APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Tersayat Dendam

Cinta Tersayat Dendam

Arta, wanita tangguh yang kerap diremehkan karena penampilannya yang sederhana, fokus meniti karier demi membuktikan dirinya setelah dicampakkan akibat perbedaan kasta. Takdir mempertemukannya dengan Evan, seorang pengusaha duda yang sukses. Di tengah badai dan dendam masa lalu yang terus menguji hubungan mereka, keduanya kini harus bersatu guna menyelidiki dalang di balik kekacauan yang melanda perusahaan masing-masing.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Lu datang sama siapa, Beib?" Mira menyapaku to the point. Pastinya ia bukan tak tahu, bahwa sampai detik ini aku masih sendiri.

"Sama sopir," jawabku singkat.

"Sopir? Sopir taksi maksudnya?"

Aku hanya tersenyum. Malas menanggapi ocehan nyinyir seperti itu.

"Jangan marah, Beib. Makanya jangan jomlo terus. Nunggu apa, sih? Lu 'kan cantik. Pas SMA dulu bahkan jadi rebutan."

Aku masih belum menanggapi. Ini adalah satu dari banyak hal yang membuatku malas datang ke acara reuni. Kalau bukan karena Niar, tentulah aku tak akan datang.

"Pokoknya, kamu harus datang ke acara reuni kali ini!"

Kalimat itu diucapkan Niar berkali-kali dalam sebulan terakhir. Sahabat sejak kelas satu SMA itu sangat gigih mengajakku datang ke acara tahunan, tapi usahanya selalu gagal. Aku tak pernah mau hadir.

Bagiku, reuni adalah buang waktu. Lima belas menit bagi seorang Arta Intan Sari sangatlah berharga. Aku bisa menghasilkan ratusan dolar dalam waktu sesingkat itu. Lalu, untuk apa menyia-nyiakan waktu dengan menghadiri acara yang isinya hanya makan, pamer kekayaan, dan membicarakan aib orang?

"Iya, Ta. Kenapa Lu belum nikah? Bukannya dulu udah pacaran lama sama Dika?" tanya Meta. Play girl paling terkenal di sekolahku dulu.

"Belum jodoh aja, kali," jawabku malas.

"Eh, Dika juga nggak pernah dateng reuni, lho. Ajaibnya, hari ini dia mau ikutan," ujar Mira lagi.

Aku terkesiap. Satu hal lainnya yang kutakutkan ternyata terjadi. Mangkir dari reuni adalah caraku menghindari lelaki itu.

"Oh, ya? Kebetulan aja kayaknya."

Kucoba menampilkan ekspresi biasa, agar mereka tak melanjutkan pembahasan tentang Dika. Nama itu akan membuat semua yang hadir mengingat kami sebagai pasangan paling favorit, di masa putih abu-abu dulu.

"Ngomong-ngomong, lu kerja di mana, Ta?" tanya Meta lagi. "Nggak pernah ada kabar tentang dirimu sama sekali, deh."

"Gue pengacara."

"Pengangguran banyak acara maksudnya?" kali ini Winda yang bertanya.

Aku tak menjawab. Biarlah ia menyangka demikian. Toh, tak ada gunanya menjelaskan ke orang seperti Winda, bahwa statusku memang juga pengacara di salah satu kantor lawyer ternama negeri ini, 'kan?

"Pantesan dandanan lu biasa aja, Ta. Kenapa nggak pakai baju yang kerenan dikit, sih?" Entah suara siapa itu, aku malas memperhatikan.

"Iya, Ta. Kalau nggak ada, gue pinjemin, deh. Emangnya semenyedihkan itu nasib lu? Bahkan cincin sebiji aja lu nggak pakai. Nggak sanggup beli, ya?" Lagi-lagi entah itu suara siapa.

Aku menunduk. Memainkan dua tangan yang satu pun jemarinya tak berhiaskan emas permata. Niar merangkul bahuku. Gadis itu tetap diam, seperti yang aku minta sebagai syarat untuk mau hadir reuni.

"Iya, sih. Gue semiskin itu. Sampai nggak sanggup beli emas." Seutas senyum getir kuperlihatkan pada mereka.

"Arta maunya mas Jawa."

Semua yang duduk di sana tertawa mendengar ucapan Mira.

"Jadi, karena Dika bukan orang Jawa, makanya nggak berhasil bawa Arta ke pelaminan, ya?" kali ini Winda yang bicara. Suaranya terlalu keras hingga beberapa orang yang duduk di sudut lain memandang kami. Salah satu dari mereka kemudian berdiri, berjalan mendekat ke arah tempat dudukku. Dika.

Lelaki itu menatap tajam padaku. Membuat Mira, Winda, Meta, dan Niar bangkit. Mereka pindah ke sudut lainnya dan membiarkanku sendiri, dan memberi ruang untuk Dika.

"Hai, Ta. Apa kabar?"

"Baik."

"Akhirnya aku bisa lihat kamu lagi. Udah berapa tahun kita nggak ketemu, ya?"

"Sepuluh."

"Wah, aku seistimewa itu, ya? Sampai kamu pun ingat kapan terakhir kita ketemu."

Sebenarnya perutku mual mendengar kalimat yang Dika ucapkan.

"Jelas aja aku ingat malam di saat ibumu menghina dan memperlihatkan penolakan, karena aku cuma gadis miskin yang tak sesuai harapannya."

Dika diam sejenak, lalu menghela napas dan mulai bicara kembali.

"Maaf, aku nggak pernah berpikir Ibu akan memperlakukanmu seperti itu."

"Nggak apa. Udah lewat juga."

Hening beberapa menit, hingga terdengar musik mengalun. Beberapa orang di antara teman-teman mulai menari bersama. Tak peduli pria atau wanita, dan sudah menikah atau belum. Ini satu hal lainnya yang kubenci dari acara reuni. Banyak batasan yang rawan dan bahkan sering dilanggar.

"Kamu udah nikah?" Dika tiba-tiba memecah keheningan di antara kami.

Aku menggeleng. Lelaki itu menatap tajam. Membuatku jengah dan ingin segera meninggalkan tempat ini.

"Kenapa?" Dika bertanya lagi.

"Nggak laku kayaknya," jawabku asal yang disambut gelak tawa Dika. Mira dan teman-temannya bahkan sampai menoleh memperhatikan kami di tengah aktivitasnya menari. Ada banyak tanya yang terlihat jelas di raut wajah mereka.

"Bisa aja kamu, Ta. Seorang Arta Intan Sari yang cantiknya diakui sejagat, mana mungkin nggak laku? Kamu aja kali yang pemilih."

Seutas senyum kembali kulempar pada lelaki itu, masih dengan kegetiran yang sama.

"Aku udah takut buat milih, karena sepuluh tahun lalu justru dicampakkan oleh satu-satunya orang yang kupilih."

"Kok, gitu ngomongnya? Kamu nyindir aku?"

"Nggak perlu sindiran untuk sesuatu yang jelas-jelas itu fakta."

Dika masih ingin bicara, tapi urung saat tiba-tiba musik berhenti dan diganti suara pembawa acara. Sosok di panggung itu menyampaikan bahwa sudah tiba saatnya acara beralih pada lelang amal. Hasilnya akan digunakan untuk membangun lapangan basket dan laboratorium sekolah kami yang sudah tak layak pakai.

Aku dan Dika menyimak acara lelang dalam kebisuan. Laki-laki yang duduk di sebelahku ini sudah mengeluarkan uangnya dua juta rupiah untuk satu kaos bertuliskan nama sekolah kami. Benda itu dilelang pertama kali. Setelahnya ada beberapa benda lain yang mencapai nilai lelang masing-masing sepuluh juta rupiah. Dana yang terkumpul sudah seratus lima puluh juta rupiah.

"Teman-teman, kini tiba benda terakhir yang akan dilelang. Sebuah lukisan yang menampakkan sekolah kita dari sudut paling menakjubkan. Dibuka dengan harga lima juta rupiah. Siapa yang akan memberikan tawaran pertama?"

Sebuah lukisan dibawa ke atas panggung. Cukup indah. Sepertinya cocok kalau kuletakkan di perpustakaan kantor. Pemikiran itu membuatku tersenyum lagi, kali ini tanpa rasa getir seperti sebelumnya.

"Kenapa senyum-senyum?" Dika ternyata sedang menatapku dengan pandangan tajam.

"Eh, i-itu ... aku hanya teringat sesuatu yang lucu tentang sebuah lukisan."

Dika tak bereaksi mendengar kalimatku. Ia membuang pandangnya ke arah panggung.

Satu persatu teman-temanku memberikan penawaran. Hingga lima belas menit, angka tertinggi diberikan oleh Angga. Lima puluh juta rupiah. Pembawa acara mulai menghitung. Jika sampai hitungan ke lima tak ada yang memberi nilai lebih, maka lukisan itu akan jatuh ke Angga.

Salahkah jika aku ingin memiliki lukisan itu? Tidak, aku bukan egois atau ingin pamer kekayaan. Ini tidak lebih sebagai kontribusi di acara lelang kali ini, selain memang sudah jatuh cinta pada lukisannya.

Tepat saat pembawa acara menyebutkan hitungan ke empat, aku berdiri dan mengangkat tangan. Dika terkejut menatapku, juga Mira dan hampir seluruh yang hadir.

"Arta Intan Sari. Berapa tawaran yang akan diberikan?"

"Seratus lima puluh juta."

Hening. Semua mata menatapku tak percaya. Termasuk Dika yang kini mulutnya setengah terbuka. Aku ingin lihat, bagaimana sikap mereka setelah ini pada seorang Arta. Gadis yang dianggap miskin karena tak memakai perhiasan di tubuhnya.

***

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Derita Gadis Ternoda
8.2
Nasib malang menimpa Ana, gadis polos yang diusir ayahnya sendiri setelah hamil akibat diperkosa. Berharap mendapat kehidupan baru di Jakarta, ia bertemu Lukman yang tulus membantunya. Sayang, kehadiran Ana justru memicu siksaan kejam dari istri Lukman, Juju. Saat benih asmara mulai tumbuh di hati Lukman untuknya, takdir mempertemukan Ana kembali dengan pelaku masa lalunya yang keji. Sanggupkah Ana lepas dari bayang-bayang trauma yang merusak hidupnya?
Sampul Novel MENIKAHI CALON ISTRI SAHABAT
7.9
Rayyen dihadapkan pada pilihan sulit ketika Albar, sahabat lamanya yang kini sakit keras, datang memohon agar ia menikahi tunangannya, Aliffa. Permintaan terakhir mantan casanova ini membuat Rayyen bimbang. Di satu sisi, ia ingin menjaga amanah sang sahabat. Di sisi lain, ia harus menjaga komitmen pertunangannya dengan Zeanna, model ternama yang direstui ibunya. Sanggupkah Rayyen mengorbankan hubungannya demi menikahi Aliffa, wanita yang asing baginya?
Sampul Novel Misi Cinta: Dendam Mantan Istri
7.9
Akibat insiden tak terduga, Terence terpaksa menikahi Julia dan membatalkan pertunangannya dengan Jean. Selama tiga tahun pernikahan, Terence yang membenci Julia enggan menyentuhnya. Begitu Jean kembali, Terence langsung menceraikan Julia begitu saja. Merasa dikhianati oleh saudara sendiri dan suami yang dicintainya, Julia tidak tinggal diam. Ia kini bangkit membawa dendam membara untuk membalas rasa sakit hati kepada mereka berdua.
Sampul Novel Perceraian dan Bersinar: Terlambat untuk Meminta Maaf
8.8
Dua tahun Caitlin bertahan dalam pernikahan dingin bersama Isaac. Namun, kembalinya cinta pertama sang suami dalam kondisi mengandung membuat kesabarannya habis. Caitlin memilih pergi dan menggugat cerai tanpa mengungkap kehamilannya sendiri, meski Isaac memandang sebelah mata keputusan tersebut. Kini, Caitlin telah menjelma menjadi perancang busana sukses yang kaya dan dikagumi. Di sisi lain, Isaac didera penyesalan mendalam dan harus memohon pengampunan dari mantan istri yang dulu ia abaikan.
Sampul Novel Terpaksa Menjadi Sugar Babby
8.0
Demi melunasi utang orang tuanya, Bella terpaksa bekerja di bar malam. Di sana, ia bertemu Felix Harisson, seorang pria beristri yang merasa hampa dan menawarinya menjadi sugar baby. Meski Bella bersikap dingin dan misterius, Felix justru kian terobsesi. Situasi rumit ini memuncak saat istri Felix, Salma, mulai mencium perselingkuhan mereka. Akankah Felix rela meninggalkan keluarganya demi Bella, ataukah hubungan gelap ini akan hancur berantakan?
Sampul Novel Yang Tersisa Hanyalah Kenangan
9.8
Rencana pernikahan yang dirancang setelah lima tahun bertunangan seketika runtuh saat cinta pertama Gavin kembali hadir. Segala janji manis yang pernah diucapkan Gavin menguap begitu saja, digantikan oleh rasa jemu dan penolakan terhadap setiap tindakan pasangannya demi membela sang cinta pertama. Sadar dirinya tidak lagi memiliki arti, tokoh utama memilih untuk menyerah, merestui hubungan mereka, dan lenyap tanpa jejak. Kepergian ini menyisakan penyesalan besar bagi Gavin yang kini mencarinya dalam tangis.