APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CUKUP SETAHUN AKU DI SISIMU, MAS

CUKUP SETAHUN AKU DI SISIMU, MAS

Menjadi istri siri kedua sangatlah berat, apalagi setelah aku tahu bahwa istri sah suamiku ternyata sahabat dekatku sendiri. Di tengah situasi rumit ini, aku terpaksa bersandiwara dan menutupi jati diriku yang sebenarnya agar tetap bisa bertahan bersamanya. Selama satu tahun penuh konflik dan kepalsuan ini, sanggupkah aku terus menyembunyikan kebenaran besar tersebut tanpa merusak ikatan persahabatan yang kami miliki?
Bab
Bagikan

Bab 3

Mereka nggak pantas di tangisi.

"Jadi ... kalian mau bermain-main denganku? Oke! aku layani kalian. Tunggu pembalasanku,"

"Cukup setahun aku di sisimu, Mas. Setelah anakku lahir. Ku pastikan kalian kembali ke asal. Orang ndeso, sok agamis nan mlarat,"

"Tunggu permainanku. Banyak kejutan buat kalian," tutupku lirih. Sambil tersenyum licik.

***********

"Dek ..." panggil Mas Ardi lembut. Sambil mengusap pungungg tanganku. Menatapku romantis.

Tumben dia panggil aku, dek. Pasti, ada udang di balik peyek. Ups, maksudnya ada udang di balik batu.

Keluarga benalu semua berkumpul di sini. Di ruang tamu. Mas Ardi, Ibu mertua yang sok agamis dan Wulan si muka dua.

Anak Wulan sudah tidur, dari tadi. Berkat perjuanganku seharian momong. Seharian sudah layaknya baby sitter. Capek.

Kulirik sebentar Wulan. Wajahnya terlihat di tekuk. Mulut, dia monyong-monyongkan. Uh ... rasa-rasanya, itu mulut ingin kutabok panci gosong.

Cemburu, ya. Suamiku, maksudnya suami kita, mesra pada madumu. Kasihan, deh.

'Yes ... kecoa jantan sudah masuk perangkap," girangku dalam hati.

"Ada apa, Mas?" jawabku di sampingnya. Wulan terus menatapku. Sedangkan Ibu mertua, sibuk dengan acara dangdut di TV. Kesukaannya.

"Katamu dulu, perusahaan sudah jadi milikku? tapi, kata sekretaris baruku. Masih punyamu, usai dia lihat data perusahaan," lembutnya.

"A-apa, Mas. Aku kurang denger. TV nya kekencengen, sih," bohongku. Memang itu tujuanku, agar Ibu mertua mematikan Tv, lalu ikut nimbrung dan akhirnya masuk perangkap.

"Bu, nonton apaan sih. Ini aku mau bicara penting. Sama, dek Safa,"

Ohoy ... dia panggil aku, dek. Lagi.

Kalau dulu. Pasti hatiku udah berbunga-bunga. Sekarang, ya, masih berbunga-bunga, sih. Tapi, bunga bangkai.

"Matiin dulu, Bu," tambah Wulan. Halus.

Ibu mencebikkan bibir sambil melirikku. Kesal.

"Ya, deh. Lagian ngomong apaan, sih. Penting, ya?"

Mas Ardi tak menyahuti cibiran Ibu. Pun aku dan Si muka dua.

"Dek, gimana ceritanya. Perusahaan masih milikmu. Dulu katanya, buat Mas Ardi," ulangnya ke inti.

Enak, saja. Susah payah almarhum papaku bangun. Seenak jidat, buat kamu. Ya Ampun. Mustahil. Tak akan pernah kubiarin.

"Kamu jadi istri, kok suka bohong. Jangan durhaka, kamu. Suami sendiri, kok di bohongin. Mau masuk neraka, kamu," hardik Ibu mertua dongkol. Dia berdiri dari duduk tak santainya.

Ingin sekali ku dorong tubuhnya. Agar terkena stroke sekalian.

Awas. Stroks bu. hihi.

"Dengerkan penjelasanku dulu," mulai diri ini.

"Aku, kan punya satu perusahaan. Nggak mungkin, kan, satu perusahaan buat satu orang saja. Sedangkan, kalian semua sangat berarti bagiku," ujarku bersandiwara.

"Maksud, Mbak?" si muka dua bertanya, heran.

"Aku mau bagi perusahaanku buat kalian bertiga. Sebagai rasa terimakasih. Karna memperjuangkanku untuk miliki keturunan,"

Bersamaan, Ibu mertua dan Wulan melongo. Kemudian senyam-senyum kegirangan. Mungkin, mereka udah bayangin jadi OKB. Dasar mata duitan.

"Beneran?" sontak Ibu.

"Ya. Bener. InsyaAllah kalau tidak ada aral melintang, setelah Wulan melahirkan anakku. Aku pribadi, akan memberikan langsung pada kalian,"

"Beneran?" tanya Mas Ardi. Mengikuti ibunya.

"Apa aku terlihat bercanda, Mas. Atau kalian nggak mau perusahaanku?"

"Mau!" sontak mereka serempak.

Aku mencebikkan mulutku. Tak sengaja.

Dasar. Matre. Mata duitan. Keluarga benalu. Mengaku agamis, tapi kelakuannya bikin hati meringis. Miris.

"Ya. Ya udah, deh," ujarku berdiri. Berlalu pergi sambil mensedekapkan tanganku.

'Permainan segera dimulai. Sekarang dan sampai anakku lahir. Aku yang akan jadi ratunya dan kalian semua, babuku. Wahai jongos-jongosku,' sombongku dalam hati.

******

"Mas ... gimana, sih kamu. Katanya perusahaan si Safa, udah jadi milikmu. Nyatanya?"

Aku tersenyum licik, mendengar suara bernada sangat kecewa, dari Istri tua suamiku. Beruntung, kemaren mereka semua pergi. Jadi, dengan leluasa aku bisa meletakkan alat sadap suara di bawah meja rias si muka dua, itu. Karena aku yakin, kamar Wulan adalah markas besar mereka.

Menyadap kamar Wulan sudah. Selanjutnya, sadap WA Mas Ardi, Suami jahatku.

Mereka jual. Aku beli. Mereka licik. Aku jauh lebih bisa licik.

Istri sholikhah yang taat suami dzolim sudah musnah. Apalagi, menantu yang hanya islam KTP , saja, siap bertempur dengan mertua kejam, sok agamis.

"Iya, nih, Ardi. Kamu kenapa nggak bisa, sih, rebut harta wanita islam KTP itu," suara ibu mertua uring-uringan.

Mendadak membuatku marah. Sangat marah. Sampai panas puncak ubun-ubun, jantung dan ususku. Ups.

"Mulai sekarang. Kalian harus bersikap baik sama Safa. Jangan sampai dia berubah pikiran. Kita sudah sejauh ini. Melangkah menerjang masalah demi masalah. Sampai aku merelakan istriku, Wulan mengandung anak Safa. Jangan sampai kita gagal jadi orang kaya. Paham?"

Astagfirulloh ... ternyata lelaki miskin, yang dulu ku pilih karena kuatnya ilmu agama yang ia miliki, tak ubahnya iblis yang gila harta. Sampai segitunya ingin mejadi kaya. Halal-haram, dia terjang.

"Manusia hina, kau, Mas," geramku. Tanganku terkepal. Menggenggam marah sprei kasurku.

Manusia kelakuan iblis.

"Sampai kapan. Ardi? Masa ibu harus pura-pura baik, sih. Ibu, kan bukan Wulan,"

"Maksudnya?" terdengar Wulan menyahut tak suka. Mungkin merasa tersindir.

"Ayo ... serang Wulan," ujarku mulai menikmati.

"Ya. Kayak kamu. Di depannya aja baik. Di belakang. Menusuk,"

"Enak saja, Ibu bilang begitu. Aku begini, demi siapa coba?" suara Wulan nampak tak mau kalah.

"Mending muka dua. Daripada Wanita tua ngakunya alim. Padahal munafik," imbuh wulan. Untuk yang ini, aku setuju dengan istri tua.

Mampus kau, ibu suri. Jahat, sih, Anda.

"Aw ... tolong ..., sakit bu, rambutku, Mas, tolongin, dong!"

Aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi aku yakin. Mereka sedang bertengkar. Pasti Ibu suri menjambak rambut menantu kesayangannya.

"Sudah ... diam. Seharusnya dalam situasi begini. Kita harus kompak. Jangan bertengkar. Kalian, selalu saja kayak anak kecil. Udahan, Bu. Ingat umur. Kamu, juga Wulan!" hardik keras, Mas Ardi.

"Untung. Kamar ini udah ku kasih alat kedap suara. Kalau, nggak? habis kita. Safa nggak bakal kasih perusahaannya ke kita. Gagal semuanya!"

Haa ...,? seriusan? seniat itu, kah suamiku!

"Kafa, udah tidur, kan?" tanya Mas Ardi. Menyakan anak hasil dengan istri tuanya.

Aku geram mengingatnya. Dulu, sebelum menikah. Dia ngakunya, perjaka. Belum kenal wanita. Tidak pernah pacaran. Nyatanya, zonk. Anak aja udah punya. Dimana letak keperjakaan kamu, Mas. Dusta.

Aku mendadak teringat nasihat almarhumah mamaku.

"Kalau kamu bertemu seseorang, yang mana di awal, dia berbohong. Maka, akan ada kebohongan lain, yang harus kamu tahu. Ungkapkan dan buktikan, kalau kamu kuat. Jika, tidak kuat. Maka, pergilah dan mulailah hidup barumu,"

Aku meneteskan air mata. Nasihat mama, sewaktu aku juga mengetahui, skandal perselingkuhan papa dengan sekertarisnya.

"Papa gagal jadi Suami. Tapi, menjadi seorang ayah. Dia berhasil. Tetap hormati dan sayangi dia, Safa," ingatku lagi pada perkataan Mama. Membuatku bersedih.

Tak menyangka, aku dihadapkan kisah perselingkuhan lagi. Tetapi, ini lebih rumit dari pada Mama. Kalau Mama, lebih memilih pergi, tapi aku akan tetap bertahan. Demi anakku.

"Aku Safa Marwadina. Wanita kuat yang akan perang melawan kedzoliman Suami dan Mertua. Doakan aku kuat, Ma," lirihku.

Aku ingin solat. Bermunajat pada Allah. Ingin memgadukan nelangsa hidup ini.

Kelihatannya, diskusi mereka sudah usai. Mungkin, sebentar lagi, Mas Ardi, ke sini. Aku harus ke kamar mandi. Berwudlu lalu solat. Minta kekuatan pada Allah. Menghadapi setan berwujud manusia, itu.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah Dari Anakku
8.0
Hidup Anastasia Tillman hancur dalam semalam akibat dikhianati orang terdekat hingga ia terusir. Lima tahun kemudian, ia berhasil bangkit sebagai desainer perhiasan sukses yang membesarkan putra kecilnya sendirian. Namun, kedamaiannya goyah saat seorang miliarder datang menawarkan pernikahan demi sang anak. Walau Anastasia merasa sanggup mandiri, kemiripan wajah putranya dengan pria kaya itu sangat sulit dibantah. Akankah ia menerima pinangan tersebut?
Sampul Novel DOLLAR MEKAR RUMAH TANGGA BUBAR
7.9
Demi memperbaiki finansial keluarga, Maryati mengadu nasib ke Taiwan sebagai perawat lansia, berpisah dari suami dan buah hatinya. Sayang, gelimang gaji besar menyeretnya ke pergaulan bebas hingga berselingkuh dengan sesama TKI. Pernikahannya hancur seketika saat Irwan membongkar aksi lancung tersebut, menyisakan penyesalan hebat bagi Maryati. Di kala terluka, hadir Ajeng yang tomboi dan tulus mengasihi Irwan. Kini, sanggupkah Irwan mengampuni Maryati yang memohon untuk rujuk?
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menyoroti sisi tersembunyi kehidupan yang penuh luka, dilema, dan kerinduan di balik topeng kesucian. Melalui narasi realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan diri di tengah kegelapan untuk menemukan cahaya. Sebuah hiburan mendalam tentang pencarian makna hidup serta cinta yang berliku, menyajikan perspektif baru bagi Anda.
Sampul Novel Harga Diri Seorang Wanita
8.1
Jenna Ren hampir mengakhiri hidupnya di atap rumah sakit dengan luka fisik dan batin. Namun, kehadiran sang suami bersama selingkuhannya menyadarkan Jenna. Kematiannya hanya akan menguntungkan mereka. Setelah kehilangan calon bayinya akibat penderitaan itu, ia memilih bangkit untuk membalas dendam. Jenna mengurungkan niatnya lalu bersujud di hadapan Tuan Besar Kim, memohon kekuatan besar untuk menghancurkan semua orang yang telah mengkhianati dirinya.
Sampul Novel KEJUTAN UNTUK SUAMIKU
8.7
Divonis menderita kista ovarium membuat Ulfa pesimis bisa memiliki keturunan. Namun, setelah enam tahun menanti bersama sang suami yang tampak tulus menerima keadaannya, keajaiban hamil itu akhirnya datang. Sayangnya, kebahagiaan Ulfa seketika hancur saat ia mengetahui rahasia besar bahwa suaminya telah berpoligami secara diam-diam. Kini, di tengah kebimbangan, Ulfa harus memilih antara bertahan demi calon bayinya atau menyudahi pernikahan mereka.
Sampul Novel Mas, aku lelah
9.0
Demi menggantikan Kalisa yang melarikan diri, Kayara Adeluwis terpaksa menikahi Steven Alexander. Dua tahun berlalu tanpa cinta, dan Kayara mulai lelah menghadapi sikap dingin sang suami. Namun, Steven enggan berpisah sebelum Kalisa ditemukan. Terjebak dalam pernikahan penuh konflik dan gairah, mampukah Kayara membebaskan diri dari cengkeraman Steven, atau justru selamanya terperangkap dalam hubungan yang menyiksa ini?