APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bersinar Setelah Menjanda

Bersinar Setelah Menjanda

Amira sempat dipandang sebelah mata oleh Irfan yang mengira mantan istrinya itu tak akan mampu bertahan sendirian. Namun keadaan kini berbalik total. Saat Amira berhasil membuktikan kemandiriannya hingga meraih puncak kesuksesan, hidup Irfan justru hancur berantakan. Di tengah penyesalannya, Irfan datang lagi berusaha mendekati dan memikat Amira kembali. Apakah Amira akan luluh pada rayuan masa lalu, atau membiarkan sang mantan suami meratapi nasibnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Kipas angin tergelatak di lantai, dan terlihat ada dua kaki yang bergerak. Mira segera menghampiri lalu mengambil kipas yang ternyata menimpa tubuh mungil Celin.

"Ya Allah, Celin, kenapa bisa begini. Apa yang sudah kamu lakuin, Nak."

Seperti inilah ada saja tingkah Celin yang selalu membuat Mira was-was dan tak bisa meninggalkannya dengan tenang. Entah apa yang di lakukan putrinya sehingga kipas yang berdiri di samping televisi itu bisa ambruk menghantam tubuh Celin.

Mira menggendong Celin dan membawanya ke dalam kamar, ia baringkan tubuh mungil itu di atas ranjang. Mira membiarkan Celin menangis kejer, walau tak tega ia harus segera mencari baju ganti dan memakai daster yang tak ribet.

"Mira, kenapa Celin nangis nggak diam-diam sih. Pasti habis jatuh lagi kan, kamu ngurus satu anak saja enggak becus selalu saja jatuh dan jatuh terus!!" omel bu Fatma. Ia nyelonong masuk begitu saja ke dalam kamar Mira, dan untungnya Mira sudah selesai memakai baju.

"Maaf 'Bu, tadi aku mandi sebentar, Celin malah jatuh tertimpa kipas angin," balas Mira segera menggendong Celin.

"Astaga jam segini kamu baru mandi. Sudah berapa kali Ibu bilang sama kamu kalau magrib-mangrib itu jangan mandi apalagi ninggalin anak sendiri, PAMALI. Bebal banget kamu di bilangin, kalau sudah begini susah sendiri kan, lalu di mana Irfan enggak mungkin kan dia belum pulang?" ujar Bu Fatma dengan nada tinggi. Wanita paruh baya itu selalu merasa benar dengan apa yang di ucapnya, ia merasa geram saat sang menantu tak pernah mendengar perintahnya.

"Habis pulang kerja bang Irfan keluar lagi, 'Bu," balas Mira dengan datar. Di dalam kamar yang tak begitu luas ia sibuk menenangkan Celin agar tangisnya segera mereda.

"Ya jelas dia pergi lagi, di rumah pasti dia bosan karena kamu tidak bisa memanjakannya. Makanya jadi istri itu yang pinter memanjakan suami biar suami betah di rumah dan enggak suka jajan di luar. Sebelum Irfan pulang kerja harusnya kamu tuh udah mandi, dandan yang cantik untuk menyambut suami pulang. Jadi suami tuh seneng lihat pemandangan yang segar bukan yang kucel dekil kayak kamu!" ucap Bu Fatma. Ia melenggang pergi begitu saja dan justru membela putranya tanpa mau membantu Mira menenangkan cucunya.

Hati Mira terasa perih dengan semua hinaan itu namun ia tak bisa berbuat apa-apa selain diam pasrah dan menerima.

**

Keesokan paginya saat Irfan belum bangun, dengan ragu Mira membangunkannya untuk meminta uang. Ia harus segera membeli gas agar bisa memasak, segala ocehan yang akan keluar dari bibir Irfan sudah siap Mira terima.

"Bang, minta uang buat beli gas," ujar Mira.

"Hmm, perasaan beli gas baru satu minggu yang lalu masa udah habis. Memangnya kamu masak apa sih kok boros banget, kalau masak itu jangan boros-boros biar gasnya enggak cepat habis." Dengan suara serak khas bangun tidur Irfan mengomel panjang lebar padahal pertanyaan sang istri sangat singkat.

"Nih, jangan lupa kembaliannya dibalikin. Jangan korupsi," ujar Irfan. Ia menyodorkan uang pecahan lima puluh ribu yang diambilnya dari dompet yang berada di atas nakas samping ranjang.

Mira segera mengambilnya dan berlalu menuju ke warung. Dalam perjalanan ia terus menggerutu, "Bagaimana bisa lelaki itu mengatakan bahwa beli gas baru seminggu padahal beli gas sudah dua minggu yang lalu. Terus gas disuruh menghemat bagaimana bisa coba!"

Kebutuhan rumah seperti gas, galon, token listrik, peralatan mandi, semua sudah di tanggung oleh Irfan. Mira hanya diberi nafkah lima belas ribu sehari untuk kebutuhan dapur, Irfan sama sekali tak mau tahu bagaimana saat bumbu-bumbu lainnya sedang habis.

Terlalu berbakti, setelah membeli gas isi ulang Mira segera pulang tanpa ingin membeli yang lainnya.

"Mana kembaliannya?" tanya Irfan. Ia duduk di teras saat melihat sang istri sudah kembali dari warung langsung menanyakan uang sisa. Saat itu juga Mira segera memberikan kembaliannya.

"Heh kamu jangan coba-coba korupsi ya, Dek. Gas itu harganya dua puluh lima ribu harusnya kembaliannya dua puluh lima ribu juga. Kamu korupsi lima ribu ya cepet kembalikan yang lima ribu," pinta Irfan dengan tatapan marah.

"Harga gas naik, Bang, jadi tiga puluh ribu," balas Mira kesal.

Irfan menuduh sang istri korupsi lima ribu, segitu perhitungannya kah dia.

"Kamu jangan coba-coba bohongi aku, Dek, aku enggak percaya," ujar Irfan. Ia memeriksa semua saku daster Mira, bahkan sampai tega membukanya di depan rumah. Ia berpikir istrinya menyembunyikan di dalam ke**luan.

Beruntung saat Irfan membuka pakaian Mira tak ada orang yang lewat, andai saja ada seseorang yang melihat tindakan Irfan, Mira akan merasa sangat malu.

"Stop, Bang! Ini di depan rumah kalau ada orang yang lewat bagaimana, bisa-bisanya Abang membuka aurat istri sendiri di luar," decap Mira dengan marah juga.

Mira yang menahan kesal segera meninggalkan Irfan sendiri, ia harus segera masak membuat sarapan sebelum putrinya terbangun.

"Jangan lupa kopinya, Dek," teriak Irfan yang masih bisa Mira dengar.

Mira tak menjawab, tanpa Irfan meminta pun ia sudah hapal dengan kebiasaan sang suami. Kopi sudah siap dan sarapan sudah matang Mira segera sarapan terlebih dahulu karena dari kemarin ia belum sempat makan.

Sehabis sarapan Mira merasakan badannya yang terasa pegal serta kepala pusing akibat kurang tidur membuat ia memutuskan untuk berjemur terlebih dahalu.

Semalam Celin demam dan menangis terus, walau sudah diberi obat parasetamol tetapi demamnya tak kunjung mereda membuat Mira begadang. Irfan baru pulang sekitar jam dua, sesampai di rumah dirinya pun langsung tertidur tanpa mau tahu betapa lelahnya Mira. Celin baru tidur sekitar jam empat membuat kepalanya terasa cenat-cenut.

"Maafin Bunda ya, Sayang. Kamu pasti kelaparan dan capek, semoga dengan hadirmu Ayah bisa berubah sayang dengan kita," gumam Mira sembari meraba-raba perutnya yang mulai buncit.

Ya, selain mempunyai balita ia juga tengah mengandung buah hati mereka yang kedua. Usia kandungan Mira empat bulan jalan lima bulan. Itulah yang membuat dirinya cepat lelah dan merasa pusing.

"Enak sekali ya, pagi-pagi sudah nyantai aja!"

Mira sudah hapal dengan suara itu, ia memilih untuk tak meladeni dan tetap menatap sinar matahari yang masih malu-malu menampakkan sinarnya.

Putri, Kakak Irfan itu merasa kesal karena diabaikan adik iparnya. Mereka tinggal satu desa namun berbeda Rt. Wanita berambut sebahu dan dandanan yang sedikit menor menatap benci ke arah Mira. Ia tak suka melihat Amira sedikit bersantai, ia akan merasa puas kalau Amira menderita dan tersiksa.

"Tuan putri jam segini ya sudah nyantai, rumah kayak kandang ya dibiarin aja. Kasihan sekali adikku punya istri tak tahu diri, bisanya cuma tiduran dan bermalas-malasan. Minta dilempar ke laut aja istri macam begitu," ucap Putri lagi dengan tangan bersedakap di dada serta wajah yang nampak angkuh.

Mira membuka mata dan menatap Putri yang tersenyum meremehkan. Kedua wanita itu memang tak pernah akur sejak pertama kali bertemu.

"Nggak usah nyindir-nyindir deh, Mbak, aku udah bangun dari sebelum subuh dan beres-beres rumah waktu semua orang masih tertidur. Selama ini aku selalu diam saja saat dihina dan ditindas namun mulai sekarang aku akan membalas perbuatan kalian, aku tidak sudi kalian injak-injak terus!" balas Mira dengan tegas dan tatapan yang tajam.

Amira berusaha mengumpulkan keberanian untuk membalas cacian sang kakak ipar meski baginya itu tidak mudah.

"Aku yakin, pasti bisa melawan mereka. Selama ini aku diam bukan berarti takut, tetapi aku menghormati mereka. Namun justru mereka menginjak-injak diriku seperti tak ada artinya. Kamu pasti bisa, Mira, ayo lawan orang-orang picik itu!" batin Amira meronta-ronta. Putri dan Mira sudah siap berperang di pagi hari yang cerah.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Diri Orang yang Kucintai
8.0
Sehari pasca pengajuan cerai antara Mulan Angeta dan Narto Gunawan, publik dihebohkan oleh dua video viral yang bertolak belakang. Video pertama merekam Mulan berusia 22 tahun yang setia menemani Narto merintis karier bernyanyi di lorong bawah tanah dengan penuh harapan. Namun, video kedua justru memperlihatkan Narto di atas panggung Penghargaan Melodi Emas bersama Shinta Claudia, di mana pria itu menyatakan cinta dalam bahasa Italia dan mengisyaratkan kebebasannya dari bayang-bayang Mulan.
Sampul Novel DERITA PERNIKAHAN PAKSA
9.3
Kehidupan Vivian berubah menjadi mimpi buruk sejak dipaksa menikah dengan Maximilian Windsor. Hari-harinya dipenuhi kekerasan fisik dan mental yang menyisakan trauma berat. Di tengah keputusasaan, hadirlah River, sosok penyayang yang selalu melindungi dan menguatkannya. Namun, obsesi gila Max memicu tragedi hingga Vivian hamil anak sang suami yang sangat ia benci. Kini, ia didera dilema besar antara ketulusan River atau Max yang merupakan ayah kandung dari janinnya.
Sampul Novel Dosa Termanis dengan Calon Iparku
9.6
Safira menghadapi pilihan sulit usai menyetujui kesepakatan dengan Kai, adik calon suaminya, Arkana. Alih-alih menjaga kesetiaan, ia justru hanyut dalam pesona Kai hingga melanggar batas. Hubungan rahasia ini berujung rumit ketika Safira menyadari dirinya tengah mengandung anak Kai. Diimpit rasa bersalah dan pengkhianatan, ia kini harus menentukan arah hidupnya. Haruskah ia bertahan demi tanggung jawab, ataukah mengikuti kata hatinya kepada salah satu dari mereka?
Sampul Novel I am always waiting for you (I'm fine 2)
7.8
Kepergian Ara Valeria tanpa kabar demi mengobati HIV yang dideritanya membuat Aldy Fathee, CEO arogan Fathee Grup, tumbuh menjadi sosok yang kian kejam. Takdir kembali mempertemukan mereka dalam sebuah proyek besar saat Aldy telah bertunangan dengan Melly. Meski Aldy mencoba mendekat, Ara kini bersikap sangat dingin. Setelah kecelakaan menimpa Ara, Aldy bertekad membongkar rahasia di balik sikap dinginnya itu. Akankah cinta mereka bersatu kembali?
Sampul Novel Love
9.2
Love
Di tengah padatnya rutinitas kota modern, sebuah hubungan asmara yang tulus mulai bersemi secara perlahan. Kisah ini menyoroti arti kasih sayang mendalam di balik kesibukan urban. Lewat momen pertemuan tak terduga, dua individu saling berjuang memahami hati masing-masing demi merajut ikatan emosional yang kokoh. Perjalanan penuh kehangatan ini menjadi bukti nyata tentang keindahan dari sebuah ketulusan cinta sejati.
Sampul Novel Unholy 21+
8.0
Antologi kisah romansa modern dewasa ini mengupas tuntas sisi kelam dari hasrat manusia. Lewat narasi yang berani dan intens, pembaca disuguhkan berbagai cerita intim yang dipenuhi godaan serta tindakan terlarang. Fokus utama dari kumpulan cerita pendek ini adalah mengeksplorasi hubungan romantis yang menantang batas-batas norma kesucian. Setiap plot disajikan secara eksplisit, menghadirkan kisah-kisah provokatif yang sarat akan unsur dosa khusus bagi pembaca dewasa.