APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Dalam Pelukan Sang Miliarder

Dalam Pelukan Sang Miliarder

Demi menyelamatkan panti jompo tempat tinggalnya dari rencana penggusuran, Raissa nekat menemui Arkhan Alvaro, seorang miliarder dingin dan kejam. Namun, Arkhan justru mengajukan syarat tak terduga: panti tersebut akan aman jika Raissa bersedia menjadi miliknya sepenuhnya. Kini, Raissa terjebak dalam dilema besar antara kehormatan diri dan pengorbanan. Hubungan yang diawali dengan paksaan ini pun mulai memicu badai emosi yang mendalam di antara keduanya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Raissa duduk di sofa ruang tamu yang tampak seperti singgasana raja, di lantai 38 sebuah gedung pencakar langit yang menjulang di pusat kota. Tangannya yang dingin menggenggam map cokelat lusuh berisi dokumen panti jompo-satu-satunya senjata yang dia miliki untuk melawan kekuasaan pria yang sebentar lagi akan ditemuinya. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena kagum pada kemewahan di sekitarnya, tetapi karena rasa takut yang mencengkeram setiap serat keberaniannya.

Dia menoleh ke jendela besar di ruangan itu. Dari sana, seluruh kota terlihat seperti miniatur yang tak berarti. Rasanya seolah dia hanyalah titik kecil di dunia Arkhan Alvaro, taipan muda yang terkenal dingin dan tanpa belas kasihan. Pria itu memiliki segalanya-uang, kekuasaan, dan kemampuan untuk menghancurkan hidup seseorang hanya dengan sekali tandatangan.

Pintu ruangan terbuka dengan bunyi halus. Raissa langsung menoleh. Pria itu masuk, mengenakan setelan jas hitam sempurna yang membingkai tubuh tegapnya. Wajah Arkhan tampak seperti pahatan dewa Yunani, dengan rahang tegas dan mata hitam yang memancarkan keangkuhan.

"Jadi, kau yang ingin bertemu denganku?" suara Arkhan rendah, tapi tajam seperti belati.

Raissa berdiri dengan lutut gemetar. Dia mencoba terlihat tegar, tetapi tangannya yang gemetar mengkhianatinya. "Ya, Tuan Arkhan. Nama saya Raissa Damaris. Saya ke sini untuk membicarakan panti jompo di Jalan Cendana."

Arkhan berjalan ke kursinya tanpa menghiraukan Raissa yang berdiri seperti patung di tengah ruangan. Dia duduk dengan santai, menyandarkan tubuhnya ke kursi kulit mahal. "Oh, jadi kau datang untuk itu. Lalu, apa yang ingin kau katakan?"

Raissa menarik napas dalam-dalam. "Saya memohon, Tuan. Mohon jangan gusur panti itu. Tempat itu adalah rumah bagi banyak orang tua yang sudah tak memiliki apa-apa lagi. Jika panti itu hilang, mereka tidak akan punya tempat untuk pergi."

Arkhan mengangkat alisnya, seolah heran dengan permohonan itu. "Dan mengapa aku harus peduli? Kau tahu berapa banyak tempat yang telah kugusur selama ini? Aku tidak pernah menerima keluhan seperti ini."

"Tuan, ini bukan hanya soal lahan. Ini soal hidup orang-orang yang tak mampu melindungi diri mereka sendiri. Saya akan melakukan apa pun agar Anda mau mempertimbangkan ulang keputusan itu," Raissa berkata, suaranya bergetar.

Mendengar kata-kata itu, sebuah senyum kecil muncul di sudut bibir Arkhan. Namun, senyum itu bukan senyum hangat; itu adalah senyum seorang pemburu yang menemukan mangsanya.

"Apa pun, katamu?" Arkhan menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi, tatapannya kini penuh minat.

Raissa merasa ada yang salah dengan senyum itu, tetapi dia sudah terlalu terdesak untuk mundur. "Ya, Tuan. Apa pun."

Arkhan berdiri, langkahnya perlahan mendekati Raissa. Saat pria itu berdiri hanya beberapa inci darinya, Raissa bisa merasakan aura dingin yang membuat bulu kuduknya meremang.

"Kau mau menyerahkan apa pun? Bagaimana jika aku menginginkan... dirimu?" Arkhan berbicara pelan, tetapi setiap kata seperti bom yang meledak di kepala Raissa.

Raissa terdiam. Matanya membelalak, bibirnya terbuka tetapi tak ada suara yang keluar. "Apa maksud Anda?"

Arkhan menyeringai. "Aku tidak ingin uangmu-jelas kau tidak punya itu. Aku tidak ingin janji kosong. Tapi kau... kau bisa menawarkan dirimu. Jadilah milikku, sepenuhnya, dan aku akan mempertimbangkan untuk menyelamatkan panti itu."

Kata-kata itu menusuk jantung Raissa. Dia merasa seperti ditelanjangi di hadapan pria itu, bukan secara fisik, tetapi secara emosional. Tawaran itu bukan hanya penghinaan, tetapi juga jebakan.

"Tuan Arkhan, ini tidak masuk akal. Saya... saya hanya meminta Anda untuk menunjukkan sedikit belas kasihan," katanya dengan suara yang hampir pecah.

"Belas kasihan?" Arkhan terkekeh, nadanya dingin dan tanpa emosi. "Kau salah tempat, Raissa. Aku tidak bekerja berdasarkan belas kasihan. Dunia ini adalah tempat di mana yang lemah akan dihancurkan. Jika kau ingin sesuatu dariku, kau harus memberikan sesuatu yang setara."

Raissa merasa air mata menggenang di matanya, tetapi dia menolaknya jatuh. Dia tidak ingin terlihat lebih lemah dari yang sudah dia rasakan. "Tuan Arkhan, Anda tidak bisa memaksa saya seperti ini."

Arkhan menyentuh dagunya dengan tangan yang kuat, memaksa Raissa menatapnya. "Aku tidak memaksamu. Aku hanya memberimu pilihan. Kau yang memutuskan."

Raissa merasakan darahnya mendidih. "Pilihan? Ini bukan pilihan! Ini adalah penyiksaan!"

Arkhan mengangkat bahu acuh tak acuh. "Sebutan apa pun yang kau suka. Tapi aku adalah pria yang selalu mendapatkan apa yang kuinginkan. Kau punya waktu 48 jam untuk memberiku jawaban."

Raissa tidak tahu bagaimana dia bisa berjalan keluar dari ruangan itu tanpa jatuh pingsan. Perasaannya campur aduk-marah, terluka, dan putus asa. Setiap langkahnya terasa berat, seolah-olah dia membawa beban seluruh dunia di pundaknya.

Dia menatap kota yang gemerlap di luar gedung itu, tetapi tidak merasa kagum. Di dalam dirinya, perang besar sedang terjadi. Harga dirinya berkata untuk menolak tawaran Arkhan dan melawan sampai akhir, tetapi tanggung jawabnya terhadap panti dan para lansia yang tinggal di sana membuatnya tak bisa mengambil keputusan itu dengan mudah.

Di dalam mobil yang membawanya pulang, air mata yang dia tahan akhirnya jatuh. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan dirinya menangis dalam keheningan malam.

"Haruskah aku mengorbankan diriku demi mereka?" bisiknya pelan, tetapi tidak ada jawaban. Hanya suara hatinya yang terus bertarung, menimbulkan luka yang semakin dalam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hasrat Terpendam Suamiku
8.6
Pernikahan paksa antara Sophia yang angkuh dan Albert, sang casanova, berjalan dingin dan penuh konflik. Namun, seiring waktu, benih cinta justru tumbuh di hati Sophia. Ia mulai menyadari adanya hasrat terpendam yang membara di balik sikap acuh tak acuh suaminya tersebut. Kini, Sophia bertekad mencari cara agar Albert mau jujur mengakui perasaan aslinya. Mampukah mereka mengatasi kekacauan hubungan ini dan bersatu dalam ikatan cinta yang tulus?
Sampul Novel Jebakan Utang Mafia
8.8
Evelyn Rossi harus menanggung utang peninggalan sang kakek kepada bos Kartel La Sanguina yang kejam, Riccardo Valentini. Saat bekerja di kedai pizza kedok mafia, Evelyn justru memicu obsesi gelap Riccardo. Ia sempat melarikan diri dan dilindungi oleh kepala mafia Rusia, Nikolai Volkov, selama empat tahun. Namun, Riccardo berhasil menculiknya kembali. Kini, Evelyn terjebak di tengah perseteruan maut antara obsesi posesif Riccardo dan ketulusan cinta Nikolai.
Sampul Novel Mencintai dia
8.6
Mencari pasangan hidup sejati bukan sekadar tentang rupa yang menawan. Kisah romansa modern ini memberikan sudut pandang mendalam bahwa keindahan fisik tidak menjamin kebahagiaan sebuah keluarga di masa depan. Seorang pria dituntut menyadari bahwa anak-anaknya kelak membutuhkan figur ibu yang bijaksana, bukan sekadar cantik. Fokus utama dalam hubungan ini adalah menemukan sosok wanita yang mampu mendidik generasi penerus dengan limpahan kasih sayang tulus serta nilai moral yang kuat.
Sampul Novel Mengungkap Hati: Istriku Seorang Miliarder?!
9.7
Demi membalas budi, Melanie rela menikahi Ashton. Namun, ia hanya mendapat derita, bahkan sang suami tega berniat memeras darahnya tanpa empati. Kecewa dengan kekejaman itu, Melanie pun menuntut cerai demi harga diri. Di tengah proses perpisahan, rahasia besar terbongkar; Melanie ternyata seorang miliarder, memicu kehebohan publik. Saat situasi memanas, ia baru menyadari bahwa paman Ashton, Derek, selalu melindunginya secara diam-diam.
Sampul Novel Merebut Istri Yang Kau Sakiti
8.2
Naila, gadis salihah berumur 21 tahun, harus melewati getirnya pernikahan bersama Daffa, anggota geng motor yang kasar dan berperilaku buruk. Di tengah penderitaan itu, ia tetap bertahan karena menganggapnya sebagai ujian Tuhan. Ketegaran Naila menyentuh hati Raihan, teman kuliahnya yang bertekad menyelamatkannya dari hubungan beracun ini. Namun, apakah upaya Raihan akan membebaskan Naila atau justru mendatangkan bahaya baru yang lebih besar bagi mereka?
Sampul Novel Neraka dalam Pernikahanku
9.0
Pernikahan impian Diane berubah menjadi mimpi buruk yang menyiksa. Alexavier Caspian, sang suami, memperlakukannya dengan sangat kejam dan hanya memanfaatkannya demi pemuasan hasrat seksual semata. Saat berhubungan intim, Alex justru membayangkan perempuan lain dan menolak memiliki anak. Di tengah tangisan dan tekanan batin yang mendalam, Diane dipaksa melayani nafsu suaminya. Apa sebenarnya alasan di balik kekejaman Alex yang sengaja menghancurkan hidup istrinya?