APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bukan Cuma Rommate

Bukan Cuma Rommate

Gyda, seorang gadis ekstrovert pencinta pesta yang selalu tampil modis, terpaksa tinggal satu atap dengan Delmar, pria introvert super cuek dan pemalas. Meski memiliki standar tinggi dan hanya menyukai lelaki tampan, Gyda harus menerima kenyataan berbagi kamar dengan pria yang jauh dari kriteria idamannya itu. Gyda sangat yakin dirinya tidak akan pernah terpikat oleh Delmar. Namun, perbedaan kontras di antara keduanya justru menumbuhkan benih asmara yang tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Shit!” Delmar mengutuk. Ini hari minggu dan baru pukul tujuh tapi dia sudah terjaga lebih awal.

“Apa yang sebenarnya perempuan itu lakukan dengan kebisingan di luar sana?”

Delmar kini seratus persen kehilangan rasa nyaman, dia sudah tidak bisa berpura-pura tidur karena telinganya terus mendengar suara gaduh dari luar. Delmar mengerang, rasa kantuk masih memaksanya untuk tidur tapi dia betulan terganggu dengan suara-suara di luar yang menyaingi suara di diskotik murahan. Delmar sempat mencoba untuk menutup wajahnya dengan bantal, tapi itu tetap tidak membantu. Alhasil bantal yang tidak bersalah tersebut dia lemparkan sebagai bentuk pelampiasan amarah.

Delmar menerobos keluar dari kamarnya tanpa memperdulikan penampilannya sama sekali. Persetan dengan penampilan, saat itu yang ada di pikirannya adalah membentak habis-habisan mahluk berisik di luar sana untuk sedikit lebih tenang. Syukur-syukur bisa dibuat diam.

***

Gyda menyenandungkan lagu yang dia putar keras-keras melalui ponselnya yang sudah dia sambung dengan speaker salon bass kesukaannya. Menganggap bahwa saat ini dia sedang party bersama kawan-kawannya di club. Ini adalah sebuah bentuk dari upaya Gyda untuk menghapus kejadian kemarin sekaligus bahwa saat ini nyatanya dia hanya sedang menyedot debu dari karpet tebal yang berwarna busuk di bawah kakinya. Gyda saat itu hanya mengenakan atasan sederhana berlengan pendek diatas lutut yang menutupi celana hot pants yang dia kenakan. Untuk rambutnya, perempuan itu suka yang simple saat sedang di dalam rumah. Hanya sanggul sederhana agar dia tidak perlu merasa kegerahan saat beraktivitas membersihkan rumah yang luar biasa jorok ini agar menjadi tempat yang lebih layak huni.

“Jorok sekali laki-laki sialan itu! sudah jorok mesum pula,” sungut Gyda seraya mengerjakan aktivitasnya. Bukan tanpa alasan dia dijuluki mesum, sebab kemarin ketika dia membuka salah satu kamar. Gyda menemukan poster perempuan dengan pose seksi tanpa pakaian juga ada sebuah majalah gay yang teronggok di lantai. Mengingat hal kemarin membuat Gyda benar-benar trauma.

Sejatinya meski dia menyanyi dan menari saat sedang melakukan pekerjaan rumah untuk mendistraksi pikirannya sendiri. Pandangan matanya malah tertumbuk pada kamar Delmar, teman sekamarnya sekarang.

Jujur saja, kemarin dia sempat ragu untuk menemui pemuda itu karena sedikit takut barangkali dia adalah seorang pria botak, gendut, dan aneh. Tapi ketika melihat tampangnya dan bagaimana dia bersikap pada Gyda, anehnya dia justru malah merasa sedikit aman dan yang paling penting dan terbaik dari itu adalah Delmar bukanlah tipe-nya dan pria itu juga sudah fix berada digolongan kaum pelangi. Mungkin itu sebabnya Gyda merasa sangat aman berada di rumah ini selain karena alasan bayar sewanya yang murah.

Walaupun kesan pertama yang melekat untuk Delmar adalah dia termasuk dalam kategori good looking. Tapi untuk Gyda dia jelas terlalu sederhana dan tidak keren sama sekali. Dia masih ingat pria itu menguap di depan mukanya, sambil menggaruk dirinya sendiri. Tampilan awut-awutan dengan kuncir rambut yang longgar di kepalanya. Tidak ada yang istimewa dari itu semua.

Padahal Gyda paling tahu bahwa cara tercepat untuk menyembuhkan patah hati adalah jatuh cinta lagi, atau paling tidak memiliki pelampiasan dengan mencari pacar baru. Dia bahkan sempat memikirkan ide gila untuk mengencani teman sekamarnya, tapi melihat gelagat Delmar yang begitu tentu saja hal gagasan absurd tersebut tidak akan pernah kejadian. Memikirkannya saja Gyda sudah malas.

Delmar sudah jelas akan langsung dia keluarkan dari daftar pria yang wajib dia kencani.

Sejak dahulu tipe Gyda selalu sama. Tipe pria yang tampan, cool, classy, elegan, stylish, pintar, seksi dan yang paling penting harus tahu bagaimana caranya memperlakukan perempuan dengan benar. Tanpa salah satu dari klasifikasi itu, Gyda bisa dengan cepat mengatakan tidak dengan sangat mudah tanpa ada penyesalan.

Asyik dengan dunianya sendiri, Gyda mendengar suara pintu yang dibanting. Ruangan yang tertutup rapat sejak kejadian lucu kemarin akhirnya terbuka lebar. Gyda kemudian mendongak untuk berhadapan langsung dengan teman sekamar barunya. Kini dia berdiri tepat di depannya dengan tampang siap membunuh kapan saja. Mulut Gyda terbuka lebar. Hampir tidak percaya dengan satu kalimat yang terlintas di kepalanya.

“Damn! Kenapa terlihat seksi?” gumamnya tanpa sadar.

Buru-buru Gyda menutup mulutnya sendiri yang bicara tanpa izinnya. Menatap si pemuda yang masih berdiri di posisinya tanpa sedikitpun berubah.

“Apa yang sedang kau lakukan pagi-pagi? Ini bukan tempat karaoke! Kau tidak bisa memutar musik keras-keras dan bernyanyi disini pagi-pagi dan menganggu ketenangan tidurku!” Delmar telihat menuntut pada Gyda dengan tangan yang dia simpan di pinggulnya. Pose yang lucu tapi seksi. Bagaimana menjelaskannya ya.

“Aku harap aku tidak meneteskan air liurku saat menatapnya.” Isi hati Gyda berbisik, untungnya kali ini bibirnya bisa diajak kerja sama dengan tidak mengatakan keras-keras apa yang ada di kepala. Tapi kemudian dia menampar dirinya sendiri untuk mengembalikan kewarasannya ke titik semula. Dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi sambil memandang rendah ke arah Delmar untuk menghadapi intimidasinya yang terlalu menyilaukan sesaat.

“Saya sedang membersihkan kediaman Anda yang lebih mirip seperti kandang babi, tepat seperti yang anda lihat Tuan Muda pengoleksi majalah gay dan poster porno,” sindir Gyda. Bagus, untuk sesaat dia merasa bangga karena telah berhasil menghadapinya dengan cara yang benar.

Dia melihat Delmar mendengus. “Bisa kau melakukannya nanti? ini terlalu berisik… dan aku sedang tidur. Dan um… tentang kemarin itu salah paham. Benda itu bukan milikku,” sanggahnya.

“Tapi sekarang kau sudah bangun, jadi aku bisa melanjutkan pekerjaanku. Untuk yang kemarin aku tidak peduli itu milikmu atau bukan, tapi yang pasti aku melihatnya berserakan di ruangan yang kau akui sebagai kamarmu. Jadi apakah benda terbang dan tertempel sendiri disana jika kau bukan pemiliknya ?”

Delmar menghela napas, Gyda tahu bahwa pemuda itu sedang menggerutu. Tapi setelah itu dia menatap kearah lain. “Kalau mau bersih-bersih kau bisa gunakan benda yang lebih tenang dan klasik. Sapu misalnya. Juga tidak perlu memutar musik keras-keras kalau hanya sedang melakukan pekerjaan rumah.”

“Ya, tapi dengan sapu debu tidak akan keluar dari karpet kumalmu ini,” sahut Gyda sambil terus melakukan pekerjaannya. Dia tidak mau terjeda dengan Delmar lagi. Dia takut terpesona dan tidak waras jika berlama-lama menatapnya. “Dan musik membuatmu lebih bersemangat mengerjakan semua pekerjaan rumah ini. Aku juga tidak mau melakukannya, tapi ini bagian dari kesepakatan kita kan? atau kau mau merevisinya? Itu lebih bagus malah.”

Delmar bedecak. “Bisa hentikan saja dan lanjutkan nanti? aku mau lanjut tidur lagi,” ujar Delmar.

Tapi Gyda malah dengan sengaja menaikan frekuensi penyedot debunya menjadi level maksimal sehingga dengungannya lebih tinggi. Membuat pria itu harus bicara lebih keras agar Gyda mendengarnya. Sejujurnya dia suka mengisengi laki-laki itu.

“Tapi aku tipe orang yang benci saat pekerjaanku harus di jeda. Aku tidak bisa tenang saat aku merasa pekerjaanku belum selesai.”

Akhirnya sunyi senyap ketika Delmar tiba-tiba saja mematikan musik yang menyala dari ponsel Gyda disusul dengan direbutnya mesin penyedot debu dari tangan Gyda. Delmar kemudian berkacak pinggang di depannya berlagak layaknya si penguasa. “Lakukan lain kali, oke?”

Tapi bukan Gyda jika dia mengalah dengan mudah. “Sudah aku bilang kalau aku tidak suka saat pekerjaanku harus terjeda oleh sesuatu yang tidak penting. Aku benci harus menunda pekerjaan yang bisa di selesaikan saat itu juga. Lagipula apa masalahmu? Ini sudah pagi. Kenapa harus tidur saat kau bisa beraktivitas seperti seorang manusia pada umumnya? Kau bahkan tidur lebih awal semalam.”

“Hari ini hari Minggu dan itu adalah hari tidur sepuasku. Kau tidak berhak ikut campur dan berkomentar soal itu.” Kali ini Delmar makin geram.

“Bukannya kita sepakat kemarin kalau kita harus bertindak tidak terlihat satu sama lain? kau bisa berpura-pura aku tidak ada disini. Semua beres kan?” timpal Gyda santai dan merebut kembali mesin penyedot debu dari tangan Delmar.

“Ya, bagaimana aku bisa berpura-pura kau tidak ada disini kalau kau terlihat di depan mukaku dengan suara-suara gaduh dan juga nyanyian fals yang kau buat ha?”

Bukannya merasa terintimidasi Gyda malah angkat bahu. “Ya, itu kan bukan urusanku. Aku hanya melakukan pekerjaanku sesuai dengan perjanjian yang kita buat ah, lebih tepatnya sesuai dengan keinginanmu. Terserah padaku bagaimana caranya aku melakukan ini, tidak ada aturan soal ini. Sumbat saja telingamu dengan kapas atau sesuatu. Sudahlah pergi sana jangan ganggu saat aku sedang bekerja. Kalau sudah bersih kau sendiri juga menikmati hasilnya.” ujar Gyda sembari memperagakan tangannya seperti sedang mengusir ayam.

Gyda bisa melihat kedua kepalan tangan Delmar terguncang, dia mungkin sedang mencoba untuk menahan dirinya. Gyda jadi penasaran sejauh mana pria itu bisa bersabar. Apakah dia akan memukulnya seperti yang pernah mantannya yang kesekian perbuat? Atau membentaknya dan mengusirnya seperti kemarin?

Tapi ditunggu aksi apa yang Delmar pilih, rupanya pria itu malah tidak melakukan apa-apa. Delmar hanya membisikan umpatan yang tidak jelas sebelum akhirnya balik kanan dan kembali ke kamarnya.

Lho, dia bisa sabar?

Segera setelah Gyda memastikan Delmar menghilang dari pandangannya, gadis itu melepaskan cengkramannya dari alat penyedot debu kemudian meletakan tangannya di sisi kiri dadanya.

Jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang tidak karuan. Ini jelas tanda yang agak berbahaya. Ini tidak normal bagi seorang Gyda.

“Apa yang terjadi padaku sih?” bisiknya pada diri sendiri. “Kenapa dengan jantung bodoh ini? kenapa tidak bisa berdetak dengan normal? Apa tadi aku terlalu berlebihan? Sialan, aku gugup sekali tadi.”

Bayangan Delmar ketika berhadapan dengannya tadi kembali berputar dalam ingatan. Pria itu berdiri tepat di depan mukanya dengan wajah congkak penuh kemarahan dalam kondisi rambut yang tergerai dan hanya mengenakan kaos tanpa lengan yang memperlihatkan beberapa otot di bagian bisep dan trisepnya. Satu hal yang pasti dari penampilan itu adalah, dia terlihat sangat seksi di mata seorang Gyda yang pemilih soal pria.

Pikirannya membayangkan bagaimana bentuk dalamnya. Ketika lehernya, dan bahunya yang terlihat jelas itu agak menggoda. Bagaimana dengan bagian dada yang sepertinya kuat, perut yang terukir indah bagaikan pahatan dewa dewi, pinggang yang ramping dan pinggul yang sempurna, kulit yang sedikit kecoklatan yang indah dan oh… sekali lagi Gyda menampar dirinya sendiri. Kini dua bekas kemerahan membuat dia dibawa kembali ke alam nyata. Pikirannya barusan lebih terlihat seperti seorang tante girang mesum. Itu tidak benar!

Dengan cepat Gyda menyingkirkan semua bayangan bodoh itu. Mencoba menyangkal semua pikiran yang mampir di kepalanya. Gyda ingin menyangkal soal fakta mengerikan yang dia rasakan. Bahwa dia sudah mulai merasakan adanya sedikit ketertarikan padanya.

“Sialan!” Sekali lagi dia mengutuk. “Ya Tuhan! kenapa dia harus terlihat begitu seksi sih?”

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AFFAIR WITH IPAR
9.4
Pernikahan Alma dan Evan yang berjalan tiga tahun mulai terasa hambar karena belum dikaruniai anak. Di tengah situasi dingin tersebut, Evan justru berselingkuh dengan Laras, adik iparnya sendiri. Pengkhianatan besar ini menguji keutuhan rumah tangga mereka. Saat hubungan terlarang suami dan adiknya ini terungkap, sanggupkah Alma memaafkan mereka? Sebuah kisah pilu tentang runtuhnya komitmen kesetiaan.
Sampul Novel Balada Sang Pemuas
9.3
Di balik citra santun yang mereka tunjukkan pada dunia, Andre dan Nadia diam-diam memendam gairah serta fantasi intim yang begitu membara. Pernikahan mereka pun beralih fungsi menjadi wadah rahasia untuk membebaskan segala hasrat terlarang yang selama ini terkekang oleh norma sosial masyarakat. Kisah ini menyoroti perjuangan sepasang kekasih dalam menjelajahi sisi terdalam diri mereka demi meraih kepuasan sejati, tanpa harus merusak batasan moral yang ada.
Sampul Novel Biaya Pengkhianatan
8.2
Tujuh tahun lalu, Lorna, seorang ahli waris kaya raya, menyelamatkan bisnis Rhett dari kebangkrutan total. Berkat bantuan penuh dari Lorna, Rhett mampu bangkit hingga keduanya berujung di pelaminan. Namun, kebahagiaan malam pernikahan mereka hancur seketika. Di momen romantis tersebut, Rhett secara mengejutkan menunjukkan sebuah kontrak misterius yang membongkar niat terselubung di balik pernikahan manis mereka selama ini.
Sampul Novel Jahatnya Pacar Kakakku
9.5
Rencana menghadiri festival musik bersama sahabat berubah menjadi mimpi buruk mengerikan dalam novel horor ini. Akibat salah paham, kekasih Calvin mengunci sang protagonis di toilet, menuduhnya menggoda pacar orang, lalu menyiksanya secara sadis. Korban disiram air pel, ditampar, dilucuti, hingga kulitnya disolder dengan tulisan hinaan. Saat Calvin tiba, adiknya sudah tidak dikenali lagi, sementara pelaku berdalih mengira korban hanyalah adik angkat, bukan adik kandung Calvin.
Sampul Novel Melahirkan Keturunan Untuk CEO
9.5
Demi biaya operasi ibunya yang sekarat, Kinara Ariana terpaksa meminta bantuan kepada bos di kantornya. Keputusan nekat wanita berusia tiga puluh tahun ini justru menyeretnya masuk ke dalam kehidupan sang CEO. Di tengah situasi pelik tersebut, sang ibu mendesaknya untuk segera menikah. Tak disangka, pria asing itu bersedia menjadi suaminya. Seiring waktu, rahasia masa lalu sang CEO perlahan terkuak dan mengubah arah takdir hidup Kinara untuk selamanya.
Sampul Novel Pernikahan Piutang Berujung Cinta
9.1
Hidup Acasha hancur setelah memergoki kekasihnya berselingkuh di tengah jeratan utang miliaran rupiah sang ibu. Demi melunasi beban itu, ia terpaksa bekerja sebagai LC dan menjalani realita kelam hingga berulang kali menggugurkan kandungan. Titik balik muncul saat Lucas menawarkan bantuan pelunasan utang dengan satu syarat berat. Namun, di tengah perjuangan barunya, Deryl kembali hadir dan terkejut melihat perubahan drastis pada diri Aca yang kini telah sangat berbeda.