APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO

CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO

Pertemuan dua insan ini harus berhadapan dengan takdir yang rumit. Hubungan cinta yang mendalam di antara mereka terhalang oleh jurang perbedaan keyakinan yang begitu kokoh. Meski sang pria terus mendekap erat dan meyakinkan kekasihnya bahwa cinta mereka tulus, benturan dogma agama tetap menjadi ujian yang sangat berat. Di tengah kepasrahan pada garis jodoh yang telah digariskan Tuhan, mampukah cinta mereka bertahan saat takdir justru perlahan memaksa keduanya untuk saling melepaskan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Elena dan Dewi melangkahkan kakinya menuju ke kelas, karena sebentar lagi akan ada kuis.

"Elena!" Terdengar suara memanggil dari arah sudut ruangan begitu kakinya menginjak lantai ruang kelas.

"Apa?" Tanya Elena.

"Duduk di sini," temannya yang memanggil menepuk kursi kosong yang ada disebelahnya.

"Kita duduk di sana yuuk!" Ajak Dewi.

Elena mengikuti Dewi. "Kalian berdua senang sekali duduk dipojokkan begini."

"Karena Dosennya sudah tua, jadi gue lebih senang dipojokkan. Setidaknya mataku terjaga dari polusi," jawab Dewi seenaknya.

"Hush! Jahatnya mulut kau itu!" Jawab Elena.

"Loe sudah lama di sini?" Tanya Dewi ke temannya yang tadi memanggil.

"Cukuplah bikin pantat gue karatan," jawab temannya menggeser duduknya agar cukup untuk tiga orang.

"Febri, tumben loe datang lebih awal dari kita," Elena langsung duduk.

"Gue gabut di rumah. Bokap nyokap gue lagi berantem, mending gue cabut daripada lihat mereka berantem. Pusing kepala gue," jawab Febri. "Sudah tua bukannya pada insaf, ini malah setiap hari berantem. Masalah kecil bisa jadi besar," jawab Febri.

"Masih saja mereka berantem? Kasihan banget sih loe, setiap hari lihat bonyok berantem. Yang sabar ya," Dewi memberi semangat.

"Tau dah, pusing gue," ucap Febri pelan.

"Memang hampir setiap hari bonyok loe berantem?" Tanya Elena.

"Iya, mereka berdua itu sudah seperti Tom and Jerry, Abang gue malah pernah tidak pulang berapa hari saking kesalnya melihat bonyok berantem," jawab Febri.

"Kamu sih enak Elena, bonyok loe akur-akur saja," ucap Dewi.

"Kadang bonyok gue juga berantem, tapi tidak pernah berantem gede sampai kayak perang dunia. Mereka kalau berantem juga di dalam kamar, cuma ribut-ribut kecil beda pendapat saja," jawab Elena.

"Tiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Semoga saja suatu saat nanti, gue punya pasangan hidup yang sayang dan baik sama gue," ucap Febri.

"Aamiin," Elena dan Dewi mengaminkan temannya.

Tidak lama kemudian Dosen pembimbing masuk, suara becanda yang tadi memenuhi ruangan seketika hilang. Semuanya sekarang fokus melihat ke depan.

Waktu terus beranjak pergi, jam telah menunjukan angka di siang hari. Semua mata kuliah telah Elena lewati sampai selesai dan sekarang tiba waktunya untuk pulang.

"Loe mau pulang naik apa?" tanya Dewi.

"Naik taksi," jawab Elena. "Tapi pasti mahal, sayang duit."

"Naik bus saja," usul Febri. "Gue juga mau naik bus."

"Iya, yuk naik bus Elena. Ngapain sih naik taksi, rumah loe itu jauh. Berapa tuh argonya kalau naik taksi?"

"Iya, gue naik bus. Tapi kalau ada yang gangguin gue, kalian berdua lawan ya," jawab Elena.

Dewi dan Febri serentak mencibir. "Baik Tuan Putri Elena Marlyana Darmawan!"

"He-he-he. Good! Anak baik, gitu dong kalau menjaga temannya. Harus totalitas!"

"Totalitas Mbahmu!" Jawab Dewi.

"Ayo cabut! Kalian mau nginap di sini atau apa?" Elena langsung pergi dengan membawa tas serta buku di tangannya.

Ketiga gadis muda itupun pergi meninggalkan kampus tempat mereka menuntut ilmu. Sebuah Universitas yang cukup terkenal, selalu menghasilkan alumnus-alumnus yang hebat.

Peluh yang menghiasi kening Elena sesekali dihapusnya dengan tisu yang tidak pernah lepas dari tangannya. Kulit putihnya terlihat merah karena teriknya panas matahari dan juga cuaca yang sangat panas apalagi berada di dalam bus yang penuh sesak.

"Kita tidak kebagian tempat duduk," bisik Dewi di telinga Elena yang berada dekat dengannya.

"Tidak masalah, yang penting kita bisa ikut naik," jawab Elena. "Perutku sudah lapar ingin cepat pulang."

"Iya sama, gue juga lapar," bisik Febri disamping Elena.

"Bagaimana kalau kita cari tempat makan sebelum pulang?" Dewi memberi usul.

"Boleh juga," jawab Elena. "Sumpah! Gue lapar banget. Tadi pagi cuma makan roti bakar, setelah itu tidak makan apa-apa lagi."

"Ok deal! Kita turun dari bus cari makan. Sudah lama juga kita tidak makan di luar," jawab Febri. "Gue juga agak malas mau pulang."

"Ok!" Jawab Elena dan Dewi serempak.

Bus yang mereka tumpangi semakin lama semakin sesak sehingga Elena, Dewi dan Febri memutuskan untuk turun.

"Pak sopir stop!" Teriak Febri menghentikan bus.

"Di sini neng?" Tanya sopir.

"Iya Pak. Stop!" Jawab Febri.

Bus berhenti tepat disamping trotoar. "Cepat neng, cepat turunnya!"

"Ayo cepat turun!" Febri menarik tangan Elena, begitu juga dengan Elena yang menarik tangan Dewi.

"Terima kasih Pak," teriak mereka bertiga setelah berhasil turun dengan susah payah karena di depan mereka banyak orang yang juga berdiri.

"Sekarang kita ke mana?" Tanya Febri menghapus peluh yang ada di lehernya dengan tisu.

"Cari makan," jawab Elena dengan wajah yang merah karena teriknya panas matahari.

"Ayo, gue tahu tempat makan yang enak. Di sana juga sering ada cogan yang makan. Siapa tahu ada satu yang nyangkut," ajak Dewi.

"Ayo, gue haus banget," jawab Elena mengikuti Dewi yang jalan di depan mereka berdua.

"Gue tidak mau tempatnya yang jorok ya," kata Febri.

"Nggaklah! Gue juga tidak mau kalau tempatnya jorok," jawab Dewi berjalan di depan mereka.

"Matahari hari ini tidak bersahabat. Kalian merasa tidak sih, terik matahari rasanya pedes banget di kulit?" Tanya Elena.

"Terasa dong, loe pikir kulit kita kulit badak apa? Sampai panas terik begini tidak merasakan apa-apa," jawab Febri.

"Gue pikir kalian tidak merasakan apa-apa. He-he-he," ucap Elena terkekeh.

"Nah itu tempatnya," tunjuk Dewi pada sebuah tempat yang lebih mirip seperti sebuah cafe.

"Kelihatan nyaman tempatnya," jawab Febri melihat di depan cafe banyak meja-meja yang dipayungi payung besar.

"Memang tempatnya nyaman, makanannya juga murah meriah. Itu tempat nongkrong para mahasiswa yang bajetnya pas pasan. He-he-he. Seperti kita," jawab Dewi.

"Kita? Loe saja kali," jawab Febri.

Mereka bertiga masuk ke dalam cafe. Lebih memilih duduk di dalam, karena di luar cuacanya sangat panas.

"Kalian mau pesan apa?" Tanya Elena melihat buku menu yang sudah ada di atas meja.

"Spaghetti dan minumnya juice jeruk saja," jawab Febri.

"Aku juga sama," jawab Elena. "Kalau bisa juicenya jangan lama-lama. Aku sangat haus."

Dewi memanggil salah satu pelayan untuk memesan makanan dan minuman. "Jangan pakai lama ya. Kita sudah kelaparan dan kehausan."

"Ok siap!" Jawab pelayan yang umurnya tidak jauh berbeda dengan mereka bertiga.

"Ganteng juga dia," bisik Febri melihat pelayan itu pergi.

"Dia mahasiswa juga, anak hukum. Nyambi di sini untuk biaya kuliah," jawab Dewi.

"O ya? Boleh juga tuh," Febri tersenyum. "Siapa namanya?"

"Galang. Loe buta tidak lihat namanya yang nempel dibaju," ucap Dewi.

"Galang, lumayan juga. He-he-he," Febri terkekeh. "Lumayan buat ngemil."

"Gila loe, orang dicemilin. Ha-ha-ha," Dewi tertawa terbahak.

"Sst! Ketawa loe jangan kenceng begitu. Malu dilihatin orang!" Tegur Elena melihat ke arah kumpulan beberapa orang yang duduknya tidak jauh dari meja mereka.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gadis Kereta Api
8.2
Perjalanan pulang saat libur nasional menuntun seorang wanita naik ke kereta api malam dengan ranjang standar. Suasana sunyi berubah menegangkan saat pandangannya tertuju pada siluet tubuh kekar di dekatnya, memicu gejolak hasrat yang tak terbendung. Di balik selimut, ia menyerah pada sensasi fisik hingga tubuhnya gemetar dan napasnya memburu. Namun, di balik kegelapan gerbong yang sunyi, tindakan rahasia itu ternyata tidak luput dari sepasang mata tajam yang terus mengawasinya diam-diam.
Sampul Novel Hasrat terlarang dengan ayah mantan ku
8.8
Pernikahan pria itu hancur di masa lalu akibat jebakan sahabatnya sendiri. Kini, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya dahulu. Setelah melewati satu malam bersama tanpa sengaja, ia sangat terkejut saat mengetahui bahwa wanita muda tersebut ternyata adalah putri kandung dari masa lalunya. Akankah jalinan asmara yang rumit ini mendapat restu, atau justru memicu konflik baru yang jauh lebih pelik?
Sampul Novel Istri Yang Kau Remehkan
8.4
Pasca kematian tragisnya, jiwa supermodel terkenal Eleanor Vienne terbangun di tubuh Seraphina Elmswood. Selama ini, Seraphina dikenal sebagai istri buruk rupa dan bodoh yang kerap dihina, bahkan diabaikan oleh suaminya sendiri, Lysander. Namun, pesona Eleanor mengubah segalanya. Seraphina kini menjelma menjadi sosok berkelas yang memicu kepanikan keluarga Elmswood sekaligus memikat hati Lysander. Akankah ia memaafkan suaminya yang dahulu selalu meremehkannya?
Sampul Novel Menikahi Calon Kakak Ipar
7.9
Mentari Khairunnafiza, reporter lapangan yang tomboi, terpaksa menyetujui wasiat terakhir kakaknya untuk menikahi calon kakak iparnya sendiri. Pria asing yang kini menjadi suaminya itu sangat dingin dan perfeksionis. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, Mentari didera dilema besar. Ia harus menjalani hidup baru dengan pria yang tidak ia kenal, sementara hatinya masih terpaku dan sulit melupakan sosok kekasih yang sangat dicintainya.
Sampul Novel Perjalanan Menuju Cinta Sejati
9.7
Tujuh tahun mendampingi Handi Wenas tanpa kejelasan status, harapan pernikahan sirna saat miliarder itu memilih menikahi putri konglomerat Barata. Demi pernikahan ini, Handi membuang gelang manik-manik cendananya ke loteng sebelah yang kemudian terbakar. Sang wanita nekat menerobos api demi menyelamatkan gelang tersebut. Publik pun terenyuh saat netizen mengungkap bahwa gelang itu didapatkannya dengan penuh perjuangan, berlutut di bawah guyuran hujan deras di Candi Dharma.
Sampul Novel Sudah Nakal Dari Sononya
9.0
Bonang, dosen genit berumur 32 tahun, terkejut oleh kedatangan gadis muda yang membawa balita dan mengaku sebagai anaknya. Belum pernah menikah, ia terpaksa menampung mereka meski ragu dirinya sudah punya cucu. Bonang pun mulai menelusuri kembali kenakalan masa mudanya yang liar demi mencari kebenaran. Ia ingin memastikan apakah kehadiran mereka berdua merupakan konsekuensi nyata dari masa lalunya yang bebas.