
Cinta Aliansi, Cinta Transaksional
Bab 7
Calista kembali sadar ketika dia sudah berada di ruang ICU rumah sakit. Dokter memeriksa lukanya, wajahnya penuh rasa syukur.
"Selisih satu milimeter saja, pecahan besi itu sudah akan menusuk arteri utama kamu. Untung kamu masih beruntung dan dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Kalau nggak, jangankan kaki, nyawamu pun nggak akan bisa diselamatkan."
Calista berusaha memaksakan senyuman, tetapi pikirannya justru kembali pada suara-suara yang dia dengar saat dirinya setengah sadar.
"Pasien ini kehilangan terlalu banyak darah, kenapa bank darah rumah sakit belum ada kabar?"
"Jangan tanya lagi. Pacar Pak Dean mengaku sakit perut, lalu PAk Dean langsung memerintahkan bank darah rumah sakit ditutup. Semua persediaan darah harus disiapkan untuk pacarnya, katanya sebagai jaga-jaga."
"Ini nggak masuk akal! Kalau bank darah nggak boleh dipakai, terus bagaimana dengan pasien ini?"
"Cuma bisa mengandalkan tubuhnya sendiri."
Jadi Dean ... benar-benar menginginkannya mati?
Mungkin karena rasa sakit sudah sampai batas, bahkan hatinya pun ikut mati rasa. Pada saat ini Calista bahkan tidak bisa meneteskan setitik air mata pun. Dia hanya bersyukur bahwa masa tenang perceraian mereka tinggal beberapa jam terakhir.
Malam itu, Dean datang menjenguknya. Tatapannya tertuju pada paha Calista yang penuh perban dan dia terdiam lama sebelum akhirnya membuka mulut, "Arcelia pernah menyelamatkanku. Aku harus bertanggung jawab padanya."
Calista tidak menjawab. Dia hanya menatap pria yang telah dia cintai dan perjuangkan selama tujuh tahun dengan sangat serius.
Dia ingin bertanya, apakah Dean masih ingat betapa besar cintanya dulu? Ingin bertanya, apakah dia masih ingat bahwa dalam kecelakaan beberapa tahun lalu, Calista juga kehilangan seorang anak demi menyelamatkannya? Ingin bertanya, apakah Dean pernah berpikir ... kalau dirinya benar-benar mati, apa yang akan dilakukan Dean?
Calista memikirkan banyak hal. Namun, ketika kata-kata itu sampai di bibir, yang keluar hanya satu kalimat sederhana, "Aku tahu."
Dia tahu Dean tidak mencintainya. Tahu Dean tidak pernah peduli pada anak yang pernah hilang itu. Tahu bahwa bahkan jika dia mati, Dean tidak akan peduli sedikit pun. Selain itu juga tahu, setelah hari ini, dia dan Dean tidak akan punya hubungan apa pun lagi.
Calista menarik napas panjang, lalu perlahan membuka suara, "Dean, kita cer ...."
Tiba-tiba ponsel Dean berdering. Suara manja Arcelia terdengar dari speaker, "Kak Dean, Tante bawa fotografer ke rumah. Kita mau foto keluarga. Tinggal kamu yang belum datang."
Wajah Dean berubah panik. Dia refleks melihat ke arah ranjang, tetapi hanya melihat Calista sudah memejamkan mata.
'Calista tidak peduli lagi sama aku?'
Sebuah kalimat tiba-tiba muncul di benak Dean. Namun, dia buru-buru menggelengkan kepala.
Tidak mungkin. Calista mencintainya begitu dalam. Lagi pula ... bukankah ibu Calista juga harus bergantung pada Keluarga Ramosh untuk bertahan hidup?
Memikirkan hal itu, tatapan Dean tiba-tiba melunak. "Calista, kamu istirahat yang baik. Setelah kamu keluar dari rumah sakit, aku akan menjemput ibumu secara pribadi."
Pintu kamar tertutup. Calista mengambil ponselnya dan menelepon kepala pelayan.
"Kirimkan tasku yang berisi semua dokumen penting ke rumah sakit."
Lalu, dia mengirim pesan pada Xeno.
[ Jemput aku. ]
Satu jam kemudian, Calista menghapus semua kontak Dean, duduk di kursi roda, dan meninggalkan rumah sakit.
Pada saat yang sama, ketika Dean sedang berpose untuk foto keluarga, sebuah pesan dari pengacaranya muncul di ponselnya.
[ Selamat Pak Dean, hubungan perceraian Anda dengan Bu Calista telah resmi berlaku. ]
Anda Mungkin Juga Suka





