APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Rahim Istriku

Bukan Rahim Istriku

Aryo mengkhianati pernikahannya hingga selingkuhannya mengandung. Demi mempertahankan sang istri yang sangat dicintainya, ia melakukan aksi nekat di luar akal sehat dengan memindahkan janin haram itu ke rahim istrinya sendiri. Langkah ekstrem ini seketika memicu komplikasi fatal dan perang batin yang luar biasa. Kini, bahtera rumah tangga mereka berada di ambang kehancuran, menyisakan penderitaan mendalam yang terus menyiksa kehidupan pernikahan mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sekarang ini aku merasa menjadi lelaki paling bahagia di dunia. Bukan hanya istri yang memaafkan dan menerimaku apa adanya, sebentar lagi akan ada darah dagingku sendiri yang lahir dari rahim istriku, Risa.

"Mah, kamu bener gak marah lagi?" Aku bertanya pada Risa yang meletakkan kepala di lenganku. Jujur saja ada keraguan mantra yang yai berikan akan bekerja. Marah karena diselingkuhi itu bukan hal main-main.

Setelah berbaikan tak membuang kesempatan, sudah seminggu lebih aku puasa dan akhirnya berbuka hari ini. Sekarang kami sama-sama lelah, dan saling berbicara hangat seperti biasa. Mungkin ini lah yang kata orang bahwa rumahku surgaku. Tak ada kebencian, hanya cinta yang berbicara di sini.

"Heem."

"Apa nantinya Mama akan mengungkitnya lagi? Karena itu akan menjatuhkan harga diriku sebagai lelaki."

"Kenapa Papa tanyanya begitu? Apa Papa gak mau aku maafin?"

"Yah, nggaklah. Masa gak mau dimaafin?" Kurengkuh tubuh Risa. Kutunjukkan betapa aku mencintai wanita itu lebih dari siapapun di dunia.

***

Waktu berputar begitu cepat. Mungkin karena kami menjalani kebahagiaan. Aku yang tetap bersama Risa dengan pengharapan mendapat keturunan suatu hari nanti, juga Nia yang memiliki suami meski aku tak pernah menyentuhnya.

"Dek Nia, Mas mau lihat perutnya boleh?" tanyaku pada Nia yang tengah membereskan barang. Sedang aku duduk di sofa dengan secangkir kopi buatannya. Akan menyenangkan melihat calon anakku mengelami perkembangan hidup.

Sudah tiga bulan aku menyewakan sebuah rumah kecil untuk Nia, agar tidak banyak yang melihat aktivitasnya seperti waktu di mess dulu. Setidaknya aku akan tenang, wanita itu tidak kepergok oleh siapapun di sini meski ia masih bekerja di pabrik yang sama denganku.

Mendengarku, Nia menoleh. Ia tersenyum dan tanpa ragu mendekat padaku di sofa. Diperlihat perutnya yang mulai membuncit.

"Ini Mas, anak kita sudah lima bulan di perut Nia." Tangan Nia meraih tanganku untuk diletakkan di perutnya yang tak rata.

"Hem. Anak ayah. Baik-baik ya, di sana." Kuusap permukaan yang terasa licin itu. "Nia, jaga baik-baik ya anakku ini."

Nia mengangguk. Wajahnya berbinar bahagia.

'Kamu sungguh harus menjaganya, Nia. Sebulan lagi, janin itu akan beralih ke perut Risa.'

Istri siriku tak pernah neko-neko. Tidak banyak menuntut. Jika dilihat dari dekat dia ini cantik sebenarnya, tapi aneh kenapa tidak ada lelaki yang mau dengannya.

"Mas. Dua bulan lagi kan lebaran. Hari itu perut Nia pasti kelihatan besar. Ditopang korset pun percuma." Ia seperti ingin mengungkapkan sesuatu.

"Ya. Terus?"

"Em. Maukah, Mas nemenin Nia pulang ke kampung." Wanita itu mengucap ragu. Sedang aku tetiba merasa ada hal tak enak. Ini permintaan berat.

"Em. Gak perlu hari pertama, Mas. Hari ke tujuh juga boleh. Nia tau Mas pasti selain pulang ke rumah orang tua Mas sendiri pasti juga pergi ke rumah orang tua Mbak Risa."

Aku mengingat sesuatu hingga mengiyakan permintaan Nia. "Iya, Dek Nia. Jangankan hari ke tujuh. Hari pertama pun aku siap mengantarmu pulang ke kampung." Kutarik bibir ini membentuk sebuah senyuman, bagaimana aku akan mengantarnya sedang hari itu janinnya sudah berpindah dan aku sudah menceraikannya.

"Terima kasih, Mas." Wanita itu tersenyum simpul. Tertangkap jelas raut bahagia di wajahnya.

***

Satu bulan telah berlalu, kulihat Risa tampak gelisah di depan televisi.

"Kamu kenapa, Sayang?" Kudekati wanita yang telah belasan tahun menemaniku itu.

"Nggak tau nih, Pah. Badanku gak enak rasanya."

"Ya, sudah istirahat saja. Kenapa masih duduk di sini."

"Tapi kan, Papa belum makan."

"Sudah, nanti aku ambil sendiri."

Risa akhirnya bangkit, pergi ke kamar dengan ekspresi kelelahan. Melihatnya yang terus memegangi perut, aku jadi ingat bahwa usia kandungan Nia sudah masuk enam bulan. Apa mungkin ini waktunya?

Kuperhatikan Risa dari bibir pintu kamar. Ia yang merebahkan diri dan menutup tubuh dengan selimut masih terlihat gelisah. Sekitar lima belas menit berbaring dengan posisi tak menentu, wanita itu akhirnya bangkit masuk ke kamar mandi. Aku pun pergi ke meja makan, menyantap apa yang telah dihidangkan.

"Paahhhh!" Teriakan melengking terdengar saat suapan ketiga masuk ke mulut. Sontak aku berlari ke asal suara.

Kuketuk pintu kamar mandi berkali-kali karena panik. Tak lama Risa membukanya.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanyaku padanya yang terlihat pucat pasi.

"Mas lihat perutku!" ucapnya sembari membuka handuk yang membelit tubuh.

"Pe-perutmu besar, Ma." Mataku melebar sempurna karena terkejut.

"Kenapa ini, Pah?" tanyanya dengan raut ketakutan.

"Em. Kamu tenang dulu ya, Sayang. Ayok kita ke atas kasur dulu." Kugiring Risa menuju ranjang.

"Tadi perutku emang agak mual dan begah. Apa ini efek maag yang kuderita ya, Pah?" racaunya sambil jalan.

Di saat yang sama ponselku berdering. Melihatnya sebentar panggilan dari Nia. Tidak mungkin aku mengangkat panggilannya di saat Risa sedang panik-paniknya. Istri keduaku itu pasti sekarang juga mengalami hal yang sama tak enaknya dengan Risa.

___________________

"Pah, lihat perutku!" ucapnya sembari membuka handuk yang membelit tubuh.

"Pe-perutmu besar, Ma." Mataku melebar sempurna karena terkejut.

"Kenapa ini, Pah?" tanyanya dengan raut ketakutan.

"Em. Kamu tenang dulu ya, Sayang. Ayok kita ke atas kasur dulu." Kugiring Risa menuju ranjang.

"Tadi perutku emang agak mual dan begah. Apa ini efek maag yang kuderita ya, Pah?" racaunya sambil jalan.

"Tidak apa-apa." Aku menguatkan.

Di saat yang sama ponselku berdering. Melihatnya sebentar panggilan dari Nia. Tidak mungkin aku mengangkat panggilannya di saat Risa sedang panik-paniknya. Istri keduaku itu pasti sekarang juga mengalami hal yang sama tak enaknya dengan Risa.

Ini hanya tentang waktu. Yang pasti tidak bisa dikatakan jauh. Mau atau tidak, semua akan terjadi. Maafkan aku, Nia.

Setelah berada di posisi yang nyaman, aku mulai bertanya pada istri pertamaku itu.

"Apa rasanya sakit?"

"Nggak sih, Pah. Cuma agak berat dan begah." Risa menjawab pelan dengan sedikit meringis. Entah kesakitan atau bagaimana, aku tidak tahu karena tidak pernah merasakan  hamil.

"Ya, sudah. Gak papa, Sayang. Kita periksa ke bidan aja ya."

"Kok bidan, Pah? Bukan dokter spesialis?"

"Ya, sudah ke mana saja. Yang penting kita periksa," ucapku tak ingin membuang waktu memastikan janin Nia sudah berpindah ke perutnya. "Ayo, siap-siap!"

Ia mengangguk cepat.

Wah, rasanya senang sekali hatiku. Kemarin bahagia. Hari ini bahagia. Besok aku juga akan bahagia. Akhirnya, keinginanku punya anak sejak lama terkabul.

Kami melewati jalanan sepi karena malam. Sakit yang dirasa istriku adalah alasan darurat untuk membawanya segera pergi memeriksakan diri. Sepanjang jalan berkali-kali aku menanyakan apa yang ia rasakan, tapi berkali-kali pula Risa bilang tak apa-apa.

"Lho, Pah. Kan aku bilang ke dokter aja. Kenapa ke bidan?" Risa protes begitu motor kubelokkan ke sebuah klinik bersalin.

"Sudah nurut saja. Protesnya ditunda dulu, oke." Kali ini aku memaksa. Tidak ada gunanya menjelaskan banyak hal yang mungkin membuatnya bingung dan bertanya-tanya lalu menuntut jawaban padaku.

Di dalam ruangan berukuran 2x3 Risa dibaringkan di ranjang pasien. Setelah mengecek air seni, benar Risa hamil. Ia terkejut bukan main, bingung dengan kondisinya tapi juga senang.

"Masa aku hamil, Pa?"

Aku hanya tersenyum, dan berpura-pura terkejut lalu mengucap syukur.

Seorang bidan bersalin selanjutnya melihat keadaan janin dengan USG. Kulihat kening bidan itu mengerut. "Mbak bener haid terakhir bulan lalu dan baru telat seminggu?"

"Betul, Bu Bidan."

"Tapi, janin ini ukurannya sudah besar. Harusnya berat segini masuk usia 6 bulan." Bu Bidan menyampaikan keanehan yang ia rasa.

"Em, mungkin haid yang dialami bukan karena ovum yang tak dibuahi Bu. Tapi karena peluruhan yang lain."

"Em?" Sang Bidan masih mengerutkan alis. "Memangnya Ibu Risa punya riwayat penyakit rahim?"

Kami berdua menggeleng, yang akhirnya membuat bidan itu mendesah. "Ya sudahlah. Yang penting bayinya sehat. Istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi."

"Iya, Bu."

***

Hari-hari kami lewati dengan kebahagiaan. Begitu pun Risa. Aku jadi sering disanjung karena akhirnya bisa menghamili dirinya. Benar, aku bukan pria mandul.

Di sisi lain, karena merasa terteror panggilan dan chat dari Nia, kumatikan ponsel. Sengaja mengambil cuti, tidak masuk kerja selama seminggu ini untuk menghindarinya, dan menjaga Risa yang kini tengah hamil. Aku bahkan menyewa rumah baru agar Nia tidak bisa menemukanku. Malas saja rasanya melihat Nia yang mengeluh karena kehilangan kandungannya. "Bersabar lah, Nia. Sebentar lagi aku akan menceraikanmu karena tak ada lagi alasan untuk tetap bersama."

Tepat di hari ke 14 sejak janin itu berpindah, aku merasa ada hawa yang aneh di sekitar rumah. Setelah pulang dari apotik membelikan vitamin dan susu ibu hamil Risa yang habis, motor yang kukendarai tidak bisa digas. Hingga akhirnya berhenti sendiri di pohon besar yang jaraknya 200 meter dari rumah.

"Mas!" Suara seorang wanita mengejutkanku.

Aku terkejut, sontak menoleh dan mendapati Nia telah duduk di bangku kayu bawah pohon itu. Wanita itu hanya menggunakan daster yang kelihatan lecek. Ada beberapa bercak di bagian lengannya. Mungkin dia terluka saat masak atau apa, tak penting buatku.

"Nia?!" Segera turun dari motor dan menghampirinya.

"Ayo ikut!" Kutarik lengan Nia, menjauh dari rumah dengan membawanya pergi. Namun, ia menolak.

"Mas, kenapa kamu tega mengambil anakku?" tanyanya dengan suara serak. Aku tidak mengerti dari mana dia tahu? Apa Agus sudah mengkhianatiku dengan menceritakannya pada Nia?

"Apa yang kamu bicarakan?"

"Mas gak usah pura-pura." Nia terlihat emosi.

"Ayo kita bicara di tempat lain." Takut Risa tahu, aku memaksanya naik ke atas motor dan membawanya pergi.

Motor kupacu lebih cepat dari biasa, meninggalkan rumah sejauh mungkin. Sepanjang jalan aku berusaha menenangkan Nia agar dia percaya. Tapi tak ada jawaban. Sebentar lagi akan sampai di mess. Setelah sampai aku akan meminta maaf dan menceraikannya.

Namun, sesampainya di sana aku malah dibuat terkejut. Nia tidak ada di boncengan. Ke mana perempuan itu? Apa dia marah dan turun di jalan tadi? Jelas-jelas dia ikut naik, tidak mungkin kan loncat lalu mendatangi Risa. Gawat jika itu terjadi.

Masih setengah bingung, aku ke messnya. Tapi ruangan itu tidak dikunci dan sepi. Akhirnya kuaktifkan ponsel, banyak pesan masuk dan tak kupedulikan, tujuanku adalah mencoba menelpon tapi nomor Nia tidak aktif.

Membuang napas kasar, kulangkahkan kaki menuju mess pria. Memastikan Agus sudah mengkhianatiku. Namun, baru saja pintu dibuka oleh Agus, pria itu mengomel.

"Mas Aryo kenapa hapenya gak diaktifkan?"

"Memangnya kenapa?"

"Mana pindah rumah lagi!" Agus terlihat kesal.

"Kenapa, sih?" Aku semakin bingung. Baru datang ingin menuntut jawaban malah disalahkan.

"Mbak Nia bunuh diri seminggu lalu, Mas!"

"Apa?!"

Lalu siapa yang menemuiku tadi?

BERSAMBUNG

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan
9.5
Demi membalas penderitaan keluarganya, Layla berpura-pura mencintai seseorang dalam sebuah rencana balas dendam yang matang. Namun, ambisinya terancam saat perasaan tulus mulai tumbuh di tengah misinya. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara menuntaskan dendam masa lalu atau menyerah pada cinta yang tak terduga. Akankah Layla tetap pada tujuannya, atau justru melepaskan segalanya demi perasaan itu? Ikuti kisah penuh intrik dalam Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan.
Sampul Novel Jangan Hancurkan Hatiku
8.2
Evelyn Carter awalnya dikagumi karena dinikahi Victor Blake, pewaris Beaumont yang berjanji menjaganya terlepas dari keterbatasan fisiknya. Sialnya, mimpi indah itu sirna ketika Evelyn tahu bahwa cacat di kakinya adalah akibat perbuatan suaminya sendiri. Merasa dikhianati oleh sosok yang paling ia percayai, ia menolak untuk terus terpuruk. Kini, Evelyn bertekad menata ulang hidupnya dan bangkit demi membalaskan semua rasa sakit hati yang telah ia lalui.
Sampul Novel Mau Dimadu Demi Membalas Suami Peselingkuh
8.3
Fiona Larasati rela melakukan apa saja demi membahagiakan suaminya, mulai dari merawat diri hingga mengurus dapur. Sialnya, pengorbanan itu dibalas dengan pengkhianatan keji saat ia mendapati sang suami berselingkuh dengan iparnya sendiri. Alih-alih membela, ibu mertuanya malah merestui hubungan gelap itu. Merasa hancur dan enggan terus ditindas, Fiona menolak pasrah. Ia kini mulai merancang sebuah rencana balas dendam yang rapi demi menghancurkan hidup mereka.
Sampul Novel PEMBALASAN ISTRI YANG DIKHIANATI
8.5
Dunia Syifa runtuh saat mendapati Danu, sang suami, tega mengkhianatinya. Lebih menyakitkan lagi, perselingkuhan itu dilakukan bersama sahabat karibnya sendiri. Namun, ibu tiga anak ini menolak terpuruk dalam duka. Didorong rasa sakit hati, Syifa bangkit mengumpulkan kekuatan. Ia merancang strategi pembalasan yang matang dan tak terduga untuk menghancurkan keduanya. Inilah kisah perjuangan berani seorang istri dalam merebut kembali martabatnya yang telah dihancurkan.
Sampul Novel Penyesalan Mantan Suamiku
9.8
Dua tahun menikah, kebahagiaan Sophia atas kehamilannya hancur karena Nathan meminta cerai. Saat nyawanya terancam dalam sebuah insiden pembunuhan, Nathan mengabaikan panggilan daruratnya hingga Sophia putus asa dan memilih pergi ke luar negeri untuk menata hidup baru. Namun, saat Sophia hendak menikah lagi, Nathan mendadak muncul kembali. Dengan penuh penyesalan, ia menuntut penjelasan mengenai anak yang telah dilahirkan oleh Sophia.
Sampul Novel Saat Cerai Bukan Lagi Sekadar Kata
8.9
Ketika cinta lama suaminya bercerai, rumah tangga yang dipertahankan sekian lama runtuh seketika. Yohan menyodorkan surat cerai ke-99 demi menjaga Chika, sementara putra kandungnya sendiri malah mengusirnya demi menyambut wanita baru. Berbeda dari dugaan mereka, sang istri pergi tanpa air mata setelah menandatangani surat itu. Sepuluh tahun berlalu, sang anak yang kini berprestasi hanya bisa menangis di hadapan publik, memohon kepulangan ibunya yang telah lama hilang.