APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Crazy In Love

Crazy In Love

Sosok pemalas berparas rupawan mirip idola Korea ini punya sejuta pesona, mulai dari otak encer hingga tubuh atletis yang memikat wanita. Namun, di balik kesempurnaannya, ia menyembunyikan nama asli yang memalukan: Jamaluddin. Kemarahannya meledak ketika seorang gadis tanpa ragu menertawakan nama itu di depan umum. Merasa harga dirinya diinjak-injak, ia kini menyusun rencana matang untuk membalas dendam dan menghancurkan hidup gadis yang telah mempermalukannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Cewek jadi-jadian. Itulah nama yang selalu disematkan pada gadis itu, Anggun. Namanya memang Anggun. Namun, namanya berbanding terbalik dengan segala tingkah absurdnya. Tingkahnya benar-benar tak mencerminkan bahwa ia adalah seorang gadis. Ia tak lembut sama sekali. Ia juga tak pandai berdandan atau berjalan lenggak lenggok layaknya model. Wajahnya bisa dibilang tak cukup terawat bagi seorang gadis. Lihatlah, tak ada polesan bedak sama sekali pada wajah gadis itu. Wajahnya juga cukup berminyak, menyebabkan satu dua jerawat tumbuh di wajah cantiknya. Ia juga tak memiliki gaun. Ia lebih memilih memakai kaos oblong/ kemeja dilengkapi dengan celana kolot/jeans. Benar-benar tak mencerminkan seorang gadis. Ia lebih terlihat seperti pria remaja.

....

       Anggun memasuki ruang kepala sekolah dengan sopan. Saat masuk, ia merasakan hawa dingin menyambut kulit putihnya.

"Selamat pagi,pak."

       Anggun menyapa seorang guru yang ada di depannya. Ia yakin bahwa sosok yang duduk di hadapannya adalah sang kepala sekolah.

"Selamat pagi, pasti Anggun ya?"

     Anggun mengangguk malu.

"Sebentar. Anggun Dwi Bunga V. Kamu masuk ke kelas XII IPS-2. Mari saya antar."

"Terimakasih,pak."

            Anggun mengikuti arah sang kepala sekolah berjalan. Sesekali ia menengok kanan dan kiri mengamati kondisi sekolah barunya. Sekolah ini lebih bagus dari sekolah sebelumnya yang ia tempuh. Bangunan ini terlihat elite ketika diamati dengan seksama. Kenapa ia baru sadar sekarang? Pantas saja, ia tak menemui satu orang pun yang terlihat miskin. Kecuali dirinya sendiri.

           Huft, Anggun mendesah kecil. Memang kondisi ekonominya terbilang tidak cukup baik. Ia hanya tinggal dengan sang kakak. Sang kakak harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhannya serta kebutuhan dirinya sendiri. Mereka ditinggalkan oleh kedua orang tua mereka saat usia sang kakak 17 tahun dan dia 7 tahun. Saat itu kedua orang tuanya bertengkar hebat, tak tahu mengapa. Yang jelas, mereka tiba-tiba saja meninggalkan kami tanpa berkata-kata. Anggun saat itu masih belum paham apa yang terjadi. Yang jelas, saat melihat kakaknya mengeluarkan air mata, ia tahu, bahwa sang kakak tengah bersedih.

Flashback

Anggun terbangun dari tidurnya saat mendengar bunyi pecahan kaca dengan keras. Ia benar-benar terkejut dan ketakutan. Anggun berniat mencari sang bunda meminta pelukan. Namun, saat keluar kamar ia mendengar teriakan-teriakan keras dari lantai bawah, itu suara ayah dan bundanya.

"Bunda, Anggun takut..."

       Anggun meremat kedua tangan mungilnya sendiri ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat saat suara pecahan kaca kembali terdengar. Sebuah tangan besar memeluk tubuh kecilnya. Itu tangan kakaknya. Menguatkan sang adik yang bergetar ketakutan. Sang kakak kemudian membawa adiknya menuju kamar. Berusaha mengalihkan perhatian Anggun dari suara teriakan-teriakan orang tuanya. Ia juga takut. Namun, ia harus terlihat tegar di depan adiknya. Reyhan, sang kakak, menceritakan sebuah dongeng seorang putri, agar adiknya bisa tertidur.

       Setelah beberapa saat, Reyhan melihat adiknya terlelap. Air matanya tiba-tiba saja meluncur dengan derasnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tak ingin sang adik terbangun karena mendengar isakannya.

         Tanpa Reyhan ketahui, bahwa adiknya memang sudah terlelap. Namun, belum terlelap sepenuhnya. Ia masih bisa mendengar isak tangis tertahan kakaknya. Anggun tahu, pasti kakaknya sedang sedih, entah karena apa. Besok Anggun akan mengadukannya ke Bunda, kalau kakak cengeng karena menangis, padahal laki-laki.

Flashback Off

      Mengingat hal itu membuat hati Anggun terasa sesak. Sosok orang tua yang begitu kasihi, begitu tega menyakiti anaknya sendiri tanpa ampun. Hingga rasa kasih itu perlahan menjadi benci.

        Anggun mengusap air matanya kasar. Ia tak boleh lemah. Ia masih punya kakak. Sang penopang hidupnya.

           Tak terasa ia sudah sampai di depan kelas XII IPS-2. Suara berisik dari dalam kelas benar-benar memekakan telinga. Anggun yakin, kalau kelas ini kosong. Tak ada guru yang mengajar.

          Melihat Kepala Sekolah masuk, murid-murid dengan panik menempati kursi masing-masing.

"Selamat pagi anak-anak. Kalian akan mendapatkan teman baru. Silahkan Anggun memperkenalkan diri."

         Anggun mengangguk kemudian maju selangkah untuk memperkenalkan diri.

"Kenalin. Nama gue Anggun Dwi Bunga V. Bisa dipanggil Anggun. Terimakasih."

Krikk krikk

       Perkenalan macam apa itu? Singkat sekali. Bahkan sampai beberapa murid melongo saking syoknya. Sang kepala sekolah hanya terkekeh kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Ada yang mau ditanyakan?"

      Belum sempat ada yang membuka suara, Anggun menyela terlebih dahulu.

"Gak usah tanya-tanya. Gue males jawab."

        Lagi-lagi semua siswa syok. Mereka tak menyangka ada cewek yang judesnya melebihi peri peyot. Sang kepala sekolah hanya terkikik.

"Baiklah. Kalau begitu duduk dengan Jack."

"Jack?"

"Itu yang tidur di pojok belakang."

"Oh... Jamaluddin.. Hahahhahahaha"

        Tidak tahu kenapa, saat menyebutkan nama itu, perut Anggun tergelitik geli. Sedangkan sang empunya nama langsung terbangun dari tidurnya mendengar nama aslinya disebut oleh orang selain kedua orang tuanya. Para siswa nampak terdiam ketakutan. Sedangkan sang penyebut nama masih tertawa terbahak-bahak sampai menggebrak meja dengan keras saking tak tahannya. Merasakan atmosfer yang makin mencekam. Membuat sang kepala sekolah memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu. Biarlah, selagi mereka tidak berbuat onar.

          Jamal menggelutukkan giginya emosi. Gadis itu benar-benar. Belum cukup ia menghinanya tadi pagi. Belum sampai dua jam, ia kembali menghinanya. Jamal menendang meja dengan keras tak perduli dengan rasa nyeri akibat tulangnya terbentur benda yang keras. Nggak lucu kalau tiba-tiba ia berteriak kesakitan.

          Jamal bersidekap mengamati gadis yang belum menghentikan tawanya. Benar-benar menyebalkan. Kalau dia pria, maka ia akan langsung melayangkan bogeman mentah yang bisa saja merontokkan deretan gigi-gigi itu. Karena tawa itu tak kunjung berhenti, Jamal bertambah kesal. Ia menarik rambut kuncir kuda itu dengan cukup keras membuat sang empu hampir terjungkal.

          Melihat orang yang ada di depannya Anggun terdiam. Sial. Ia benar-benar tak bisa mengontrol tawanya. Mengingat namanya saja bisa membuatnya mati konyol karena terlalu lama tertawa.

"Halo Jamaluddin." Sapa Anggun masih menahan tawa.

            Jamal mengepalkan tangannya emosi. Gadis jadi-jadian ini begitu menguji kesabarannya. Terlalu kuat mengepalkan tangan, membuat tangannya memutih.

"Panggil gue Jack."

"Huh? Jack? Nama lo kan Jamaluddin? Jack darimananya?"

"Tinggal panggil gue Jack,sialan!"

"Lho, kok lo malah ngatain gue. Kan gue nanya! Lagian nama lo kan emang Jamaluddin. Kenapa marah waktu gue panggil  Jamaluddin?"

      Perkataan Anggun ada benarnya juga. Tapi, Jamal benar-benar tak menyukai nama aslinya sendiri. Emosinya akan meledak-ledak hanya karena orang lain menyebut nama aslinya. Hal itu membuat semua orang memilih menuruti perkataan Jamal agar memanggilnya dengan sebutan nama Jack.

"Lo tuh jadi cewek gak usah nyebelin bisa? Tinggal panggil gue Jack doang, apa susahnya si?"

"Kalau gue gak mau gimana? Emangnya lo siapa ngatur-atur gue. Lagian kita baru ketemu dua kali. Udah minggir sono, gue mau duduk. Tidur enak kali ahh, pelajaran kosong begini."

            Gadis itu dengan seenak jidat meninggalkan Jamal yang masih termangu. Lagi-lagi Jamal dibuat emosi oleh gadis yang berbuat seenaknya. Mungkin ini yang dirasakan oleh guru mereka saat Jamal tak menuruti segala ucapannya. Benar-benar menyebalkan.

.....

        Beberapa saat berlalu. Jamal menyusul Anggun menduduki kursinya. Ia melihat Anggun sudah menempatkan kepalanya di atas meja. Sepertinya rencana gadis itu untuk tidur benar-benar dilaksanakan. Jamal mendengus, dengan terpaksa ia mendudukan bokongnya di samping gadis itu. Ia mengamati gadis aneh di sampingnya. Ia berdecih,

"Cih, lagian nih cewek gak ada kelebihan sama sekali. Cantik juga enggak. Pinter paling juga enggak udah keliatan dari muka gembelnya. Yang ada cuma punya mulut mercon yang bikin telinga sakit."

          Anggun yang mendengar celotehan tak berguna Jamal merasa terusik. Apa-apaan anak itu. Lelaki aneh ini diam-diam menjelek-jelekkan dirinya. Sok sempurna sekali. Anggun membuka matanya kesal. Ia menatap Jamal sengit. Sedangkan yang ditatap hanya mengernyitkan alisnya heran. Seakan bertanya, "Apa?"

"Lo jadi cowok kok nyebelin banget si? Lemes. Bahkan cewek aja kalah sama mulut lo! Suka banget ya jelek-jelekin gue di belakang! Lo juga gak ada kelebihan. Lagian apa si yang bisa dibanggain dari diri lo?"

         Jamal menghela nafas. Gadis ini yang mengibarkan bendera perang terlebih dahulu, tak merasa bersalah sama sekali. Jamal memilih diam, daripada harus mendengar ucapan yang memekakan telinga itu. Ia masih menjaga kesehatan jasmani dan rohani telinganya.

"Udahlah, males gue denger suara cempreng lo. Udah sono tidur lagi, lo melek aja bikin keributan dunia!"

         Anggun berdecih. Memilih tak menanggapi ucapan Jamal. Toh, ia tak mendapat keuntungan sama sekali.

....

         Semua murid mulai berhamburan keluar dari gerbang sekolah. Bersorak ria karena sudah terbebas dari tempat yang menurut mereka layaknya sebuah penjara. Mereka berdesak-desakan menginginkan keluar terlebih dahulu.

        Sedangkan Anggun masih berdiri di depan kelasnya. Ia masih menyayangi tubuhnya sendiri. Ia tak mau tubuhnya remuk akibat berdesakan.

           Jamal yang melihat Anggun masih berdiri di depan kelas berinisiatif untuk menghampirinya.

"Ngapain lo disini?" Tanya Jamal.

"Lo punya mata kan? Harusnya lo tahu apa yang gue lakuin tanpa bertanya."

"Cewek itu lemah lembut. Pinter dandan. Cantik. Lah elo? Gak mencerminkan cewek sama sekali. Bringas. Kayak preman pasar."

"Dih. Gue nggak butuh validasi dari lo, kalau gue cewek. Jadi lo nggak perlu repot-repot komentarin hidup gue."

"Lagian yang komentarin lo itu siapa? Gue cuma ngasih tau kalau cewek itu lemah lembut sama pinter dandan gitu doang."

"Yang ngatain gue kayak preman siapa? Lo kan? Gak usah pura-pura lupa deh."

"Yang gue ucapin itu benar adanya. Lo tuh jadi cewek kayak preman pasar. Bringas sekali. Gue yakin gak ada cowok yang mau deketin lo. Mereka insecure duluan. Mereka bisa aja kalah bringas sama lo sebagai cowoknya."

"Bodoh amat, gue nggak peduli. Ini hidup gue. Jadi suka-suka gue mau bertingkah kayak apa. Mau berpenampilan kayak apa, juga bukan urusan lo. Lagian gue masih bisa hidup bahagia tanpa harus ada cowok di samping gue. Cowok yang berguna itu jarang."

"Ohh.. Jadi ceritanya lo ngerendahin cowok nih? Pede banget si, cewek kayak lo nggak usah sok tau tentang cowok deh."

"Apa? Nggak terima? Lo punya kaca kan di rumah? Atau lo bisa ngaca noh di depan jendela kelas. Bercermin! Lo udah berguna belum?"

"Emangnya lo siapa seenak jidat nyuruh-nyuruh gue? Ogah."

          Anggun hanya berdecih. Sebal sekali harus berhadapan dengan lelaki aneh di sebelahnya ini. Begitu menguras emosi. Ia harus segera mengecek rambut hitamnya. Barangkali ada yang memutih akibat terlalu sering menahan emosi.

         Tanpa berkata-kata Anggun langsung meninggalkan Jamal dari tempatnya. Menanggapi celotehan Jamal hanya menguras tenaga saja. Ia melangkahkan kaki lebar-lebar. Ingin segera menjauh dari lelaki itu. Dengan bersungut-sungut Anggun memberhentikan angkutan umum yang terlihat di depannya.

           Huft, hari pertama masuk sekolah baru tak berjalan mulus seperti yang ia kira. Hanya satu yang penyebabnya. Jamaluddin. Jika sebelumnya ia akan terbahak-bahak mengingat namanya sekarang ia hanya bisa mendengus geram. Jika HAM dan hukum tak berjalan. Ia ingin sekali mencabik-cabik tubuh Jamal sampai menjadi ratusan potong. Potongan mayat itu akan ia berikan kepada hewan buas. Atau, ia akan menjual organ tubuh Jamal. Lumayan, ia bisa mendapatkan uang dengan mudah. Ck.

             Anggun menggelengkan kepalanya ribut. Pikiran macam apa itu? Sepertinya otaknya harus segera diperbaiki. Otaknya benar-benar sudah rusak. Bagaimana bisa m memikirkan hal absurd seperti itu? Mengerikan. Ia bergedik ngeri sendiri. Ia jadi bertanya-tanya. Jangan-jangan dia sebenarnya adalah seorang psychopath, atau bisa jadi Sociopath? Amit-amit, ia masih punya hati untuk menyakiti makhluk hidup lainnya. Ia juga masih merasa mual ketika melihat darah, bukan merasa bahagia dan puas.

"Bang berhenti bang!"

         Anggun keluar, kemudian ia memberikan selembar uang dua ribu rupiah. Tarif angkutan umum bagi pelajar hanya setengahnya saja dari penumpang umum.

        Ia berjalan menyusuri gang sempit menuju rumahnya. Kepalanya begitu pusing. Ia harus segera mendinginkan kepalanya. Ia rindu sekali dengan ranjangnya.

                               .....

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Kusut yang Ditakdirkan
8.1
Tekanan keluarga memaksa William menikahi Fransiska tiga tahun silam, walau ia mencintai perempuan lain. Pernikahan dingin itu membuat Fransiska memilih kuliah di luar negeri. Begitu kembali, William langsung meminta cerai demi pacarnya yang sedang sekarat. Meski terluka, Fransiska mengiyakan. Namun, William tiba-tiba bimbang dan sengaja mengulur proses perceraian mereka. Di tengah perubahan sikap suaminya yang membingungkan, dapatkah Fransiska membebaskan diri?
Sampul Novel Hasrat Liar Sang PILOT
9.6
Kehidupan Adrian, kapten pilot tampan berumur 35 tahun sekaligus seorang ayah, penuh dengan godaan di dunia penerbangan. Dikelilingi para pramugari menawan, ia tak mampu membendung hasrat liarnya dan mulai mendekati rekan-rekan kerjanya demi memuaskan nafsu terpendam. Di sisi lain, sang istri yang bernama Dewi tentu tidak tinggal diam menghadapi perselingkuhan ini. Akankah rumah tangga mereka bertahan di tengah badai pengkhianatan? Simak konflik panas pernikahan mereka.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Pasca dikhianati saudara angkat dan tunangannya sekembalinya dari desa, Sabrina bertekad membalas dendam. Ia memilih mendekati Charles, paman dari mantan kekasihnya. Walau Charles sempat menolak komitmen setelah malam intim mereka, Sabrina berhasil memicu harga diri pria itu hingga mereka terikat selamanya. Kini, Sabrina kembali sebagai bibi sang mantan. Di balik pandangan remeh orang lain, ia rupanya menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan dirinya adalah pemilik takhta yang asli.
Sampul Novel Love
9.2
Love
Di tengah padatnya rutinitas kota modern, sebuah hubungan asmara yang tulus mulai bersemi secara perlahan. Kisah ini menyoroti arti kasih sayang mendalam di balik kesibukan urban. Lewat momen pertemuan tak terduga, dua individu saling berjuang memahami hati masing-masing demi merajut ikatan emosional yang kokoh. Perjalanan penuh kehangatan ini menjadi bukti nyata tentang keindahan dari sebuah ketulusan cinta sejati.
Sampul Novel Maduku Putri Konglomerat
9.4
Demi keluar dari jerat kemiskinan, Hilman memilih mengkhianati janji sucinya. Ia diam-diam menikahi putri dari keluarga kaya raya demi meraih takhta materi dan kemewahan. Keputusan egois ini seketika menghancurkan hati sang istri pertama, meninggalkan luka batin yang teramat dalam akibat pengkhianatan pria yang sangat ia sayangi. Kini, ia harus berjuang menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya lebih memilih harta dibanding kesetiaan cinta mereka.
Sampul Novel Perjodohan Tidak Diinginkan
9.7
Di usia 22 tahun, Nadira terpaksa menikahi Adrian, seorang pengusaha sukses yang rupanya telah memiliki istri bernama Rania. Pernikahan ini sebenarnya adalah rencana kakek Adrian guna menutupi rahasia kelam sang istri pertama demi menjaga nama baik keluarga mereka. Terjebak dalam kemelut rumah tangga yang rumit dan penuh tekanan, Nadira kini menghadapi ketidakpastian. Akankah Adrian akhirnya menerima kehadirannya, ataukah konflik membara dengan Rania justru akan menghancurkan hidupnya?