APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel (bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga

(bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga

Kehidupan mapan Davina Hadinata runtuh usai menjalin kasih dengan Aria Wardana yang ternyata telah beristri. Tak cukup difitnah Aria hingga kehilangan pekerjaan, bisnis ayah Vina pun hancur akibat skandal kakaknya. Petaka kian memuncak ketika istri Aria nekat mengakhiri hidup. Hal ini memicu murka Rajata Bagaskara yang ingin membalas dendam atas kematian keponakannya. Rajata menodai Vina hingga hamil. Di tengah kemiskinan dan penderitaan mendalam, Vina harus berjuang bertahan hidup.
Bab
Bagikan

Bab 3

Waduh, ada trio macan pula di depan, Vin. Kagak sari-sarinya petinggi-petinggi perusahaan makan di mari. Pantesan tadi gue lihat ini kantin sepi amir. Rupanya temen-temen kita yang lain pasa ngiser gegara ada nih trio macan bertiga."

Bisik Suci pelan. Vina tidak menjawab. Ia terlalu takut kalau rahasianya ketahuan, hingga jantungnya jedag-jedug tidak karuan. Kedua kakinya seperti menolak bekerjasama untuk melangkah.

"Etdah, lo ngapain berdiri kayak patung begini? Ayo kita langsung jalan ke ibu kantin. Kita jalan dari pinggir aja, belagak kagak ngeliat mereka bertiga," bisik Suci setengah menyeret pergelangan tangannya. Dan lagi-lagi Vina merasa kalau ketiga atasannya memperhatikannya. Perasaannya makin tidak karuan saja.

Vina mengabaikan perasaannya. Seperti usul Suci tadi, ia berpura-pura tidak melihat ketiga atasannya. Ia pun mempercepat langkah di samping Suci. Tepat pada saat itu seseorang yang juga baru masuk, menyenggol tangannya keras, hingga kotak makanannya terlepas. Detik berikutnya nasi, telur rebus dan tumis kangkung terasinya berserakan di lantai kantin. Putri, staff bagian keuangan pura-pura kaget. Padahal Vina yakin, Putri memang sengaja melakukannya. Sudah menjadi rahasia umum kalau Putri membencinya. Putri kerap menyebarkan gosip kalau dirinya ada main dengan Aria. Karena karirnya dengan cepat melejit padahal ia baru bekerja empat bulan.

"Yah, tumpah. Maaf ya, Vin. Gue nggak sengaja. Gue ganti deh lauk lo dengan makanan yang lebih bergizi di kantin ini. Terserah lo mau pake lauk apa."

Putri pura-pura kaget dan prihatin. Namun air mukanya seperti mengejek. Belum lagi gerakan tangannya yang melambai-lambai di udara, seperti mengejek kesialannya. Walau geram, Vina berusaha menahan diri. Ia tidak mau membuat keributan untuk hal sepele. Terlebih lagi ada tiga orang atasannya yang memperhatikan.

"Nggak usah, Put. Hari ini emang gue berencana nraktir Vina. Kalo lo niat banget nyumbang makanan bergizi, noh lo sumbangin aja ke panti asuhan depan. Kali-kali aja perbuatan baik lo nanti bisa ngurang-ngurangin dosa lo dikitlah," cetus Suci sinis.

"Eh Suci. Maksud gue baik ya? Gue mau bersedekah dengan orang susah. Karena gue tahu keluarga si Vina ini udah bangkrut gara-gara selingkuhan kakaknya yang pelakor itu, ketahuan nipu selingkuhannya. Tapi kok lo malah nyolot sih?" Putri kini berkacak pinggang. Sepertinya Putri tidak melihat tiga orang atasannya. Wajar karena Putri baru saja masuk. Selain itu pandangan Putri pasti hanya fokus padanya, karena berniat untuk mempermalukannya. Putri memang selalu mencari pasal padanya.

Ketika Suci membuka mulut, bermaksud untuk mencuci otak Dinda, Vina segera menyenggol lengannya. Ia memperingati Suci dengan lirikan mata ke meja samping. Karena kalau mereka ribut-ribut untuk hal yang sepele begini, kreadibilitas mereka akan buruk di mata para atasan. Apalagi kini Aria terlihat berdiri dari kursinya. Namun akhirnya Aria kembali duduk. Pasti Aria teringat pada posisinya sebagai seorang suami. Vina sempat melirik sekilas tadi ke samping. Sebagai gantinya, malah Rajata yang berdiri dan menghampiri mereka bertiga. Matilah mereka kali ini.

"Ada apa ini?" Vina tidak mampu menjawab. Lagi pula apa yang harus ia katakan? Bahwa Putri dengan sengaja menjatuhkan kotak bekalnya begitu? Kesannya ia seperti anak kecil tukang mengadu bukan? Makanya ia bungkam. Sementara Putri menoleh cepat pada asal suara, dan seketika memucat. Putri pasti tidak mengira kalau atasannya ada di kantin.

"Itu... anu... tidak ada apa-apa kok, Pak. Saya hanya tidak sengaja menumpahkan bekal Vina. Tapi saya bermaksud menggantinya kok, Pak."

Putri dengan cepat mengubah nada suara dan gestur tubuhnya. Air mukanya berubah menjadi penuh penyesalan. Berikut suaranya yang diturunkan dalam nada terendah. Di depannya Suci mencebikkan bibirnya. Pasti temannya ini muak melihat sikap Putri.

"Saya tidak tuli dan juga tidak buta. Saya minta kalian berdua ke ruangan saya setelah jam makan siang berakhir." Rajata meninggalkan mereka berdua setelah memberi perintah.

"Baik, Pak." Vina dan Putri menjawab bersamaan.

"Dasar adek pelakor nggak tahu diri. Gue yakin lo pasti juga ada main dengan Pak Aria, makanya karir lo melesat sampai seperti ini. Kakak adek sama saja." Putri melontarkan makian dengan wajah prihatin. Putri ini memang benar-benar bertalenta seperti artis sinetron. Aktingnya sempurna.

"Daripada waktu lo habis digunakan untuk menduga-duga hal yang tidak berguna, better lo manfaatkan untuk hal yang lebih penting. Mengevaluasi kinerjo lo sendiri misalnya. Pikirkan, kenapa lo yang udah kerja hampir lima tahun, tidak pernah dipromosikan."

Vina membalas sembari tersenyum manis. Inilah dirinya. Ia tidak suka keributan atau memaki-maki dalam bahasa yang frontal. Cukup dengan sepatah dua patah kata. Tapi langsung mengenai sasaran rasanya lebih memuaskan bukan?

"Tjakep! Gue suka pembalasan ala ala sarkasme begini. Rasanya langsung nyessd ke hati. Senep... senep lo sono." Suci menyambung sembari mengacungkan jempolnya. Putri menjauh sambil melotot. Terlihat sekali kalau ia dongkol, namun tidak berani membalas. Ada Rajata masih duduk di belakangnya dengan secangkir kopi di tangan.

Dengan berjalan beriringan bersama Suci, Vina menghampiri ibu kantin. Ia memesan makanan yang sama dengan Suci. Setelahnya ia meminjam sapu dan pengki. Ia bermaksud membersihkan tumpahan bekalnya. Namun sang ibu kantin mengatakan agar salah seorang pekerjanya saja yang membersihkan. Syukurlah. Dan waktu makan siang itu terasa sangat pendek. Karena tanpa bisa ditahan Vina kerap melirik ke seberang meja. Belum lagi jika teringat bahwa ia harus menemui Rajata setelahnya. Makin-makin sajalah kegelisahannya.

***

"Apakah kalian berdua tahu bahwa prilaku kalian berdua itu mencerminkan karakter kalian?"

Inilah kalimat pertama yang dirinya dan Putri terima, saat berdiri di hadapan Rajata. Saat ini mereka memenuhi panggilan Rajata ke ruangannya.

"Tahu, Pak," jawabnya dan Putri serempak.

"Kalau tahu, mengapa kalian berdua mempertontonkan ketidakdewasaan kalian di tempat umum?!" Kuatnya suara Rajata membuatnya dan Putri nyaris melompat kaget. Namun mereka berhasil tetap berdiri di tempat, tanpa memperlihatkan reaksi yang berlebihan. Hanya bahu mereka berdua yang sedikit bergetar.

"Maaf, Pak. Kami berdua salah. Kami berjanji bahwa kami berdua tidak akan mengulangi kesalahan kami lagi," ikrar Putri takzim. Vina mengamini dengan menganggukkan kepalanya. Jujur, memang sudah seharusnya Putri yang menjawab. Toh dirinyalah yang mencari gara-gara. Ia hanya hanya sekedar menanggapi provokasi Dinda.

"Bagi saya, perilaku staff-staff saya itu sama pentingnya dengan pekerjaan. Karena apa? Karena kemampuan kalian untuk bekerjasama dengan rekan kerja akan mempengaruhi hasil kerja kalian. Bagaimana proyek bisa goals kalau staff-staff di dalamnya saling gontok-gontokkan. Ingat, saya tidak akan pernah mempromosikan jabatan kalian jika kalian tidak bisa bekerjasama dengan baik dan positif."

"Kami mengaku bersalah dan kami benar-benar minta maaf, Pak. Kami juga menyesali insiden memalukan saat berada di kantin tadi. Kami bersumpah, Pak!" Lagi-lagi Putri kembali meminta maaf."

"Baik. Ini adalah kesempatan pertama sekaligus terakhir kalian. Kalau kalian mengulangi kesalahan yang sama, saya tidak akan berpikir dua kali untuk menyingkirkan kalian berdua!" tegas Rajata.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dikhianati di Ranjang Pengantin
8.2
Pasca dijebak Sabrina, saudara tirinya, hingga hamil anak asing, hidup Aurora Valencia hancur. Demi kehormatan, Jenderal Wirya Atmaja tega mengusir putri kandungnya itu. Enam tahun berlalu, Aurora kembali ke Jakarta dengan kekuatan baru untuk membalas dendam. Ia bertekad mengoyak topeng busuk ibu serta saudari tirinya, sekaligus mengungkap identitas pria misterius yang merupakan ayah dari anak kembar jeniusnya.
Sampul Novel Heartache
9.4
Sembilan tahun tanpa kepastian membuat Renjana lelah, terutama di usia 27 tahun saat tekanan sosial untuk menikah kian mendesak. Di tengah keputusasaan terhadap kekasihnya, pihak keluarga berinisiatif menjodohkannya dengan pria pilihan mereka. Kini, Renjana dihadapkan pada pilihan sulit: akankah ia membuka hati pada cinta baru yang hadir perlahan karena desakan keluarga, atau tetap bertahan menanti kepastian dari kekasih lamanya?
Sampul Novel Ibu Mandul Melahirkan Sextuplets Untuk CEO Panas
8.9
Diceraikan Callan karena dituduh mandul, Amy nekat menghabiskan malam satu kali bersama gigolo sebelum pergi jauh. Enam tahun kemudian, ia kembali sebagai ibu dari enam anak kembar yang lucu. Namun, betapa terkejutnya Amy saat mendapati bos barunya di NorthHill adalah pria dari masa lalunya itu. Kini ia harus menyembunyikan rahasia besar tersebut dari sang CEO berkuasa, yang sebenarnya juga diyakini tidak dapat memiliki keturunan.
Sampul Novel Jerat Janda Terhormat
8.2
Kehilangan suami memaksa Serena Aqulea Abraham berjuang mandiri demi putri kecil dan ibu kandungnya yang sakit. Di tengah impitan ekonomi dan pandangan miring masyarakat terhadap status jandanya, ia dituntut berubah dari wanita lemah menjadi sosok yang tangguh. Tanpa tempat bersandar, Serena bekerja keras menghadapi segala rintangan demi bertahan hidup. Mampukah ia terus bertahan melewati hinaan sekitar, ataukah takdir akan mempertemukannya dengan pria baru yang tulus?
Sampul Novel MEMBALAS HINAAN BAPAK
9.6
Sumi kerap direndahkan ayahnya sendiri karena belum mendapat pekerjaan meski berpendidikan tinggi. Di tengah rasa sakit akibat dibanding-bandingkan dengan sang adik yang mapan, nasibnya berubah setelah bertemu pengusaha otomotif sukses, Hiraka Yamada. Namun, di saat puncak keberhasilan mulai diraih, Sumi harus kehilangan Zaki. Sahabatnya itu pergi membawa cinta yang tak pernah terungkap. Kini, ia bimbang apakah kesuksesan ini bermakna saat hatinya terasa hampa tanpa Zaki.
Sampul Novel Menggerebek Suami Dan Selingkuhannya
8.8
Saat memergoki suaminya berselingkuh, Maura tidak menangis. Ia justru membawa warga untuk melakukan penggerebekan dan mendesak kedua perusak rumah tangganya itu segera menikah. Pasangan ilegal tersebut sangat senang karena bisa bersatu tanpa hambatan. Namun, di balik kemudahan itu, mereka tidak sadar telah masuk dalam perangkap licik Maura. Ini adalah awal dari skenario balas dendam yang sangat mematikan untuk menghancurkan hidup mereka.