APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cute My Husband

Cute My Husband

Zalfa, seorang janda dua anak yang bekerja sebagai guru PNS, tidak pernah menduga akan menikah dengan Edgar. Mantan muridnya yang berkepribadian pendiam dan kurang pandai bergaul itu kini tengah menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian setelah lulus SMA. Meski demikian, Edgar sangat yakin untuk memperistri Zalfa. Sayangnya, pernikahan mereka terhalang restu dari ayah Edgar yang menentang keras. Mampukah pasangan ini menghadapi rintangan demi menjaga cinta mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Edgar semakin deg-degan saat mendengar suara langkah kaki, ia masih bingung cara mengutarakan isi hatinya, pasalnya Edgar belum pernah pacaran, apalagi nembak perempuan, malah sebaliknya dia yang selalu di tembak cewek lain. Namun Edgar memang lebih ingin fokus ke belajar.

Terbukti dirinya yang selalu mendapat peringkat pertama. Edgar kembali memasukan beludru ke saku celananya, sebelum Zalfa melihatnya.Mata elangnya menatap Zalfa dengan tajam, saat Zalfa sudah kembali duduk di depannya dengan berbatasan meja di tengahnya. Edgar merasa kesulitan bernapas saat melihat Zalfa dari dekat. Jantungnya semakin berdebar tak karuhan. 

"Nih minum teh nya," suruh Zalfa, Edgar yang sedang melamun tak menjawab, ia masih memperhatikan Ibu Gurunya yang memang mungkin ia adalah cinta pertamannya. Edgar sendiri tak tahu, kapan ia mulai jatuh cinta dengan bu gurunya. 

"Hai, Edgar... Katanya haus, ayo silakan di minum," tegur Zalfa sekali lagi, sambil tangannya melambai-lambai di depan Edgar yang sedang fokus menatap dirinya.

Ia pun terkejut saat Zalfa meneyentil hidung mancungnya. 

"Ih ibu kenapa Edgar di sentil?" protesnya, mirip anak kecil. Sambil tangannya mengelus hidungnya, meskipun sebenarnya tak begitu sakit.

"Melamun." sindir Zalfa. "Habis ibu cantik, siapa yang tak terpana melihat pesona bu guru," jawabnya. Keceplosan.

Ia segera menutup mulutnya. lalu nyengir kuda. Membuat dirinya jadi salah tingkah. Zalfa yang mendengarnya penuturan muridnya membuat dirinya seakan ingin melayang, murid yang satu ini, memang selalu bisa saja ambil hati gurunya.

"Ayo minum." suruh Zalfa sekali lagi,"Iyah, ibu guruku Sayaaang," jawab Edgar, dengan mesra "Kamu ngomong apa?" tanya Zalfa. 

"Ibu guru kesayanganku." jawabnya, tanpa menatap Zalfa, tangannya meraih cangkir lalu ia menyesap teh hangat buatan Zalfa. "Manis. Tapi lebih manis ibu. Ibu manisnya bikin candu," ucapnya."Dasar bocah kecil suka gombal." elak Zalfa, walau hatinya sedikit berbunga mendengar gombalan Edgar.

Edgar nyengir, lalu ia membuka mulutnya, tapi bingung mau mulai darimana.

"Bu, jalan keluar yuk?" ajaknya, sifatnya yang masih ke kanak-kanakan terkadang membuat Zalfa gemas, Edgar selain pandai dalam bidang akademik, dirinya juga memiliki tubuh yang cukup atletis. 

"Hhmm... Boleh, Ibu juga mau belanja bulanan. Kebetulan kebutuhan bulanan habis, hitung-hitung dapat supir gratis." jawab bu Zalfa, mencandai.

Edgar malah merasa bahagia, sebab ajakannya di terima, meskipun ia harus mengantar belanja.

"Rengga sama Rangga di ajak ya, Bun." suruh si Edgar, Zalfa diam sejenak, sepertinya tidak bisa, sebab belanjaan yang akan di beli cukup banyak, dan jika dua bocil itu ikut, otomatis harus mengajak baby sitternya. 

"Nggak usah, Ibu belanjanya banyak, kalau mereka ikut, malah bakal riweh, kamu nggak bisa bawain belanjaan Ibu malah ntar ribut sama bocil," terangnya, bukan itu juga alasannya, sebab belanjaan yang di beli cukup banyak, bisa saja adzan isya' belum pulang, dan anak kembarnya masih belum terbiasa dengan angin malam.

"Ya baiklah." jawab Edgar, sedikit kecewa."Kamu bawa mobil?" tanya Zalfa, Edgar menggeleng, ia ke sini tadi menggunakan motor gedhenya. "Ya udah, motornya masukin dulu, ntar bawa mobil Ibu, Ibu mau ambil dompet bentar," pamitnya. 

Edgar tak menjawab, ia hanya mengulum senyumnya, lalu berjalan ke sepeda motornya, dan menuntunya masuk ke depan rumah Zalfa, Zalfa sendiri sedang membuka pintu garasi, rumah sederhana dengan garasi mobil, nampak sederhana.

Mobil honda jazz abu tua yang Zalfa miliki, ia beli dengan menukar mobil almarhum suaminya pasca kecelakaan, lalu ia mengganti dengan mobil kecil. Sebab Zalfa tak ingin mengingat atau membayangkan mobil tersebut, saat almarhum suaminya meninggal dengan selingkuhannya.

"Nih, kunci mobil. Bisa nyetir 'kan?" Zalfa menyodorkan kunci mobil ke arah Edgar, Edgar tersenyum manis, ia menyukai saat Zalfa sang gurunya menyuruh dirinya.

Zalfa membuka pintu mobil samping kemudi, lalu Edgar pun mengikuti dengan masuk ke kabin kemudi, tanpa bicara keduanya sibuk memasangkan sabuk pengaman ke dirinya.Mobil yang Zalfa miliki, jarang ia pakai. Sebab dirinya lebih suka mengendarai kendaraan roda dua di banding mobilnya, Saat berangkat mengajar.

"Berapa bulan mobil nggak di pakai?" tanya Edgar, iseng.Zalfa tahu, apa maksud muridnya tersebut, sebab kesibukannya ia mengajar, mobil jarang di buka, jadi memang sedikit pengap, dan mobilnya nampak berdebu, apalagi Ayahnya juga belum mahir mengendarai mobilnya, jadi jarang ia pakai. 

"Lebih dari dua minggu," jawab Zalfa, nampak santai."Yang bener?" tanya Edgar menggoda, Zalfa pun mencubit lengan muridnya tersebut, dengan mata sedikit melotot "Aauh.. Sakitlah Bu," protes Edgar,"Dah ayo jalan." suruh Zalfa,"Panasin dulu mesinya, biar nggak rewel di tengah perjalanan," jawab Edgar, santai. Lalu ia mengegas mobil tersebut, membuat suara berisik. 

Si kembar yang mendengar deruan mobil yang membisingkan telingannya, berhambur keluar, ia tahu Mamanya akan pergi.

"Mama... Angga ikut!" ucapnya, langkah kaki kecilnya berlari menuju mobil, Zalfa menarik napas pelan, ia sudah menduga anaknya bakal tahu, jika Edgar memanasi mobilnya seperti ini. Ia melirik ke arah Edgar, pasrah.

Zalfa pun kembali turun dari mobilnya

Zalfa menarik napas lalu berjongkok mensejajarkan tingginya dengan putra kecilnya. 

"Sayang, ini sudah sore, bentar lagi mau maghrib, mama mau belanja sebentar sama Kakak itu, nanti pulangnya Mama beliin es cream ya," ucap Zalfa dengan penuh kelembutan, "Tapi Mama..." Rangga menunduk, ia nampak kecewa,"Angga Sayang, Angga sama Uti ya, katanya mau jalan-jalan ke taman." Bunda Zalfa, keluar dengan menuntun tangan Rengga. 

"Nah itu. Mau di ajak Uti ke taman." sahut Mamanya."Iya deh, tapi Mama tidak boleh lama-lama," ucapnya , khas anak kecil.

Edgar yang baru memanasi mesin mobil turun, ia berjongkok menyentuh lembut pipi Rangga. 

"Kakak pergi sebentar nganterin mama belanja ya, dik Rangga sama dik Rengga di rumah saja, besok kalau nggak ke sorean, kakak ajak ke pantai, mau?" tanya Edgar, kemudian.

"Pantai itu yang ada putri duyung itu ya?" tanya Rengga. Ia berjalan menghampiri Edgar. Edgar merasa geli dengan pertanyaan Rengga.

"Angga mau, ental Angga mau tangkap itu putli duyung, bial nanti bisa nemani Angga lenang di kolam," celoteh Rangga

"Iya nanti kita tangkap putri duyung sama-sama ,Ya?" jawab Edgar, ia sangat senang dengan dua bocah kecil yang begitu tampan dengan tatapan mata tajam, alis tebal, kulit putih, hidung mancung mirip mamanya, Edgar yakin kelak jika keduanya dewasa, ketampanannya akan melebihi dirinya. 

"Baiklah, Angga mau jalan-jalan saja sama Uti," jawab Rangga, matanya nampak berbinar, namun membuat Zalfa merasa tak enak hati. Ia takut Edgar hanya membohonginya jika mereka akan di ajak ke pantai. 

"Eh, peluk kakak dulu doonk." pinta Edgar, dengan senyuman yang mengembang. Rengga dan Rangga memeluk Edgar secara bersamaan.

Lalu keduanya berdiri secara bersamaan."Bunda, Zalfa nitip si kembar bentar, ya?" pamit Zalfa, Ibunya hanya mengangguk. Sambil melempar senyum,

Menit berikutnya, Edgar dan Zalfa sudah duduk di dalam mobilnya, siap berangkat ke pusat perbelanjaan. 

Di tengah perjalanan, Zalfa memulai obrolan, sedangkan Edgar fokus nyetir.

"Kamu tuh jangan suka janji begitu, nanti mereka kecewa kalau kamu cuma berdusta," protes Zalfa, 

"Hhmmm... Bu guru yang cantik, siapa sih yang berdusta?" tanya Edgar, tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.

"Ya kamu, pakai janji mau ngajakin si kembar ke pantai segala, " jawab Zalfa , sedikit kesal.

"Nggak ya, Edgar serius. Edgar memang ingin ke pantai ngajak mereka, akhir pekan ini, " terangnya.

"Mereka masih kecil, belum pernah perjalanan jauh." jawab Zalfa, manyun, Edgar melihat ekspresi manyun Zalfa nampak menggemaskan. 

"Ibu, kalau manyun begitu, bikin gemes deh," Goda Edgar,"Ibu serius loh," Zalfa, nampak kesal."Bu guru itu cantik, lagi marah juga cantik, Edgar ingin terus lihat bu huru tertawa." rayunya.

"Aish, kamu tuh nyebelin!" kesalnya. Lalu pandangan matanya, menyapu luar jendela. 

"Bu. Maaf.. Kenapa ibu belum mau menikah? 'kan ibu cantik masih muda juga?" tanya Edgar, sedikit sangsi."Apapun boleh kau tanyakan pada Ibu, tapi Ibu punya hak untuk tidak menjawabnya," balas Zalfa, acuh. 

Edgar pun diam, ia merasa tak selayaknya bertanya masalah ini, Namun Edgar penasaran, bagaimana tipe laki-laki idaman ibu guru yang sangat ia sayangi. "Maaf, guruku Sayang." jawab Edgar, "Apa kamu bilang?" tanya Zalfa,"Bu guruku Sayang." jawab Edgar, tanpa merasa bersalah, matanya tetap fokus melihat jalan, sedangkan tanganya memainkan setir. 

Zalfa diam tidak menjawab, Zalfa merasa Edgar semakin kesini semakin berani pada dirinya. 

Setengah jam perjalanan, keduanya sampai di pusat perbelanjaan, Edgar membawa mobil Zalfa menuju parkiran bawah tanah. 

Lalu mereka mengambil troli, setelah sampai di dalam pusat perbelanjaan. 

Edgar mendorong troli, dan Zalfa berjalan di depan memilih barang yang akan ia beli.

Jika saat ini Edgar yang tidak mengenakan seragam sekolah, keduanya nampak sepasang kekasih yang sangat serasi, Meskipun usia Zalfa lebih tua dari Edgar, namun muka baby face nya, membuat Zalfa seperti masih single. 

"Bu Zalfa." panggil Edgar lembut,"Iya." jawab Zalfa singkat, lalu ia menoleh, ke arah Edgar. 

"Beliin ini ya," Edgar mengambil buah pisang ambon. Melihat Edgar yang memang menyukai buah-buahan, Zalfa hanya mengangguk, "Ini juga. ini, ini terus ini juga ya." katanya sambil, memasukan beberapa macam buah segar ke dalam troli. "Dah terserah, borong semua yang kau mau," jawab Zalfa, mendengar jawaban Zalfa, Edgar tanpa malu, mengambil buah lagi, Zalfa hanya bisa memandang sambil geleng-geleng, 'ia tidak bisa di ajak bercandakah? kenapa di anggap serius?' batinya. "Ini bocah, ususnya panjang banget yak, makanya banyak," Batin Zalfa, lagi.

"Nggak usah ngebatin Bu, 'ntar Edgar ganti uangnya," ucap Edgar, seakan bisa membaca pikiran Zalfa." Buat calon istri mah, apapun yang di mau akan Edgar kabulin." katanya. Matanya melirik-lirik tak jelas, Zalfa melotot mendengar ungkapan Edgar, Namun Edgar pura-pura cuek.

"Zalfa..!!" Terdengar suara bariton laki-laki, yang memanggil nama Zalfa, Zalfa dan Edgar menoleh bersamaan ke sumber suara, Melihat siapa yang memanggil.

Zalfa nampak bahagia saat teman kuliahnya dulu yang memanggilnya. Lalu ia menghampiri ke laki-laki yang sedang berdiri, di area mainan anak. 

"Althaf.. Bagaimana kabarmu. lama tak berjumpa?" tanya Zalfa, Edgar mengikuti Zalfa di belakang, ia merasa tak suka ada laki-laki yang memanggil Zalfa. "Bunda.. Itu siapa?" tanya Edgar, saat ia sudah berdiri di sebelah Zalfa. 

"Oh kenalin ini temen Ibu saat kuliah dulu." Zalfa memperkenalkan."Hmm... Hai, aku Althaf, "ucap Althaf memperkenalkan, diri.

"Oh, aku Edgar, calon suami Zalfa," ucap Edgar, tanpa malu, Althaf, yang memang menaruh hati Ke Zalfa, melirik ke arah Zalfa, Ia yang tadinya bahagia melihat Zalfa, seakan merasa kecewa. 

"Kamu tuh bicara sembarangan," protes Zalfa."Eh, Maaf ya, kami masih banyak yang harus di beli, ayo!" ajak Edgar, ia menarik tangan Zalfa, secara paksa, menjuhi laki-laki yang bernama Althaf tersebut, membuat Zalfa merasa kesal. 

"Apaan sih kamu tuh!" Zalfa, menarik tangan yang di genggam Edgar, ia merasa kesal dengan murid yang satu ini. 

"Edgar nggak suka ibu dekat-dekat sama cowok lain." jawabnya. posesive, seakan Zalfa miliknya.

Zalfa melotot ke arah Edgar, yang memang postur tubuhnya lebih tinggi darinya. 

"Kamu nggak sopan sama gurunya sendiri." makinya,"Terserah, Edgar hanya melihat laki-laki tadi kurang baik buat Ibu." jawabnya tanpa ekspresi. "Tahu darimana?" sentaknya.

"Tatapan matanya," jawab Edgar, "Bunda.. coba tatap mata Edgar," Edgar memegang bahu Zalfa, Entah sihir apa, Zalfa menatap mata Edgar, membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Edgar nampak begitu mempesona saat di lihat dari arah dekat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Direklamasi oleh Pewaris Mafia
8.8
Nora Yates hancur setelah lima tahun menikah karena memergoki Stefan Gordon berselingkuh dengan Izabella. Stefan bahkan mengaku pernikahan mereka hanyalah taktik balas dendam kejam untuk menyiksanya. Di tengah keputusasaan, Nora bangkit dan menolak menjadi istri yang lemah. Dunia sempat lupa bahwa sebelum sakit, Nora adalah peretas legendaris yang sangat ditakuti. Kini, peretas tangguh itu kembali ke perusahaan lamanya demi menuntut keadilan.
Sampul Novel Ketagihan Menjadi Penguntit
8.7
Berawal dari tatapan misterius di dalam kendaraan umum, hidup seorang wanita berubah ketika ia menyadari dirinya sedang diawasi oleh seorang pria asing. Tanpa disadari, setiap keputusan yang diambil justru menuntunnya lebih dalam ke dalam skenario yang telah dipersiapkan dengan matang. Setiap langkah yang ia tempuh membawanya masuk ke dalam perangkap yang tak kasat mata. Kisah romansa modern penuh misteri ini mengupas batas tipis antara obsesi, rasa penasaran, dan bahaya yang mengintai.
Sampul Novel Mengejar Berondong
8.1
Di usianya yang hampir berkepala tiga, Xavera Grizelle masih saja melajang karena standarnya yang terlalu tinggi dalam mencari pria tampan, kaya, dan sempurna. Namun, prinsip kaku itu goyah setelah ia bertemu Tezza, seorang mahasiswa baru yang baru lulus sekolah menengah atas. Yakin bahwa pemuda tersebut adalah jodoh sejatinya, Xavera pun bertekad melakukan apa saja demi mendapatkan cinta Tezza. Akankah perjuangan mengejar sang berondong berakhir bahagia?
Sampul Novel Perumahan Bejo 23 The Series
8.4
Setiap manusia pasti menghadapi pasang surut kehidupan, baik berupa berkah tak terduga maupun cobaan berat. Melalui kumpulan cerita para warga di Perumahan Bejo 23, kita akan melihat bagaimana mereka berjuang melewati berbagai konflik tanpa pernah putus asa. Mengangkat tema romansa modern dan interaksi sosial, kisah inspiratif ini sarat akan pesan moral tentang ketangguhan serta keyakinan bahwa selalu ada solusi di setiap masalah.
Sampul Novel Pesanan Henna Calon Pengantin Suamiku
9.0
Dunia Rury runtuh saat melayani pelanggan jasa lukis henna miliknya. Wanita yang menjadi calon pengantin itu ternyata adalah selingkuhan suaminya sendiri. Menghadapi pengkhianatan kejam ini, Rury menolak terpuruk dalam kesedihan. Ia memilih bangkit dan merancang strategi matang untuk mengacaukan hari pernikahan mereka. Ikuti perjuangan berani Rury dalam menuntut keadilan dan membalas rasa sakit hatinya secara elegan.
Sampul Novel TERTAWAN PESONA MANTAN
8.2
Akibat insiden mati lampu yang membuat Vino cedera parah hingga sulit berjalan, Kalila harus bertanggung jawab. Ia terpaksa menikahi mantan pacar masa sekolahnya itu demi merawatnya. Namun, pernikahan mereka penuh cobaan berat. Di tengah perjuangan membina rumah tangga, kehadiran pria lain yang mencintai Kalila mulai mengusik dan mengancam keharmonisan hubungan pernikahan mereka.