APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel CEO Dingin Itu Penyelamatku

CEO Dingin Itu Penyelamatku

Kehidupan pernikahan Embun bagai neraka karena Putra, suaminya, mencintai wanita lain yang sudah dianggap kakak sendiri oleh Embun. Segala pengorbanan tulus Embun demi mendapatkan cinta suaminya selalu berujung sia-sia dan dipandang sebelah mata. Kepedihan Embun kian mendalam saat Putra justru menyebut nama wanita lain tersebut usai mereka intim. Di tengah luka batin yang begitu hebat ini, sanggupkah Embun bertahan saat kehadirannya tidak lagi dihargai?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Nah, selesai. Kau bisa melihat hasilnya sekarang," ucap penata rias pada seorang gadis yang sedari tadi tak henti mengukir senyum di wajahnya.

"Wow, kau sangat cantik Embun."

Wanita berusia 29 tahun itu mendekati adik iparnya, membantu Embun bangun dari kursi.

"Kau membuatku malu, Kak," cicit Embun.

"Aku berani bersumpah, dan aku tidak bohong. Kau memang sangat cantik, Sayang."

Gadis bernama Embun itu menatap pantulannya di depan cermin. Riasan flawless membingkai wajahnya yang berbentuk oval. Sapuan make up tipis namun semakin mempercantik wajahnya yang dihiasi bulu mata lentik. Manik mata kecokelatan bak kacang almond itu terus memendarkan binar kebahagiaan.

"Aku sangat gugup Kak," bisik Embun pada wanita yang belum lama ini menjadi kakak iparnya. Kedua tangannya saling memilin saking gugupnya.

"Wajar, Kakak juga dulu begitu. Usahakan untuk rileks dan tetap tenang."

Embun mengangguk, lagi-lagi melemparkan senyum sekedar mengurangi kegugupannya.

"Maaf, saya masih harus merapikan ini dulu, Nona." Penata rias meraih wedding vail yang tersemat di balik rambut Embun.

Calon pengantin itu sedikit membungkuk membiarkan penata rias melakukan tugasnya dengan leluasa.

"Apa kau tidak merasa jika riasannya terlalu tipis?" Bella, kakak ipar Embun bertanya pada penata rias.

"Tidak Nona, wajah Nona Embun sudah sangat cantik dan saya hanya perlu memolesnya dengan sedikit riasan tipis."

Bella mengangguk. Jika dilihat, riasan seperti itu memang cocok untuk gadis seusia Embun.

"Aura kecantikannya begitu terlihat tanpa perlu memolesnya dengan make up tebal Nona," kata penata rias itu lagi.

Kakak ipar Embun mengangguk setuju dengan pendapat penata rias lalu berkata, "Kau boleh pergi." Sambil mengibaskan tangannya.

Wanita itu membimbing Embun untuk duduk kembali. "Tunggu sampai kakakmu datang menjemputmu."

"Baik, Kak."

Bibir tipis berpoles gincu merah itu terus merekah membingkai senyum, Embun tak sabar menantikan proses pergantian statusnya menjadi seorang istri. Sudah sejak lama dia memendam perasaan cintanya pada Putra, lelaki yang merupakan teman dekat kakaknya.

Dulu, setiap pulang sekolah, diam-diam Embun akan mencuri pandang pada lelaki itu. Cinta monyet, orang menyebutnya demikian akan tetapi makin hari perasaannya pada Putra semakin bertambah dan tak ada yang berbeda sampai Embun menginjak usia dewasa.

Tibalah hari ini, hari yang setiap malam begitu dimimpikan oleh Embun. Harapannya untuk menjadi Nyonya Putra Arifin Wicaksana akan terlaksana dalam hitungan jam. Embun tak sabar untuk melihat pengantin prianya, calon suaminya. Debaran jantungnya menggila setiap kali ia teringat pada lelaki itu.

Daun pintu terbuka lebar seiring dengan munculnya sosok gagah yang berdiri menjulang di ambang pintu.

"Ya Tuhan, Sayang. Kau sangat cantik."

Satria tertegun melihat penampilan adiknya yang jauh berbeda dengan kesehariannya. Balutan gaun pengantin mewah dengan taburan Swarovski menambah kesan elegan. Embun terlihat jauh lebih dewasa dari usia yang sebenarnya.

"Hei, simpan air matamu itu. Ini adalah hari bahagia adikmu, jadi jangan coba-coba untuk merusaknya dengan menangis." Bella menghampiri suaminya, memeluknya sebentar.

"Apa ini benar Embun adikku yang manja itu?" Embun mencebik mendengar penuturan kakaknya, keduanya berpelukan.

"Kakak sampai tidak mengenalimu. Ternyata kau sangat cantik dan sudah besar sekarang, sudah mau jadi istri orang," Lanjut Satria.

"Kakak."

Sama seperti Satria, Embun pun tak kuasa menahan haru yang merebak di dadanya. Satria mengurai pelukan itu lalu membingkai wajah adik kesayangannya, satu-satunya keluarga yang ia punya semenjak kepergian kedua orang tuanya.

"Jangan menangis. Ini hari bahagiamu dan kamu sudah begitu lama menantikannya, bukan begitu?" Satria mengecup dahi adiknya.

Embun mengangguk, cairan bening yang ia tahan sedari tadi menerobos paksa hingga bergulir di pipinya. Satria menyeka dengan ibu jarinya.

"Calon suamimu sudah menunggumu di depan, sebaiknya kita cepat keluar sebelum dia semakin bosan menunggu." Satria menggoda adiknya.

Wajah yang semula diliputi mendung itu berubah menjadi secerah mentari pagi. Satria memberikan tangannya untuk diapit sang adik.

Penata rias datang untuk merapikan kembali gaun dan penampilan Embun, lalu kakak beradik itu keluar melewati karpet merah yang membentang panjang dengan mempelai pria di ujung yang berbeda.

Bella melangkah mengekori suami dan adik iparnya sambil sesekali membetulkan ekor gaun pengantin Embun yang menyapu lantai.

"Kakak bahagia bisa melepasmu bersama pria yang kamu cintai, Embun," ucap Satria setengah berbisik. Langkah kaki keduanya selaras dengan musik pengiring yang mengalun merdu memenuhi gedung resepsi.

"Terima kasih Kak, hanya itu yang bisa aku katakan padamu. Kau adalah kakak terbaik di dunia. Kau adalah pahlawanku, Kak." Embun menjawab dengan berbisik juga tanpa mengalihkan pandangannya.

Tubuh mungil itu bergetar hebat melihat pria dengan setelan tuxedo dan korsase bunga yang terselip di saku jasnya, tengah berdiri menantinya di ujung karpet. Langkah mereka kian dekat, seiring dengan debaran jantung Embun yang bertalu dua kali lebih cepat dari biasanya.

Langkah mereka perlahan terhenti tepat di hadapan Putra. Satria memberikan tangan Embun pada calon mempelai pria yang tak lain adalah sahabat karibnya.

"Aku serahkan tanggung jawabku padamu. Cintai dan jaga dia seperti kita menjaga persahabatan kita selama ini," pesan Satria pada calon suami Embun.

"Tentu." Putra menjawab singkat.

"Jangan segan untuk menegurnya jika dia salah, bimbing dia agar menjadi istri yang baik dan kembalikan dia padaku dengan cara yang baik jika kamu sudah tidak mencintainya lagi suatu hari nanti."

Momen seperti ini terasa begitu mengharukan. Embun menatap kakaknya dengan tatapan bangga karena pria itu sudah menjaganya dengan baik selama ini.

"Aku akan selalu menjaganya."

Putra menggantikan Satria mengapit Embun, keduanya berjalan menghadap pemuka agama yang telah bersiap di depan mimbar.

Pemuka agama pun memulai jalannya upacara pernikahan. Masing-masing calon pengantin mengucap janji suci pernikahan, dilanjutkan dengan pertukaran cincin.

Tangan Embun bergetar sampai-sampai cincin yang hendak dia sematkan di jari manis Putra hampir terjatuh. Sesekali ia memberanikan diri melirik ke arah lelaki itu. Sama sekali tak ada yang berubah, wajah itu tetap tenang sedalam lautan. Ekspresi wajah yang dingin dan datar, hingga Embun tak dapat meraba perasaan pria yang baru saja resmi menjadi suaminya.

Tepuk tangan meriah para tamu undangan mengembalikan kesadaran Embun akan lamunan panjangnya. Para tamu bersorak menginginkan wedding kiss.

Embun menatap ragu suaminya, selama ini Putra yang dia kenal adalah sosok pria yang tak suka mengumbar kemesraan. Jangankan berciuman, jalan berdua sambil berpegangan tangan saja sangat jarang mereka lakukan. Ciuman pun hanya sebatas di kening.

Putra seakan tak terpengaruh sama sekali meski para hadirin mendesaknya untuk segera melakukan wedding kiss. Dan tebakan Embun benar, Putra mendekatkan wajahnya dengan hanya mengecup keningnya sekilas. Embun kecewa, tapi ia berpikir jika Putra akan menjadi suami yang hangat ketika mereka hanya sedang berdua saja. Ia tahu betul tabiat Putra yang tak suka mengumbar kemesraan di depan orang-orang.

Sorak pengunjung yang kecewa lantaran tak mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan hanya ciuman di kening. Apa bagusnya acara pernikahan tanpa wedding kiss seperti yang dilakukan kebanyakan pasangan pengantin baru, pikir para tamu undangan.

Setelah pelemparan buket bunga, pembaca acara pun mempersilakan para tamu undangan untuk menikmati jamuan. Putra mengajak Embun duduk di pelaminan, beristirahat sebentar sebelum mereka diserang antrean panjang para tamu yang datang untuk memberikan restu.

"Kau mau minum?" Kalimat pertama yang meluncur dari bibir Putra setelah sekian lama kebungkamannya.

Embun mengangguk menerima botol dengan sedotan yang disodorkan Putra.

"Terima kasih, Kak."

Bibir lelaki itu melekuk tipis, bukan sebuah senyuman akan tetapi lebih mirip seperti sebuah seringai dan Embun terbiasa dengan hal itu. Lelaki yang kini resmi menjadi suaminya memang tipikal orang yang irit bicara dan jarang tersenyum.

"Hanya untuk air minum saja kau sampai berterima kasih."

"Salah satunya."

Putra diam menunggu kelanjutan dari ucapan Embun.

"Ya, aku berterima kasih karena Kakak sudah memberiku minum, tapi itu hanya salah satu alasanku berterima kasih. Alasan utamaku berterima kasih adalah karena Kakak telah menikahiku. Terima kasih mau menikah denganku, Kak." Embun memperjelas ucapannya.

"Aku kira apa." Menjawab dengan datar.

"Aku tahu ini pasti akan terasa aneh karena kita hanya berpacaran sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah," Lanjut Embun.

"Kita sudah sepakat untuk menjalaninya Embun. Kita masih sama-sama belajar untuk menjalani peran kita masing-masing," ujar Putra.

"Ya, Kakak benar."

Percakapan keduanya terputus saat Putra meminta izin pergi ke kamar kecil, Embun melanjutkan perbincangan dengan kerabat suaminya.

Putra berkali-kali menyentak napas panjang seolah sedang mengeluarkan beban yang terasa menghimpit dadanya. Ia berjalan pelan menuju kamar kecil bukan lantaran untuk menuntaskan hajatnya, tapi agar bisa sejenak menyingkir dari acara itu.

"Put!"

Panggilan seseorang menghentikan langkah Putra, pria itu berbalik menoleh ke arah sumber suara. Putra tersenyum kecut pada gadis yang saat ini tengah berjalan ke arahnya.

"Selamat." Gadis itu mengulurkan tangannya. Cukup lama telapak tangan itu menggantung di udara karena Putra tak kunjung menjabatnya.

Putra menarik tangan gadis itu dan membawanya sedikit menyingkir di lorong yang sepi. Tanpa aba-aba ia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, dan tak lama setelahnya terdengar isak tangis lirih.

"Maafkan aku. Aku memang pengecut," lirih Putra penuh sesal.

"Jangan salahkan dirimu karena nyatanya aku pun tak sanggup, Put. Aku nggak bisa hidup tanpamu."

"Jangan menangis. Meskipun aku menikahinya tapi bukan berarti hati dan cinta ini menjadi miliknya. Hanya kamu seorang yang aku cintai, Giska." Putra berujar.

Wanita bernama Giska itu terus menangis tersedu, membuat tuxedo yang membalut dada bidang Putra menjadi basah karenanya.

"Ternyata aku nggak bisa hidup tanpa kamu Put. Ini terlalu menyedihkan," lirih Giska terisak.

"Aku juga. Aku tersiksa tapi aku nggak bisa mencegah pernikahan ini. Bertahanlah hanya untuk satu tahun, aku akan menceraikannya setelah setahun usia pernikahan kami. Aku janji untuk tidak menyentuhnya demi menjaga cintaku padamu. Dan setelah itu kita bisa menikah dan hidup bahagia bersama selamanya, Giska." Janji Putra terdengar manis di telinga wanita itu, sorot matanya tajam menunjukkan betapa ia tak sedang berbohong.

"Aku ragu. Dia cantik dan masih begitu muda, aku yakin dengan kepribadinya yang menyenangkan dia akan dengan mudah mencuri hatimu."

"Tidak Giska! Hal seperti itu tidak akan terjadi, percayalah. Dia sama sekali bukan tipeku. Dia manja, kekanak-kanakan dan selalu memaksakan kehendaknya. Jangankan cinta, aku bahkan sama sekali tidak menyukainya. Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, yang aku harapkan untuk menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Bukan gadis manja seperti Embun," ucap Putra berusaha meyakinkan hati kekasihnya.

"Apa kamu bicara jujur?" Giska menarik diri dari pelukan lelaki itu, menelisik raut wajah Putra, mencoba mencari kebohongan yang mungkin tersembunyi di balik tatapan pria itu. Sialnya, apa yang baru saja diucapkan Putra justru membuat Giska serasa terbang ke langit luas. Membuatnya begitu meyakini apa yang telah dijanjikan Putra padanya.

"Tentu saja. Aku nggak mungkin bohong sama kamu."

"Janji kalau kamu tidak akan menyentuh Embun dan akan bercerai setelah satu tahun pernikahan kalian?"

"Janji." Putra menjawab dengan penuh kemantapan hati.

"Aku takut Satria akan marah saat tahu kita ada main di belakang adiknya."

"Aku akan mencari cara agar bisa bercerai tanpa merusak persahabatan kami." Putra kembali berjanji.

Sementara itu di balik lorong yang sama tanpa sepengetahuan mereka telah berdiri seorang gadis. Gadis dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya, gadis yang baru beberapa saat lalu resmi melepas status lajangnya dan bertekad untuk mengabdi dengan sepenuh hati menjadi seorang istri.

Baru saja ia menyemai impiannya yang begitu indah bersama pria yang sangat dicintainya, haruskah sepahit empedu balasannya?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia memilih mantannya, aku memilih balas dendam
8.7
Baskara Aditama tega mempermalukanku di hari pernikahan kami. Dia menuduhku milik kakaknya demi bisa kembali pada Saskia, mantan kekasihnya. Baskara bahkan sengaja menunda kesembuhan Saskia demi bersenang-senang, yakin aku akan terus menunggunya. Namun, dia keliru. Aku tidak sudi dijadikan pilihan saat dia ingin memiliki kami berdua. Demi membalas dendam dan menghancurkan Baskara, aku mendekati Dananjaya Aditama, sang penguasa tertinggi keluarga mereka, lalu memintanya untuk menikahiku.
Sampul Novel Dipaksa Menikah dengan Hartawan Misterius
8.4
Hidup Chelsea Kurniawan hancur sejak ibunya tiada, ia terus ditindas oleh ayah dan ibu tirinya. Puncaknya, ia dipaksa menikahi Tristan Sudrajat untuk menggantikan Cheline. Chelsea sempat melarikan diri hingga terlibat cinta satu malam dengan pria asing, tetapi ia tetap tertangkap lalu dinikahkan. Di luar dugaan, Tristan sangat menyayangi dan memperlakukannya dengan baik. Namun, Tristan menyimpan rahasia besar tentang identitas aslinya sebagai miliarder misterius.
Sampul Novel Lelaki Asing Yang Menodaiku
9.1
Alana memilih kabur dari rencana pernikahannya akibat trauma mendalam. Masa lalunya sebagai TKW menyisakan luka besar setelah ia dinodai oleh pria asing. Di sisi lain, seorang CEO sukses bernama Lars merasa hampa karena amnesia akibat kecelakaan. Pertemuan tak terduga membuat Lars terobsesi pada Alana. Rasa rindu serta kepedihan yang hadir di antara mereka perlahan mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu yang saling terhubung.
Sampul Novel MENJADI ISTRI DADAKAN CEO AROGAN
8.2
Lavendra hancur setelah tahu pernikahannya dengan Daza, CEO yang sangat angkuh, cuma kedok demi harta warisan kakeknya. Kepedihan itu kian perih karena sang suami masih mencintai Lora, kekasihnya. Sempat berniat berjuang demi mewujudkan rumah tangga yang bahagia, usaha Lavendra sia-sia. Kehadiran Lora yang terus mengusik ditambah sikap dingin Daza membuat batinnya lelah. Kini, ia terjebak dalam keputusasaan dan meratapi kenaifannya yang mendambakan cinta sejati.
Sampul Novel Menjalani Sisa Hidup Sendiri
8.6
Pernikahan Colby dengan Ruben, sang pewaris Grup Gibson, terhalang restu keluarga. Brenda, nenek Ruben, menantang cinta mereka lewat taruhan tiga tahun. Jika berhasil bertahan, hubungan mereka akan direstui. Namun jika gagal, Colby harus mundur demi wanita yang sepadan. Colby sangat percaya diri karena Ruben bersedia mengorbankan apa pun demi dirinya. Sayangnya, di tahun ketiga yang krusial, keyakinan itu runtuh saat Ruben justru berkhianat.
Sampul Novel Real or Dream
9.0
Clarista terkejut saat dicium tiba-tiba oleh Augfar, pria asing tampan nan kaya yang mengklaimnya sebagai calon istri di pesta tunangan sahabatnya. Rupanya, Augfar sengaja menjaga reputasinya dari skandal sejak SMA demi menanti Clarista, cinta pertamanya. Pertemuan tak terduga ini memicu berbagai kejutan manis yang menguji perasaan mereka. Ikuti kisah cinta dewasa yang penuh gairah antara Augfar dan Clarista untuk menemukan semua jawaban dalam Real or Dream.