APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta

Bujang Kaya Jadi Budak Cinta

Erhan, miliarder ramah namun ceroboh dalam asmara, kerap memicu pertikaian keluarga karena gemar merayu kekasih para sepupunya. Namun, hidupnya berubah saat ia jatuh cinta pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan. Kini, sang bujangan kaya harus berjuang keras membuktikan ketulusan hatinya. Sanggupkah Erhan meyakinkan wanita tersebut bahwa ia telah sepenuhnya menjadi budak cinta sejatinya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Suasana hiruk pikuk di tempat pemotretan sengaja ia acuhkan. Nadira lebih memilih untuk menghabiskan waktunya menikmati sesi curhat via telepon bersama sahabat baiknya, Gisna. Gadis lugu yang sudah menjadi sahabat karibnya sejak jaman putih abu-abu itu kini tengah berbahagia dengan kondisinya yang sedang mengandung.

Cukup mengejutkan sebenarnya. Khususnya bagi Nadira. Sahabatnya yang pemalu tiba-tiba saja membuat keputusan impulsif untuk menjadi seorang ibu pengganti bagi sosok pria yang sama sekali tidak dikenalnya demi menyelamatkan ibunya. Dan hal itu juga menjadi penyesalan terbesar dalam hidup Nadira karena dirinya sebagai sosok sahabat tak bisa membantu Gisna kala wanita itu berada dalam posisi terpuruk. Semua ini karena kata 'profesional' sialan yang sering diagung-agungkan oleh asistennya si Fera bin Feri. Manusia setengah jadi. Sehingga ia bahkan tidak bisa menggunakan ponselnya sendiri.

Sejak saat itu, Nadira tidak lagi menuruti ucapan sang manager dan meminta hak nya sebagai seorang manusia untuk mengontrol hal pribadinya dengan caranya sendiri.

"Ra, bentar lagi lo take." Orang yang baru saja diumpatnya kini tengah berdiri menjulang di hadapannya dan memandangnya tajam. "Buang tuh permen. Kelakuan lo dah kayak anak lima tahun aja." Gerutunya sambil berlalu pergi. Nadira mencebik namun kemudian memilih bangkit.

"Udah dulu ya, Na. Aku mesti take lagi. Nanti kalo pulang aku mampir. Jaga ponakan aku baik-baik." Pintanya sebelum menutup sambungan telepon.

Nadira meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya sebelum kemudian memandang Feri yang kini ingin dipanggil Fera karena sifat kemayunya yang semakin menjadi. "Lo mau? Ngomong kalo mau. Gue ada banyak di tas." Ucapnya menjawab teguran Fera bin Feri sebelumnya.

Pria bertubuh tambun itu memutar bola mata. "Ya ampun, Dira. Gigi loe tuh lama-lama bisa ompong tahu gak sih." Pekik Fera lagi.

Bukannya menurut, Nadira malah nyengir dan menunjukkan gigi putihnya yang terawat. "Permen karet itu bagus buat kesehatan tau. Salah satu cara menghilangkan stres." Ucapnya dengan santai dan lalu memasukkan sisa permen karet kembali pada bungkus awalnya dan membuangnya ke tempat sampah. Dengan senyum manisnya, Nadira berjalan menuju depan kamera dan siap dengan posenya.

Pemotretan selesai pada pukul sepuluh malam. Tidak terlalu larut sebenarnya, karena seringkali Nadira menghabiskan waktu lebih daripada itu. Semua tergantung dari situasi dan kondisi pemotretan itu sendiri. Dan juga tema. Jangan lupakan itu.

Nadira dan kawan-kawannya yang tergabung dalam proyek ini sudah diberikan kunci untuk kamar tempat menginap mereka. Pemotretan yang diadakan di Bali ini adalah lokasi terakhir pemotretan mereka setelah sebelumnya mereka melakukan pemotretan di Makassar dan Lombok. Besok atau lusa, mereka baru akan kembali ke Jakarta. Ya Tuhan, Nadira sangat rindu pada apartemen mungilnya.

Ia melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur single sesaat setelah membuka pintu. "Cape gue." Desahnya.

Kamar yang ditempatinya ini bukanlah kamar presiden suite karena Nadira juga bukan model kelas atas dengan bayaran fantastis. Tapi dia juga bukan model pemula. Sehingga bayarannya tidak terlalu murah juga. Fasilitas seperti ini baginya sudah cukup.

"Mandi dulu, baru rebahan." Perintah Fera bin Feri.

Sesaat Nadira mendelik pada managernya itu, tapi kemudian mengiyakan saja dan bangkit menuju kamar mandi.

Nadira memandangi wajahnya di cermin. Menghapus sisa make up yang masih tersisa dengan pembersih wajah sebelum memulai mandi. Ia bersyukur, memiliki paras cantik yang diturunkan dari gen kedua orangtuanya. setidaknya itu salah satu andalannya hingga sukses di dunia modeling saat ini. Karena sejujurnya memilih dunia model memang bukan cita-citanya.

Awalnya Nadira begitu ingin menjadi seorang fashion designer. Minatnya pada dunia itu jauh lebih besar daripada keinginannya untuk berjalan di atas catwalk. Namun karena untuk kuliah di jurusan itu tidaklah murah, maka ketika ada orang yang memberinya kesempatan untuk menjadi model, ia menerimanya begitu saja. Anggaplah ini sebagai batu loncatan. Jika suatu saat nanti dia memiliki peluang untuk mencapai cita-citanya, setidaknya dia tidak perlu lagi memulai semuanya dari awal karena dia sudah membangun koneksi.

Selain wajahnya, ia juga beruntung karena dianugerahi bentuk tubuh yang ideal yang bisa menunjang karirnya. Ketika diluaran sana orang-orang bersusah payah untuk diet, Nadira tidak perlu melakukan hal tersebut karena tubuhnya entah kenapa begitu untuk sulit gemuk. Poin plusnya adalah dia bisa mengejek sahabatnya Meta yang begitu ingin menjadi model namun tidak kesampaian.

Tapi meskipun memiliki tubuh proporsional, bukan berarti Nadira tidak bekerja keras. Tahun awal ia memulai karirnya, Fera bin Feri mendidiknya dengan begitu keras. Olahraga, latihan catwalk, diet pola makan. Dan blah-blah-blah urusan lainnya. Belum lagi masalah pendidikan attittude. Benar-benar menyiksa Nadira pada awalnya. Karena ia merasa terkekang dan tak bisa menjadi dirinya sendiri.

Hanya di depan Meta, Gisna dan Fera bin Feri lah dia bisa menjadi dirinya sendiri.

"Cin, lo dapet paket lagi." Fera bin Feri mengedikkan kepalanya ke arah meja rias yang ada di depan tempat tidurnya. Carina yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk di atas kepalanya berjalan mendekat dan melihat buket bunga yang ada disana. "Dari orang yang sama." Lanjut saat Nadira mengambil kartu yang terselip diantaranya.

To. My Beautiful Nadira

Kamu tampak cantik sekali dengan gaun pemotretan hari ini. Lain kali, gunakan gaun itu saat berdua denganku.

From. Your Admirer. J.D

Nadira menggeram. Meremas kertas itu dan melemparkannya ke dalam tempat sampah. Seketika ia memandang Fera dengan matanya yang tajam. Buket bunga itu, beserta kartu ucapannya adalah hal yang Nadira takuti belakangan ini. Bukan karena bunganya yang tidak cantik. Atau ucapan di kartu yang tidak manis. Tapi sosok si pengirim yang tak diketahui lah yang membuat Nadira merasa takut. Bagaimana tidak, bunga beserta ucapan itu selalu saja dikirim dimanapun Nadira melakukan pemotretan.

"Loe masih belum tahu siapa yang ngirim ini semua?" tanyanya dengan marah. Kartu ucapan itu sudah diremasnya dan dilemparnya ke tempat sampah. Fera, yang ditanya hanya bisa menggelengkan kepala dengan mimik bersalah. "Gue udah bilang kalo gue gak suka sama ini semua. Ini nakutin tau gak sih loe? Minimal loe cari tahu dong. Jangan sampe gue ketar-ketir takut sendiri. Dia tuh kayaknya selalu ada dimana-mana. Lama-lama gue jadi takut kalo jalan sendirian trus tiba-tiba dia nyerang gue gitu."

"Lo kebanyakan nonton drama, Cin. Orang tuh suka kalo ada fans, ini malah takut."

"Ya kali gue se terkenal Jovita sampe diburu fans." Sejenak amarah melingkupinya ketika mengingat nama wanita yang membuat sahabatnya menderita itu. "Gue kan masih model ecek-ecek Fer. Lagian kalo fans nya normal sih gue juga oke-oke aja. Tapi ini, gue bahkan gak tahu dia siapa, dia orang mana, umurnya berapa, tapi dia kok kayak tahu segalanya tentang gue. Dia bahkan selalu aja ngirim buket begituan dimanapun gue pemotretan. Kan nakutin Fer." Nadira bahkan bergidik setelahnya.

"Udah lah, Posthink aja. Siapa tahu dia emang tahu dia emang punya orang dalem jadi dia dapet info tentang loe."

"Ya tetep aja nyeremin Fer. Kalo suka berubah jadi obsesi, itu bukan lagi hal yang bisa dianggap wajar. Loe gak pernah nonton apa di film-film. Adanya penculikan, pembunuhan, pemerkosaan, itu semua karena obsesi Fer."

"Yaelah, film lagi, drama lagi. Loe kayak anak micin tahu. Lama-lama loe nyangkut-nyangkutin hidup loe macem novel. Ya udahlah, Cin. Kalo pun semuanya serba film, drama sama novel. Loe mimpinya hidup loe macem Cinderella gitu. Yang berakhir ketemu pangeran. Atau gak kayak si Belle yang akhirnya merubah monster jadi pangeran." Nadira menepuk dahi.

"Ya kali lo samain hidup gue sama dongeng buat anak-anak." Decihnya. "Udah, balik sana ke kamar loe. Gue mau tidur." Usir Nadira kasar. Fera bangkit dari duduknya dengan enggan. "Oh ya, sebelum pulang ke Jakarta, beliin Pai Susu sama Pia ya." Nadira berteriak di antara sela-sela pintu.

"Hmm... Berapa banyak?"

"Yang banyak aja. Buat bumil." Teriaknya lagi.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kutukan Cinta Sang CEO
9.7
Khaidar Wijaya hidup dalam bayang-bayang kutukan mematikan: orang yang mencintainya dengan tulus akan celaka hingga tewas. Usai kehilangan orang tuanya, ia memilih mengisolasi diri. Namun, demi mengabulkan keinginan terakhir neneknya yang sekarat, Khaidar terpaksa menikahi Viona, mantan teman sekolah yang sangat membencinya. Pernikahan tanpa cinta ini menjadi satu-satunya jalan. Mampukah Viona bertahan tanpa rasa cinta, atau ia akan menjadi korban kutukan maut berikutnya?
Sampul Novel Mahasiswi Simpanan Dosen Liar
9.0
Zeya Scopuso merasa ada yang tidak beres saat bimbingan skripsinya dipindahkan ke kamar pribadi. Ketika dia menanyakan alasan pemilihan tempat yang tidak biasa itu, sang dosen pembimbing, Delson Weather, justru memberi jawaban mengejutkan. Sambil mengusap paha mahasiswinya dengan lembut namun penuh arti, Delson menyatakan siap memberikan bimbingan khusus yang tak pernah terbayangkan oleh Zeya sebelumnya.
Sampul Novel My Korean Girl
8.5
Dalam sekuel kelima Ellite Bad Boys, hidup Alex diselimuti bayang-bayang kelam akibat mengkhianati sahabatnya sendiri. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Park Jin Hye, gadis asal Korea yang membawa secercah harapan baru. Sayangnya, sisi gelap dalam diri Alex terlampau kuat. Alih-alih berubah, ia justru menyeret Jin Hye ke dalam pusaran dunianya yang penuh bahaya dan kejahatan. Mampukah jalinan asmara mereka bertahan di tengah ancaman kriminalitas yang terus mengintai?
Sampul Novel RAHIM YANG DIPINJAM SAHABATKU
9.5
Demi menunjukkan baktinya kepada orang-orang terkasih, Tasya mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Ia bersedia memenuhi permintaan Siska, sahabat dekatnya, untuk menjadi istri kedua bagi Kenzo. Langkah ini membawanya masuk ke dalam pusaran pernikahan poligami yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di tengah peran barunya ini, Tasya harus menghadapi ketidakpastian. Akankah pengorbanan besar tersebut berujung pada kebahagiaan, atau justru menorehkan luka batin yang mendalam?
Sampul Novel Saat Lilin Menyala, Cinta Padam
8.7
Memasuki tahun keenam pernikahan, kehangatan sirna setelah sang suami tidak menyentuh istrinya selama tiga bulan dengan alasan lelah bekerja. Kepercayaan sang istri runtuh di hari ulang tahunnya saat mendengar suaminya berbicara dalam bahasa asing dengan temannya. Sang suami mengaku berselingkuh dengan wanita bernama Sallie yang kini hamil, dan berencana mengirimnya ke luar negeri. Menahan kepedihan mendalam karena memahami bahasa tersebut, sang istri hanya bisa menangis dalam diam sambil berpura-pura terharu.
Sampul Novel Sangat Salah Jatuh Cinta dengan Saudara Asuhku
9.5
Selama tujuh tahun, Rosalyn Wright mengorbankan hubungannya dengan keluarga demi mengejar cinta Saul, saudara asuhnya. Namun, amarah besar Saul hanya karena sebuah barang rusak akhirnya menyadarkan Rosalyn bahwa perasaannya tak terbalas. Menolak bertahan dalam ilusi, sang pewaris kaya ini memilih menyerah dan menggugat cerai. Ia memutuskan menghubungi ayahnya untuk pulang dan memimpin bisnis keluarga, meninggalkan pernikahan yang semu.