
Dari Pengasuh ke Cinta
Bab 3
Tak lama kemudian, Lukas memelukku dari belakang, napasnya hangat terasa di leherku. Aku pun secara naluriah membalikkan tangan, merangkul lehernya, tapi segera kusadari betapa tidak pantasnya itu, lalu langsung melepaskan pelukan.
Memanfaatkan kesempatan itu, Lukas dengan cepat membalikku, setengah tubuhnya menunggangiku.
"Lukas, aku ini ibu asuhmu, bagaimana kamu bisa melakukan hal seperti ini padaku…"
Lukas menekan tubuhku dengan kuat, "Kamu kan pembantu di rumahku, bukankah tugasmu melayaniku...? Kak Cindy, sebenarnya aku sudah suka padamu sejak lama..."
Kata-kata Lukas membuatku sedikit bingung, tapi aku tahu ini mungkin hanya kebohongan yang biasa diucapkan pria saat nafsu menguasai pikiran mereka...
Tubuh tinggi besar Lukas menindihku, membuatku tak bisa bergerak sama sekali.
Film di televisi masih terus berjalan, saat adegan puncak, suara tak senonoh itu nyaris menggema di seluruh ruang tamu.
Tubuhku bahkan tanpa sadar mulai merespons.
Kepala Lukas mendekat, meraba dan mengecup bibirku, satu tangannya perlahan menyusuri paha hingga ke atas, sementara tangan yang lain mulai membuka tali bahuku.
Saat aku hampir terbuai dalam gelombang nafsu Lukas, sebersit akal sehat yang tersisa berhasil menarikku kembali ke kenyataan.
Entah dari mana muncul kekuatan itu, aku tiba-tiba mendorong Lukas jauh dari tubuhku.
Lukas menatapku dengan wajah terkejut, sementara aku segera berpikir cepat dan berkata, "Kamu tunggu dulu, biar aku mandi dulu... Kamu pergi ke kamar saja tunggu aku..."
Setelah ragu sejenak, Lukas akhirnya mengangguk setuju.
Akhirnya aku bisa menarik napas lega, menutup tubuhku dengan jubah tidur yang compang-camping, lalu dengan tergesa-gesa masuk ke kamar mandi.
Setelah menutup pintu kamar mandi, aku jatuh terduduk di lantai, bersandar pada daun pintu sambil terengah-engah, napasku memburu tak terkendali.
Tapi terus bersembunyi di sini juga bukan solusi, Lukas masih menungguku di luar sana…
Entah kenapa, setelah pikiranku mulai tenang, bayangan tentang momen saat aku dan Lukas saling bersentuhan kembali terlintas di benakku, saat tubuhku sepenuhnya terlihat olehnya, tanpa ada yang tersembunyi.
Dan saat kami begitu dekat, aroma maskulin dari tubuhnya yang menyengat inderaku.
Tubuhku kembali memberikan respons tanpa sadar…
Kedua tanganku mulai menyusuri tubuh sendiri, menyentuh dan menjelajah perlahan.
Saat hampir tenggelam dalam godaan, aku memaksa diri untuk kembali sadar. Aku melepaskan jubah mandi dan berdiri di bawah pancuran, membiarkan air dingin mengalir menuruni tubuhku.
Namun, itu sama sekali tak membantu. Justru, sengatan dingin itu membuat bara dalam dadaku makin membara...
Akhirnya aku meledak, melepaskan semuanya dengan liar di dalam kamar mandi, tanpa menahan diri.
Di tengah kekacauan pikiranku, tiba-tiba pintu kamar mandi terdorong terbuka.
Saat itu aku sedang membungkuk, pinggulku yang montok terangkat tinggi, mengarah tepat ke pintu kamar mandi.
Lewat celah di antara kedua kakiku, aku melihat Lukas berdiri di ambang pintu, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, menatapku lekat-lekat.
Jantungku berdegup kencang, tapi tubuhku justru membeku, seolah kehilangan akal.
Waktu seolah berhenti.
Lukas menelan ludahnya, lalu langsung berjalan ke arahku.
"Kak Cindy... biar aku bantu, ya..."
Sebelum aku sempat bereaksi, Lukas sudah berdiri di belakang bokongku yang terangkat tinggi.
Detik berikutnya, sepasang tangan besar memeluk pinggangku.
Dari belakang, terasa hangat tubuh Lukas, dan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya pun ikut melorot.
Lengan Lukas sangat kuat dalam sekejap, tubuhku dibalik olehnya, lalu diangkat dan didudukkan di atas wastafel...
Hembusan napasnya menghangat di leherku, membuat seluruh tubuhku terasa panas dan gelisah.
“Tenang saja, Kak Cindy... Di rumah ini cuma ada kita berdua. Selain kita, takkan ada orang lain yang tahu soal ini...”
Baru saja kata-kata itu selesai, Lukas sudah menggigit lembut cuping telingaku...
Anda Mungkin Juga Suka





