
Cinta Memang Begitu
Bab 8
"Dia cuma punya masalah di mata, bukan buta total. Kenapa harus terus-menerus mengalah padanya?"
Kepala sekolah menepuk kening Nathan, memperingatkannya agar lebih hati-hati dalam bicara. Setelah itu, beliau memelukku erat seperti seorang ibu dan mengelus punggungku dengan lembut.
"Kalau begitu, mulai sekarang kamu jadi anak angkatku saja. Anak baik sepertimu, kalau mereka menolakmu, aku yang akan menerimamu."
Aku menangis tersedu-sedu di pelukan kepala sekolah, sementara Nathan hanya bergumam lirih.
"Kalau dia jadi anakmu, berarti kita kakak adik dong."
Masa SMA adalah masa paling santai dalam hidupku. Bahkan saat liburan, aku sering tinggal di asrama dengan alasan belajar.
Orang tuaku pun tak sempat mengurusku. Kudengar mereka sibuk membawa Emma berobat dan memasukkannya ke berbagai les tambahan, sampai bisnis keluarga pun terbengkalai. Uang sakuku ikut terpotong. Untung saja, aku sudah mencapai kebebasan finansial sejak lama, jadi tanpa bantuan Keluarga Moore pun hidupku tetap nyaman.
Sejak kecil, aku punya insting bagus dalam investasi karya seni. Namun, di kehidupan sebelumnya, aku termakan omongan ayah dan Emma yang mengatakan bahwa mengaitkan seni dengan uang adalah hal memalukan.
Padahal mereka sendiri diam-diam menjual karya yang aku pilih demi keuntungan, tanpa pernah memberiku sepeser pun. Di kehidupan ini, aku sudah bisa melihat siapa mereka sebenarnya, jadi aku hanya mempercayakan investasiku pada kepala sekolah yang paling kupercaya. Melihat angka di buku tabungan terus bertambah, aku merasakan rasa aman yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Memang benar, kemampuan menghidupi diri sendiri adalah hal paling penting.
Akhir pekan ini, kepala sekolah dan Nathan sengaja meluangkan waktu untuk mengajakku piknik di taman dekat sini. Kepala sekolah pergi memarkir mobil, sedangkan aku dan Nathan lebih dulu mencari tempat di lapangan rumput. Awalnya, aku sangat menantikan hari ini, tetapi semua itu sirna begitu melihat Keluarga Moore datang dari arah berlawanan.
Emma berjalan di depan sambil menggandeng lengan Miles, diikuti kedua orang tuaku yang sudah lama tak kulihat. Begitu mereka melihatku, senyum cerah di wajah mereka pun langsung hilang.
Begitu Emma melihatku, dia langsung ketakutan dan bersembunyi di belakang Miles, seakan-akan aku akan memakannya. Sikap manja ala bunga yang rapuh itu langsung membuat Miles memasang ekspresi garang dan memandangku dengan tajam.
"Katanya sibuk belajar, ternyata cuma bohong, ya."
Melihat Nathan berdiri di sebelahku, Emma menggigit bibirnya dengan kesal.
"Aubrey, kamu lagi kencan sama pacar, ya? Ayah dan Ibu sangat khawatir sama kamu, tapi kamu bahkan nggak pulang pas liburan dan malah bohongi kami. Sejak masuk SMA, kamu memang sudah berubah."
Orang tuaku yang sok suci itu juga menatapku dan Nathan dengan terkejut.
"Aubrey, kamu masih kecil, tapi sudah membohongi orang tuamu demi seorang pria. Kamu mau lihat kami mati karena marah, ya?"
"Kapan kamu bisa menurut dan bersikap manis seperti Emma?"
Mereka berempat langsung menyerangku dengan tuduhan tanpa henti, bahkan tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Meskipun Nathan sudah pernah dengar betapa pilih kasihnya Keluarga Moore, Nathan tetap saja bingung menghadapi serangan bertubi-tubi mereka.
Anda Mungkin Juga Suka





