APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta yang Luruh Bersama Cahaya Terakhir

Cinta yang Luruh Bersama Cahaya Terakhir

Saat menjalani pengambilan sel telur ketiga untuk bayi tabung, sang istri harus berjuang sendiri karena suaminya, Johannes, beralasan lembur. Tengah malam, ia terbangun dengan tubuh membengkak parah dan kesulitan bernapas. Dalam kondisi kritis, ia menghubungi Johannes. Namun, teleponnya justru diangkat wanita asing bersuara mesra. Keadaan kian mencekam saat terdengar suara cambukan dan erangan sebelum panggilan terputus, mengungkap misteri kelam di balik pernikahan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 5

Raut wajah Merry sangat muram. Dia berjongkok untuk mengambil sendok dengan kepala tertunduk.

Johannes menjawab, "Wira, jangan bercanda lagi. Dia nggak hamil, cuma sakit."

Merry kembali ke meja dan raut wajahnya terlihat jauh lebih baik.

Aku tiba-tiba berujar, "Kami memang mau punya anak, makanya ini lagi coba program bayi tabung."

Johannes tidak menyangka aku akan tiba-tiba mengungkapkan kebenarannya. Baginya, aku yang tidak bisa melahirkan anak membuatnya merasa malu.

Ekspresi semua orang berbeda-beda. Bagaimanapun juga, situasi ini berarti ada masalah dengan salah satu dari kami.

Hanya Merry yang menunduk dan makan dalam diam.

Baru saja hidangan udang diputar ke hadapanku dan sebelum aku sempat mengatakan apa-apa, Johannes sudah mengambilnya dan hendak mengupasnya untukku. Aku pun tidak lagi berkomentar. Johannes telah mengupas udang untukku selama sepuluh tahun. Dia tahu aku hanya makan udang dari berbagai jenis makanan laut.

"Nih."

Kemudian, dia menusuk udang itu dengan garpu dan menyuapinya ke arah Merry yang duduk di sebelahnya.

Setelah menyadari tatapanku, raut wajah Johannes seketika berubah dan dia mulai menegur, "Memangnya kamu nggak punya tangan? Sudah takut udang, tapi kamu selalu mau memakannya. Memangnya kamu anggap bos itu budakmu?"

"Bos, aku nggak akan berani melakukannya lagi lain kali."

Hal ini ditutupi dengan lelucon dan semua orang pun tertawa.

Merry membuka mulut untuk menerima udang itu sambil bermanja-manja, lalu mengunyahnya dengan lahap dan puas.

Kemudian, Johannes langsung mengupas seekor udang lagi dan menggunakan garpu yang dia gunakan untuk menyuapi Merry tadi untuk menyuapiku.

"Nggak usah."

Aku mundur selangkah dan memasang tampang jijik. Setelah ditolak, dia baru menyadari bahwa garpu itu sudah terkena air liur Merry. Dia pun terlihat agak malu.

"Maaf, Silvia. Aku yang lalai."

Johannes segera mengganti garpunya dengan yang baru, lalu menghabiskan sisa malam itu dengan mengupas udang untukku. Dia juga meniupi supku hingga hangat dan mengambilkan lauk untukku.

Dia memperhatikan setiap detailnya dan bersikap sangat perhatian. Menjelang akhir acara, dia bahkan memesankan sebuket bunga untukku untuk menghiburku.

Rasa antusias dan kegembiraan Merry di awal sudah sirna sejak awal dan digantikan oleh kesedihan.

Orang yang duduk di sebelahnya bertanya dengan penuh perhatian, "Merry, ada apa? Kenapa kamu menangis?"

"Nggak apa-apa. Pacarku menindasku."

Dia menyeka air matanya dan menunduk. Namun, Johannes tidak bereaksi.

Setelah acara berakhir, aku duduk diam di kursi penumpang depan. Johannes terus mengoceh dan menjelaskan tindakannya hari ini. Sementara itu, pikiranku dipenuhi sosok Merry yang telanjang dan berbaring di kursi ini.

Aku menunduk. Sesuai dugaan, aku melihat sedikit bercak putih.

"Itu bekas tumpahan minuman Wira. Aku harus potong gajinya," ujarnya dengan marah.

Kemudian, ponselnya yang terhubung dengan speaker mobil melalui bluetooth tiba-tiba berdering. Begitu mengangkat panggilan itu dan mendengar tangisan wanita, dia langsung memutuskan sambungan bluetooth dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Oke, aku mengerti."

Johannes menghentikan mobilnya dengan mendadak, lalu berujar, "Silvia, ada sesuatu yang terjadi di perusahaan dan aku harus kembali. Sebaiknya kamu pulang dulu naik taksi. Aku akan segera pulang."

Aku mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Dia mencium keningku, lalu membantuku keluar dari mobil dan memanggil taksi sebelum pergi. Dia bahkan memperhatikanku melaju pergi.

Setelah mobil melewati titik buta, aku berkata pada sopir, "Pak, ikuti dia."

Sopir itu melirikku sejenak. Kemudian, tanpa banyak bicara, dia mengikuti mobil Johannes dengan menjaga jarak yang aman.

Mobilnya berhenti di pintu masuk hotel tempat kami baru saja makan malam. Johannes segera keluar dan meninju rekan pria yang sedang mencengkeram lengan Merry. Wajah pria itu langsung memucat dan dia jatuh ke lantai.

"Sialan! Coba saja kalau kamu berani main tangan lagi!"

Merry berdiri di samping dengan mata berkaca-kaca.

Aku tidak sengaja mendengar diskusi para rekan kerja lainnya.

"Dari tadi, Denny memang nggak berhenti gangguin Merry untuk minta nomornya. Dia bahkan paksa Merry untuk minum dua gelas alkohol. Pak Johannes memang sudah nggak tahan sama kelakuannya."

Ternyata, Johannes bergegas datang untuk membela Merry.

Rekan kerja pria yang baru mulai bekerja itu langsung terkejut, lalu meminta maaf dan buru-buru pergi. Yang lain juga berangsur-angsur pergi dengan sadar diri.

Ternyata, seluruh perusahaan tahu tentang hubungan mereka. Hari ini, mereka hanya memperlakukanku seperti orang bodoh. Kedua orang yang tersisa itu berciuman di jalanan tanpa malu.

Merry menyeka air matanya sambil berkata, "Aku hampir ditindasnya. Andaikan kamu datang sedikit lebih lambat lagi."

"Sudah, jangan khawatir. Aku ada di sini."

Pada saat ini, aku merasa seperti dikurung dalam gudang es. Perutku yang berat tiba-tiba terasa sakit dan aku memuntahkan darah sebelum jatuh ke lantai.

Johannes berdiri tidak jauh dariku, tetapi dia bahkan tidak melirikku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Luka Kakiku, Tawa Mereka
8.8
Demi menyelamatkan Yudha, sang suami yang berprofesi sebagai politisi, karier balet dan kakiku harus hancur. Namun, pengorbanan tersebut dibalas pengkhianatan saat aku memergoki Yudha berselingkuh dengan Selvia, terapis pribadiku. Mereka bahkan tega mencemooh kecacatanku, sementara ibu mertuaku terus mencaci sebagai beban. Meski Yudha berpura-pura memujiku demi citra politiknya, rasa sakit ini telah berubah menjadi dendam. Tanpa air mata, kini aku bertekad menghancurkan mereka.
Sampul Novel Mau Dimadu Demi Membalas Suami Peselingkuh
8.3
Fiona Larasati rela melakukan apa saja demi membahagiakan suaminya, mulai dari merawat diri hingga mengurus dapur. Sialnya, pengorbanan itu dibalas dengan pengkhianatan keji saat ia mendapati sang suami berselingkuh dengan iparnya sendiri. Alih-alih membela, ibu mertuanya malah merestui hubungan gelap itu. Merasa hancur dan enggan terus ditindas, Fiona menolak pasrah. Ia kini mulai merancang sebuah rencana balas dendam yang rapi demi menghancurkan hidup mereka.
Sampul Novel Mencintai Monster yang Kupanggil Suami
9.0
Elara memaksakan pernikahan sepihak dengan Julian, cinta pertamanya, lewat pengaruh besar keluarganya. Tiga tahun berlalu dalam dinginnya kebencian Julian yang merasa terbelenggu. Sadar kasih sayangnya hanya membawa luka, Elara memutuskan mundur dan lenyap tanpa jejak. Kepergian mendadak ini justru menyisakan kekosongan mendalam di hati Julian. Benarkah kebebasan ini yang ia dambakan, ataukah rasa benci yang selama ini ia pelihara sebenarnya adalah cinta?
Sampul Novel Pengantin Pengganti Untuk Tuan CEO
9.3
Aluna harus menjadi pengantin pengganti setelah kembarannya kabur dari perjodohan dengan CEO kaya, Angga Wijaya Kusuma. Enggan terjebak pernikahan tanpa cinta, ia nekat melarikan diri pada hari pernikahan. Sialnya, rencana itu gagal total saat dirinya malah masuk ke mobil milik calon suaminya sendiri. Kini, Aluna terjebak bersama Angga, menghadapi ancaman kehilangan kebebasannya secara total.
Sampul Novel Pernikahan Yang Salah
9.0
Sebuah penolakan tiba-tiba mengguncang hubungan asmara modern yang rumit ini. Ucapan emosional 'Jangan sentuh aku, Mas!' menjadi titik balik ketegangan yang menguji komitmen serta kesetiaan sepasang kekasih tersebut. Di balik benturan perasaan itu, terdapat konflik mendalam yang mengancam keutuhan hubungan mereka. Kini, mereka harus menghadapi pilihan sulit: sanggupkah pernikahan ini dipertahankan, ataukah luka yang terlanjur tertanam akan membawa mereka pada perpisahan selamanya?
Sampul Novel WAJAH SUAMIKU TIDAK TAMPAN LAGI
8.5
Kebahagiaan pernikahan Naiya dan Fadhil selama lima tahun mulai goyah karena campur tangan Aini, sang ibu mertua yang ingin memisahkan mereka. Ujian semakin berat saat kecelakaan tragis merusak wajah tampan Fadhil. Di tengah perubahan fisik sang suami, kesetiaan Naiya benar-benar diuji. Kini, ia harus bertahan mendampingi Fadhil sekaligus mengungkap dalang misterius di balik kecelakaan tersebut. Mampukah cinta mereka bertahan?