APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian

Sebuah tragedi memaksa Zaura Mazna Maziya, seorang gadis yang ceria, untuk menikah tanpa rasa cinta dengan Ezar Shafar Dhiaurrahman. Ezar sendiri merupakan pria gila kerja yang berwatak tegas sekaligus keras kepala. Perbedaan kepribadian yang mencolok ini membuat keduanya terjebak dalam hubungan pernikahan yang dingin dan kaku. Akankah kebersamaan menumbuhkan rasa cinta di antara mereka, atau justru perceraian yang menjadi akhir dari kisah pernikahan ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Ziya berusaha bangkit dari jatuh. Dia berusaha keras untuk melangkahkan kakinya, tetapi kaki sebelah kananya terkilir membuat dia kesulitan untuk melangkah. Hujan masih setia menemani. Tubuh Ziya sudah mengigil kedinginan. Namun, tekatnya masih kuat. Wanita yang pakaiannya sudah penuh lumpur itu terus berusaha berjalan meskipun tertatih-tatih. Dia berjalan sambil menyeret kopernya yang sudah kotor juga. Pikirannya saat ini mencari tempat untuk berteduh karena tidak memungkinkan dia melanjutkan perjalanan dengan tubuh yang mengigil kedinginan karena guyuran hujan.

"Aku harus mengabari Marini jika terjebak di sini." Ziya bermonolog sambil kembali mengecek sinyal di ponsel.

Dia menggeleng lemah karena sinyal masih belum muncul juga. Selain, kedinginan Ziya juga merasa lapar. Perutnya dari tadi memberi sinyal minta diisi. Ziya memaksimalkan sisa tenaga yang dimilikinya untuk mencari tempat berteduh. Dari kejauhan Ziya melihat gubuk, Dia segera menghampiri gubuk tersebut dengan menahan nyeri di kaki kanan.

Setelah susah payah gadis berjilbab pashmina yang sudah berantakan itu pun sampai di depan gubuk. Dia mengetuk berkali-kali berharap ada penghuni yang dapat membantunya. Kondisi Ziya saat ini membutuhkan bantuan orang lain.

"Assalamualaikum, permisi apakah ada orang di dalam?"

Tak ada sahutan, sudah tiga kali Ziya mengetuk dan mengucapkan salam, tetapi tidak ada tanda-tanda ada kehidupan di dalam. Ziya pun berinisiatif mendorong pintu gubuk itu. Suara deritan pintu pun terdengar. Dia membuka dengan perlahan, matanya menyapu sekeliling untuk memastikan ada orang atau tidak di dalam.

Melihat tidak ada orang, Ziya pun masuk dengan perlahan. Kemudian, duduk beralaskan tikar usang yang tersedia di gubuk. Dia meluruskan kakinya sambil memijit perlahan. Keadaan di gubuk lebih baik dan lebih hangat.

Ziya mengecek ponsel untuk melihat jam. Waktu menunjukkan pukul empat sore. Itu artinya waktu salat Ashar telah tiba. Dia mencari cara agar dapat membersihkan diri. Ziya melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang. Setelah itu, Ziya membuka kopernya untuk mencari pakaian bersih serta handuk. Dia bersyukur karena yang kotor hanya kopernya saja, sedangkan isi dalam koper aman.

Ziya segera melakasanakan salat setelah kondisi dirinya lebih baik. Dia salat sambil duduk karena kakinya terasa sakit. Setelah salat dia melipat perlengkapan salat dan memasukannya kembali ke koper. Merasa dirinya sudah lebih baik, Ziya pun ingin melanjutkan perjalanan. Namun, sebelum melanjutkan perjalanan dia membuka bekal yang telah disiapkan sang Ibu. Ziya memakannya dengan lahap. Perjalanan kali ini benar-benar menguras tenaga Ziya.

Energi Ziya telah terisi kembali meskipun kaki sebelah kanan masih terasa sakit. Dia segera membersihkan semuanya, lalu bergegas pergi. Belum sempat Ziya menarik pintu, kakinya tersandung kopernya sendiri hingga tubuhnya terhuyung, lalu jatuh dengan lengan sebelah kanan membentur pinggiran gubuk yang terdapat paku, sehingga membuat pakaian yang dikenakan Ziya terkoyak bagian lengan kanan.

"Astagfirullah, ceroboh sekali aku." Ziya bermonolog.

Dia mengurungkan niatnya untuk meninggalkan gubuk karena melihat robekan pakaian di lengan sebelah kanan cukup panjang. Selain itu, kulit putihnya pun ikut tergores. Gadis yang saat ini menggunakan kemeja biru laut yang dipadukan dengan celana hitam itu pun kembali duduk dan berniat mengganti pakaiannya kembali. Namun, belum sempat dia mengganti pakaian suara derit pintu yang terbuka menghentikan aktivitasnya. Ziya terpaku di tempat melihat sosok laki-laki dengan pakaian yang hampir basah menorobos masuk. Ziya dengan segera menutup lengannya yang terbuka dengan jilbab pashmina yang dikenakan.

Laki-laki itu tidak merasa terganggu dengan adanya Ziya. Dia fokus mengeringkan rambutnya yang basah tanpa mempedulikan keberadaan Ziya. Ziya merasa tidak nyaman dengan keberadaan laki-laki asing di dekatnya. Dia berusaha tidak peduli, tetapi terlihat jelas dari wajanya bahwa dia tidak nyaman.

"Tenang, saya tidak akan mengganggumu." Laki-laki itu seperti mengetahui isi pikiran Ziya. Dia berkata dengan santai tanpa melihat Ziya.

Ziya menggeser tubuhnya dengan susah payah karena kaki yang terkilir semakin terasa sakit. Dia menjaga jarak dan tidak mempercayai begitu saja orang asing di depannya.

"Sudah kubilang, aku tidak akan mengganggumu." Laki-laki itu kali ini menatap Ziya.

"Mau apa kau di sini?" tanya Ziya dengan ketus.

"Kamu sendiri?"

"Balik bertanya."

"Kau tak lihat tubuhku basah. Itu artinya?" Laki-laki yang akrab disapa Ezar itu sengaja menggantung kalimatnya.

"Berteduh," jawab Ziya dengan cuek.

"Itu tahu, kenapa masih bertanya?"

"Hanya memastikan."

Mereka pun terdiam dengan pikirannya masing-masing sampai akhirnya Ziya lebh dulu bergerak. Dia melanjutkan niat awal untuk melanjutkan perjalaan, sedangkan Ezar baru tersadar ada yang aneh dengan cara jalan perempuan di depannya. Dia memerhatikan cara jalan Ziya yang tertatih, tetapi dirinya memilih tak peduli karena bukan urusannya.

"Kamu mau ke mana?"

"Bukan urusanmu." Ziya tak menghiraukan pertanyaan laki-laki asing itu.

"Di luar masih gerimis." Ezar memberi tahu.

"Aku tahu." Lagi-lagi kaki sebelah kanan Ziya terasa sakit sampai dirinya terpaksa berhenti lagi.

Ezar memerhatikan kaki Ziya yang terlihat bengkak dengan balutan kaus kaki dan sandal jepit. Ziya baru mengganti sepatunya dengan sandal jepit digubuk ini, sesaat sebelum kehadiran Ezar. Ezar terus memerhatikan tanpa ada niat untuk membantu gadis yang sedang kesusahan dengan dirinya dan koper yang dibawanya.

Ziya kembali terjatuh karena kaki kanannya semakin sakit. Dia sudah tak dapat memaksa kaki kanannya bergerak. Ezar pun tergerak untuk membantu gadis di depannya. Dia melangkah mendekat, tetapi gadis yang ingin ditolongnya justru menolak dengan mengangkat tangan kanannya.

"Aku tak apa." Ziya berkata dengan wajah pucat menahan sakit.

"Yakin? Wajahmu berkata sebaliknya." Ezar berusaha berbuat baik dengan gadis di depannya.

"Iya, aku yakin." Sepersekian detik setelah mengatakan itu Ziya berteriak kesakitan.

Ezar yang mendengar teriakan Ziya pun refleks mendekat dan melihat kaki Ziya. Dia menggeleng ketika melihat kondisi kaki Ziya. Laki-laki berjaket hitam itu berusaha menenangkan gadis itu. Dia juga tidak mengerti harus membantu seperti apa karena diirinya juga tidak memahami permasalahan kaki terkilir. Itu jelas bukan keahliannya.

"Kamu membawa obat gosok atau semacamnya? Mungkin dengan itu kakimu sedikit terbantu."

"Ada, di koperku." Ziya menjawab dengan menahan rasa sakit.

"Boleh aku ambil?"

"Ya." Ziya tak punya pilihan lain selain menerima bantuan laki-laki yang baru bertemu dengannya kurang dari tiga puluh menit.

Atas izin Ziya Ezar pun membuka koper biru itu. Dia menemukan obat gosok di antara tumpukan pakaian. Setelah mendapatkan yang dicari, Ezar memberikan obat itu kepada Ziya. Dia tak berani menyentuh Ziya karena melihat Ziya yang sejak tadi menjaga jarak dengannya.

"Terima kasih." Ziya pun membuka kaus kakinya. Dalam hati dia memohon ampun karena telah memperlihatkan auratnya kepad pria yang bukan mahram. Ezar yang mengerti kegusaran Ziya pun memilih berbalik badan.

Ziya mengoleskan obat gosok tersebut ke kakinya. Dia tidak bisa menahan teriakannya karena rasa sakit yang tak tertahan. Ezar yang panik mendengar teriakan Ziya pun kembali menghadap ke Ziya. Dia berusaha membantu.

"Aku bantu cari bantuan, ya? Sepertinya kakimu harus segera diobati." Ezar bersiap berdiri. Dia juga melepaskan jaketnya karena merasa tidak nyaman akibat basah terkena air hujan, sehingga hanya menggunakan kaus.

Belum sempat Ezar membuka pintu, Ziya kembali berteriak dan mengaduh kesakitan. Dia tak bisa menahan lebih lama lagi. Wajahnya pucat. Ezar yang mendengar lagi-lagi langsung berbalik badan. Kemudian, mendekat ke Ziya.

Tanpa mereka sadari ada warga yang mendengar teriakan Ziya. Kemudian, mendekat ke gubuk bersama warga lainnya. Mereka merasa heran mendengar teriakan di gubuk kosong karena penasaran keduanya mendekat, lalu seketika membuka pintu gubuk. Keduanya menggeleng melihat ada sepasang anak manusia sedang berduaan.

Kondisi Ziya yang duduk dengan meluruskan kaki serta lengan baju sebelah kanan yang koyak serta posisi Ezar yang membelakangi pintu dengan tangan yang hampir menyentuh kaki Ziya membuat kedua warga seolah melihat keduanya sedang ingin melakukan hal yang tak beradab di desa mereka. Salah satu dari mereka bahkan memanggil ketua RT untuk menghakimi Ziya dan Ezar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Back To School
9.7
Geng Prit..Prit..Can yang beranggotakan Diwi, Tari, Lani, dan Emily adalah detektif hiperaktif di SMA Siliwangi yang gemar mengusut kejanggalan. Mereka memiliki janji bersama untuk tidak jatuh cinta pada kakak kelas. Namun, komitmen tersebut mulai goyah saat perasaan cinta tumbuh dan memicu konflik besar. Keadaan menjadi kian rumit ketika mereka menyadari telah menyukai cowok yang sama. Kini, persahabatan erat serta perasaan mereka dipertaruhkan dalam pilihan yang sulit.
Sampul Novel I love you driver handsome
9.4
Bryan Alyson Becker, bintang sepak bola dunia yang merumput di Indonesia, menyamar sebagai sopir pribadi bernama Geo. Tak disangka, ia harus melayani Jesica Angeline, wanita yang sangat angkuh dan tinggi hati. Di balik kemudi, sang atlet menguji kesabarannya menghadapi sikap keras sang majikan. Mampukah pesona tersembunyi Bryan meluluhkan keangkuhan Jesica? Temukan kisah romansa modern yang penuh perjuangan ini.
Sampul Novel Istri pengganti Tuan Bramasta
9.6
Pelita Abadisyara terpaksa menikahi Bramasta Prayoga, pria yang semula akan menjadi kakak iparnya. Kecelakaan tragis yang dialami sang kakak tiri, Anggun, seketika mengubah jalan hidup Pelita. Demi menuruti kehendak keluarga, ia terpaksa menggantikan posisi Anggun di altar pernikahan. Kini, Pelita harus menjalani kehidupan rumah tangga yang tak pernah ia duga sebelumnya bersama sosok suami yang terasa asing baginya.
Sampul Novel SCHOOL DIARY
8.0
Dijuluki Miss Bad Luck karena asmaranya selalu berujung sial, Kana memutuskan menyerah dalam mencari cinta. Ia bertekad menutup rapat hatinya demi menghindari kemalangan yang terus berulang. Namun, pertahanan Kana goyah ketika seorang pemuda asing mendadak muncul di hadapannya. Sambil membawa martabak keju kesukaan Kana, cowok itu mengajukan kesepakatan unik: jika Kana menerima makanan tersebut, mereka berdua otomatis resmi menjadi sepasang kekasih detik itu juga.
Sampul Novel Traitors Wife
8.5
Evan, sang pewaris bisnis raksasa, terjebak dalam pernikahan paksa dengan Clara, wanita yang dicintai sahabatnya sendiri, Radit. Hubungan erat mereka hancur saat Clara dan Radit nekat menjalin hubungan gelap di belakang Evan. Ketika Clara mengandung anak Radit, Evan berniat mundur, namun sang ayah memaksanya mempertahankan pernikahan ini. Di bawah tekanan keluarga besar, Radit terus bergerak untuk merebut Clara. Akankah pernikahan penuh dusta ini sanggup bertahan?
Sampul Novel You're My End
9.3
Dua tahun menjalin hubungan, Dara harus menelan pil pahit saat Bryan lebih memilih Tasya, sahabat yang selalu diutamakannya. Pengkhianatan ini meninggalkan luka mendalam, memaksa Dara berjuang keras untuk melupakan sang mantan. Di tengah keputusasaannya untuk bangkit, hadirlah Zyan dalam hidupnya. Akankah kehadiran Zyan mampu memulihkan hatinya yang hancur, ataukah kepedihan masa lalu itu terlalu sulit disembuhkan oleh cinta yang baru?