APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Cabe-cabean Kekasih Vice President

Cabe-cabean Kekasih Vice President

Pertemuan tidak terduga di sebuah kelab malam mempertemukan Alexander Richard dengan Soraya, gadis berusia 19 tahun yang polos dan apa adanya. Walau perbedaan usia mereka terpaut delapan belas tahun membuat sang Vice President awalnya mengira hubungan ini tidak serius, ia justru jatuh hati teramat dalam. Sayangnya, masa lalu Soraya menyimpan rahasia yang berhubungan dengan luka lama Alexander. Kini, ia mesti berjuang mengatasi trauma besarnya demi mempertahankan cinta sang gadis impian.
Bab
Bagikan

Bab 1

Entah kenapa ia memutuskan membawa gadis itu pulang. Alexander masih tidak mengerti jalan pikirannya kemarin. Sepertinya, waktu itu ia terhanyut suasana. Berawal dari memenuhi undangan salah satu teman lama, ia mendatangi kelab malam di mana bertaburan gadis-gadis muda yang meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.

Sebenarnya, Alexander merasa terlalu tua untuk itu. Ia lebih senang menghabiskan waktu di pub, sambil menikmati live musik. Namun demi menjaga hubungan baik dengan teman lama yang juga merupakan pemilik grup perusahaan investor, ia menyempatkan datang. Hitung-hitung sekadar menikmati suasana, meski dentuman musik jedag jedug sudah bukan lagi seleranya.

Siapa sangka, sesaat setelah mengucapkan selamat atas pembukaan kelab malam, kedua matanya tanpa sengaja menangkap seorang gadis yang tampak sudah setengah mabuk.

Dari sekian banyak gadis-gadis muda lainnya, hanya yang menarik perhatiannya. Mungkin hanya kebetulan, karena tempat mereka bahkan juga tidak berdekatan.

Malam itu ia duduk sendirian di dalam private room berdinding kaca, yang berada satu tingkat di lantai atas. Ruangan itu telah disiapkan khusus untuknya. Sejenak setelah menemaninya mengobrol -sambil membahas sedikit bisnis- pemilik kelab meninggalkannya sendirian dengan jamuan paling mahal di atas meja. Pemilik kelab, bahkan sudah menyediakan wanita penghibur khusus, yang bisa ia panggil sewaktu-waktu melalui intercom.

Namun kedua matanya tidak pernah bisa berhenti mengikuti gerak-gerik gadis setengah mabuk yang tadi sempat ia lihat saat memasuki kelab. Penampilan provokatif malam itu menyeret perhatiannya lebih jauh. Ia melihat ditinggalkan begitu saja di sofa, setelah kelelahan melantai dengan teman-temannya.

Alexander tertarik mengamati bagaimana sikap teman-teman yang seperti tampak merencanakan sesuatu. Mereka bergerombol di belakang sofa di mana duduk sendiri. Kemudian para gadis lainnya seperti sengaja menjauh. Lalu seorang pemuda yang sedari tadi bersama menyerahkan bungkusan pada pemuda berseragam waiter, sambil memberi isyarat ke arah meja di mana duduk sendirian.

Hati Alexander bagai mati separuh, saat mengingat bagaimana saat itu memanggil teman-temannya dengan lambaian tangan. Gadis itu tidak menyadari senyuman palsu dari gerombolan yang bersamanya malam itu.

Satu pil saja, bisa membuat gadis itu tidak sadarkan diri. Alexander tidak tahu jenis pil apa yang dimasukkan ke dalam minuman . Namun dari balik dinding kaca di hadapannya yang menjelma bak monitor raksasa, kedua mata Alexander dapat menangkap situasi yang berada di lantai bawah. Ia melihat bagaimana pil itu dimasukkan ke dalam minuman hingga dalam perjalanan diantar menuju meja gadis itu.

Entah bagaimana, Alexander memilih turut campur dalam hal yang seharusnya bukan urusannya. Padahal, tidak juga kenal. malam itu hanyalah satu dari sekian banyak gadis random di dalam kelab. Alexander ingat, ia bergegas turun setelah mengambil sebotol air kemasan dari dalam kulkas mini di tempatnya.

Mungkin karena gadis itu cantik dan terlanjur menarik perhatiannya? Tetapi Alexander bukanlah lelaki yang sulit menemukan gadis cantik untuk dibawa pulang. Mungkin hanya iba? Entahlah. Alexander bahkan tidak yakin pada perasaannya sendiri di malam itu. Yang jelas, ia tertarik.

Kesan pertama yang ia dapatkan, hanyalah gadis muda yang berani dan nakal. Kebetulan ia sedang bosan bermain-main dengan pelacur, atau sekedar menghubungi friends with benefits-nya. , menawarkan suasana baru yang begitu menyegarkan.

"Dari orang di meja seberang," ucap pelayan berseragam sembari membungkuk, agar suaranya yang beradu dengan dentum musik house dapat terdengar lebih jelas oleh gadis muda yang tampak bahagia meski tengah duduk sendirian di sofa.

Gadis itu sontak mendongak dan menemukan pemuda yang duduk sendirian di seberang, mengangkat gelas tinggi-tinggi.

Soraya, tersenyum geli. Batal menyalakan api demi sebatang rokok yang sudah terselip di antara bibir.

"Sebaiknya kamu jangan minum itu.." Tiba-tiba seorang lelaki duduk di hadapannya dan dengan tampang acuh menyingkirkan minuman yang baru saja tiba. Soraya menatap protes, tetapi senyuman menawan dari wajah yang luar biasa tampan membuat batang rokok di antara bibirnya nyaris terjatuh.

Kemeja hitam, kancing teratas dibuka dua dipadu dengan setelan jas yang membalut postur tubuh tegap. Lelaki di hadapannya tersenyum, menampakkan deretan gigi yang berbaris rapi.

"Kenapa?" Soraya bertanya tanpa mampu mengalihkan pandangan sedikit pun dari lelaki karismatik di hadapannya.

Lelaki tampan itu mendekat dan menyodorkan sebotol air mineral dingin. Masih tersegel dan berembun seperti baru keluar dari kulkas.

"Ada yang masukin pil ke dalam minuman kamu. Saya khawatir ada yang berniat buruk. Lagian kamu keliatan mabuk. Minum ini..." Lelaki itu, sekali lagi menampakkan senyumannya yang berkarisma.

"Wow thanks..." Soraya menatap takjub. Ia memang merasa sedikit mabuk. Lelaki tampan di hadapannya membukakan tutup botol dan Soraya minum air mineral dingin dari tangan lelaki itu tanpa ragu. "Om sendirian?" tanyanya pada lelaki yang sepertinya lebih tua. Soraya menyimpulkan dengan cepat, mungkin lelaki tampan di hadapannya berusia sekitar tiga puluhan.

"Iya. Kamu?" Lelaki itu balas bertanya selagi Soraya diam-diam sibuk memuji gaya rambut dengan poni membelah dahi yang membuat penampilan lelaki berahang tegas di hadapannya semakin menawan.

"Mmm... " Soraya melempar tatapannya mengelilingi seluruh penjuru tempat yang tampak hingar bingar. "Temen-temen aku masih joget... aku disuruh jaga sofa," jawabnya kemudian dengan tatapan sayu yang diiringi senyuman lebar, membuat siapa saja mudah menyimpulkan bahwa ia sedang berada di bawah pengaruh alkohol.

Lelaki di hadapannya tersenyum tipis. "Harusnya ada satu orang yang jagain kamu di sini."

"Kenapa harus dijaga? Aku bukan anak kecil." Soraya santai menyalakan api dan membakar ujung batang rokoknya.

"Nama kamu?" tanya lelaki di hadapannya dengan tatapan penuh minat.

"Soraya. Om?" Soraya balik bertanya.

"Alexander ."

Alexander . Soraya tersenyum. Sungguh nama yang mudah diingat.

"Apa asyiknya dugem sendirian?" tanya Soraya kemudian, dengan sedikit berteriak karena dentuman suara musik semakin mengencang.

Bibir Alexander membentuk segaris senyum, dengan tatapan lekat yang sulit dimentahkan oleh perempuan mana pun. "Mau pindah tempat nggak? Biar lebih enak ngobrolnya. Kalau kamu mau... "

Soraya merasakan debaran di jantungnya kian menguat. Lelaki tampan itu sepertinya benar-benar tertarik kepadanya. "Temen-temen aku.... " Kemudian mengedarkan pandangan dengan mimik ragu. "......masih joget."

Lelaki di hadapannya sudah berdiri. Mengangkat kedua alis, sembari mengulurkan tangan. "Mau pindah ke lounge di lantai bawah? Saya yang traktir..." Tawaran menarik itu ditutup isyarat gerakan kepala dengan senyuman berkarisma yang sangat sulit diabaikan.

Senyuman Soraya lepas begitu saja. Ia menenggelamkan sebatang rokok yang masih utuh ke dalam asbak, lalu menyambut uluran tangan Alexander sembari menyambar tas-nya.

Jemarinya tenggelam dalam genggaman hangat Alexander . Lelaki itu mengawal langkahnya yang menjadi sedikit kesulitan berjalan karena pengaruh alkohol. Mereka berdua bergandengan tangan membelah kerumunan manusia yang sedang asyik melantai terbius hentakan musik.

Alexander sesekali menoleh, seperti memastikan keadaannya baik-baik saja. Lelaki itu tidak melepaskan genggaman tangannya, bahkan hingga mereka memasuki lift demi sampai di lounge yang tampak sepi pengunjung.

Mengobrol di sini jauh lebih baik dan Soraya dapat melihat dengan lebih jelas, rupa paripurna om om keren yang kini kembali duduk di hadapannya.

"Om, asli sini?" tanya Soraya tepat setelah bir dingin pesanan mereka tiba. Meski kepalanya sudah terasa pusing, ia tetap saja memesan bir.

Alexander hanya mengangguk sembari menarik bibirnya membentuk garis lurus. "Kamu? "

"Saya pendatang," jawab Soraya sambil menyalakan sebatang rokok.

"Kerja juga?"

Senyuman tipis mengembang dari bibir yang lipstiknya sudah memudar. "Emang kelihatan tua ya? Saya baru 19 tahun, baru masuk kuliah semester satu malah..." Asap rokok dihembuskan santai. "Om mau rokok?"

Alexander menggeleng pelan.

"Nggak ngerokok?" Soraya menarik kembali kotak rokoknya.

"Saya kurang suka sama merek itu..." Kedua mata Alexander melirik bungkusan rokok mild yang memang kebanyakan pangsa pasarnya mahasiswa.

Soraya tersenyum sebelum kembali menghembuskan asap rokoknya. Baru tiga bulan menjadi perokok aktif, ia merasa sudah lihai dalam urusan hembus menghembuskan asap. "Om umur berapa?" Soraya memiringkan kepala. Mendadak penasaran karena penampilan lelaki di hadapannya tidak seperti cowok seumurannya, namun luar biasa enak dilihat.

"Tebak."

"Mmm... 30?"

"Apa saya kelihatan semuda itu?"

"Ohh! Jangan bilang Om udah 40 lebih! Sumpah nggak keliatan!" puji Soraya terus terang.

"Saya belum sampai 40..."

"Jadi umur Om berapa? "

"Hampir empat puluh.... "

"Tiga sembilan?" Soraya melebarkan kedua mata.

"Tiga puluh tujuh...." Lagi-lagi senyuman Alexander mengembang.

"Jangan bilang Om udah punya istri!" Soraya menatap waspada.

"Saya masih single.... "

"Single???" Kedua mata Soraya melebar. "Ada pacar?"

Alexander memperhatikan sejenak wajah ingin tahu gadis yang duduk di hadapannya. "Nggak ada.."

"BULLSHIT!!"

Reaksi Soraya, membuat beberapa orang menoleh.

"Beneran nggak ada pacar???" Soraya menatap skeptis.

"Nggak ada."

"Kenapa?"

"Nggak laku."

" HAHAHAHAHA!!!! " Tawa Soraya lepas begitu saja. Lagi-lagi mengundang perhatian orang-orang yang berada di lounge. "Om lucu deh!!"

Alexander hanya menaikkan kedua alis sembari menenggak minumannya sendiri lantas memperhatikan Soraya yang kian bertambah mabuk.

"Om, kenapa nggak nikah-nikah? Maho ya?" tanya Soraya dengan cengiran usil di wajah.

Senyuman dari bibir Alexander membentuk garis lurus. "Mau buktiin saya maho atau nggak?"

"Maksud Om?"

__________

Mereka berakhir di mobilnya.

"Mmh..." Desahan pelan lolos dari bibir Alexander , saat gadis mabuk itu menjadi semakin liar tak terkendali. Gadis itu rakus menciuminya, seolah esok kiamat. Tatapan gadis itu berkali-kali melucutinya, seiring gerak tangan yang agresif menjamah bagian sensitifnya.

Serampangan, tetapi juga membangkitkan nafsu dengan cepat. Alexander , menuntun sebelah tangan Soraya menyelami pengait celana yang telah terbuka.

Gadis itu menampakkan wajah bingung sekaligus penasaran.

"Ke... keras Om?" tanya Soraya sembari memberi tekanan lebih. Gemas, melihat om berwajah tampan yang ia sudah lupa siapa namanya itu menatap pasrah memohon dipuaskan.

Jadi seperti ini rasanya barang, eh batang laki-laki? Soraya menatap takjub sebelah tangannya yang sudah tenggelam di balik celana om om ganteng yang baru saja ia temui di dalam kelab.

Eh, siapa nama si Om Maha Ganteng ini? Ravi? Davi? Vir? Ah persetan siapa namanya! Otak Soraya rasanya tumpul. Tidak bisa berpikir apalagi mengingat nama untuk saat ini. Otaknya sedang sibuk memerintahkan sebelah tangannya untuk masuk lebih dalam, merogoh seluruh isi celana si Om Ganteng.

"Mmm...." Alexander hanya menggumam sembari mengangguk, saat tangan Soraya mengelus dan meremas kejantanannya. Berikutnya tangan gadis itu menggenggam dan mulai bergerak naik turun.

Kening Soraya menempel erat pada keningnya. Aroma pekat alkohol sedari tadi menyeruak dari bibir gadis itu. Namun Alexander tidak peduli saat berat hembusan napasnya menuntun tangan Soraya bergerak lebih cepat di bawah sana.

Rasanya baru saja sekejap kenikmatan itu kian merambat naik, sebelum tiba-tiba Soraya hilang kesadaran dan wajah lugu gadis itu terjatuh di atas dadanya.

"Shit!" Sebelah tangan Alexander reflek menangkap wajah mungil Soraya dan mendapati gadis itu mendengkur. Alexander hanya bisa menyandarkan kepala sembari menatap frustasi langit-langit mobilnya.

Mau bagaimana lagi?

Alexander memutuskan keluar dari mobil, berniat merokok sembari mencari udara segar. Kaca mobil diturunkan sedikit, tidak lebih dari 5 cm. Ia membiarkan Soraya tidur pulas di seat belakang, berselimutkan jas yang tadi ia kenakan.

Bersandar pada Range Rover hitamnya, Alexander mengamati kondisi parkiran yang sepi.

Sekarang bagaimana?

Alexander menggaruk pelan pipinya. Apa ia harus membawa pulang gadis itu? Atau meninggalkannya di hotel sendirian?

"Soraya! Soraya.... " Suara gaduh memecah hening. Alexander melihat dua orang pemuda sibuk meneriakkan nama gadis yang kini sedang teler di dalam mobilnya.

"Shit! Gue telp nggak diangkat! Padahal hapenya aktif!" ucap pemuda berjaket denim.

Alexander yang masih dalam posisi santai, mau tak mau menajamkan pendengarannya. Tidak terdengar ringtone dari dalam mobilnya.

"Kan gue udah bilang sama lo! Jaga Soraya jangan biarin sendirian di sofa!" ucap pemuda satunya yang berkaos hitam sambil mendorong kesal pemuda berjaket denim.

"Ya kan gue pura-pura pergi, supaya aksi kita nggak ketahuan! Tadi dia minum minuman itu gak?" Pemuda berjaket denim menatap gusar temannya.

"Mana gue tahu! Harusnya kalo dia minum, kita udah party sekarang! Brandon udah booking kamar hotel, kita bisa gila-gilaan sama Soraya!"

"Jangan-jangan tadi dia pingsan terus diangkut stranger lagi? Batal deh kita jual Soraya ke Brandon! Batal ngicip juga! Shit!" Pemuda berjaket denim berjongkok sembari mengusap wajahnya.

Alexander melirik melalui sudut mata, meski ia tahu tidak dapat menembus kaca mobil riben hitam pekat miliknya. Dalam hati mengutuk aksi dua pemuda bajingan, yang sepertinya merupakan teman-teman Soraya. Di saat yang sama, terbesit rasa iba.

Jika saja tadi ia bersikap masa bodoh pada gadis berparas lugu yang ditinggalkan sendirian di sofa, entah bagaimana nasib Soraya kini.

Mungkin saja sudah di-gangbang.

Dasar bajingan! Alexander menggaruk pelan keningnya sebelum membuang puntung rokok ke pelataran dan membuatnya remuk di bawah sol pantofel.

Sekarang bagaimana? Sebaiknya bagaimana? Alexander kembali ke dalam mobilnya, duduk di balik kemudi dan menyalakan musik.

"Wise men say...

Only fools rush in...

But I can't help falling in love with you..." Suara bariton Elvis Presley mengantar mobilnya meninggalkan parkiran dan membelah jalanan yang berangsur sepi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ceo itu ayah anakku
9.1
Queen Azalea berjuang keras menghapus Sean Alexander dari ingatannya. Dulu, CEO dominan itu menolak putri mereka demi menghindari tanggung jawab. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali. Saat Sean berjumpa dengan Lilly, ikatan batin yang kuat langsung terjalin di antara mereka. Di tengah upaya Sean mendekat, sebuah kenyataan pahit terungkap bahwa Lilly menderita kanker darah. Sean pun memohon kesempatan menebus dosa masa lalunya demi menjadi ayah seutuhnya bagi sang putri.
Sampul Novel Dari Pengantin Tercampakkan Menjadi Istri Saingannya
9.2
Tiga tahun merajut kasih, Claudia justru ditinggalkan Antonius tepat di hari pernikahan mereka. Di tengah cibiran para rival yang menertawakan kemalangannya, Claudia membuat kejutan besar. Ia memamerkan akta pernikahan dengan Bennett Dreskin, musuh bebuyutan mantan kekasihnya. Pernikahan yang semula dikira sekadar formalitas itu berubah manis saat Bennett menyatakan cinta di depan media. Claudia pun sukses membalikkan nasib dari pengantin terbuang menjadi wanita paling bahagia.
Sampul Novel Istri Sang CEO yang Melarikan Diri
8.8
Jenessa mengabdi sebagai sekretaris sekaligus istri rahasia bagi CEO bernama Ryan. Namun, impian manisnya saat mengandung runtuh seketika karena Ryan lebih memilih fokus pada cinta pertamanya. Merasa dikhianati, Jenessa pun memilih pergi menjauh dan menghilang. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Ryan terkejut melihat kondisi perut Jenessa dan menuntut penjelasan. Dengan berani, Jenessa menegaskan bahwa mantan suaminya itu tidak lagi memiliki hak atas kehidupannya.
Sampul Novel ISTRI YANG DIRINDUKAN
8.3
Akibat salah paham pada malam pertama, Nevan Wiliam Adiguna tega membuang Anin begitu saja. Dua setengah tahun kemudian, takdir mempertemukannya dengan Albanna di sebuah desa terpencil. Bocah laki-laki itu ternyata adalah anak kandung Nevan sendiri. Sadar akan kekhilafannya di masa lalu, Nevan kini bertekad menjadi ayah yang baik. Namun, sanggupkah ia mengobati luka mendalam di hati Anin dan mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia hancurkan hidupnya?
Sampul Novel Istriku Janda Kaya
8.4
Ditinggalkan begitu saja oleh sang istri karena masalah keuangan membuat hidup Dimas hancur. Di tengah keputusasaan itu, takdir mempertemukannya dengan Luna di sebuah kelab malam. Luna menawarkan sebuah pernikahan kontrak yang diikat oleh tiga syarat khusus. Namun, saat Dimas baru saja mulai menata kembali lembaran hidup barunya, sang mantan istri tiba-tiba datang kembali untuk mengusik. Akankah masa lalunya ini mampu merusak rumah tangga baru yang ia bangun bersama Luna?
Sampul Novel Kukira Dia Cinta, Ternyata Pemberi Luka
9.7
Saat Riko Fosa dan keluarganya bersiap menghalangi Nisa di rumah sakit demi kelahiran anak Erni, Nisa justru memilih tidak hadir. Riko yang mengira istrinya hanya egois karena tidak mau menerima anak tersebut, berniat memaafkannya jika Nisa bersedia meminta maaf. Namun, Riko tidak menyadari bahwa Nisa telah mengambil keputusan besar. Dia mendaftarkan diri ke PBB untuk menjadi dokter lintas batas dan bersiap mencabut kewarganegaraannya, meninggalkan Riko selamanya tanpa ada kesempatan untuk bertemu lagi.