APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel BLIND HEART

BLIND HEART

Demi membiayai wisuda dan meringankan beban sang ayah, Silvana mengambil pekerjaan tak biasa. Mahasiswi akhir ini harus mengasuh Max Elgort, miliarder tunanetra yang terkenal sangat pemarah. Meski kerap menghadapi sikap kasar Max, Silvana justru mulai jatuh hati. Sayangnya, Max masih terjebak kenangan mendiang kekasihnya yang tewas dalam kecelakaan penyebab kebutaannya. Sanggupkah Silvana bertahan di tengah kesetiaan Max pada janji masa lalu?
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab III

Sore ini, aku kembali datang ke rumah besar itu setelah mengurus beberapa hal di kampus mengenai skripsiku, ada sebagian dosen yang belum aku temui untuk melancarkan kelulusanku.

Sebuah keributan terdengar saat aku hampir mencapai pintu utama, terlihat seorang wanita cantik bak bintang film sedang mengamuk di hadapan beberapa pelayan yang berbaris kaku.

"Beritahu aku, di mana calon suamiku!" hardik wanita itu geram.

Aku terdiam di belakang wanita itu, bingung harus melakukan apa, ingin segera masuk tapi sialnya harus melewatinya yang sedang mengamuk.

"Aku akan adukan kalian semua pada Max," desisnya tajam.

Setelahnya ia berbalik, dan seketika menyipit tajam saat melihatku. Sungguh, tatapannya lebih mengerikan dari seorang ibu tiri.

"Siapa kamu?" tanyanya ketus, dengan mata meneleti penampilanku dari ujung kepala hingga kaki.

"Saya ... saya ...." Entah kenapa aku merasa bingung harus mendefinisikan pekerjaanku sendiri.

"Nona Silavana pelayan baru di sini, Nona," ucap salah satu wanita berseragam yang sudah cukup tua, kurasa ia adalah kepala pelayan di sini.

"Pelayan?" Wanita dengan rambut tergerai panjang hingga pinggang dengan gelombang indah itu menyipit tajam.

"Sejak kapan? Dan kenapa dia tidak memakai seragam pembantu seperti kalian?" tanyanya congkak.

"Karena Nona Silvana adalah pelayan pribadi Tuan Max, Nona," jawab wanita tua itu lagi.

"Nona? Kau memanggilnya Nona? Dia cuma pembantu!" bentak wanita itu marah.

Aku mengerutkan dahi, benar juga kata wanita itu. Aku bahkan tak menyadari hal itu, karena panggilan seseorang tak terlalu penting bagiku selama itu masih sopan. Tapi, yang aku herankan, kenapa wanita itu yang harus marah?

"Dengar, akulah yang akan menjadi Nyonya di rumah ini, jadi jangan berani-beraninya kalian membantah perintahku!" hardiknya kasar.

Tak ada jawaban dari para pelayan itu, aku benar-benar tak mengerti siapa sebenarnya wanita ini. Tadi dia bilang Tuan Max adalah calon suaminya, Benarkah bayi besar itu akan menikah dengan wanita sekasar ini? Ah, kurasa mereka memang cocok.

"Sudah berkali-kali kukatakan, jangan membuat keributan di rumahku, Serena!" Suara dingin itu berasal dari belakangku, spontan aku menoleh, dan mendapati pria bertubuh tegap itu sedang berdiri dengan wajah datar.

"Hai, Max, mereka menghalangiku untuk menemuimu," rajuk wanita bernama Serena itu manja, berbeda jauh dengan intonasinya saat berbicara dengan para pelayan tadi.

Serena berjalan mendekati pria itu, lalu melingkarkan kedua tangan di lengan kekar Tuan Max. "Aku rindu padamu," rengeknya, membuatku mengernyit jijik.

"Usir jalang ini, Jo!" titahnya dingin seraya menghempaskan tubuh yang bergelayut manja di lengannya hingga jatuh tersungkur.

Setelahnya, pria itu berjalan tanpa menghiraukan jeritan histeris Serena yang diseret paksa oleh dua laki-laki berbadan besar sesuai intruksi Jo.

"Aku menggajimu bukan untuk menonton di sana. Siapkan air hangat untuk mandiku!" Bentakan keras Max membuatku berjengit kaget, semua pelayan menunduk dengan mulut tertutup rapat. Dia sedang marah padaku?

"Ba ... baik, Tuan." Aku segera berjalan mengikutinya. Dengan langkah pasti, Max berjalan menaiki tangga tanpa merasa kesulitan. Aku heran, dia gesit sekali seolah mempunyai mata sehat sempurna, tanpa tongkat ataupun meraba-raba.

Aku menyiapkan segala keperluan mandi pria pemarah itu, menyiapkan air hangat, sabun serta sampo sesuai instruksinya.

"Sudah siap, Tuan, silahkan," ucapku sesopan mungkin.

Tuan Max tak menjawab dan langsung berjalan melewatiku, memasuki kamar mandi tanpa ekspresi.

Tak kuhiraukan wajah seram bak hantu pohon jeruk itu, aku lebih memilih menyiapkan pakaian ganti untuknya, lalu bergegas turun ke dapur untuk mengambil makan malam Tuan kesayangan umat di rumah ini.

"Nona Silvana ingin menyiapkan makanan untuk Tuan Max?" tanya salah seorang pelayan.

"Ya, ngomong-ngomong jangan panggil Nona, panggil Silva saja," ucapku tersenyum tipis.

Pelayan wanita itu mengerutkan dahi, lalu menggeleng samar. "Nona jangan memusingkan ucapan Nona Serena, Tuan Max sendiri yang memerintahkan kami memanggil Nona Silva seperti itu."

Tuan Max? Apa tujuan pria itu sebenarnya?

"Makan malam Tuan Max sudah siap, Nona." Suara wanita itu mengalihkan fokusku.

Aku melirik sup ayam bening dengan tambahan kentang dan wortel bertabur bawang goreng yang masih mengepulkan uap panas.

"Tidak pakai nasi?" tanyaku mengerutkan dahi.

Pelayan itu menatapku sejenak, sebelum tersenyum kecil. "Tuan Max tidak menyukai nasi," ucapnya.

Aku membulatkan bibir tanda mengerti, lalu segera membawa nampan itu menuju lantai dimana kamar Tuan Max berada. Dia tidak suka nasi, aku malah tak bisa hidup tanpa nasi.

Kudorong pintu perlahan saat memasuki kamarnya, dan aku terkesiap mendapati bayi besar ini berdiri berkacak pinggang dengan mata menyorot tajam. Ah, jika orang yang tidak tahu, pasti tak akan menyangka pria ini memiliki kekurangan.

"Makanan anda, Tuan," ucapku seraya meletakkan baki di atas nakas.

"Siapa yang menyuruhmu meninggalkanku tanpa izin?" semburnya marah, aku sampai berjengit kaget dibuatnya.

"Tapi, Tuan, saya sedang menyiapkan makan malam anda, bukan pergi tanpa pamit seperti dugaan Tuan." Cepat kuberi alasan, agar ia tak semakin murka.

Tapi nyatanya percuma, aku tersentak saat tangan kekar itu menarik kasar lenganku. Hei, darimana dia tahu posisiku?

"Tetap saja, aku tak suka mencarimu seperti orang bodoh," desisnya tajam, tepat di sebelah telingaku.

Kucoba untuk melepaskan cengkramannya, tapi pria itu tak bergeming dan malah semakin mengapit tubuhku.

"Sekali lagi kuperingatkan! Jangan pergi tanpa seizinku! Apa kau paham?" geramnya.

Aku mengangguk pasrah, sumpah mati kukatan, raut pria ini lebih mengerikan dari singa lapar yang mengincar mangsanya.

"Saya tak akan meninggalkan anda tanpa pamit, Tuan," ucapku akhirnya.

Pria itu mendengus kasar, melepas tubuhku hingga terhuyung ke belakang. "Cepat pakaikan celanaku!" titahnya datar. Tangan pria itu tiba-tiba melepas lilitan handuk putih yang menggantung seadanya di pinggang.

Aku terpekik dan spontan menutup mata. Sungguh, aku tak ingin mataku jadi ternoda, meski noda yang begitu menggoda. Aish, berpikir apa aku ini.

"Apa yang kau lakukan? Cepat kerjakan tugasmu!" hardiknya garang.

Dengan takut-takut kurenggangkan jari tangan yang menutup mataku dari pandangan terlarang, seketika aku menghembuskan napas lega saat tahu bahwa Tuan Max mengenakan segitiga pengaman, tak seperti dugaanku sebelumnya. Ah, kenapa ada sekelebat rasa kecewa? Dasar otak mesum sialan!

Aku berjalan mendekat, meminta Tuan Max duduk dipinggir ranjang agar memudahkanku memasangkan celana pendek untuknya.

"Tuan, bisakah anda mengaitkannya sendiri?" tanyaku ragu-ragu. Sungguh, aku hanya ingin menghindari sentuhan terlarang yang akan membuat benakku terbayang-bayang.

Pria tampan dengan rahang tegas menggoda itu berdecak kasar, lalu kedua tangannya berusaha mencari pengait celana dan berusaha menyatukannya. Saat selesai, aku menegakkan tubuh, mengambil nampan berisi sup dan berniat menyuapi sang bayi besar.

Namun, aku terkejut ketika tiba-tiba ia merampasnya dari tanganku, hingga kuah sup sedikit tumpah, dengan wajah super masam dia berkata, "Biar aku saja! Kau pikir aku laki-laki lemah yang tak bisa berbuat apa-apa?" dengusnya marah.

Oh, Tuhan, suara bersungut-sungutnya itu, apakah ia sedang merajuk?

*****

TBC

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Istri Tanpa Suami
7.9
Aminarsih, gadis yatim piatu, dinikahi seorang CEO kaya hanya sebagai penangkal nasib buruk. Pria itu selalu kehilangan istrinya yang tewas misterius dua hari setelah menikah. Bukannya hidup layak, Aminarsih justru disembunyikan di rumah kosong yang menyeramkan. Demi bertahan hidup di tempat terasing itu, ia terpaksa berteman dengan alam sekitar. Hanya pohon apel, tikus, kecoa, dan semut yang menemaninya setiap hari, hingga ia menganggap makhluk-makhluk tersebut sebagai keluarganya sendiri.
Sampul Novel Jerat Cinta Sang CEO
8.9
Pasca diusir oleh sang ayah, Emma Karina terpaksa menyepakati pernikahan kontrak dengan Ethan Marvino, seorang CEO yang menguasai bisnis di Bali. Hidup Emma pun berubah di bawah pengawasan ketat sang suami yang sangat protektif. Namun, pernikahan mereka yang penuh batasan mulai goyah ketika Emma tanpa sengaja membongkar rahasia besar yang selama ini disimpan rapat oleh Ethan. Kini, kelangsungan hubungan mereka berada di ujung tanduk setelah kebenaran terungkap.
Sampul Novel Kekayaan Setelah Pengkhianatan
7.9
Dikhianati sang kekasih di usia 20 tahun membuat emosi Tristan hancur. Namun, takdirnya berubah saat tetesan darahnya mengaktifkan detektor garis keturunan kuno pada cincin miliknya yang sempat mati. Rahasia besar itu terungkap, mengubah status Tristan dari mahasiswa miskin menjadi miliarder penguasa bisnis global. Kini, sebagai pemuda terkaya di dunia, ia siap menghadapi orang-orang yang dulu menghina dan mengkhianatinya saat mereka datang bersujud memohon ampun.
Sampul Novel Keturunan Rahasia
8.5
Akibat intrik licik sang paman, Rajendra Antariksa melakukan kesalahan fatal pada Amara Lucia Haidar. Sepuluh tahun berlalu dalam penyesalan, pewaris Antariksa Group ini terkejut saat tahu Amara mengalami trauma berat dan telah melahirkan putra mereka secara rahasia. Berniat menebus dosanya di masa lalu, langkah Rajendra justru menemui jalan buntu. Ia harus menghadapi penolakan luar biasa dari Amara, orang tuanya, hingga darah dagingnya sendiri.
Sampul Novel Kirana, Cinta Sejatiku
9.1
Pernikahan tanpa cinta membuat Sendra Wijayanto merasa hampa hingga menganggap hubungan intim dengan istrinya sebagai rutinitas belaka. Saat cinta sejatinya, Kirana Larasati, kembali dari luar negeri, keduanya langsung menjalin hubungan gelap. Menghadapi sikap sombong Kirana yang menuntutnya mundur, sang istri tidak tinggal diam. Ia justru melemparkan surat cerai dengan dingin dan menantang Kirana untuk membuat Sendra menandatanganinya, menolak untuk kalah dalam perebutan harga diri ini.
Sampul Novel Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin
9.2
Clayden Ardhanesa, dahulu dikenal sebagai Bradford, rela melepas kejayaannya di puncak dunia demi menikahi wanita yang dicintai. Ia memilih melindungi sang istri dari balik layar hingga wanita itu sukses. Namun setelah berhasil, sang istri justru menganggap Clayden tidak berguna dan meminta cerai. Saat nama Clayden kembali bergema di panggung dunia, sang mantan hanya bisa bersimpuh menyesali keputusannya sambil menangis tanpa henti.