah video beredar beberapa tahun lalu saat terbunuhnya pria terkaya di kota ini dibunuh oleh Eaters? lalu apa pesan yang disampaikan di akhir video?"

Rio menjawab,

"Kalau tidak salah di akhir video Eaters itu mengatakan, mereka akan mengambil alih dunia ini, namun tidak akan memusnahkan umat manusia, melainkan akan memperlakukan kami layaknya hewan ternak."

Setelah mengucapkan hal itu, tiba-tiba wajah Rio menampakkan ekspresi terkejut seakan-akan ia baru menyadari hal yang begitu besar lalu berkata,

"Iya, aku mengerti sekarang kenapa pemerintah membiarkan orang asing masuk ke kota ini,"

"Semakin banyak manusia yang datang, semakin banyak makanan yang datang kepada mereka dan membiarkan mereka menikah dan mempunyai anak, sehingga secara tidak sadar para manusia telah di ternak layaknya hewan." ucap Rio dengan ekspresi terkejut yang masih ditampakkanya.

Rio terdiam membisu karena telah menyadari hal yang begitu besar tentang kenyataan kota Antares, ia begitu kesal dengan dirinya sendiri karena tidak menyadari hal ini dari awal.

"Bagaimana kamu seorang diri membunuh ketiga Eaters yang mengejarku tadi?" tanya Rio dengan menatap pria pirang, ia tersadar ia ingin menanyakan hal ini dari awal namun sempat terlupakan.

Pria pirang itu menatap kakek Henry seakan ada sesuatu yang di sembunyikan, namun sang kakek berkata,

"Kami adalah keluarga Gladius, Keluarga kami selama ratusan tahun..." sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya seorang wanita yang dari tadi mengusap pedangnya berkata,

"Tunggu dulu kakek, jangan bicara seenaknya tentang keluarga kita ataupun apa yang kita lakukan disini kepada orang asing ini."

"Tidak apa-apa Lisa, kelihatannya orang ini bisa dipercaya." ujar kakek

"Tapi kek?" ucap wanita muda dengan ekspresi kesal.

"Tenang saja, apakah kamu akan berjanji tidak mengatakan hal ini kepada siapapun?" tanya kakek dengan ekspresi serius kepada Rio.

"Iya, demi hidupku aku berjanji." sumpah Rio dengan telapak tangan kanan berada di dadanya.

Kakek itu pun melanjutkan kalimatnya yang tadi sempat terpotong,

"Keluarga kami selama ratusan tahun terkenal akan kehebatan pedangnya, selama ratusan tahun banyak orang yang ingin berlatih pedang kepada kami, namun seiringnya berjalan waktu kami tolak, karena latihan yang kami lakukan sangat berat yang mana membuat banyak sekali korban jiwa berjatuhan."

"Lalu kemana sisa keluarga Gladius yang tersisa? mengapa hanya kalian saja?"

Seketika semua orang selain Rio terdiam dan menundukan kepala, yang seakan-akan telah terjadi hal mengerikan kepada keluarga Gladius.

"Maaf, aku tidak bisa menceritakan hal ini kepadamu." ucap kakek

"Sekarang aku mengerti kenapa pria dengan rambut emas di sebelahku ini mampu membunuh ke tiga Eaters yang tengah ingin memakanku."

Seketika pria pirang itu menampakan ekspresi kesal dengan apa yang di ucapkan Rio,

"Hey, Siapa yang kau panggil rambut emas? namaku Dany, jangan sampai keluar dari mulut mu lagi."

"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi," "Jadi dengan kalian bisa membunuh Eaters?, kenapa kalian tidak membasminya dari sekarang?" tanya Rio

"Tidak semudah itu melakukannya, akan kuberitahukan hal mengerikan lainnya tentang kota ini,"

"Kota ini dibagi menjadi empat bagian, Antares timur, barat, selatan dan utara, di masing masing daerah yang kusebutkan tadi ,masing-masingnya dibagi menjadi empat distrik, dan di tiap distrik mempunyai pemimipnnya sendiri."

"Saat ini kita sedang menempati wilayah Antares timur yang lebih tepatnya berada di distrik 2." jelas kakek Henry

"mereka punya pemimpin?" ekspesi heran Rio

"Iya betul, Pemimpin itu berbeda ras dengan Eaters biasa, mereka disebut ras Domifirt, mereka mempunyai kekuatan lebih besar dari Eaters biasa, percayalah kamu belum pernah melihat atau mendengar kekuatan mereka,"

"Tugas para Domifirt itu adalah memberi perintah kepada Eaters yang berada di daerah tempat dia memimpin,"

"Kekuatannya masih menjadi misteri bagi kita hingga saat ini, yang membuat kami tidak terlalu gegabah."

Rio menyadari bahwa mahkluk mengerikan seperti mereka ternyata mempunyai ras dan kekuatan yang lebih kuat dari Eaters, ia berpikir bagaimana dia melawan para Domifirt jika Eaters saja mempunyai kecepatan dan kekuatan 10 kali lipat dari dia.

Setelah merenungkan hal itu, Rio dengan tiba-tiba bersujud dengan satu lutut, di hadapan mereka bertiga lalu mengatakan,

"Kumohon, jadikan aku menjadi murid keluarga Gladius dan masukan ku ke kelompok kalian."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Annaya dan Kaisar Kegelapan
9.2
Vlad IV, pangeran vampir penguasa Kastil Bran yang bergelimang harta dan kekuatan, didera kesepian mendalam. Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Annaya di kelas merangkai bunga. Gadis mandiri itu menutup rapat hatinya akibat trauma pengkhianatan masa lalu. Uniknya, kekuatan supranatural Kazi sama sekali tidak mempan terhadap Annaya. Di tengah perbedaan dunia yang membentang, sang pangeran harus berjuang keras meyakinkan Annaya yang skeptis agar mau membuka hati bagi cinta mereka.
Sampul Novel Living With The Devil
8.4
Sejak kecil, Alicia Lucero telah dijual oleh pamannya yang tamak kepada seorang pria bermata merah bernama Lucius Denovan. Setelah sekian lama diasingkan, Lucius kembali untuk mengambil Alicia yang kini telah dewasa. Kehidupan Alicia seketika berubah menjadi neraka penuh siksaan, karena Lucius sangat senang melihatnya menderita sebagai mainan. Namun, di balik segala kekejaman yang harus ia lalui, Alicia memilih bertahan demi menjaga sebuah rahasia besar yang tidak diketahui Lucius.
Sampul Novel Love U Eternally
8.9
Takdir mempertemukan seorang manusia biasa dengan vampir misterius dalam ikatan cinta yang mendalam. Menembus batas hidup dan mati, romansa mereka dipenuhi pengorbanan besar akibat perbedaan kodrat yang nyata. Hubungan ini menghadapi berbagai rintangan, baik dari dunia nyata maupun kekuatan supranatural. Kisah ini menyoroti perjuangan gigih mereka demi mempertahankan cinta abadi yang telah mempersatukan dua jiwa yang berbeda ini.
Sampul Novel Mr. Devil
8.1
Hidup Ellena hancur setelah ayah kandungnya sendiri tega menjualnya demi ambisi bisnis yang kotor. Kini, ia menjadi tawanan di mansion megah milik Hogue, sosok vampir kejam dengan hasrat menyimpang yang kerap menyiksa fisiknya. Diperlakukan layaknya budak tanpa harga diri di bawah kekuasaan pria sadis tersebut, Ellena terjebak dalam penderitaan yang tiada akhir. Mampukah ia bertahan hidup menghadapi segala kekejaman Hogue?
Sampul Novel SETETES DARAH SUCI
8.6
Legenda kuno meramalkan lahirnya seorang gadis dengan darah suci yang membawa mukjizat. Setetes darahnya berkhasiat memberikan keabadian, kekuatan tak tertandingi, serta mencegah kepunahan klan. Saat kelahirannya yang diiringi awan hitam di malam purnama dan suhu dingin ekstrem, seisi jagat raya berpesta. Kini, hidupnya terancam bahaya besar karena setiap makhluk di alam semesta berambisi memburu dan merebut darah suci di dalam tubuhnya.
Sampul Novel Terjerat Pesona Vampir Tampan
8.2
Setiap malam, Shada didatangi sesosok vampir tampan bermata merah yang memberi sentuhan sensual dan kasih sayang mendalam di alam mimpi. Meski statusnya sudah bertunangan, pesona makhluk abadi itu terus mengusik kesetiaannya. Dilema batin pun mulai menyiksa Shada akibat gairah terlarang yang begitu nyata tersebut. Kini, ia berada di persimpangan jalan dan harus segera memilih antara komitmen di dunia nyata atau godaan fantasi sang vampir.