APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cinta Terhalang Ukuran

Cinta Terhalang Ukuran

Sebagai ahli waris kaya raya berparas rupawan, Dhipta Wisnu Pratama terlihat sempurna di mata publik. Namun, sebuah rahasia tentang kekurangan fisiknya membuat pria ini selalu meragukan ketulusan cinta yang datang. Ujian terberat bagi Dhipta tiba ketika ia mulai mencintai Anandhila Prameswary, aktris sekaligus model papan atas yang begitu memikat. Kini, Dhipta harus berjuang keras menaklukkan hati Dhila dan mengajaknya membina rumah tangga di tengah segala ketidaksempurnaan dirinya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jam menunjukan hampir tengah malam, keadaan jalanan pun sudah sedikit sepi, hanya pedagang-pedagang gerobak yang menjajakan kuliner khas malam yang kelihatan sibuk melayani konsumen. Dhila yang baru saja menyelesaikan syutingnya sedang dalam perjalanan pulang. Di dalam mobil semua orang terdiam dan sibuk dengan ponselnya masing-masing

"Sayang kamu langsung istirahat ya, jangan lupa cuci muka dan langsung pake masker agar besok wajahmu fresh," perintah Bu Marta yang adalah ibu sekaligus manager Dhila memecah kesunyian.

"Memang Mama tidak langsung pulang?" tanya Dhila.

"Mama ada perlu dulu sebentar."

"Jangan bilang Mama mau pergi ke kasino lagi!" Suara Dhila agak meninggi diikuti tatapan tajam ke arah ibunya.

"Hey! Sejak kapan kamu ngatur-ngatur Mama? Mama itu capek nungguin kamu syuting seharian, jadi wajar dong Mama butuh refresing dan me-time sebentar," dalih Bu Marta santai.

"Kalau Mama yang hanya nunggu sambil duduk saja sudah cape apalagi Dhila yang kerjanya," timpal Dhila ketus.

"Makanya tadi Mama nyuruh kamu langsung istirahat kan!"

"Mam, Wanita cantik itu lahir setiap detik. Jadi lambat laun Dhila bakal tersisih oleh wajah-wajah baru yang lebih cantik dan fresh, kalau Mama terus-terusan berjudi dan berfoya-foya kerja keras Dhila selama ini akan terbuang percuma." Dhila menatap tajam ibunya.

"Sudahlah sayang! Bukankah dulu kamu bilang ingin membahagiakan Mama."

Dhila pun memilih diam dan mengakhiri perdebatannya, dulu setelah Papanya meninggal Dhila memang berjanji untuk selalu membahagiakan ibunya, maka dari itu sejak usia belia dia sudah bekerja keras agar kelak bisa hidup nyaman bersama sang ibu. Tapi ternyata semua kerja kerasnya selama ini terbuang sia-sia di meja judi, ibunya sangat senang pergi ke kasino dan berfoya-foya dengan para brondong di sana.

Di dalam sebuah kamar bergaya minimalis yang didominasi warna putih Dhila mondar mandir dan terus mencoba menghubungi kekasihnya, entah sudah berapa kali Dhila mencoba menelpon tapi jawabannya tetap sama "Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi".

Dhila yang kesal lantas melemparkan handphone-nya keatas kasur. Dia lalu beranjak menuju balkon di samping kamarnya, malam sudah semakin larut, sudah tidak ada lagi aktifitas orang-orang di luar rumah, udara pun semakin dingin, Dhila menengadahkan wajahnya ke atas, malam ini langit begitu indah bintang-bintang bertebaran dan berkelap-kelip.

Tiba-tiba bayangan 15 tahun yang lalu terlintas kembali di ingatan Dhila, masih sangat jelas kenangan saat camping bersama Papahnya di halaman belakang rumah. Malam itu Papahnya bercerita bahwa bintang-bintang yang ada di langit adalah wujud lain dari orang-orang yang kita sayangi tetapi telah pergi ke surga, dari surga mereka melihat dan memperhatikan kita serta menjaga kita saat tidur di malam hari.

" Pah, apa Papah melihat Dhila? Dhila kesepian, Dhila kangen pelukan Papah," ucapnya lirih diikuti sudut matanya yang mulai memanas.

Tak ingin terus dirasuki kesedihan, Dhila memutuskan masuk ke dalam kamar , jam menunjukan pukul 03.00 dini hari, tapi ibunya belum juga pulang, begitu pun dengan sang pacar yang masih belum bisa dihubungi. Karena kesal Dhila memutuskan untuk tidur karena besok pasti kegiatannya sangat padat.

*****

Tok tok tok

"Non, Non Dhila. Nyonya sudah menunggu untuk sarapan." Suara wanita paruh baya yang sudah bekerja sejak Dhila bayi terdengar dari balik pintu.

Dhila terpaksa membuka matanya walaupun terasa sangat berat, sang mentari ternyata sudah tersenyum lebar, cahayanya terasa hangat walaupun terhalang oleh jendela kaca, Dhila bangun dengan malas, dia mengucek mata lalu meregangkan kedua tangannya. "Ia bi, Dhila sebentar lagi keluar," ucapnya sambil terus menguap.

Tidak berapa lama Dhila keluar kamar dan duduk di meja makan, dia melihat 4 potong putih telur dan segelas minuman berwarna hijau sudah tersaji di depannya dan sukses membuat selera makannya hilang.

"Mama pulang jam berapa semalam? Berapa uang yang Mama buang di meja judi dan di pelukan berondong peliharaan Mama?" cecar Dhila ketus.

"Sudahlah sayang, ini masih pagi lebih baik kamu segera habiskan sarapan kamu," jawab Bu Marta santai.

"Pagi semua!" Tomi yang adalah asisten sekaligus make-up artis pribadi Dhila tiba-tiba datang dan menyudahi perdebatan antara Dhila dan ibunya.

"Tom, kamu sudah siapkan semua keperluan Dhila untuk hari ini?" Tanya Bu Marta sambil memasukan sepotong roti ke dalam mulut.

"Beres Madam." Tomi tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

"Ayo sayang, cepat habiskan sarapan mu lalu siap-siap kita ada latihan dan fitting baju untuk fashion show lusa," perintah Bu Marta sambil meminum segelas jus jeruk.

"Eh ya, kalo sempat pas istirahat latihan nanti kita bisa sambil promosiin endorsan, soalnya  udah numpuk banget," tambahnya.

Dhila yang masih kesal tak mengeluarkan sepatah kata pun dan segera berdiri dari tempat dia duduk, dengan menahan marah Dhila beranjak menuju kamar tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun. Tomi yang melihat Dhila pergi segera mengikutinya dengan menenteng kotak make-up dan sebuah majalah fashion dari luar negeri.

"Cantik, ini aku bawakan majalah fashion dari Itali buat referensi gaya kamu nanti di catwalk. Kamu lihat-lihat dan pelajari dulu deh," cerocos Tomi. Dhila tidak menghiraukan ucapan asistennya dan terus berjalan menuju kamar, Tomi pun terus membuntutinya.

Bughk

Dhila menutup pintu kamarnya dengan keras tepat di depan wajah Tomi lalu mengunci pintu.

"Sayang aku belum selesai." Teriak Tomi dari luar.

" Bodo," teriak Dhila.

Dhila lalu masuk kamar mandi. Ia melepaskan pakain satu persatu dan segera merebahkan tubuhnya ke dalam bathup yang telah diisi air hangat dan cairan aroma terapi.

"A..h Tuhan aku bisa gila," teriaknya di kamar mandi. Setelah itu Dhila memejamkan mata dan menghembuskan nafas pelan-pelan, berharap air hangat dan wangi aroma terapi bisa merilekskan otot-ototnya yang menegang.

40 menit kemudian Dhila keluar dari kamar dan siap untuk memulai hari yang bagi Dhila sangat membosankan karena setiap hari rutinitasnya hanya fotosyut, shooting berbagai iklan dan endorse juga sinetron, catwalk dan menghadiri undangan bebagai acara sebagai bintang tamu.

"Kenapa lama sekali? Jalanan keburu macet, bisa-bisa kita terlambat kalo begini." Bu Marta sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dan memasang ekspresi kesal.

"Oh Tuhan, untuk menikmati waktu mandi saja aku tidak boleh," batin Dhila.

Setelah semua siap, Dhila, ibunya dan sang asisten segera pergi ke tempat latihan dan fitting baju untuk acara fashion show yang diadakan oleh salah satu brand fashion yang pemiliknya adalah seorang desainer terkenal baik di dalam ataupun di luar negeri.

Di tempat lain di sebuah ruangan bergaya modern minimalis Dipta berdiri termenung sambil melihat ke luar jendela. Pikirannya jauh menerawang setiap kejadian, hingga sebuah ketukan pada pintu membuyarkan lamunannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Pembantu Kalian
9.2
Tujuh bulan sudah keluarga ipar menumpang di rumahku dan bertingkah bagai benalu. Tragisnya, aku malah diperlakukan layaknya pembantu di rumah sendiri, sementara suami enggan mengusir mereka karena merasa iba. Batas kesabaranku kini telah habis. Aku pun mulai menyusun taktik cerdik untuk membuat mereka tidak betah, agar mereka segera angkat kaki dan pergi selamanya demi mengembalikan kedamaian hidupku.
Sampul Novel BERKAH SECANTING BERAS
9.6
Kehidupan serbasulit tak membuat Mira, seorang ibu rumah tangga, kehilangan ketulusannya. Di tengah himpitan ekonomi, ia tetap berbaik hati membantu sesama, khususnya Abah Karjo, lansia yang hidup sebatang kara. Kisah ini mengikuti perjuangan Mira yang penuh kasih dan keteguhan hati. Akankah keikhlasan tulusnya mampu membawa jalan keluar di tengah berbagai rintangan hidup dan takdir yang menghadang? Simak kisah perjuangan yang menyentuh hati ini.
Sampul Novel Direklamasi oleh Pewaris Mafia
8.8
Nora Yates hancur setelah lima tahun menikah karena memergoki Stefan Gordon berselingkuh dengan Izabella. Stefan bahkan mengaku pernikahan mereka hanyalah taktik balas dendam kejam untuk menyiksanya. Di tengah keputusasaan, Nora bangkit dan menolak menjadi istri yang lemah. Dunia sempat lupa bahwa sebelum sakit, Nora adalah peretas legendaris yang sangat ditakuti. Kini, peretas tangguh itu kembali ke perusahaan lamanya demi menuntut keadilan.
Sampul Novel JANGAN AMBIL ANAKKU
9.3
Almira, seorang ibu muda berumur 30 tahun, terdesak untuk bercerai demi kesehatan mentalnya setelah 1,5 tahun menderita akibat ulah suaminya, Iqbal, yang kikir dan sering berselingkuh. Namun, proses perpisahan ini tidak berjalan lancar. Iqbal justru memanfaatkan rasa takut Almira akan kehilangan hak asuh anak mereka untuk mengancam dan menekannya. Kini, Almira harus berjuang sekuat tenaga demi mempertahankan sang buah hati dari cengkeraman mantan suaminya.
Sampul Novel My Special CEO
9.7
Cheva, gadis bermata biru bernama asli Cleo Alineava Lynn, memilih berkarier di perusahaan luar dibanding mengelola bisnis sendiri. Keputusan itu membawanya jatuh cinta pada sang atasan, Devan Eduardo Hutresky. Meski awalnya skeptis akan cinta, Devan langsung terpikat sejak pandangan pertama. Namun, hubungan asmara mereka tidaklah mudah. Berbagai rintangan berat terus menguji kekuatan cinta keduanya. Akankah perasaan ini menyatukan mereka, atau justru memicu perpisahan?
Sampul Novel Suamiku Pengangguran Akut
8.7
Farida menjalani pernikahan pelik dengan Adam, suami manja yang malas bekerja. Sejak awal, hubungan mereka tidak direstui oleh Nadia, sang ibu mertua yang gemar menyudutkan Farida. Walau terus dicap sebagai beban, Farida terpaksa meminta bantuan makanan ke rumah Nadia agar bisa bertahan hidup. Di tengah tekanan mertua yang dominan dan kepasifan sang suami, sanggupkah Farida bertahan dalam rumah tangga penuh derita dan konflik ini?