APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Brave Heart

Brave Heart

Kecelakaan tragis membuat fisik Seruni Arkadewi cacat. Kemalangan tak berhenti di situ; sang kekasih berkhianat dengan sahabatnya, dan ayah tirinya tega menjualnya kepada pria tua kaya. Menolak menyerah pada nasib, Seruni memilih melarikan diri demi membuktikan bahwa ia mampu mandiri. Langkahnya ini dinilai konyol oleh Antonio Brata Kesuma, konglomerat yang sangat antipati pada kelemahan fisik. Namun, kegigihan Seruni yang menolak belas kasihan perlahan menantang pandangan Antonio.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Ni... Uni... bangun. Kita sudah sampai di Jakarta." Sayup-sayup Seruni mendengar seseorang memanggil-manggil namanya. Seruni memaksa membuka matanya yang masih terasa lengket karena mengantuk. Mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali. Mencoba menyesuaikan pandangan karena silau akan cahaya lampu mobil. Saat pandangannya sudah fokus, barulah Seruni memperhatikan dengan seksama di mana sekarang ia berada. Mobil yang ia dan Mayang tumpangi berhenti di depan sebuah kompleks perumahan kecil. Rumah-rumah mungil bermodel dan bercat sama berjejer rapi. Ada sekitar dua puluhan rumah di sana.

"Ini mess karyawan tempat Mbak bekerja, Uni. Ayo kita masuk," ajak Mayang ramah. Seruni mengangguk. Karena tidak membawa apa-apa, ia hanya lenggang kangkung saat keluar dari mobil. Sementara supir mengeluarkan satu tas travelling yang cukup besar milik Mayang.

"Atasan Mbak Mayang pasti baik sekali ya, Mbak?" guman Seruni sambil berjalan. Tak henti-hentinya ia mengagumi mess karyawati yang asri ini.

"Kenapa kamu bilang begitu, Uni?" Mayang melirik Seruni yang terus memandangi mess dengan pandangan kagum.

"Bukannya Uni bermaksud menghina ya, Mbak? Tapi untuk ukuran mess bagi para pelayan, mess ini rasanya terlalu mewah. Lah mess untuk para pimpinan di pabrik PT Tebu Manis Plantations saja tidak semewah ini?" pungkas Seruni lagi.

Mayang tersenyum masygul. Seorang pendatang dari kampung seperti Seruni ini saja bisa merasakan kejanggalan dalam fasilitas kerjanya. Tapi mau bagaimana lagi. Hidup di ibukota memang sekeras-kerasnya kehidupan. Tidak nekad artinya tidak makan.

Melihat Mayang hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab pertanyaannya, Seruni pun tidak membahasnya lagi. Sepertinya ia sudah terlalu lancang menyuarakan pendapatnya padahal tidak diminta. Kini ia mengekori langkah Mayang tanpa banyak bertanya lagi. Langkah Mayang berhenti di depan pintu satu rumah mungil bertuliskan angka 4B. Saat pintu dibuka, lima kepala sontak berpaling ke arahnya dan Mayang. Sepertinya mereka semua adalah rekan-rekan kerja Mayang. Karena mereka semua menggunakan pakaian seragam. Hanya saja Seruni sedikit heran melihat seragam pelayan yang mereka kenakan. Setaunya pelayan itu berseragam putih dengan rompi dan rok span. Rambut juga digelung rapi, agar tidak ada helaian rambut yang jatuh saat menyajikan makanan.

Namun rekan-rekan Mbak Mayang ini malah mengenakan tank top putih super ketat dengan tulisan Astronomix Girls di bagian dada. Bawahannya adalah celana super pendek berwarna orange, serta apron pinggang hitam mungil yang menutup bawah perut mereka. Seruni terkesima. Apa memang seperti ini seragam pelayan-pelayan di Jakarta? Ia sudah pasti tidak berani mengenakannya.

"Masuk, Uni. Ini mess Mbak bersama dengan rekan-rekan kerja Mbak yang lain," ujar Mayang. Seruni tersenyum sopan seraya menghampiri rekan-rekan Mbak Mayang yang sepertinya sedang bersiap-siap bekerja. Tas-tas mungil sudah menggantung di bahu mereka masing-masing.

"Selamat malam, Mbak-Mbak semua. Nama saya Seruni. Panggil saja saya Uni. Saya teman sekampung Mbak Mayang." Seruni memperkenalkan diri dengan sopan. Ia kemudian duduk di sisi kiri sofa dan Mbak Mayang menyusul duduk di sampingnya.

"Teman sekampungnya Mayang toh? Pantes. Kenalin gue Vina. Itu Nella, Fika, Riri dan Eva." Vina memperkenalkan diri seraya menunjuk ke empat temannya sekaligus.

"By the way, lo nggak usah manggil kami-kami ini dengan sebutan Mbak keleus. Umur kita kayaknya juga sebaya," imbuh Vina.

"Apalagi gue," sela Fika. "Gue baru delapan belas tahun, Uni. Baru tamat SMU. Gue juga baru sebulan jadi waitrees di Astronomix," lanjut Fika lagi.

"Maaf, saya hanya berusaha bertutur sopan," sahut Seruni. Saat mendengar bahasa lo gue, Seruni seperti merasa ada di belahan dunia lain. Karena di kampungnya tidak ada yang berbicara seperti itu. Ia telah benar-benar jauh dari kampung rupanya. Ia ternyata seudik itu.

"Kalau saya boleh tau, rumah makan mana yang baru buka malam-malam begini ya?" tanya Seruni penasaran. Bukan apa-apa. Dia ini mata ayam. Artinya di atas jam sembilan malam, matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Kalau ia ikut bekerja sebagai pelayan bersama mereka, takutnya matanya tidak mau bekerjasama alias mengantuk. Mendengar pertanyaannya rekan-rekan Mayang yang lain saling berpandangan.

"Si Mayang nggak ngasih tau lo, apa kerjaan dia dan kami semua di sini?" Kali ini Nella yang bersuara. Nella juga melirik Mayang saat mengajukan pertanyaannya. Hanya saja Mayang tidak bergeming. Ia tetap diam seribu bahasa.

"Sudah, Mbak, eh Nella. Kata Mbak Mayang, ia bekerja sebagai pelayan. Iya kan, Mbak?" Seruni menolehkan kepala pada Mayang. Lagi-lagi Mayang hanya diam. Ia seolah-olah tidak mendengar pertanyaannya.

"Iya, kami semua memang pelayan. Tapi bukan pelayan rumah makan biasa, Uni. Kami semua ini pelayan club malam. Sebutan sopannya sih waitrees. Tugas kami bukan hanya mengenyangkan perut pelanggan saja. Tapi juga mengenyangkan bagian bawah perut pelanggan."

Astaghfirullahaladzim!

"Apa si Mayang--"

"Cukup, Nell! Sisanya biar gue aja yang ngejelasin," sergah Mayang. "Sebaiknya lo-lo semua cepetan ke club kalau nggak mau terlambat. Sebentar lagi kan udah pergantian shift." Sergahan Mayang hanya mendapat kedikan bahu dari Nella. Rekan yang lainnya hanya melirik acuh. Sepertinya mereka sudah terbiasa melihat keributan kecil seperti ini. Sepuluh menit kemudian ruang tamu telah sepi. Ke lima rekan-rekan kerja Mayang telah pergi.

"Baiklah, Uni. Sekarang saatnya Mbak akan menjelaskan tentang pekerjaan Mbak yang sesungguhnya." Mayang menyerongkan tubuhnya. Duduk menghadap sedekat mungkin dengan Seruni.

"Uni, seperti yang dikatakan Nella tadi, Mbak ini bekerja sebagai seorang waitress club malam. Selain itu Mbak juga seorang call girls alias wanita panggilan,"

Hening. Seruni kehilangan kata-kata. Ia terlalu terkejut untuk sekedar bertanya mengapa.

"Mbak dan teman-teman Mbak tadi bisa dipakai oleh para pengunjung club atau siapa pun juga, asal harganya cocok."

"Uni malah sulit percaya, Mbak. Karena penampilan Mbak tidak sedikit pun menunjukkan kalau Mbak adalah seorang maaf, pramuria." Seruni akhirnya bisa bersuara juga. Mayang tersenyum miris. Seruni ini masih polos dalam arti yang sebenarnya. Ia belum tau tentang kenyataan kerasnya hidup di luar sana.

"Inilah mengapa tadi Mbak sempat ragu membawa kamu ke sini. Kamu itu terlalu naif, Uni. Ketahuilah, tidak ada standard baku dalam mendefinisikan pakaian seorang pramuria. Pramuria itu berpakaian dalam rangka menarik pembeli. Jadi pakaiannya ya ditentukan oleh selera pembeli. Jangankan pakaian, cara kami bersikap pun sebenarnya ditentukan oleh pelanggan kami. Kami ini penjual jasa. Jasa kami adalah memuaskan pelanggan. Jadi, pakaian kami juga disesuaikan dengan selera pelanggan." Keterangan Mayang membuat Seruni termangu. Begitu banyak hal yang tidak ia tau.

"Besok malam Mbak akan dibooking oleh seorang pengusaha papan atas negeri ini. Nanti kamu lihat sendiri kalau Mbak akan menjelma menjadi seorang executive muda yang canggih. Dan besoknya lagi Mbak juga sudah dibooking untuk mengentertaint tamu-tamu club dari luar negeri. Jadi lusa kamu jangan kaget ya kalau Mbak akan berdandan menor dan hanya memakai pakaian dalam saja?" lanjut Mayang lagi. Seruni memandang Mayang dengan tatapan nanar. Kalau tidak mendengar dari mulut Mayang sendiri, ia pasti tidak akan percaya kalau kehidupan Mayang ternyata sebobrok ini.

"Mengapa Mbak tidak mau mencari pekerjaan yang halal? Mbak 'kan tau kalau menjual diri itu dosa besar?" Mayang tertawa tanpa merasa lucu.

"Uni... Uni... Di kota besar ini mencari pekerjaan haram saja susah, apalagi pekerjaan halal. Mbak pernah kok jadi kasir supermaket, pramuniaga di mall sampai jadi babu cuci gosok. Pokoknya uangnya halallah. Tapi uang segitu nggak cukup buat Mbak makan apalagi untuk dikirim ke kampung. Makanya Mbak memilih jalan pintas ini."

"Tapi kan--"

"Sudah Uni, Mbak capek. Kamu juga capek 'kan? Sebaiknya kita membersihkan diri dan beristirahat yang cukup malam ini. Karena besok pagi kamu sudah akan bekerja di restaurant Mexico kepunyaan pelanggan, Mbak. Jangan khawatir, kamu akan menjadi waitress sungguhan di sana. Mbak tidak mungkin menyeret kamu ke kehidupan Mbak yang penuh dosa. Kamu akan bekerja yang halal sesuai keinginmu. Ayo sekarang kita masuk ke kamar dulu. Mandi dan kemudian beristirahat." Dalam diam Seruni mengekori langkah Mayang menuju ke lantai dua. Ia tidak tau keputusannya mengikuti Mayang sampai ke ibukota ini salah atau benar. Yang ia tau hanyalah, ia harus bekerja keras agar bisa bertahan hidup di kota besar ini. Tapi dengan cara yang halal pastinya. Insya Allah.

***

Sudah tiga hari Seruni bekerja sebagai waitress di Basque Bar The Tapa*. Sebuah restaurant Spanyol milik pelanggan Mbak Mayang. Dan selama tiga hari ini juga ia bekerja keras. Menghapal menu-menu seraya melemaskan lidah agar bisa menyebutkan nama-nama menu dengan benar. Lidahnya nyaris terpelintir-pelintir saat harus menyebutkan kata pulpo basque style, spiced steak with cherry tomato salsa,

black rice paella hingga spanish tortilla dan lain-lain.

"Meja 14, chicken quesadilla,

Squid ink risotto dan caramel tea, done!" Suara deringan bell dan teriakan chef membuat Seruni menggegaskan langkah. Tamu-tamu di sore ini memang membeludak. Maklum saja, hari sabtu memang waktunya hang out dengan pasangan atau hanya sekedar makan-makan dengan teman-teman.

Demi menghemat waktu, Seruni mengangkat dua menu makanan dan satu minuman sekaligus dalam satu baki. Saat ia hampir sampai ke meja 14, seseorang menyenggol bakinya. Benturan pun tidak dapat dihindari. Seruni terjatuh bersama dengan baki yang diusungnya. Nyaringnya suara pinggan-pinggan yang pecah membuat kepala tamu-tamu menoleh kearahnya.

"Mata kamu ke mana, hah? Lain kali kalau jalan, mata kamu itu di pakai. Bukan cuma dijadikan hiasan. Mengerti?!" Seruni kaget saat menyadari kalau orang yang menabraknya ketumpahan makanan. Jas abu-abu mahal sang penabrak telah belepotan dengan bumbu chicken quesadilla dan

Squid ink risotto. Seruni pada dasarnya bukanlah orang yang suka ribut-ribut. Hanya saja si penabrak ini keterlaluan. Sudah ia yang menabrak, alih-alih meminta maaf, ini malah memaki-makinya.

"Setahu saya, kalau berjalan itu menggunakan kaki. Bukan mata. Mata itu gunanya untuk melihat. Dan saya sudah memaksimalkan mata saya yang sempurna ini untuk melihat, walaupun kaki saya tidak," sahut Seruni sambil menahan sakit. Posisi jatuhnya bersimpuh dengan kaki kanan tertekuk. Syaraf kaki kanannya yang pendek sebelah, seperti tertarik hingga ke pinggul. Nyerinya luar biasa. Air matanya mengalir tanpa bisa ia tahan.

Jadi yang harusnya memasang mata dengan benar itu, Anda!

Tapi mana mungkin ia berani menyuarakan isi batinnya. Setiap briefing pagi, managernya selalu menekankan kata tamu adalah raja. Titik. Seruni mengusap air mata dengan cepat. Sesegera itu pula ia mengumpulkan pinggan-pinggan yang pecah ke dalam baki. Saat hendak berdiri, kaki kanannya menolak bekerjasama. Seruni tidak bisa meluruskan kakinya.

Jangan memperlihatkan kelemahanmu, Uni. Ingat, jangan menjadikan ketidaksempurnaanmu sebagai sumber belas kasihan. Di mana harga dirimu, Uni?

Dengan sisa-sisa kekuatan terakhir, Seruni menyeret kaki kanannya. Berusaha berdiri sendiri tanpa meminta pertolongan. Hanya saja berdirinya tidak sempurna. Selain timpang, tubuhnya juga sedikit bergoyang-goyang karena tidak seimbang. Pandangan si penabrak semakin meremehkan saat melihat keadaannya yang sesungguhnya.

"Kamu masih saja mengelak setelah mengotori pakaian saya. Orang cacat seperti kamu ini sebaiknya di rumah saja. Bekerja hanya akan membuat orang lain celaka!" bentak si penabrak lagi.

"Kaki saya mungkin tidak sesempurna, Tuan. Tapi insya Allah masih bisa saya gunakan untuk mencari nafkah yang halal. Kalau hanya di rumah, bagaimana saya bi--bisa makan, Tuan?" tukas Seruni tergagap. Mata beningnya mulai berkaca-kaca saat sang penabrak menyinggung kecacatannya. Ia memang sensitif saat ketidaksempurnaannya dijadikan bahan ejekan.

Antonio Brata Kesuma, pewaris tunggal Brata Kesuma Group, seperti tersihir saat butiran bening mengalir di pipi pucat sang waitress cacat. Entah mengapa ada rasa tidak nyaman kala ia melihat sang waitress cacat namun sombong ini sampai menangis. Sebenarnya ia tidak berniat menghina waitrees cacat ini. Hanya saja kesombongannya membuatnya naik darah. Apa salahnya si waitrees cacat ini mengucap maaf bukan? Ini boro-boro mengucap maaf, ia malah dengan berani membalikkan semua kalimatnya. Pakai acara menyindir lagi. Bagaimana ia tidak naik darah bukan? Selama ini tidak pernah ada orang kebanyakan yang berani membantah kata-katanya. Ini si waitrees sombong bahkan berani menyerangnya di muka umum. Makanya ia sengaja mengeluarkan kalimat tidak manusiawi untuk membalas kekurangajarannya.

"Ada apa ini?" Antonio melihat Pak Sofyan, manager restaurant menghampiri. Ia mengenal Pak Sofyan dan hampir sebagian besar pegawai di resraurant ini. Miguel Santos, pemilik resraurant ini adalah teman baiknya.

"Seruni, kamu masih dalam masa trainning dan baru tiga hari bekerja. Tapi kamu sudah membuat kekacauan di sini. Kamu tau siapa Pak Antonio ini? Beliau adalah teman baik Senor Miguel." Pak Sofyan menggelengkan kepala setelah Seruni menceritakan kejadian yang sesungguhnya.

"Apa boleh buat, karena kamu telah membuat Pak Antonio kecewa, sebaiknya kamu segera angkat kaki dari sini. Kamu saya pecat!" Seruni terpaku. Ia membutuhkan pekerjaan ini. Ia tidak bisa menumpang terlalu lama di mess Mayang. Ia takut kalau boss Mayang tahu bahwa ada orang luar yang menumpang tinggal di mess staffnya. Makanya ia harus bekerja keras agar bisa mencari tempat kost. Kalau ia dipecat, bagaimana semua rencananya akan terwujud bukan? Seruni kebingungan. Satu-satunya cara adalah ia harus meminta maaf pada orang yang dipanggil Antonio ini.

"Tuan, jikalau menurut Tuan saya salah, maafkan saya. Saya bersedia untuk mencuci sampai bersih pakaian Tuan, karena kalau menggantinya dengan yang baru, saya tidak mampu. Tolong maafkan saya, Tuan," pinta Seruni dengan air mata yang menitik perlahan. Tangis tanpa suara Seruni membuat Antonio membuka jas dan melemparkannya tepat pada wajah Seruni.

"Ini. Cuci sebersih sedia kala dengan kedua tanganmu sendiri. Ingat kalau sampai rusak, kamu harus menggantinya dengan mungkin lima tahun gajimu!" Seruni buru-buru memindahkan jas Antonio yang menutupi wajahnya ke bahu. Ia takut kalau jas Antonio terkena noda lagi karena ia sedang memegang baki.

"Baik, Tuan," sahut Seruni dengan suara tertahan. Harga dirinya sudah berada di ujung tanduk sekarang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia harus memohon-mohon pada seseorang. Dadanya sesak oleh kesedihan yang tak terlampiaskan.

"Oh ya, di mana saya bisa mengambil kembali jas saya setelah kamu cuci nanti? Berikan saya alamat rumahmu. Takutnya nanti jas saya malah kamu jual lagi."

"Saya tinggal di mess Astronomix Girls di jalan--"

"Apa? Jadi kamu ayam jadi-jadiannya Astronomix?"

"Hah ayam jadi-jadian? Maksud Bapak apa?" Seruni bingung. Masa ia disamakan dengan ayam? Apa maksud ucapan dari tuan kaya raya ini?

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikahi Paman dari Tunanganku
8.8
Setelah mengetahui kebenaran pahit di kehidupan sebelumnya bahwa Samuel mengabaikannya demi mencintai adiknya sendiri, sang protagonis menolak melanjutkan kebodohan tersebut. Dalam kesempatan hidup kedua ini, ia menolak pernikahan politik dengan Samuel. Sebagai gantinya, ia memilih Jeffrey Gusmawan, paman Samuel sekaligus penguasa tertinggi di keluarga mereka. Keputusan mengejutkan ini tidak hanya membalikkan keadaan, tetapi juga membuat Samuel kehilangan akal sehatnya di hari pernikahan.
Sampul Novel Balas Dendam Sang CEO
8.8
Dulu dicampakkan karena miskin, Adnan kini kembali sebagai pria kaya setelah sepuluh tahun berlalu. Ia bertekad membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan kekasih yang dulu memilih pergi demi lelaki kaya. Namun, Adnan terkejut saat mengetahui wanita itu kini justru menjadi wanita panggilan demi bertahan hidup. Di balik kondisi tragis sang mantan, rahasia apa yang sebenarnya tersimpan? Akankah Adnan tetap tega melanjutkan rencana balas dendamnya?
Sampul Novel Dia memilih mantannya, aku memilih balas dendam
8.7
Baskara Aditama tega mempermalukanku di hari pernikahan kami. Dia menuduhku milik kakaknya demi bisa kembali pada Saskia, mantan kekasihnya. Baskara bahkan sengaja menunda kesembuhan Saskia demi bersenang-senang, yakin aku akan terus menunggunya. Namun, dia keliru. Aku tidak sudi dijadikan pilihan saat dia ingin memiliki kami berdua. Demi membalas dendam dan menghancurkan Baskara, aku mendekati Dananjaya Aditama, sang penguasa tertinggi keluarga mereka, lalu memintanya untuk menikahiku.
Sampul Novel Kirana, Cinta Sejatiku
9.1
Pernikahan tanpa cinta membuat Sendra Wijayanto merasa hampa hingga menganggap hubungan intim dengan istrinya sebagai rutinitas belaka. Saat cinta sejatinya, Kirana Larasati, kembali dari luar negeri, keduanya langsung menjalin hubungan gelap. Menghadapi sikap sombong Kirana yang menuntutnya mundur, sang istri tidak tinggal diam. Ia justru melemparkan surat cerai dengan dingin dan menantang Kirana untuk membuat Sendra menandatanganinya, menolak untuk kalah dalam perebutan harga diri ini.
Sampul Novel MENGASUH TUAN MUDA
8.7
Emerald bernasib malang setelah tak sengaja memecahkan guci antik bernilai fantastis milik Edmund Bryan, miliarder tampan berkarisma. Akibat insiden itu, ia menanggung utang sebesar $500.000. Demi melunasinya, Emerald terpaksa bekerja sebagai pelayan pribadi bagi pria sombong tersebut. Di tengah kerasnya tuntutan pekerjaan dan sikap angkuh sang tuan muda, Emerald perlahan mulai menemukan berbagai rahasia terdalam yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Edmund.
Sampul Novel Misi Rahasia sang Pewaris
9.3
Demi menyelidiki perusahaannya dari dalam, Zara yang merupakan pewaris takhta bisnis memilih menyamar sebagai karyawan biasa. Di tempat kerja, ia harus berhadapan dengan Arman, sosok manajer dingin yang penuh ambisi. Konflik meruncing ketika Zara mendeteksi ancaman internal yang membahayakan masa depan bisnis keluarganya. Di tengah situasi genting ini, ia dihadapkan pada pilihan sulit: membongkar identitas aslinya demi menyelamatkan aset berharga atau tetap bertahan dalam penyamarannya.