APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Untuk dr. Saka

Cinta Untuk dr. Saka

Kehidupan Dokter Saka hancur setelah perempuan yang sangat ia cintai memutuskan menikah dengan abang kandungnya sendiri. Pengkhianatan menyakitkan itu seketika meremukkan kesetiaan serta komitmen yang selama ini ia pertahankan. Walau ia sangat andal dan genius dalam memulihkan kesehatan para pasien di rumah sakit, Saka kini justru tak berdaya menyembuhkan kepedihan batinnya sendiri. Sanggupkah sang dokter memulihkan kembali hatinya yang telah hancur lebur?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Iya," jawab Saka yang membuat Arini tak mampu mengedipkan matanya.

What? Dia membelikan cincin untukku? batin Arini bertanya, seakan tak percaya. Ia tak menyangka jika Saka begitu baik dan sangat perhatian kepadanya. Hatinya seakan berbunga-bunga mengimbangi senyum manis yang sempat tertoreh.

Saka melirik jari tangan Arini yang ukurannya mungkin hampir sama dengan jari jemari tangan  kekasihnya.

"Bisa saya bantu?" tanya karyawan toko tersebut mengagetkan mereka.

"Iya. Saya ingin mencari cincin pernikahan. Bisa tolong carikan cincin yang cocok untuk kekasih saya?" tanya Saka tersenyum manis.

"Oh, tentu saja bisa!" jawab karyawan tersebut seraya mengambil beberapa cincin."Ini cincin keluaran baru, Mas. Pasti sangat cocok di jari mbaknya," kata karyawan tersebut menyodorkan cincin itu tepat di hadapan mereka. 

Arini terbelalak kaget mendengarnya. Ia tak habis pikir jika karyawan toko itu mengira kalo dirinya adalah kekasihnya dokter saka.

"Maaf, tapi ka ...," kata Arini terhenti saat Saka meraih tangannya. Kedua mata Arini tak berhenti mengerjap. Ia seakan sulit menegak salivanya sendiri saat Saka memasukkan cincin itu di jari manisnya. 

"Kenapa dia memakaikannya untukku?" tanyanya dalam hati. Degup jantungnya kian berdebar saat menatap wajah tampan Saka yang kini ada di depannya. 

"Semoga saja jari manis kamu ini  sama seperti dia!" ujar Satria yang membuat senyum Arini memudar.

Sialan! Ternyata aku hanya sebagai contoh belaka baginya. Arini ... bisa-bisanya kamu Gr dan mengharap cinta dari dia. Heh, bikin malu saja! gerutu Arini dalam hati.

"Cocok banget di tangan kamu." Saka memandang cincin itu sangat indah di jari manis Arini.

 Arini  tertunduk. Ia begitu malu pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia berpikir lebih dengan perasaannya pada dokter Saka. Perlahan, ia mulai mengatur nafasnya dan mencoba untuk tersenyum.

"Dok, bagaimana kalo ukurannya berbeda? Apa nggak sebaiknya dokter  menghubungi kekasih dokter dan menanyakan ukurannya?" kata Arini memberi saran.

"Arini,  kalo saya menghubungi dia, berarti nggak surprise, dong!" ucap Saka menatap Arini seraya menopangkan satu tangan di dagunya. 

Arini menghela nafas panjang. Ia tak bisa membantah Saka, jika Saka sudah seperti itu."Ya sudah, kalo dokter sudah begitu yakin," lirihnya tersenyum tipis.

Saka tersenyum tipis seraya membelai rambut Arini yang begitu lembut.

"Nah, gitu dong! Sekali-kali jadilah orang yang penurut!"

"Apaan, sih, Dok!" gumam Arini menyingkirkan tangan Saka.

"Sekarang, kamu bisa memilih satu cincin yang harganya sesuai dengan gaji kamu," kata Saka yang membuat Arini tak percaya. 

"Buat apa, Dok! Dokter 'kan sudah memilih cincin ini?" tunjuk Arini pada cincin yang melingkar di jari manisnya.

"Kamu nggak mau?" Pertanyaan Saka yang membuat Arini bingung.

"Dokter serius?" tanya Arini memastikan.

"Iya," jawab Saka tersenyum melihat asisten pribadinya sumringah seperti itu.

Tanpa buang waktu, Arini mulai melihat beberapa cincin yang berjejer sangat indah di balik etalase tersebut. Kilau dan bentuk cincin itu begitu menggoda dirinya, sampai-sampai ia bingung untuk memilihnya.

"Mbak, saya lihat cincin yang ini!" tunjuk Arini  seraya melepaskan cincin pilihan Saka. Sesaat, dahinya mengerut. Kedua tangannya tak berhenti memutar jari jemari  tangannya yang sangat sulit untuk melepas cincin tersebut.

"Dok, cincinnya tak bisa di lepas!" ujar Arini mencoba sekuat tenaga tetapi tetap saja tak bisa.

Saka terkejut.

"Kamu jangan bercanda!" ucap Saka mulai panik.

"Serius, Dok!" kata Arini menarik cincin itu kembali.

****

Suasana hening dan mencekam, kini menghampiri keluarga Aura. Ia tak berhenti menatap raut wajah sang  ibu  yang terlihat begitu sedih dengan keputusannya.

"Ma, ini yang terbaik buat kita," ucap Aura seraya memegang jari jemari tangan mama Dian. Aura menoleh ke arah sang papa. Ia mengkode agar papa bisa membantunya untuk membujuk sang ibu tercinta.

"Ma, Aura tak mau hidup susah seperti ini. Aura sudah mendapatkan lelaki yang jauh lebih mapan dan bisa menjaga Aura. Aura tak mau keluarga kita di rendahkan sama semua orang lagi," kata Aura membela dirinya sendiri.

"Aura benar, Ma. Lagian, Devian juga bertanggung jawab, kaya raya dan menerima putri kita apa adanya," sahut papa Aura yang terkenal akan matrenya.

Mama Dian mendesah. Perlahan, ia menoleh ke arah anak dan suaminya yang duduk di sampingnya.

"Tapi, mama masih kepikiran dengan Saka. Bagaimana kalo dia tau tentang pernikahan kamu dengan devian?" tanya Mama yang sangat menyayangi Saka.

"Ma, sudahlah! Papa yakin, Saka akan menerima semua ini dengan lapang dada!" kata papa.

"Tapi tetap saja, Pa. Mama nggak enak sama Saka. Apalagi, Saka pernah bilang sama mama kalo sepulang dari Papua, dia akan meminta Aura untuk menjadi tunangannya," bantah mama.

Aura meraih kedua tangan ibunya."Tujuh tahun lamanya kami pacaran, Ma. Aura capek menunggu kepastian yang tak jelas. Mama ingat 'kan? Saka pernah bilang kalo ia menjadi Dokter, dia akan melamar Aura. Tapi apa? Dia seakan tak ingat akan janjinya pada kita," tutur Aura mengingatkan mamanya kembali.

"Iya, tapi ...," kata mama Dian terhenti.

"Sudahlah, Ma. Pokoknya, papa setuju dengan keputusan Aura. Pernikahan sebentar lagi dan tak mungkin dibatalkan begitu saja hanya karena Saka," sahut papa tegas dan pergi begitu saja.

"Ini yang terbaik buat kita, Ma!" gumam Aura membelai tangan mamanya dengan erat.

Mama Dian terdiam. Beliau tak mampu membantah segala ucapan yang terlontar dari mulut putrinya. Beliau mencoba untuk tersenyum, meskipun di dalam hati kecilnya sangat tersakiti. Beliau juga benar-benar  tak bisa menghentikan pernikahan putrinya yang seharusnya tak terjadi.

Maafkan mama, Saka. Mama tak bisa menjaga anak mama untuk kamu! kata batin mama dian sedih.

Selesai packing, Arini merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia tak berhenti memandang cincin yang bersinar di jari manisnya itu. Bersinar dan sangat cantik.

"Kamu pakai saja. Anggap saja itu hadiah ulang tahun dariku. Akhir bulan ini, kamu ulang tahun 'kan?" Kata-kata Saka yang membuat wajahnya kembali merah merona. Senyum manisnya kembali tertoreh. Ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat ini.

 "Ya Tuhan, aku tak menyangka mendapatkan hadiah mahal ini dari dokter Saka. Aku tak menyangka, dia merelakan cincin ini untukku. Padahal, ini harganya 3 kali lipat dari gajiku," kata Arini menatap cincin tersebut.

Drt ... Drt ...

Getaran ponsel mengagetkan dirinya. Sejenak, ia melirik ke arah ponsel yang tergeletak di meja riasnya.

Dokter Saka calling ...

Kedua matanya mengerling saat orang yang ia bicarakan mendadak menghubungi dirinya. "Dokter Saka?" tanyanya sumringah. Dengan cepat, ia meraih ponselnya dan mulai mengangkatnya.

"Iya, Dok!" jawab Arini.

(Kita berangkat sekarang! Aku sudah ada di depan kost kamu.)

Arini terbangun dan membuka sedikit tirai jendela yang ada di kamarnya. Sesaat, ia mulai tertegun dengan penampilan Saka yang begitu perfect. Tampan dan berkelas seperti orang kaya lainnya.

****

Serba putih. Anggun, cantik, terlihat begitu jelas di diri Aura. Gaun putih panjang melekat di tubuh idealnya. Semua tamu undangan pun sangat terpukau  melihat kecantikan yang dimiliki aura. Begitu menawan dan mempesona.

"Sebentar lagi adikku akan datang. Aku harap kamu jangan sampai terpikat olehnya," bisik Devian mentoel dagu Aura yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.

"Nggak bakalan, Sayang. Meskipun adik kamu lebih ganteng dari kamu, lebih mapan daripada kamu, aku akan tetap setia bersamamu," ucap Aura yang sangat pandai merangkai kata-kata manis.

"Benarkah?"

"Ya. I love you," ucap Aura yang begitu romantis. Tangan kanannya tak berhenti melepas tangan suaminya. Begitu erat. 

Di mobil, Saka tak sabar ingin bertemu dengan Aura. Sepanjang perjalanan, ia selalu membayangkan betapa bahagianya Aura saat menerima dirinya menjadi calon suaminya.

"Aura, dulu aku pernah bilang. Jika aku pulang dari Papua, aku akan melamar kamu. Tapi, karena rasa rindu dan rasa cintaku yang begitu dalam, aku ingin langsung menikah denganmu." Saka memasukkan cincin itu ke dalam kotaknya kembali. Tapi, tanpa sengaja cincin itu terjatuh saat sopir taksi menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.

"Ada apa, Pak?" tanya Saka penasaran. Ia masih belum menyadari kalo cincin yang ada di tangannya terjatuh entah kemana.

"Di depan ada korban tabrak lari, Pak!" jawab pak sopir 

Kedua mata Saka memicing dan tanpa banyak buang waktu, Saka keluar dan menghampiri kerumunan orang yang tak jauh dari mobilnya.

Saka mulai masuk dan mencoba mengecek keadaan korban. Banyak darah yang keluar dari hidung korban.

"Denyut nadinya masih ada," gumam batin Saka mengecek leher dan nadi korban."Tolong, bawa ke mobil. Saya akan membawanya ke rumah sakit!" ucap Saka.

Dengan cepat, mereka saling bergotong royong dan membawa korban masuk ke dalam mobil yang ia tumpangi.

"Pak, kita ke rumah sakit!" gegas Saka yang juga masuk ke dalam mobil.

"Mas, ini hp korban. Siapa tau ada keluarga yang bisa di hubungi," kata salah satu orang yang menemukan hp korban tersebut.

"Terimakasih. Pak, tolong ngebut!  Orang ini banyak kehilangan darah!" perintah Saka melihat korban yang seperti seseorang yang ia kenal.

****

Tok tok tok

"Assalamualaikum, ayah, ibu, Arini pulang!" teriak Arini yang tak sabar ingin memeluk bertemu dengan kedua orang tuanya.

"Ayah, Ibu ...," teriak Arini sekali lagi. Tak ada jawaban. Pandangan matanya bergeser melihat dari kaca jendela yang tembus dalam rumahnya.

"Sepi? Apa mereka masih jualan?" tanya Arini yang berputar tak melihat gerobak milik Ayahnya.

"Ternyata benar belum pulang," desah Arini duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.

"Tapi, ini 'kan sudah siang. Seharusnya, mereka sudah ada di rumah," gumam Arini tersenyum saat ibunya berjalan pelan menuju rumahnya. Raut wajahnya terlihat begitu lelah dan letih. Sampai-sampai tak menyad ari keberadaan Arini saat ini.

Langkah ibu Dara terhenti. Kedua matanya yang sayu tak berhenti mengerjap saat melihat putri kesayangannya berdiri di hadapannya.

"Arini," kata Ibu Dara.

"Ibu," kata Arini memeluk tubuh besar sang ibu.

"Akhirnya, kamu pulang juga." Ibu Dara tak berhenti membelai rambut indah anaknya tersebut. Bau parfumnya terasa begitu sama sebelum arini bekerja di luar kota. Air mata haru juga menetes mengiringi kebahagiaan yang terpancar.

"Iya, Bu. Arini dapat cuti seminggu," jawab Arini melepas pelukannya. Jari jemari tangannya mulai mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi ibunya.

 "Kenapa kamu tak bilang sama ibu dan ayah kalo kamu akan pulang hari ini?" tanya Ibu  seraya mentoel hidung mancung putrinya.

"Namanya juga surprise, Bu." 

"Surprise? Apa itu surprise?" Arini terkekeh melihat ibunya yang sangat polos.

"Surprise itu kejutan, ibuku yang cantik!" jelas Arini merangkul kembali ibunya.

"O ... kejutan? Ibu kira apaan!"

Drt ... Drt ...

Getaran ponsel begitu terasa di paha Arini.

"Sebentar, ya, Bu! Arini angkat telpon dulu!" seru Arini mengambil poselnya. Kedua matanya terbelalak melihat sang  ayah menghubungi dirinya. Hal yang tak mungkin ayah lakukan meskipun memegang handphone.

Ayah calling ...

"Ayah!" lirih Arini mencoba menjawab teleponnya.

"Assalamualaikum, Ayah," jawab Arini terbelalak kaget saat mengetahui keberadaan ayahnya saat ini. Tubuhnya lemas. Air mata yang tadinya kering kini mulai berkaca-kaca.

"Ada apa, Nak?" tanya ibu penasaran.

"Baik, saya akan ke sana!" jawab Arini menutup teleponnya. Arini mengatur nafasnya dan mulai memberitahukan kabar yang terjadi pada ibunya.

"Ayah kecelakaan, Bu. Kita ke rumah sakit sekarang!" kata Arini.

"Ya Allah, Ayah!"

"Ibu tenang! Ayah pasti baik-baik sajai!" kata Arini mencoba menenangkan sang ibu.

Di rumah sakit, Saka menunggu di depan ruang IGD. Ia tak berhenti menatap ke arah jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sesaat,, ia berdiri ketika dokter Han keluar dari ruanvg IGD.

"Bagaimana, Dok?" tanya Saka panik.

"Saka? Jika kamu berkenan tolong bantu kami menangani pasien di IGD. Banyak pasien di dalam yang terlantar," kata Dokter Han, yang merupakan senior dokter saka.

"Dengan senang hati, Dok!" gegas Saka memasuki ruang IGD tersebut.

Di rumah, Devian tak berhenti menghubungi adiknya. Ia mondar-mandir ke sana kemari menunggu di teras bersama sang buah hati.

"Om saka mana? Kok nggak pulang-pulang?" tanya Alya yang membuat Aura terperangah mendengar nama yang tak asing baginya.

Saka?  tanya Aura dalam hati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bunga Gugur, Rindu Pun Usai
8.8
Setelah 999 kali gagal menggoda Nathan yang tampak dingin, kebenaran pahit akhirnya terungkap. Di sebuah hotel mewah, sang protagonis menyaksikan tunangannya itu berciuman mesra dengan teman masa kecilnya. Sadar cintanya bertepuk sebelah tangan, ia membatalkan pernikahan dan memutuskan untuk menikahi Darius dari Keluarga Russell. Meski sang ayah memperingatkan bahwa kecelakaan masa lalu membuat Darius lumpuh dan menjadikannya janda hidup, keputusan bulat telah diambil demi meninggalkan masa lalu.
Sampul Novel Collateral Fate
9.5
Dalam misi penyelamatan berisiko tinggi, Letnan Arya Pradipta dari pasukan khusus berjuang membebaskan Alana Weston, relawan yang ditawan teroris internasional. Namun, situasi berubah mencekam saat keduanya terjebak di wilayah musuh yang mematikan. Di tengah pelarian yang mengancam nyawa, Arya menyadari bahwa penculikan Alana bukanlah kriminalitas biasa, melainkan bagian dari konspirasi politik skala besar yang kini mengincar keselamatan mereka.
Sampul Novel Istri Kedua Tersembunyi
7.9
Demi melunasi utang keluarga, Raine Alverez terpaksa menjadi istri kedua rahasia bagi taipan Leon Castello. Meski dituduh perusak rumah tangga, ia sebenarnya terjebak perjanjian lama. Raine pun harus menghadapi kebencian istri pertama dan cemoohan publik. Konflik batin kian menyiksa saat benih cinta pada Leon mulai tumbuh di hatinya. Di tengah intrik dan rahasia besar, ia berjuang mencari kebenaran tentang siapa yang bersalah dalam pernikahan rumit ini.
Sampul Novel Istriku Mengkhianatiku Dengan Pria Lain
8.4
Pernikahan Zevan yang tampak sempurna selama dua tahun hancur seketika saat perselingkuhan istrinya, Clara, terbongkar. Di tengah amarah dan rasa sakit yang mendalam, ia meluapkan emosinya di dalam kamar yang gelap. Namun saat pagi tiba, Zevan terkejut karena sosok di ranjangnya bukanlah Clara, melainkan Amanda, sang pelayan baru. Kini ia terjebak di antara pengkhianatan sang istri dan kesalahan fatalnya sendiri. Haruskah ia menuntut balas, atau menghadapi kerumitan ini?
Sampul Novel Kejatuhan si Primadona Kampus
9.0
Dikenal sebagai primadona kampus bercitra murni, gadis ini menyembunyikan rahasia besar sejak masa pubertas. Tubuhnya mengidap penyakit aneh yang memicu hasrat membara yang kian tak terkendali setiap harinya. Gejala fisik yang terus muncul akhirnya tepergok oleh sahabat dekatnya sendiri. Demi menyelamatkan sang primadona, sang sahabat memutuskan untuk membawanya ke sebuah lokasi asing yang penuh misteri, memulai babak baru yang penuh ketidakpastian dalam hidupnya.
Sampul Novel Kisah Cinta Naomi
9.0
Naomi Clara mengalami kemalangan besar setelah Adrian, sang suami, menjual dirinya demi bisnis hingga ia terperangkap dalam jaringan perdagangan manusia di Hongkong. Di sana, takdir mempertemukannya dengan Zhou Tian, seorang pemimpin mafia berdarah dingin. Hidup Naomi semakin rumit ketika seorang playboy ternama juga mulai menaruh hati padanya. Kini, ia terjebak dalam cinta segitiga berbahaya yang mengancam perasaan serta masa depannya.