APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Danny Hatta

Danny Hatta

Misi perburuan di Swiss membawa Danny Hatta pada titik terang misteri kematian ayahnya yang merupakan hakim tinggi. Namun, pencarian keadilan ini malah menjeratnya dalam tuduhan palsu atas pembunuhan polisi dan eks sekretaris sang ayah. Sebagai buronan, ia terpaksa melarikan diri bersama jurnalis bernama Sarah Hartono. Di tengah ancaman bahaya, keduanya harus bekerja sama mengungkap konspirasi besar demi membersihkan nama Danny.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Bukankah sudah kukatakan untuk berhati-hati, tugasmu untuk menangkap George bukan untuk membunuhnya. Mencari bukti untuk menjeratnya!" kesal Kolonel Radit. Ia datang untuk membebaskannya. Mereka berjalan keluar drai kantor polisi.

"Kita sudah mendapatkan buktinya, barang-barang itu ada di sana!" sahut Danny enteng.

"Ya, dan kau selamat karena itu. Kau tahu siapa dia kan, ayahnya adalah salah satu pejabat tinggi di Negara ini, itu sebabnya kau tidak boleh membunuhnya!" sahut Kolonel Radit menjelaskan kembali.

Danny hanya diam saja berjalan menuju sebuah mobil. "Kau beruntung, karena jasamu dan juga bukti-bukti itu kau hanya mendapat blacklist dari Negara ini. Seharusnya kau bisa saja dihukum mati atau dipenjara seumur hidup!" seru Kolonel Radit seraya membuka pintu mobil, dan menghempaskan diri di balik kemudi. Danny juga melakukan hal yang sama, ia menaruh dirinya di samping pria itu.

"Aku tak berharap bisa kembali ke sini!" jawabnya datar. Kolonel Radit menatapnya sejenak lalu mulai menyalakan mesin mobil seraya menggeleng.

Danny menatap lurus ke depan, kembali mengingat setiap detail kata yang diucapkan oleh George. Sebenarnya ia juga tak berniat membunuh bajingan kecil itu, tapi ucapan pria itu tentang ayahnya membuatnya tak mampu menguasai amarah. Ia memejamkan mata, sebuah bayangan muncul di benaknya.

Wajah ayahnya!

Melihat raut ayahnya ia memang ragu jika ayahnya bunuh diri. Tapi semua bukti yang ditemukan di tempat kejadian, tak ada apa pun yang mengarah ke sebuah pembunuhan. Peluru yang menembus pelipisnya adalah peluru dari pistolnya sendiri, dan dari letaknya, memang seperti bunuh diri. Tak ada sidik jari orang lain, selain sidik jari ayahnya.

Kolonel Radit melirik pemuda di sisinya yang terlihat tengah mengingat sesuatu sambil memejamkan mata. Tapi ia tak bertanya.

Jakarta, Indonesia

Danny sedang menggosok gigi ketika seseorang menekan bel apartemennya. Ia menoleh, lalu melanjutkan kegiatannya. Sialnya, suara bel kembali mengganggunya. Ia pun keluar dari kamar mandi untuk membuka pintu, sikat gigi masih di tangannya dan mulutnya masih berbusa oleh pasta gigi. Ia berjalan sambil mengencangkan handuk yang melilit pinggangnya, ketika pintu terbuka ia terdiam melihat sosok yang berdiri di depan pintunya dengan senyum yang mengembang.

"Karen!" desisnya.

"Hai!" sapa gadis itu lalu mengecup pipinya, Danny masih mematung ketika gadis itu melewatinya menerobos masuk meninggalkan kedua bodyguardnya bersiaga di depan pintu. Danny segera menutup pintunya dan berjalan ke arah kamar mandi lagi.

"Kau sudah pulang tapi tidak meneleponku?" protesnya.

"Maaf, aku terlalu lelah. Jadi aku lupa!" jawabnya.

"Selalu itu yang jadi alasanmu!"

Karen adalah putri tunggal Menteri Pertahanan, Jendral Purnawirawan Albert Johannes Martin. Ia sudah tiga tahun menjalin hubungan dengan Danny dan bermimpi menjadi istrinya, pada kenyataannya Danny memang tak pernah lama menjalin hubungan dengan wanita sebelum dengan dirinya.

"Kau tahu aku tidak pergi untuk berlibur kan?" jawab Danny lalu melanjutkan menggosok giginya, Karen menyusulnya ke kamar mandi. Berdiri bersandar bingkai pintu. "Aku sudah dengar apa yang terjadi di sana!"

"Sepertinya beritanya cepat menyebar ya?" sahut Danny di sela-sela kegiatannya.

"Kau tahu, kau sudah seperti selebriti di media!" keluh Karen. Danny mengeluarkan tawa kecil seraya mencuci sikat giginya lalu menaruhnya di tempatnya. Berkumur dan mencuci mukanya, Karen memperhatikannya. Menatap punggungnya yang kekar, kulitnya yang berwarna coklat maskulin meski ada beberapa bekas luka di sana tapi itu tak mengurangi daya pikatnya. Perlahan Karen mendekat dan menyentuh punggungnya tapi seketika Danny menoleh menangkap tangannya seraya berdesis. "Karen!"

"Memangnya kau tak merindukan aku?" bisik Karen meletakan telapak tangannya di dada Danny yang keras.

"Ehhh ... aku sedang terburu-buru, sebaiknya kau menunggu di luar. Ok!" sahut Danny seraya membalikkan tubuh Karen dan mendorongnya lembut keluar kamar mandi, lalu dengan segera ia menutup pintu dan menguncinya sebelum Karen sempat berbalik dan protes. Danny terdiam sejenak di balik pintu karena ia tahu Karen masih berdiri di sana, setelah ia mendengar langkah kaki gadis itu meninggalkan kamar mandi ia pun mulai mengguyur tubuhnya di bawah shower. Sementara Karen mengobrak-abrik dapur, berharap menemukan sesuatu yang bisa di sulapnya menjadi sarapan pagi. Tapi sayangnya tak ada apa pun di sana kecuali beberapa buah dan minuman di dalam lemari es. Tentu saja, Danny tinggal sendiri jadi ia tak mungkin memasak kan! Apalagi dengan profesinya.

Danny keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi, ia memperhatikan Karen yang sedang terlihat bingung di dapurnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanyanya membuat Karen menoleh. Gadis itu terpaku, bukan karena kaget oleh sapaan Danny tapi karena terkesima melihat kekasihnya yang selalu terlihat memesona itu.

"Kau sedang apa di dapurku?" tanya Danny sekali lagi membuat Karen tersentak.

"Eh, eee ... aku ... sedang mencoba memasak untukmu. Tapi tak ada yang bisa aku masak untuk sarapan, sepertinya lain kali aku harus membawa bahan makanan sendiri!"

Danny terlihat heran mendengar jawaban gadis itu. "Sejak kapan kau bisa memasak, setahuku kau bahkan tak pernah menyentuh dapur?" tanyanya setengah menyindir.

"Selama kau di Swiss aku belajar memasak dari Bibi'. Bahkan aku juga sudah bisa menyetrika baju loh!" sahut Karen menyatukan kedua tangannya di bawah dagu bagian kanan dengan ekspresi pamer.

"Tidak perlu, aku sudah cukup terlambat, sebaiknya kau pulang!" tolak Danny dengan nada dingin.

Karen malah memasang wajah masam dan kecewa, ia sedikit menundukkan kepalanya. "Aku kan hanya ingin menyenangkanmu!"

Danny melihat kekecewaan itu dari nada suaranya, lalu ia melangkah mendekatinya. Menyekop wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya yang kekar. "Bukannya aku tidak mau, aku senang kau mau melakukannya untukku. Tapi hari ini aku benar-benar terburu-buru, begini saja... bagaimana kalau nanti malam kita dinner di luar. Aku akan menjemputmu jam 7, ok!"

Karen langsung tersenyum. "Benarkah?" tanyanya meyakinkan. Danny mengangguk. "Ok, tapi jangan terlambat. Awas ya kalau terlambat!" ancamnya.

Danny tersenyum. "Tidak akan!" janjinya. Mereka keluar bersama dari gedung itu tapi memasuki mobil masing-masing, Danny segera meluncur ke Departemen.

Di sebuah ruangan Danny termenung, ia kembali teringat percakapannya dengan George sewaktu di Swiss tentang ayahnya. Selama ini nuraninya memang menyangkal kalau ayahnya melakukan semua kejahatan itu, ia kenal siapa ayahnya, ayahnya yang menjadikannya seperti sekarang. Karena asyik memikirkan hal itu ia sampai tidak sadar kalau Frans sudah ada di hadapannya.

Melihat sahabatnya melamun Frans menjentikkan jarinya di depan Danny, membuatnya terjaga.

"Kau baik-baik saja, kawan?" tanyanya seraya duduk di kursi di depan Danny.

"Tidak, aku tidak yakin kalau sekarang aku baik-baik saja!" sahutnya.

"Bisa kulihat, tapi aku maklum kau baru saja menyelesaikan tugas berat. Mungkin otakmu butuh sedikit dibersihkan!" cibirnya.

Danny merengut kesal, "Kau pikir aku gila!"

Frans tertawa sejenak. "Apa yang mengganggumu?"

Danny menatap sahabatnya. "Frans, aku butuh bicara denganmu di luar. Penting!" tegasnya memaksa.

"Apa!" seru Frans membuat beberapa orang menatap mereka. Tapi baik Danny mau pun Frans tak terlalu memedulikan itu.

"Itu yang dikatakan George padaku, dari awal aku selalu percaya ayahku tidak bersalah!" sahutnya.

Mereka duduk di kedai kopi tak jauh dari Kementerian Pertahanan, menikmati secangkir kopi hitam.

"Aku juga berpikiran sama, ayahmu adalah orang yang baik. Rasanya memang sulit dipercaya dengan semua tuduhan itu. Mungkin memang benar ayahmu hanyalah korban!" tukas Frans memainkan jarinya di cangkir yang ia pegang.

"Tapi siapa yang melakukannya, dan kenapa ayahku?" heran Danny.

"Ayahmu adalah seorang hakim tinggi, dia sangat berpengaruh dalam segala bidang di pengadilan. Terutama kriminalitas, mungkin saja ... ayahmu mengetahui sesuatu yang tak seharusnya ia ketahui!" Frans menyesap minumannya.

Danny membulatkan matanya, menatap sahabatnya dalam. Kenapa ia tak berpikir sampai ke sana?

"Kau benar, kenapa aku bodoh sekali. Frans, sepertinya aku akan membutuhkan banyak bantuanmu!"

"Anytime!" sahut Frans menjinjing satu alis tanpa menurunkan cangkir dari mulutnya.

Sarah Hartono sedang sibuk di depan komputernya, kedua tangannya di atas keyboard mengetik sesuatu ketika sebuah surat kabar terbanting di mejanya. Ia sedikit tersentak menatap surat kabar itu lalu menoleh orang yang membantingnya, Roni Sanjaya, sang bos.

"Lihatlah, kita ketinggalan berita penting!" kesalnya. Sarah kembali menatap headline surat kabar itu dengan gambar seorang pria yang wajahnya tak asing baginya meski dirinya belum pernah bertatap muka langsung. Ia mendesah kesal.

"Bos, lalu apa hubungannya denganku. Kau tahu sendiri kan, Ronald yang bertugas mengejar berita ini masih terjebak di rumah sakit Swiss. Jadi ya ... wajar saja kalau kita sedikit ketinggalan!"

"Wajar? Itu adalah pikiran orang yang tidak mau maju. Setidaknya kau atau siapa bisa mengambil alih tugasnya!" gerutunya kesal.

"Aku sedang sibuk menyiapkan beritaku!" dalih Sarah.

"Aku tidak butuh berita wisatamu, aku ingin berita yang bisa menggelegar. Dan saat ini, dia!" tunjuk Roni pada gambar Danny. "Adalah topik yang sedang hangat, kalau kau bisa mencari berita yang heboh tentangnya aku akan memberimu tempat khusus di kantor ini. Bagaimana?" tawar Roni. Sarah membelalak lebar menatap bosnya. "Aku!" serunya menunjuk hidung sendiri.

"Kau tidak mau?"

"Tapi berita kriminal itu ...."

"Kau bisa mencari berita lainnya tentang dia kan, tentang asmaranya atau apa. Cari tahulah sendiri!" potong Roni.

"Tapi, Bos ...."

"Kau tak mau dipromosikan?" tawarnya,

"Ehm ....”

"Aku tidak peduli, aku mau berita eksklusif tentang dia dan tak ada penolakan. Atau kau, kehilangan pekerjaanmu!" seru Roni lalu menyingkir dari meja Sarah. Beberapa pasang mata mengarah ke mejanya termasuk Aldo. Fotografer yang selalu mendampinginya.

Sarah mendesah panjang seraya memegang kepalanya, sedikit menjambaknya. Ia melirik gambar Danny. "Kau pikir siapa dirimu, memangnya apa hebatnya kau? Kau itu ... tidak lebih hanya sekedar prajurit yang suka mencari sensasi!" omel Sarah pada gambar Danny di atas mejanya. "Aku baru saja mau ambil cuti!" keluhnya menyandarkan dirinya di sandaran kursi.

Danny Hatta memang sering muncul di surat kabar menghiasi kolom crime, aksinya yang terbilang nekat dan gila memang cukup menyita perhatian beberapa surat kabar ternama. Dia bahkan pernah mendekam di penjara di beberapa negara tempatnya bertugas, tapi pada akhirnya ia selalu dibebaskan oleh profesinya sendiri.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Comeback With You
8.1
Sejak SMP, Laluna terjebak dalam lingkaran perdagangan manusia dan utang di Nepal. Demi bertahan hidup, gadis asal desa di Indonesia ini tumbuh menjadi kriminal tangguh. Ia memilih jalan sebagai pencuri untuk menghidupi keluarga serta membebaskan sahabat-sahabatnya. Takdir mempertemukannya dengan seorang tentara Indonesia yang tengah menyamar dalam misi penyelamatan budak. Bersama-sama, mereka kini harus berjuang melawan sindikat kejam demi bisa pulang ke tanah air.
Sampul Novel Dipaksa Menikahi Mafia Kejam
9.1
Niat baik Grazella Elnara Wesley menolong orang asing berujung petaka. Dia dipaksa menikah oleh Gabriel Leonard Mattew, bos mafia kejam asal Italia yang terobsesi padanya karena kemiripan fisik dengan masa lalunya. Meski terjebak di dunia Leon yang keji, mahasiswi psikologi ini bertekad melindungi hatinya. Sembari berjuang demi kesembuhan sang adik, Grazella harus bertahan menghadapi kekejaman pria yang merasa dirinya tuhan tersebut.
Sampul Novel Dunia Pelita
9.8
Pelita, model tangguh berlatar keluarga retak, kehilangan kesuciannya akibat insiden tragis. Kejadian ini mengikat takdirnya dengan Adhim, pemimpin geng motor yang juga putra kiai. Demi menebus dosa, Adhim menawarkan pernikahan. Namun, Pelita yang enggan berkomitmen menjadi ragu. Perbedaan dunia mereka yang kontras kini menjadi ujian terbesar. Mampukah hubungan mereka bertahan di tengah bayang-bayang masa lalu kelam dan konflik yang terus mengintai?
Sampul Novel OBSESI CINTA MANUSIA VAMPIR
9.4
Kehidupan damai Aleeta seketika sirna sejak Leon, pria asing misterius, menerobos masuk ke kamarnya. Sambil mengintimidasi dan mengancam Aleeta, Leon menuntut tempat persembunyian dari kejaran sekelompok pria berbadan besar yang mengincarnya. Keadaan kian menegangkan saat Leon nekat mencium paksa Aleeta. Kini, Aleeta terjebak dalam bahaya besar, terperangkap di antara ancaman luar dan misteri identitas gelap Leon yang perlahan mulai mengintai keselamatannya.
Sampul Novel Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran
9.2
Setelah tewas membeku akibat dikhianati keluarganya, Anggi Suharjo terbangun kembali di hari pernikahannya dengan Luis Giandra yang kejam. Menyadari dirinya hanya figuran yang dikorbankan demi sang adik kembar, Wulan, Anggi bertekad tidak akan lagi mengemis kasih sayang. Menggunakan kecerdasan strategi militer dan keahlian medisnya yang luar biasa, ia siap menaklukkan dunia. Saat keluarganya yang menyesal mulai memohon ampun, Luis yang awalnya dingin justru enggan melepaskan Anggi demi membayar utang nyawa.
Sampul Novel Pernikahan Sempurnaku, Rahasia Mematikannya
9.4
Tiga bulan membina rumah tangga dengan miliarder Baskara Aditama, kebahagiaan wanita ini hancur seketika saat Diana, sang mantan kekasih, datang menyerang. Bukannya menolong, Baskara malah membela Diana dan membiarkannya menyiksa sang istri. Bahkan saat nyawanya terancam oleh kepungan pria misterius, Baskara tega memutus telepon. Demi selamat, ia nekat melompat dan menghubungi Paman Suryo. Baskara tak tahu bahwa istri yang dikhianatinya adalah bagian dari Keluarga Wallace yang siap membalas dendam.