APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Daddy's Princess (21+)

Daddy's Princess (21+)

Kehidupan Dominic sebagai ayah angkat Bee terusik sejak Nathan, seorang dosen tampan, hadir di antara mereka. Hubungan trio ini pun berkembang menjadi sangat kompleks dan sarat emosi. Konflik batin serta ketegangan asmara mewarnai setiap langkah, membawa pembaca menyelami sisi dewasa dari arti sebuah komitmen. Kisah romansa modern ini menguji batas antara rasa ingin melindungi dan cinta yang mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bee berjalan masuk ke dalam kantor Dominic sambil membawa ponsel di tangan kanannya.

"Daddy," gadis itu memanggil.

Dominic yang sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya berhenti dan mengangkat kepalanya.

"Ya, Princess?"

"Aku sedang membuat tugas sekolah ketika mendadak aku memikirkan sesuatu tentangmu," gadis itu berkata sambil mendudukkan tubuhnya ke atas meja yang sedang di pakai Dominic.

"Oh?" Dominic memundurkan tubuhnya ke sandaran kursi dan melipat tangannya ke depan dadanya. "Apa yang kau pikirkan, Princess?" ia bertanya sambil mengamati putri angkatnya itu.

"Aku sedang mempelajari tentang organ reproduksi ketika aku menemukan sebuah artikel di internet." Bee menunjuk layar ponselnya.

Artikel tentang BDSM terpampang dalam layar di tangan Bee.

"Kau adalah seseorang Dominan bukan, Daddy?" Bee bertanya sambil masih menatap benda di tangannya.

Dominic menaikkan alisnya tapi kemudian mengangguk, "Ya, Princess."

"Kalau begitu, aku adalah yang disebut sebagai Submisif?"

Dominic mengangguk sekali lagi.

"Benar sekali, Little One."

"Okay...," Bee mengangguk-angguk dengan kilauan jail di matanya yang membuat Dominic kembali menaikkan alisnya.

"Jika Submisif disingkat sebagai Sub, berarti Dominan disingkat sebagai Dom?"

"Ya...."

"Sedangkan namamu Dominic, kan Daddy. Orang memanggilmu Dom?"

Dominic tidak menjawab. Ia mulai bisa menebak arah pembicaraan Bee.

Bee melanjutkan setelah Dominic membungkam beberapa saat. "Jadi.... Bolehkah kalau aku memanggilmu Daddy Dom-Dom?"

"Tidak!" Dominic menggeram.

Sementara Bee cekikikan, Dominic meremas dahinya yang mendadak berdenyut melihat kelakuan putri angkatnya.

Benar kata kekasihnya, ia terlalu memanjakan Bee. Tapi ketika melihat betapa polosnya Bee, apa yang bisa dilakukan Dominic selain menuruti segala kemauan gadis itu.

Jangankan harta benda, bahkan jika Bee menginginkan bintang sekalipun, ia akan mencari cara untuk melaso benda itu dari langit dan menariknya agar bisa diberikan kepada gadis itu.

Melihat Dominic yang kini menangkupkan tangannya menutupi wajahnya sendiri, Bee mendadak merasa bersalah. Ia meletakkan ponselnya diatas meja dan berjalan mendekati pria itu. Begitu berdiri diantara kaki Dominic yang duduk di kursi, Bee meraih pundak Dominic dan mengelusnya dengan lembut.

"Sorry, Daddy," Bee berbisik dengan lirih. "Aku hanya bercanda. Apakah kau marah?"

Dominic menurunkan telapak tangannya dan menatap gadis itu. Ia melebarkan senyumannya dan menggeleng.

"Tentu saja tidak, Princess. Kau tidak melakukan apa-apa. Kemarilah, duduk di pangkuanku," Dominic menepuk pahanya.

Wajah Bee langsung kembali ceria. Sambil tertawa kecil ia melebarkan pahanya dan melompat naik ke pangkuan Dominic.

"Hup!"

Dominic menangkap pinggang Bee yang langsung mengalungkan kedua kakinya mengelilingi badan Dominic.

Gadis itu sepertinya baru saja pulang dari mall bersama dengan teman-temannya. Ia mengenakan atas crop top dan rok pendek yang menjadi favoritnya

"Inikah yang kau pakai jika pergi ke mall?" Dominic mengamati pakaian gadis itu dengan alis berkerut. "Baju dan rok yang terlalu pendek hingga aku bisa melihat pusar dan pahamu dengan jelas?"

Bee tertawa cekikikan.

"Ini yang namanya fashion anak muda jaman sekarang, Daddy."

Dominic menggeram, "Hm... Aku tidak menyukainya, Princess. Bagaimana jika ada pria yang mengganggumu ketika aku tidak ada bersamamu?"

"Apa maksudmu, Daddy?"

"Bagaimana jika ada orang yang melakukan hal yang tida-tidak karena melihat caramu berpakaian? Apakah ada pemuda yang mencoba mendekatimu? Mungkin... mengikutimu kemana-mana dan mencoba untuk memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau mau?"

Bee menggeleng, "Tidak ada, Daddy. Hanya ada beberapa pemuda yang sering mengajakku pergi. Tapi semuanya hanyalah teman biasa."

Dominic mengeratkan rahangnya. Ia tidak menyukai jawaban Bee, tapi ia juga tidak ingin mengekang gadis itu untuk melakukan hal yang wajar dilakukan gadis seusianya seperti berteman.

Jadi Dominic melanjutkan pertanyaannya dengan nada sekasual mungkin, menyembunyikan amarahnya.

"Oya? Siapa mereka? Apakah kau pernah mengenalkannya kepada Daddy?"

Bee tertawa dan melingkarkan tangannya ke pundak Dominic.

"Oh Daddy.... Kau tidak perlu cemburu.... Aku milikmu. Hanya milikmu."

Gadis itu mendekatkan hidungnya ke milik Dominic dan menggoreskannya beberapa kali sebelum kemudian mengecup bibir pria itu sekali.

Remasan kemarahan di dada Dominic langsung mereda, "Benar sekali. Kau adalah milik Daddy. Tidak ada orang lain yang berhak atas dirimu selain Daddy."

Wajah Bee memerah mendengar ucapan Dominic.

"Kau lucu sekali kalau sedang cemburu, Daddy."

Dominic menggeram. Ia meraih kaos yang dikenakan gadis itu dan melepaskannya dari tubuh Bee. Sedikit lega ketika ia melihat bra yang dipakai gadis itu.

Walaupun berwarna pink mencolok tapi setidaknya gadis itu mematuhinya dan memakai pakaian dalam jika keluar, pikir Dominic.

Pria itu menarik turun bra berwarna merah muda yang di pakai Bee ke perut hingga menampakkan dua payudara sempurna. Ujungnya yang kaku dan berwarna merah jambu sudah menggoda mulut Dominic untuk untuk meraup.

"Benar sekali, Princess. Kau adalah milikku. Tubuh ini, milikku. Hanya akulah yang berhak untuk memasuki tubuhmu, paham?"

Dominic meraih salah satu ujung dada Bee dan mencubitnya keras hingga gadis itu menjerit.

"P-paham, Daddy."

"Good Girl." Dominic menggeram sebelum membenamkan mulutnya.

"Aw... Daddy...." Bee merintih pelan. "Sesuatu menusuk diantara pahaku. Apakah kau menyimpan ponselmu di saku celana?"

Dominic melepaskan hisapannya dari dada Bee dan tertawa. Pria itu mengusapkan jempolnya ke ujung dada Bee yang baru saja dimainkannya dan membuat badan Bee gemetaran.

"Bukan ponsel, Baby Girl. Tapi sesuatu yang kau lakukan pada Daddy. Apakah kau tahu apa itu?"

Bee tidak menjawab. Atau mungkin tidak mampu menjawab. Gadis itu sedang sibuk mendesah dan menggeliat merasakan sapuan jemari Dominic ke putingnya yang sensitif.

Dominic menempatkan ibujari dan telunjuknya ke ujung benda yang sedang di mainkannya sejak tadi dan mencubit keras.

Gadis itu menjerit dan meraih tangan Dominic.

"D-d-daddy....," Bee merintih sambil menggerakkan pinggulnya melawan tubuh Dominic yang keras.

Dominic mulai memeluntir, "Jawab, Princess. Daddy bertanya padamu. Tahukah kamu apa yang sudah kau lakukan pada Daddy?"

Bee menggeleng. "Ti-tidak tahu, Daddy."

Dominic mengeringai, "Well... bagaimana kalau kutunjukkan padamu."

***

***

bersambung...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Pembantu Kalian
9.2
Tujuh bulan sudah keluarga ipar menumpang di rumahku dan bertingkah bagai benalu. Tragisnya, aku malah diperlakukan layaknya pembantu di rumah sendiri, sementara suami enggan mengusir mereka karena merasa iba. Batas kesabaranku kini telah habis. Aku pun mulai menyusun taktik cerdik untuk membuat mereka tidak betah, agar mereka segera angkat kaki dan pergi selamanya demi mengembalikan kedamaian hidupku.
Sampul Novel Bukan Kisah Peterpan Tinkerbell
8.6
Haera merenungkan analogi Peter Pan yang membahagiakan Wendy tanpa bisa bersamanya, mirip hubungan idola dan penggemar. Namun, sudut pandangnya berubah saat membahas Tinker Bell yang setia. Di tengah proses menulis, ia menyadari bahwa meski Wendy tak tergapai, Tinker Bell akan selalu mendampingi Peter Pan. Ini adalah kisah tentang ketulusan serta perasaan mendalam yang tersimpan rapat di balik kedok persahabatan.
Sampul Novel Cinta satu malam dengan boss
9.0
Seorang wanita terkejut saat bos miliardernya mengajukan penawaran tak biasa. Tanpa dilandasi cinta, pria berkuasa yang dikelilingi banyak wanita itu secara dingin menegaskan bahwa dia hanya menginginkan tubuhnya demi kepuasan fisik semata. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit dalam hubungan tanpa status yang murni transaksional ini, terus mempertanyakan alasan di balik keputusan sang bos memilih dirinya sebagai pemuas hasrat pribadi.
Sampul Novel Kebenaran Tentang Gundiknya
7.8
Saat mengandung empat bulan, dunia sang fotografer runtuh karena Baskara, suaminya, justru memamerkan anak dari perempuan lain. Alih-alih merasa bersalah, Baskara malah menyudutkannya dan melindungi Serena, sang selingkuhan. Dinilai lemah serta berlebihan, ia sebenarnya tengah menyimpan kemurkaan mendalam atas kecurangan yang disengaja ini. Di balik sikap tenang yang ia tunjukkan, sebuah rencana besar sedang dirancang untuk meruntuhkan kepalsuan rumah tangga mereka.
Sampul Novel My Home
8.9
Pernikahan dengan Orlyn adalah kebahagiaan bagi Cein, tetapi sang istri justru merasa terjebak dalam sangkar tanpa rasa cinta. Di kala Cein berjuang keras meluluhkan dinginnya hati Orlyn, bayang-bayang masa lalu yang kelam terus mengusik mereka. Tak hanya itu, Cein juga harus bertahan di tengah perjuangan melawan penyakit jantung yang menggerogoti tubuhnya. Akankah rumah tangga mereka bertahan saat pengorbanan dan rasa sakit terus menguji keteguhan hatinya?
Sampul Novel PELACUR DI RANJANG SUAMIKU
9.7
Gava, pengusaha sukses nan rupawan, memiliki hidup yang tampak sempurna. Namun, sifat pemalunya membuat hubungan intim dengan Rasyid, suaminya, menjadi dingin. Rasyid pun tergoda oleh pesona Putri, pemilik hotel yang agresif. Dengan alasan menghindari dosa, Rasyid berniat poligami. Perselingkuhan ini akhirnya diungkap oleh Viko, pengacara yang memendam rasa pada Gava. Di hadapan Gava, Putri dengan tidak tahu malu memamerkan detail hubungan ranjangnya bersama Rasyid.