APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel (Bukan) Pembawa Sial

(Bukan) Pembawa Sial

Akibat mitos kuno, Revan dicap sebagai pembawa sial hanya karena memiliki wajah yang sangat mirip dengan sang ayah. Label buruk ini membuat pemuda dari keluarga sederhana tersebut dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya. Demi keselamatan orang-orang tercinta yang mulai menjauhinya, Revan akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Kini, ia harus berjuang sendirian demi membuktikan bahwa dirinya bukanlah pembawa petaka seperti yang dituduhkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sodah semakin memperburuk keadaan dengan mengatakan hal yang lebih mengerikan jika sampai nanti anak itu dibesarkan oleh keluarga Lida. Anak yang masih suci itu menjadi perbincangan pagi itu.

"Jangan terus menghina anakku, Uni Sodah. Biarpun kami orang miskin tapi kami masih punya harga diri. Kita memang berasal dari kampung halaman yang sama. Tapi pemikiran kita berbeda, Uni Sodah. Aku tidak akan pernah terpengaruh oleh keyakinan mitosmu yang tidak berguna itu," tegas Lida.

"Jaga ucapanmu itu, Lida. Uni Sodah tamu kita, tidak usah kau berbicara kasar. Dan yang dikatakan oleh Uni Sodah itu bisa saja benar adanya," sahut Rivold, suaminya Lida.

"Uda juga jangan ikut membela uni Sodah yang menjelekkan anak kita," kesal Lida.

"Terserah kalian saja, yang penting sudah aku peringatkan kalau anak itu adalah anak pembawa sial yang nantinya akan membawa kesialan kepada hidup Lida dan juga keluarganya dan kalian tinggal menunggu saja saat itu tiba. Tapi jangan menyesal nantinya jika yang aku katakan itu adalah kebenaran. Dan untuk wa'ang' Rivold, ambo harap wa'ang hati-hati, " ujar Sodah kepada mereka sebelum meninggalkan rumah itu.

Semua orang yang ada di situ menggeleng mendengar perkataan dari Sodah. Ia bukan hanya mengutarakan pendapatnya saja kali ini, akan tetapi ia juga sudah memberikan sumpah serapah kepada bayi merah yang baru tadi malam dilahirkan itu.

Ibu-ibu yang ada disana juga merasa sangat geram dengan suami Lida, karena bukannya ia membantu istrinya untuk membela anak mereka, tapi ia justru ikut membenarkan keyakinan Sodah yang keliru itu.

"Sudahlah bu Lida, jangan terlalu diambil hati perkataan dari bu Sodah itu, kami semua percaya bahwa bayimu ini adalah anak yang akan bisa membanggakanmu nantinya. Jangan terpengaruh oleh omongan orang lain, apalagi itu nantinya akan membuatmu kondisimu semakin terpuruk. Dan ingatlah bahwa kau saat ini baru saja melahirkan bayi dan jangan pernah berpikiran yang macam-macam apalagi sampai berbuat hal yang buruk kepada bayimu," pesan seorang ibu kepada Lida.

"Baiklah bu Risma. Terima kasih karena sudah memperingatkanku. jika tidak, pasti aku juga mungkin saja akan terpengaruh dengan ucapan dari uni Sodah tadi karena kami juga berasal dari kampung halaman yang sama, jadi sedikit banyaknya pasti tradisi dan juga keyakinan yang dipercayai oleh uni Sodah itu ada di kampung halamanku," ucap Lida kepada ibu-ibu yang ada di situ.

"Itu hanya mitos dan juga tradisi kuno yang seharusnya tidak dibawa-bawa lagi ke zaman modern ini, karena sekarang zaman mulai canggih dan tidak perlu mendengarkan perkataan orang lain lagi, bu Lida. Baiklah kalau begitu aku juga pamit karena anak-anakku pasti saat ini sudah mau berangkat ke sekolah. Dan saat ini pasti anak-anak sedang mencariku karena uang belanja dan juga sarapan mereka belum disiapkan. Tadi aku hanya pamit sebentar untuk datang kesini melihat si kecil yang baru lahir," pamit bu Risma kepada bu Lida sambil memberikan buah tangan kepada Lida.

Karena tradisi di sana juga selalu membawa sesuatu benda untuk diberikan kepada si bayi ataupun ibunya jika kita melihat bayi yang baru saja lahir. Entah itu beberapa bungkus sabun ataupun bedak bayi dan benda-benda yang lainnya yang diperlukan oleh bayi dan ibunya.

"Terima kasih sudah repot-repot membawa buah tangan ini bu Risma dan terima kasih juga sudah menengok bayiku," ujar Lida kepada bu Risma.

"Itu sudah kewajiban sebagai tetangga dan juga kita tinggal di lingkungan yang sama sekarang. Tidak perlu memikirkan apapun sekarang, fokus saja kepada kesehatanmu dan juga bayimu agar kau secepatnya bisa pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Karena aku sangat kasihan kepada Wika yang menggantikanmu berjualan di pasar. Selain umurnya masih kecil, ia juga masih memerlukan pendidikan untuk masa depannya nanti, bukan untuk berjualan di pasar seperti yang ia lakukan sekarang," pesan bu Risma kepada Lida.

Ya, semenjak Lida tidak lagi kuat untuk membawa barang dagangannya ke pasar yaitu sayur-sayuran maka putri sulungnya lah yang menggantikan dirinya untuk menjajakan sayuran itu demi mereka bisa makan setiap hari. Sedangkan suaminya hanya sibuk tidur sepanjang hari dan bahkan tidak tahu apakah hari sudah siang atau malam.

"Baiklah bu Risma, nanti akan aku usahakan agar Wika tidak lagi berjualan karena aku juga sangat kasihan dengan putriku itu. Dia yang memaksa untuk tetap berjualan karena kondisi kami juga yang seperti ini dan yang mencari sayur-sayuran juga adalah anak-anakku yang lainnya. Kalau untuk membeli kepada pedagang lain kemudian dijual lagi maka itu tentu akan membutuhkan modal yang besar, jadi anak-anakku itu berinisiatif untuk mencari sayuran segar di hutan dan menjualnya kembali ke pasar," ujar Lida kepada semua orang yang ada disitu.

Semua orang yang disitu sangat prihatin dengan kondisi dan juga keadaan dari keluarga bu Lida, akan tetapi mereka juga tidak cukup mapan untuk membantu dan mereka hanya bisa mendoakan keluarga itu agar nantinya bisa merubah nasibnya untuk kedepannya karena anak-anak dari Bu Lida juga sangat gigih untuk membantu hidupnya merubah masa depan mereka.

"Wika itu adalah anak yang baik, bu Lida. Aku sangat salut melihat perjuangan Wika sehari-hari mengurus adik-adinya ketika bu Lida pergi bekerja atau ke pasar. Wika sangat tulus dalam menjalankan perannya sebagai kakak dan sekarang Wika malah menggantikan bu Lida berjualan di pasar. Bu Lida sangat beruntung mempunyai anak sebaik Wika," puji Ratih, tetangga sebelah rumah keluarga Lida.

"Itu betul sekali, Bu Ratih. Wika adalah anak yang berbakti. Padahal dia masih digolongkan terlalu dini untuk melakukan itu semua. Aku yakin suatu saat nanti pasti anak itu akan berhasil dalam hidupnya, karena dia adalah gadis yang pemberani dan juga pekerja keras," tambah ibu-ibu yang lain.

Obrolan itu berlanjut beberapa saat. Tapi tidak lama kemudian, para ibu-ibu itu pamit pulang karena mereka masih ada kegiatan masing-masing. Hari juga masih pagi, dan tentu saja banyak yang akan melakukan rutinitas mereka.

"Kalau begitu kami pamit dulu, Bu Lida. Bu Lida banyak istirahat biar cepat pulih. Nanti setelah memasak di rumah, aku akan mengantarkan sedikit lauk untuk bu Lida dan anak-anak, biar mereka gak repot memasak. Wika juga pasti sangat lelah mengurus adik-adiknya," ujar bu Ratih.

"Terima kasih, bu Ratih. Bu Ratih memang selalu orang yang pertama membantu kami saat kami butuh bantuan," jawab Lida.

"Itu tidak masalah, bu Lida. Sesama tetangga kita harus saling berbagi," ujar Ratih.

Setelah itu ibu-ibu itu pamit pulang, mereka masih prihatin dengan kondisi bu Lida yang hidup dengan sederhana itu, tapi suaminya sepertinya tidak peduli sama sekali akan hal itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku dan "Sahabatku"
7.8
Setelah dikhianati berulang kali, aku terlahir kembali dan menolak pembodohan Melinda, putri sopirku yang berlagak bagai sosialita. Dulu, Melinda selalu berpura-pura menguji para kekasihku, termasuk suamiku sekarang, Aldi Noran. Namun kini, di hadapan pernikahan miliarder kami, aku tidak tinggal diam saat dia mencoba merayu Aldi dengan kedok persahabatan belasan tahun. Aku siap membongkar niat busuknya yang ingin merebut suamiku dan menghancurkan hidupku.
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Tak Punya Gelar
7.8
Dicampakkan oleh pacarnya yang ambisius demi lelaki bergelar spesialis, Rayhan yang hanya dokter umum mencoba mengobati patah hatinya lewat hubungan virtual dengan El, perempuan misterius. Siapa sangka, sosok yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah adalah Dr. Elvira Maheswari, Direktur Utama berdarah dingin di tempat kerjanya sendiri. Kenyataan ini pun menyeret Rayhan ke dalam pusaran asmara dan profesionalisme yang sangat membingungkan.
Sampul Novel GAGAL MENIKAH KARENA ORANG KETIGA
9.2
Kehidupan Yumna runtuh setelah Ilham membatalkan lamaran mereka secara sepihak tanpa alasan pasti. Akibat keputusan itu, ia harus menahan perih akibat cemoohan dan fitnah keji dari tetangga sekitar. Namun, di tengah penderitaan tersebut, sebuah kebenaran besar mulai terkuak. Alasan sebenarnya di balik tindakan Ilham ternyata berhubungan erat dengan sebuah peristiwa misterius delapan tahun lalu. Kini, Yumna dipaksa menghadapi kenyataan pahit yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel Kasih Sayang Terselubung: Istri Sang CEO Adalah Aku
8.9
Demi kesembuhan sang ibu, Evelyn rela menjalin hubungan rahasia dengan atasannya, Brian. Meski awalnya meremehkan, Brian mulai jatuh hati tanpa menyadari bahwa asistennya itu adalah istri sah yang ia lupakan. Saat Evelyn memutuskan pergi dan meminta perceraian, kebenaran masa lalu akhirnya terungkap. Kini, Evelyn telah bangkit menjadi CEO sukses. Brian yang penuh penyesalan harus berjuang keras memenangkan kembali hati sang istri dengan segala cara.
Sampul Novel Pembawa Dendam Masa Lalu
9.6
Detektif Rama mendedikasikan hidupnya demi menguak dalang di balik kematian tragis sang adik. Namun, misi balas dendamnya kini goyah sejak Joana hadir di tengah penyelidikan misterius tersebut. Perasaan cinta yang tak terduga mulai tumbuh di hati Rama, mengacaukan fokus serta konsentrasinya. Kini, ia terjebak dalam pergulatan batin yang rumit antara menuntaskan dendam masa lalu atau mengikuti ketertarikan romansa barunya bersama Joana.
Sampul Novel Perlindungan yang Menjadi Balas Dendam
8.9
Dikhianati sahabat sendiri, Amara terjebak malam penuh gairah di Michigan hingga hamil. Empat tahun berlalu, ia kini merintis hidup baru di New York sebagai dokter bedah bersama Ethan, putranya. Takdir mempertemukannya dengan Damian Sinclair, dokter bedah anak yang aromanya terasa sangat familier. Namun, Damian bukanlah pelindung yang Amara harapkan. Pria itu justru menyimpan dendam masa lalu yang membara dan siap membalaskannya kepada Amara.