APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dandelion, Wish, and Wind

Dandelion, Wish, and Wind

Kepulangan Yoshino Izumi ke Jepang terjadi hanya karena paksaan sang ayah. Ia sangat membenci tanah airnya sendiri lantaran luka masa lalu akibat pengkhianatan ibu kandungnya. Namun, rasa benci itu perlahan terkikis setelah ia berjumpa dengan seorang gadis misterius berambut perak. Tanpa Izumi sadari, sesosok jiwa dari masa lalunya masih setia menunggu dirinya kembali. Di bawah langit musim panas yang dihiasi dandelion, ia berharap kerinduan mendalam yang tak pernah pudar ini akhirnya bisa tersampaikan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Dengan canggung Izumi mencari asal suara yang memanggilnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri seorang wanita melambaikan tangan ke arahnya seraya tersenyum lebar. Di samping wanita itu berdiri seorang pria yang seusia dengan ayahnya. Entah mengapa dada pemuda itu tiba-tiba terasa sesak, bukan karena rindu, bukan. Namun lebih pada perasaan marah. Ingin rasanya dia berpaling dan mengabaikan panggilan wanita itu. Namun lagi-lagi bayangan ayahnya muncul seakan menariknya maju untuk mendekat. Jarak mereka hanya terpaut sekian meter. Namun Izumi merasa kedua kakinya terasa begitu berat ketika melangkah. Seolah ada beban yang menahannya untuk bergerak.

"Selamat datang, Haruki-kun." Wanita itu memeluk Izumi dengan erat. Namun pemuda itu tetap bergeming. Perasaan asing itu belum sepenuhnya hilang. "Ayo kita pulang, kau pasti lelah setelah perjalanan panjang ini." Wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Izumi dengan senyuman. "Sayang, bisa kau bantu membawakan kopernya?" ujarnya pada pria di sampingnya.

"Tentu."

Tanpa perlu diminta lagi, pria itu mengambil alih koper yang dibawa Izumi dan membawanya keluar dari bandara. Sepanjang perjalanan dari bandara Izumi hanya diam tanpa suara. Wanita itu tampaknya menyadari kecanggungan di antara mereka sehingga tak lagi berkata apa-apa dan membiarkan Izumi tenggelam dalam pikirannya. Sekitar empat puluh lima menit berkendara, mobil hitam itu mulai memperlambat lajunya dan akhirnya berhenti. Mereka bertiga turun dari mobil dan berjalan bersama menuju ke dalam. Izumi memandang sekelilingnya. Halamannya begitu luas dan rapi ditutupi oleh rumput hijau yang sudah dipotong. Sekitar sepertiga dari luas halaman itu ditanami dengan bunga kamelia jepang—tsubaki. "Ibumu suka dengan bunga itu. Namanya sendiri memiliki arti 'kamelia', bukan?" ujar pria itu ketika melihat pandangan Izumi tertuju pada petak kamelia yang sedang bermekaran. Izumi hanya menanggapinya dengan senyuman canggung dan kembali melangkah.

"Okaerinasai, Otou-san, Mama," sambut seorang anak laki-laki begitu mereka tiba di dalam. "Ah, ini pasti Haruki Aniki, bukan?" Pandangannya beralih menatap Izumi. Izumi merasa sedikit tak nyaman begitu anak laki-laki memanggilnya dengan sebutan "Aniki".

"Konnichiwa," ujar Izumi.

Anak laki-laki itu tertawa renyah. "Tak perlu formal seperti itu, umur kita hanya selisih setengah tahun. Aku Ryuzaki, panggil saja Ryu." Dia menjabat tangan Izumi dengan ramah.

"Ryu-kun, antarkan kakakmu ke kamarnya, ya. Dia butuh istirahat."

"Baik," balas laki-laki yang dipanggil Ryu itu.

"Ayo Kak, akan kutunjukkan kamarmu di mana," ujarnya pada Izumi.

"Istirahatlah dulu, akan Mama siapkan makanan untukmu," ujar wanita itu pada Izumi.

Izumi mengangguk pelan dan ucapan terima kasih yang kaku akhirnya terucap dari bibirnya. Izumi mengikuti langkah Ryu menaiki tangga menuju kamar barunya. "Aku bisa membawanya sendiri," ujar Izumi ketika melihat Ryu kesulitan membawa kopernya menaiki tangga.

"Tak apa, biar aku saja," tolak pemuda itu.

"Kalau begitu terima kasih banyak, Ryuzaki-kun," balas Izumi yang disusul dengan anggukan dari Ryu.

"Kamarmu di sini, selamat beristirahat," ujar Ryu pada Izumi.

Setelah meletakkan koper Izumi di sudut ruangan, pemuda itu pun keluar meninggalkan Izumi sendirian. Izumi merebahkan badannya di atas kasur. Sementara pandangannya bergerak menatap sekeliling kamar barunya yang didominasi warna biru. Tiba-tiba saja dia merindukan kamarnya yang di Amerika. Tempat baru ini terasa benar-benar asing baginya. Bahkan wajah penuh senyum dari wanita yang melahirkannya itu terlihat begitu asing di matanya. "Aku tidak tahu bagaimana kedepannya. Tapi setidaknya Otou-san, aku sudah berusaha untuk menepati permintaanmu," gumam Izumi. Pemuda itu memejamkan kedua matanya dan tak lama kemudian dia terlelap dalam mimpinya.

Nakagawa Tsubaki, ibu Izumi mengetuk pintu kamar pemuda itu dua kali. Namun tetap tak ada balasan dari dari dalam. Apa dia tertidur? pikir Tsubaki. Wanita itu lantas membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci dari dalam. Benar saja begitu tiba di dalam dia mendapati putranya tengah tertidur begitu nyenyak hingga tak menyadari kehadirannya. Tsubaki meletakkan nampan berisi makanan yang dibawanya di atas meja. Dia kemudian berjalan menghampiri Izumi yang masih tertidur. Dengan hati-hati agar tak membangunkan putranya, Tsubaki mendudukkan diri di samping Izumi. Iris lavendernya menelusuri setiap inci wajah Izumi yang terlelap. Semakin lama Tsubaki merasa putranya semakin mirip bahkan sangat mirip dengan orang itu. Keduanya memiliki bentuk hidung dan bibir tipis yang selalu terlihat merah alami yang persis sama. Antara ragu dan rindu Tsubaki mengusap pipi Izumi dengan lembut. Hampir saja tangis wanita itu meledak. Putra kecilnya kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Meskipun penyesalan masih menggelayut di dadanya. Namun dia merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan putranya.

Izumi terbangun dari tidurnya begitu merasakan sentuhan seseorang di pipinya. Ditatapnya sosok yang ada di depannya dengan mata setengah terpejam. "Otou-san?" gumam Izumi yang belum sepenuhnya sadar.

Menyadari putranya terbangun, Tsubaki menarik tangannya yang masih berada di pipi pemuda itu. "Ah, maaf membuatmu terbangun. Mama membawakanmu makanan, makanlah! Kau pasti lapar setelah menempuh penerbangan panjang." Sambil berkata begitu Tsubaki beranjak dari duduknya dan berjalan keluar. Namun sebelum sempat menyentuh gagang pintu, suara Izumi menghentikannya.

"Kenapa...."

Tsubaki menoleh. "Eh?"

"Kenapa memintaku kembali? Setelah 10 tahun lebih Anda meninggalkan kami, Kenapa tiba-tiba memintaku kembali lagi. Sebenarnya apa yang Anda inginkan?" Izumi yang kini telah sepenuhnya terbangun, memandang Tsubaki dengan tajam.

"Kau sebaiknya makan dulu, setelah itu baru kita bicara lagi."

"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab saja pertanyaanku!" Tanpa sadar nada suara Izumi menjadi meninggi hingga cukup membuat Tsubaki terkejut.

"Haruki-kun." Tsubaki memanggil putranya dengan lembut. Wanita itu melangkah mendekati Izumi, begitu jarak mereka hanya terpaut satu lengan, Tsubaki memeluk pemuda itu dengan erat. "Maaf. Kau pasti merasa ini tak adil. Tapi Mama benar-benar ingin bertemu denganmu. Kau boleh saja membenciku, tapi tolong jangan pergi lagi. Tetaplah di sini, di samping Mama." Izumi tak bereaksi sedikitpun sampai akhirnya Tsubaki melepaskan pelukannya. Sekilas iris obsidiannya melihat ada kristal bening yang membayang di kedua iris lavender milik ibunya. "Kapanpun kau siap, Mama akan menjelaskan semuanya dari awal. Aku tak berharap kau akan langsung memaafkan Mama, tapi Mama akan berusaha untuk memperbaiki ikatan ini." Suara Tsubaki terdengar sedikit bergetar begitu menyelesaikan kalimat panjangnya. Melihat Izumi yang tak kunjung mengucapkan kata sepatahpun, wanita itu memakluminya. Dia kembali berbalik menuju pintu keluar, memberikan ruang dan waktu bagi pemuda itu untuk menenangkan diri.

"Izumi." Tsubaki menoleh mendengar suara lirih putranya. "Mereka memanggilku Izumi sekarang, bukan Haruki lagi," ujar Izumi datar.

"Ah begitu rupanya," ujar Tsubaki. Sebelum keluar wanita itu kembali melemparkan senyuman kepada Izumi. Berharap putranya akan membalas dengan hal yang serupa. Namun Izumi tak bereaksi sedikitpun, pemuda itu masih tetap memasang wajah datarnya bahkan hingga dirinya menghilang di balik pintu. Tsubaki menutup pintu kamar Izumi dengan pelan. Dia menghela napas panjang bersamaan dengan tertutupnya pintu coklat itu. Begitu berbalik Tsubaki dikagetkan dengan kehadiran Ryu yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu kamarnya yang berseberangan dengan kamar Izumi.

"Mama," panggil Ryu.

"Ryu-kun, apa kau lapar? Biar Mama siapkan makanan. Kau tak perlu turun, nanti Mama antarkan ke atas. Tunggu sebentar ya." Tsubaki mengalihkan pandangan menghindari tatapan putra keduanya.

"Mama baik-baik saja? Aku tadi sempat mendengar—"

"Mama baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir," balas Tsubaki memotong ucapan Ryu. Wanita itu tersenyum pada Ryu dan berjalan menuruni tangga.

Ryu menatap punggung ibunya yang bergerak semakin menjauh. Meskipun banyak hal dalam benaknya yang ingin dia katakan. Namun Ryu menahannya. Pemuda itu sadar dia tak bisa ikut campur dalam hubungan antara ibu dan anak tersebut. Biarkan saja keduanya menyelesaikannya dengan cara mereka masing-masing. Ryu menatap sekilas ke arah pintu kamar kakak barunya sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam kamarnya.

Setelah ibunya keluar, Izumi bangkit dari kasurnya lalu melangkah menuju jendela. Disibaknya tirai coklat itu dengan pelan. Seketika sinar matahari masuk menerangi kamarnya. Langit Jepang pagi itu tampak begitu biru dan cerah. Dari balik jendela Izumi bisa melihat pohon sakura yang sedang bermekaran di jalanan depan rumah milik keluarga Nakagawa. Tanda bahwa musim semi telah tiba. Sakura, kupikir aku tak akan melihatnya lagi dari tempat ini, batin Izumi.

Puas melihat pemandangan di luar, Izumi kembali melangkah menuju tempat tidurnya. Awalnya dia ingin kembali merebahkan diri. Namun niatnya diurungkan ketika melihat makanan yang dibawakan oleh Tsubaki sebelumnya. Semangkuk nasi dan sup miso, chicken katsu, natto, potongan ikan makarel panggang, serta salad sayur segar tiba-tiba mengundang selera makannya. Hari itu untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, indra pengecap Izumi kembali merasakan masakan jepang. Terbiasa dengan masakan barat selama tinggal di Amerika membuat rasa makanan itu sedikit asing di lidahnya, terutama natto. Padahal dulu seingatnya dia tak keberatan untuk memakannya. Namun kali ini setelah satu gigitan Izumi memutuskan untuk menyerah menghabiskan makanan yang terbuat dari kedelai dan bertekstur lengket itu.

Selesai makan dan membersihkan diri, Izumi keluar dari kamarnya sambil membawa nampan alat makannya. Sampai di ujung tangga pemuda itu berhenti sejenak, bingung di mana arah dapur yang akan dituju untuk mengembalikan peralatan kotor itu. Habisnya rumah itu begitu luas dan tempat yang baru Izumi lewati hanyalah ruang depan dan tangga yang menuju ke lantai dua. Di tengah kebingungannya tiba-tiba dia berpapasan dengan Tsubaki, ibunya.

Wanita itu sedikit terkejut melihat putranya berdiri sendirian di ujung tangga dengan kedua tangan yang memegang nampan yang dia bawa sebelumnya. "Haru—maksud Mama, Izumi-kun! Kau tak perlu repot-repot membawanya turun. Harusnya kau tunggu saja Mama mengambilnya ke atas," ujar Tsubaki. Dia segera mengambil alih nampan itu dari tangan Izumi. "Bagaimana makanannya? Apa sesuai dengan seleramu? Maaf, harusnya Mama memasak sesuatu yang lain," lanjut Tsubaki.

"Daijoubu," balas Izumi singkat lalu terdiam antara enggan atau bingung untuk mengatakan sesuatu yang lain sesudahnya.

"Ah, benar juga. Ryu-kun berada di halaman depan. Kau bisa mengobrol dengannya. Mama rasa Ryu-kun tak akan keberatan mengajakmu mengenal lingkungan sekitar sini," ujar Tsubaki pada Izumi yang masih terdiam.

Pemuda itu menoleh sebentar ke arah Tsubaki dan mengangguk. Setelah itu tanpa mengatakan apa-apa dia melangkah menuju pintu depan. Tsubaki menghela napas pelan tanpa melepaskan pandangan dari punggung putranya yang kini berjalan menjauhinya. Sepertinya ini akan menjadi sedikit sulit. Tapi aku tak ingin kehilangannya lagi. Sepuluh tahun tak menyaksikannya tumbuh, bagiku sungguh sangat menyakitkan, batin Tsubaki lalu berbalik menuju dapur untuk menaruh cuciannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkit Dari Luka: Istri Yang Terbuang
8.1
Cinta tulus Jilly selama tiga tahun hancur saat Elton tega membuangnya ke laut demi menyelamatkan Rachel. Menghadapi pengkhianatan kejam sang suami, Jilly memilih menyembunyikan kehamilannya dan berencana kabur dari pernikahan toksik mereka. Ketika Elton akhirnya berhasil melacaknya dalam keadaan kacau dan memohon maaf demi anak mereka, hati Jilly telah membatu. Baginya, sosok ayah dari bayinya sudah lama mati sejak hari di mana Elton lebih memilih nyawa wanita lain.
Sampul Novel CINTA YANG RETAK
9.7
Setelah sekian lama menikah, seorang istri berhasil membongkar skandal perselingkuhan suaminya yang rapi tersimpan. Namun, tepat ketika ia hendak melangkah pergi demi menyudahi pernikahan mereka, sebuah fakta tak terduga terungkap. Pengkhianatan pedih itu rupanya menyimpan motif yang jauh lebih kelam dan rumit dari sekadar asmara gelap. Kini, ia terseret dalam lingkaran misteri besar yang menguji batas antara rasa benci dan kebenaran yang sebenarnya.
Sampul Novel Kutandatangani Dosa Mereka
9.0
Dikhianati di kehidupan lalu hingga menderita di penjara, Tiara memutuskan mengambil langkah berbeda saat terlahir kembali. Ketika tunangannya, Ferdi, memohon agar ia mengaku bersalah demi menyelamatkan Hanaya yang sedang hamil, Tiara langsung menyetujuinya. Hanaya segera memfitnahnya di media atas pencurian rahasia dagang Perusahaan Lukito. Namun saat persidangan, Rian Lukito selaku penggugat justru mencabut tuntutan dan bersujud melamar Tiara di depan umum.
Sampul Novel Melahirkan Anak Bos Killer
8.9
Sarah Adelia terpaksa menikahi Wisnu Pratama demi membiayai pengobatan sang ayah yang mengalami kecelakaan tragis. Dalam pernikahan yang didasari janji memberikan keturunan ini, Sarah harus makan hati menghadapi tabiat kasar Wisnu yang belum berdamai dengan masa lalunya. Begitu impian Wisnu memiliki anak laki-laki tercapai, Sarah justru tak sadarkan diri pasca melahirkan. Di masa kritisnya, ia harus memilih berjuang hidup demi bayinya atau menyerah pada kepedihan.
Sampul Novel MISTERI RANJANG SUAMIKU
9.6
Inara sangat terkejut saat mendapati noda putih misterius kembali mengotori kasurnya. Cairan tersebut mengeluarkan aroma pandan yang sangat familier, memicu kecurigaan mendalam di hatinya. Padahal, ia sangat yakin sprei bekas semalam baru saja diganti dengan yang baru. Kini, keadaan ranjang yang tiba-tiba kusut dan basah menimbulkan tanda tanya besar. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar tersebut saat ia pergi? Rahasia gelap kini mulai menghantui pernikahan mereka.
Sampul Novel Terobsesi Dosen Cantik
8.4
Pernikahan poliandri Laura bersama dua mantan mahasiswanya, James dan Reynold, memasuki babak baru di musim kedua. Laura berupaya bersikap adil, namun pesonanya justru memicu obsesi mendalam pada Joel Darren Kim, mahasiswa lain yang patut diwaspadai. Di sisi lain, James dan Reynold kini menjelma sebagai dosen idola di kampus. Di tengah kepungan kekaguman para mahasiswi, kesetiaan kedua suami Laura ini benar-benar diuji. Mampukah mereka menjaga komitmen cinta di tengah godaan?