
Cinta Datang Di Saat Kumenemukan Penggantinya
Bab 2
Aku berdiri di samping mereka, menyaksikan semuanya dengan hati yang remuk. Putriku baru enam tahun, tapi sudah tahu caranya membaca suasana hanya demi mempertahankan ayahnya.
Darwin, kamu masih punya dua kesempatan lagi.
Malam itu, putriku tidak menangis. Dia hanya menatapku dan bertanya, "Mama, Mama bilang Papa punya gangguan emosi, jadi nggak tahu caranya mencintai kita. Tapi kenapa ... kenapa Papa bisa sesuka itu sama Kak Candice?"
"Papa nanti bisa suka aku juga ... kayak dia suka Kak Candice nggak?"
Tatapan penuh harap di mata putriku membuat lidahku kelu. Bagaimana aku harus menjawab? Haruskah aku bilang bahwa Lovira dan Candice adalah pengecualian bagi Darwin?
Lovira adalah cinta lama Darwin. Dan Candice ... adalah anak Lovira.
Mereka tidak perlu melakukan apa pun, tapi bisa langsung mendapat kasih sayangnya. Sementara aku dan putri kami, sekeras apa pun berusaha, tetap tidak mampu menghangatkan hatinya.
Ruang kerja Darwin penuh dengan hadiah yang kuberikan bersama putri kami. Namun, semua hanya ditaruh di pojok ruangan, tertutup debu dan tidak pernah disentuh.
Sementara satu hadiah dari Candice, dia jaga seolah itu harta karun.
Aku tidak ingin berbohong pada putriku, tapi aku juga tidak tahu harus berkata apa supaya tidak menyakitinya. Namun, seolah mengerti sendiri, dia memelukku erat dan diam.
Aku mencatat semuanya dalam hati. Darwin, kamu masih punya dua kesempatan.
Sejak hari itu, putriku benar-benar tidak pernah lagi melangkahkan kaki ke ruang kerja Darwin. Di luar, dia terlihat sudah tidak terlalu peduli. Namun setiap kali Darwin pulang, matanya masih akan otomatis mengikuti langkah pria itu.
Sayangnya, setiap kali Darwin mencoba berbicara dengannya, putriku akan meringkukkan tubuhnya, menunduk, dan menunjukkan ketakutan.
Melihatnya seperti itu, Darwin pun hanya diam, membalikkan badan, dan pergi begitu saja.
Sampai akhirnya, hari ulang tahun putriku pun tiba. Dia akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, "Papa, bisa nggak temani aku rayakan ulang tahun?"
Saat itu, Darwin sedang memainkan simpul tali yang tergantung di rak bukunya. Begitu mendengar pertanyaan itu, keningnya berkerut. "Kapan ulang tahunmu?"
Darwin bahkan tidak ingat hari ulang tahunnya. Namun putriku tidak kecewa, dia hanya menjawab dengan serius, "Ulang tahunku lusa. Papa bisa datang, ya?"
Darwin berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Aku ada urusan hari itu."
Mendengar jawabannya, putriku tidak menangis, juga tidak marah. Dia hanya menunduk, lalu berkata lirih, seolah berusaha membela Darwin, "Papa sibuk kerja ... aku harus lebih pengertian sama Papa."
Kemudian dia menoleh padaku dan berkata pelan, "Mama, ulang tahunnya kita rayain sama Nenek saja, ya."
Melihat betapa dewasa dan pengalahnya anak sekecil itu, hatiku terasa perih. Aku memeluknya erat. "Iya, Sayang. Kita rayakan bareng Nenek."
Di hari ulang tahunnya, meskipun dia berusaha menutupi kekecewaannya, ibu mertuaku tetap menyadarinya.
"Aduh, kok cucu Nenek kelihatan nggak bahagia, ya? Siapa yang berani nyakitin hati Peggy, bilang sama Nenek."
Peggy buru-buru menggeleng dengan kuat. "Aku nggak sedih, kok."
Nenek mengusap kepalanya lembut. "Nenek tebak, ya. Ini pasti karena Papa nggak datang, ya? Peggy kangen Papa?"
Tebakan itu tepat sasaran. Peggy tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya terus-menerus membela Darwin. "Papa sibuk, makanya nggak bisa datang. Nenek jangan salahin Papa, ya."
"Peggy sudah sebaik ini, masa Papamu nggak datang di hari ulang tahunmu? Biar Nenek teleponin dia sekarang. Dia nggak akan berani membantah perintah Nenek!"
Setelah berkata demikian, aku melihat sorot mata putriku kembali terlihat penuh harapan.
"Papa benaran bakal datang?"
Ibu mertuaku berpura-pura berbicara dengan Darwin di telepon. Padahal sebenarnya, dia tidak benar-benar meneleponnya. Namun, putriku tidak menyadarinya. Wajahnya tampak mulai merona ceria.
Anda Mungkin Juga Suka





