
Cahaya yang Tertunda
Bab 2
Tama menghela napas lega seakan beban terangkat, lalu bersandar padanya dengan sedikit merajuk.
"Sejak kamu selesai masa nifas, kita belum benar-benar dekat lagi. Hari ini…"
Perut Winda mendadak terasa mual. Baru saja hendak bicara, ponsel Tama berdering.
Dengan ekspresi bersalah, Tama meliriknya, lalu balik badan untuk mengangkat telepon. Setelah menutup ponsel, nada suaranya menjadi panik.
"Sayang, ada urusan mendadak di kantor. Aku harus segera pergi."
Tama buru-buru meraih jaket dan keluar. Hati Winda mencelos dan diam-diam mengikutinya dengan mobil.
Mobil Tama berhenti perlahan di depan pintu vila yang tersembunyi.
Hanya beberapa menit kemudian, Sania melenggak-lenggok masuk ke kursi depan. Mobil langsung berguncang hebat, jelas terdengar apa yang terjadi di dalam.
Winda membuka aplikasi penyadap di ponselnya.
Sungguh ironis, dulu Winda memasang alat itu karena takut hal buruk terjadi pada suaminya saat bekerja. Kini, justru menjadi alat untuk membuktikan perselingkuhan.
"Untung kamu bilang sakit perut dan menipuku supaya datang. Kalau nggak, malam ini aku masih harus pura-pura di rumah."
Suara Tama terdengar disertai desahan. "Kamu merawat dirimu dengan baik, tapi perut Winda penuh guratan bekas hamil. Melihatnya saja aku sudah muak."
Sania mendesah manja. "Kalau begitu, malam ini jangan pulang. Temani aku saja."
Gerakan Tama makin agresif, jelas belum puas hanya di mobil. Tak lama kemudian, dia menggendong Sania masuk ke vila.
Winda duduk termenung di mobil sepanjang malam, tak habis pikir bagaimana pria yang dulu bilang mencintainya sepenuh hati bisa berubah menjadi seperti ini.
Keesokan paginya, saat Winda pura-pura baru terbangun, Tama sudah kembali. Ujung rambutnya masih terlihat basah, tanda baru saja mandi.
"Winda, ayo bangun. Hari ini aku akan mengajakmu ke acara lelang. Ada barang-barang antik yang pasti kamu suka."
Tama menunduk untuk mencium kening Winda, suaranya lembut seperti dulu.
Meski sempat ragu, Winda akhirnya memutuskan untuk ikut.
Di tempat lelang, Sania tiba-tiba muncul dengan gaun merah belahan tinggi, menonjolkan paha putihnya yang menarik perhatian.
"Pak Tama, aku akan membawakan jas Anda."
Namun, Tama justru menghindar dengan jijik. Suaranya dingin seperti es.
"Hari ini aku datang bersama istriku. Kamu ke sini untuk apa?"
Tatapan orang-orang seketika terarah ke mereka. Sania menggigit bibirnya dan memandang Winda, merasa dirugikan. "Tapi, Anda tetap butuh seseorang yang melayani…"
Semua orang tahu betapa Tama memanjakan Winda. Pernikahan mereka dulu dihadiri hampir seluruh kalangan elite di kota, begitu megah dan gemilang.
Orang-orang di sekitar segera berbisik-bisik. Tama merangkul pinggang Winda dengan erat, mengerutkan kening. "Bu Sania, kamu nggak diperlukan di sini. Kembalilah ke kantor."
Sania pun pergi sambil menangis, dihujani pandangan sinis orang-orang.
Tama kemudian mencium lembut dahi Winda dan menuntunnya untuk duduk.
Namun, Winda bisa merasakan kegelisahan dalam diri Tama.
Selama beberapa item dilelang, tatapan Tama tampak kosong. Kakinya tak berhenti gemetar gugup di bawah meja.
Saat permata "Hati Gemilang" akhirnya dipamerkan, Tama langsung menyatakan penawaran tertinggi tak terbatas, lalu berpamitan pada Winda.
"Winda, aku mau ke toilet sebentar. Kalau ada yang kamu suka, langsung tawar saja."
Para undangan pun memandang Winda dengan iri, berbisik-bisik, "Pak Tama sangat menyayangi istrinya, sampai berani pasang penawaran tertinggi tak terbatas."
"Maklum, dia 'kan putri Keluarga Baskoro. Barang biasa mana mungkin dia mau."
Winda sama sekali tak berminat mendengar komentar itu. Begitu Tama keluar, dia pun diam-diam menyusul. Baru sampai di depan toilet wanita, dari dalam bilik sudah terdengar suara-suara tak senonoh.
"Dasar penggoda, siapa suruh kamu pakai baju begini? Pagi tadi sudah tiga kali, masih kurang?" Suara Tama terdengar terengah.
"'Kan kamu yang marahin aku duluan," jawab Sania dengan suara menggoda sekaligus tersakiti. "Waktu kamu usir aku pergi, kenapa nggak mikirin ini?"
Tama seperti menghela napas. "Dengarkan aku. Bagaimanapun juga, dia istri di atas kertas. Semua orang penting di sini menghormati Keluarga Baskoro, kamu 'kan tahu itu."
Sania mengeluarkan erangan manja bercampur tangis. "Tapi, akulah istri sahmu yang sebenarnya! Kapan aku bisa berdiri di sisimu dengan terang-terangan?"
"Jangan ribut." Suara Tama menjadi dingin. "Kita sudah sepakat dari awal kalau hubungan kita adalah rahasia. Jangan melewati batas."
Dia berhenti sejenak, nadanya melunak lagi. "Permata yang baru saja ditawar itu untukmu, sebagai kompensasi."
"Aku juga mau pernikahan yang jauh lebih megah dari Winda!"
Kata-kata berikutnya tenggelam oleh ciuman penuh nafsu.
Perut Winda bergolak hebat. Dia terhuyung-huyung keluar dari tempat lelang, bersandar di dinding sambil muntah-muntah.
Jadi inilah Tama yang sebenarnya.
Di depan publik, Tama memberinya status istri yang terhormat, tetapi hatinya justru diperuntukkan untuk Sania dan anaknya.
Ilusi kasih sayang yang Tama bangun dengan mati-matian hanyalah tipu daya belaka, memperlakukan Winda seperti orang bodoh. Akta nikah palsu dan pernikahan megah itu, kini semuanya terasa seperti lelucon.
Dia menarik napas panjang sambil memejamkan mata, berusaha menghibur diri. "Tinggal enam hari lagi. Bertahanlah, setelah ini semuanya akan berakhir."
Dia segera menelepon asistennya, "Cepat hitung semua saham dan proyekku di Grup Harto. Siapkan kontrak pengalihan."
Namun, jawaban asisten setelahnya membuat darahnya mendidih.
"Bu Winda, Proyek Disbel yang Anda tangani, sudah dialihkan atas nama Bu Sania bulan lalu!"
Anda Mungkin Juga Suka





