APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Benih Dari Kebencianmu

Benih Dari Kebencianmu

Lima tahun berlalu, namun kematian tragis Anya menyisakan dendam mendalam bagi Rizky. Kembalinya Lia, sepupu Anya yang selamat dari tragedi itu, memicu murka Rizky yang menganggapnya sebagai biang keladi penderitaan mereka. Di satu malam kelam, kemarahan Rizky tak terbendung hingga merenggut masa depan Lia. Kini, di tengah kebencian orang-orang sekitar, Lia harus bertahan dan memikul beban luka yang teramat berat.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sore itu di kafe berakhir dengan menyisakan jejak pahit di lidah Lia. Kata-kata Rizky mengikis lapisan tipis ketenangan yang susah payah ia bangun selama lima tahun terakhir. Ia pulang ke apartemennya dengan langkah gontai, otaknya dipenuhi gema tuduhan yang tak henti-hentinya. Setiap sudut ruangan terasa dingin, seperti pantulan dari hatinya yang membeku.

Lia melemparkan tasnya ke sofa, lalu menjatuhkan diri di atasnya. Ia meraih bantal, memeluknya erat, dan membiarkan isakan yang telah ia tahan sejak di kafe itu tumpah ruah. Ini bukan hal baru baginya. Malam-malam seperti ini, di mana bayangan Anya dan kecelakaan itu kembali menghantuinya, adalah rutinitas yang menyakitkan. Namun, kehadiran Rizky, dan kebencian yang terpancar jelas dari matanya, telah membuka kembali luka yang belum juga sembuh.

"Aku bukan penyebabnya..." bisik Lia di antara isaknya. "Aku tidak pernah menginginkan ini terjadi."

Tapi siapa yang akan percaya padanya? Keluarga Anya? Teman-teman Anya? Bahkan dirinya sendiri, di saat-saat tergelapnya, seringkali meragukan dirinya sendiri. Mengapa ia selamat? Mengapa bukan Anya? Pertanyaan itu adalah beban yang lebih berat daripada puing-puing mobil yang ringsek lima tahun lalu.

Lia teringat pemakaman Anya. Hujan turun rintik-rintik, seolah langit pun ikut berduka. Ia berdiri di sana, di samping kedua orang tua Anya yang hancur, merasakan tatapan menghakimi dari setiap pasang mata. Bibi Mira, ibu Anya, memeluknya erat, namun di balik pelukan itu, Lia bisa merasakan ketegangan, duka yang bercampur dengan pertanyaan tak terucap. Paman Hadi, ayah Anya, lebih parah lagi. Pria tegar itu tampak rapuh, dan setiap kali pandangannya bertemu dengan Lia, ada sorot kesedihan yang mendalam, seolah melihat dirinya adalah melihat pengingat akan kehilangan terbesar dalam hidupnya.

Rizky hadir di sana. Ia berdiri di sisi lain kuburan, jauh dari Lia, namun tatapan matanya yang kosong dan penuh amarah tak pernah lepas dari Lia. Saat itu, Lia tahu, dendam telah berakar di hati Rizky. Cinta mereka terlalu besar, terlalu dalam, untuk tidak berubah menjadi kebencian yang sama besarnya. Anya adalah dunia Rizky, dan dunia itu hancur berkeping-keping di hari nahas itu.

Sejak hari itu, Lia memilih untuk mengasingkan diri. Ia pindah dari rumah orang tuanya yang berada dekat dengan rumah Bibi Mira dan Paman Hadi. Ia kuliah di universitas yang berbeda, di kota yang berbeda, mencoba membangun kembali hidupnya, sepotong demi sepotong. Ia memutus kontak dengan hampir semua teman lamanya, terutama mereka yang dekat dengan Anya dan Rizky. Ia ingin menghilang, menjadi tidak terlihat, agar tidak lagi menjadi pengingat yang menyakitkan bagi siapa pun.

Namun, takdir memiliki rencana lain. Pertemuan tak sengaja dengan Maya, teman kuliah lama mereka, yang berujung pada janji di kafe itu, adalah sebuah jebakan. Lia tahu, Maya tidak bermaksud buruk. Ia hanya ingin mereka kembali berteman, menyatukan kembali kepingan masa lalu yang indah. Tetapi Maya tidak tahu, bahwa bagi Lia, masa lalu itu adalah luka yang menganga.

Lia meraih ponselnya, mencari foto lama. Jemarinya gemetar saat menemukan folder yang ia sembunyikan jauh di dalam galeri. Foto-foto Anya. Anya yang tersenyum ceria, Anya yang sedang memeluknya, Anya yang sedang tertawa lepas bersama Rizky. Senyum Anya, yang dulu adalah penyejuk hati Lia, kini terasa seperti bara api yang membakar jiwanya.

"Maafkan aku, Anya," bisik Lia, air mata membasahi layar ponselnya. "Maafkan aku karena aku masih hidup."

Keesokan harinya, Lia mencoba menjalani hari seperti biasa. Ia pergi ke kampus, duduk di kelas, mencoba fokus pada materi kuliah. Namun, pikiran Rizky dan kata-katanya terus-menerus berputar di benaknya. Sulit sekali untuk berkonsentrasi.

Setelah kuliah, Lia memutuskan untuk berjalan kaki pulang. Udara yang terik tidak mengurangi kebutuhan Lia untuk bergerak, untuk menguras energi yang menumpuk akibat emosi semalam. Ia berjalan tanpa tujuan, melewati jalanan ramai, menembus kerumunan orang. Ia berharap bisa menghilang dalam keramaian itu, melarikan diri dari bayangan masa lalu yang terus mengejarnya.

Tiba-tiba, sebuah suara familiar memanggil namanya.

"Lia!"

Jantung Lia berpacu. Suara itu bukan suara Rizky, tapi suara yang ia kenali dengan baik. Lia menoleh, dan melihat sosok David, teman lama mereka, yang dulu juga dekat dengan Anya dan Rizky. David berlari kecil mengejarnya, wajahnya dipenuhi senyum ramah.

David. Lia mengenalnya sejak SMP. David adalah tipe pria yang selalu ceria, memiliki selera humor yang bagus, dan selalu bisa membuat suasana hati orang lain membaik. Ia juga salah satu orang yang ada di pesta ulang tahun teman mereka malam itu. Setelah kecelakaan, David adalah salah satu dari sedikit orang yang masih mencoba menghubunginya, namun Lia selalu menghindar.

"Lia, akhirnya ketemu juga!" David tersenyum lebar. "Aku sering lihat kamu di kampus, tapi kok susah banget diajak ngobrol?"

Lia merasa canggung. "David... hai. Maaf, aku... aku agak sibuk belakangan ini."

"Sibuk banget sampai nggak bisa balas chat atau angkat telepon?" David mengangkat alisnya, nada suaranya berubah menjadi lebih serius. "Lia, jujur aja. Kenapa sih kamu menghilang gitu aja? Kita semua khawatir sama kamu."

Lia menunduk. "Aku... aku cuma butuh waktu sendiri."

"Waktu sendiri lima tahun, Lia?" David mendesah. "Dengar, aku tahu kamu pasti berat banget. Kita semua juga. Kehilangan Anya itu pukulan telak buat kita semua. Tapi kamu nggak harus sendirian nanggung ini semua."

Lia diam. Ia tahu David tulus. David adalah salah satu dari sedikit orang yang tidak menyalahkannya secara terang-terangan. Namun, tetap saja, kehadiran David mengingatkannya pada masa lalu, pada Anya, pada Rizky.

"Ngomong-ngomong soal itu," David melanjutkan, suaranya sedikit ragu. "Aku dengar kamu ketemu Rizky kemarin?"

Lia tersentak. Jadi, kabar sudah menyebar. Tentu saja, Maya pasti menceritakannya pada David. Dunia mereka memang sekecil itu.

"Iya," jawab Lia singkat.

David menatapnya lekat. "Bagaimana pertemuannya?"

Lia mengangkat bahu. "Tidak baik."

"Aku sudah menduganya," David menghela napas. "Rizky... dia berubah drastis setelah Anya tiada. Dia jadi sangat tertutup, penuh amarah. Aku mencoba mendekatinya, tapi dia selalu menjauh."

"Dia menyalahkanku, David," Lia berbisik, suaranya nyaris tak terdengar.

David menatapnya dengan sorot iba. "Aku tahu, Lia. Dan itu tidak adil."

"Tidak adil?" Lia tertawa pahit. "Bagaimana bisa tidak adil? Aku yang selamat. Dia yang meninggal. Aku yang seharusnya mati, David!"

"Jangan bicara begitu!" David mencengkeram bahu Lia, sorot matanya tegas. "Itu kecelakaan, Lia! Bukan salahmu! Kamu di sana, kamu mencoba menolong. Anya... Anya hanya tidak seberuntung kamu."

"Tapi Rizky tidak berpikir begitu," kata Lia, air mata kembali menggenang di matanya. "Dan aku mengerti dia. Aku juga benci diriku sendiri karena selamat."

"Itu omong kosong!" David mengerutkan kening. "Dengar, aku tahu Rizky sedang sangat terluka. Dia melampiaskannya padamu. Tapi kamu harus tahu, Lia, bahwa itu bukan cerminan dari kebenaran. Kamu juga korban di sini. Kamu juga kehilangan Anya."

Lia hanya bisa mengangguk, terlalu lelah untuk berdebat. Kata-kata David menghangatkan hatinya sedikit, namun rasa bersalah itu terlalu dalam, terlalu mengakar, untuk bisa lenyap begitu saja.

"Bagaimana dengan Rizky sekarang?" Lia memberanikan diri bertanya. "Apa... apa yang dia lakukan?"

David menghela napas. "Dia mengambil alih bisnis ayahnya. Dia jadi sangat sibuk, fokus ke pekerjaan. Tapi aku tahu, di balik semua kesibukan itu, dia masih membawa luka yang sama." David menatap Lia dengan sorot yang lebih lembut. "Dia sangat mencintai Anya, Lia. Kamu tahu itu."

Tentu saja Lia tahu. Rizky dan Anya adalah pasangan yang sempurna. Mereka bertemu di bangku SMA, cinta pertama yang bersemi indah. Anya selalu bercerita tentang betapa Rizky adalah dunianya, dan Lia seringkali menjadi pendengar setia dari kisah cinta mereka. Mereka memiliki rencana masa depan bersama, impian untuk membangun keluarga. Semua itu hancur dalam sekejap.

"Aku tahu," kata Lia pelan. "Aku tahu betul."

"Itu sebabnya dia bereaksi begitu padamu," David melanjutkan. "Bukan karena dia benar-benar membencimu, Lia. Tapi karena dia terlalu sakit. Dan kamu adalah pengingat paling nyata dari rasa sakitnya."

Kata-kata David membuat Lia berpikir. Apakah benar begitu? Apakah kebencian Rizky adalah manifestasi dari rasa sakitnya yang terlalu besar? Ataukah memang ada kemarahan yang tulus di sana, karena ia, Lia, adalah penyebab tragedi itu? Lia tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa pertemuannya dengan Rizky telah merenggut kembali sedikit demi sedikit ketenangan yang telah ia usahakan.

"Aku harus pergi, David," kata Lia, merasa semakin tidak nyaman. "Aku ada urusan."

"Tunggu, Lia," David menahan lengannya. "Bisakah kita... bisa kita bertemu lagi? Aku ingin ngobrol banyak sama kamu. Aku kangen sama kamu."

Lia ragu. Ia ingin menolak, kembali ke isolasi yang nyaman. Namun, sorot mata David yang tulus membuatnya sulit untuk berkata tidak. David adalah jembatan ke masa lalunya, masa lalu yang indah, sebelum semua kehancuran ini terjadi.

"Baiklah," Lia setuju, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku akan menghubungimu."

David tersenyum lega. "Oke! Jangan cuma janji ya! Aku tunggu!"

Lia mengangguk, lalu bergegas pergi, meninggalkan David sendirian. Ia tahu, bertemu dengan David akan membuka lebih banyak lagi kenangan. Namun, ia juga sadar, ia tidak bisa lari selamanya. Bayangan Anya akan selalu ada. Rizky, dengan kebenciannya, juga akan selalu ada. Dan ia, Lia, harus belajar hidup dengan semua itu.

Beberapa hari setelah pertemuan dengan Rizky dan David, hidup Lia terasa lebih berat. Ia mencoba tenggelam dalam kuliahnya, tetapi setiap kali ia menutup mata, ia melihat wajah Anya yang pucat, dan mendengar decitan ban mobil yang mengerikan. Ia juga teringat ekspresi mata Rizky yang dingin, penuh kebencian.

Suatu malam, Lia sedang belajar di perpustakaan kampus. Suasana sepi, hanya terdengar suara buku yang dibalik dan ketikan keyboard. Lia mencoba membaca jurnal penelitian, tetapi setiap kalimat terasa kabur. Ia tidak bisa fokus.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari aplikasi media sosial. Lia jarang membukanya, terutama setelah insiden kecelakaan itu. Ia hanya menggunakan akunnya untuk keperluan kuliah. Namun, entah mengapa, malam itu ia merasa ingin membukanya.

Ia melihat sebuah postingan baru dari akun Rizky Julian. Jantungnya berdebar kencang. Rizky jarang sekali mengunggah apapun di media sosial. Lia membuka postingan itu dengan jari gemetar.

Itu adalah foto. Foto Anya. Anya yang sedang tersenyum lebar, memegang buket bunga mawar merah. Foto itu diambil di taman belakang rumah Anya, di hari ulang tahun Anya beberapa tahun lalu. Lia ingat hari itu. Mereka semua tertawa, makan kue, dan Anya sangat bahagia.

Di bawah foto itu, Rizky menuliskan sebuah caption:

"Lima tahun. Rasanya seperti baru kemarin kau di sini, di sampingku, membawa kebahagiaan. Setiap hari tanpamu adalah siksaan. Aku merindukanmu, Sayang. Selamanya di hatiku. Dan aku tidak akan pernah melupakan siapa yang membuatmu pergi."

Kalimat terakhir itu. Jelas sekali itu ditujukan padanya. Lia merasakan sengatan rasa sakit yang tajam di dadanya. Rizky tidak pernah berhenti menyalahkannya. Ia tidak akan pernah memaafkannya. Pesan itu, yang dibaca oleh ratusan orang, adalah pengingat publik akan statusnya sebagai "penyebab" di mata Rizky.

Lia menutup aplikasi itu dengan cepat, napasnya tersengal. Air mata kembali mengalir. Ia tidak bisa lari dari bayangan ini. Bahkan di dunia maya, di mana ia mencoba melarikan diri, Rizky masih bisa menjangkaunya, melemparkan tuduhannya, dan mengukuhkan perannya sebagai penjahat dalam kisah hidup Anya.

Ia bangkit dari kursinya, meninggalkan buku-bukunya yang berserakan. Lia berjalan keluar dari perpustakaan, menembus malam yang dingin. Ia merasa sendirian, lebih sendirian dari sebelumnya. Ia adalah Lia, korban selamat yang terkutuk, luka yang tak kunjung sembuh bagi orang-orang yang menyayangi Anya. Dan malam itu, ia tidak tahu bagaimana ia akan bisa melanjutkan hidup dengan beban seberat ini.

Bagaimana Lia akan menghadapi bayangan Rizky yang terus-menerus menghantuinya, dan bagaimana ia akan mencari pengampunan, baik dari Rizky maupun dari dirinya sendiri, adalah pertanyaan yang menggantung di udara malam Jakarta.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikah dengan Pria yang Masih Mencintai Mantannya
9.6
Setelah hampir setahun menahan kepedihan dalam kehidupan pernikahan, Alika akhirnya memutuskan untuk menyerah. Keputusan bulatnya untuk meminta cerai secara terbuka membuat sang suami, Daffa Ardhana, seketika bungkam dan terpaku. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, muncul sebuah tanda tanya besar: akankah Daffa merelakan Alika pergi, atau justru ia akan berupaya menyelamatkan rumah tangga mereka saat hati Alika sudah terlanjur letih bertahan?
Sampul Novel Budak Nafsu Tuan Jhon!
8.9
Pesona fisik yang menawan dan tubuh proporsional justru membawa petaka bagi tiga bersaudara, Sherly, Livy, dan Hanny. Walau telah membina rumah tangga masing-masing, pernikahan mereka tak luput dari cobaan yang menerpa. Keindahan rupa mereka malah memicu konflik pelik yang mengoyak keharmonisan keluarga. Sanggupkah tiga saudara perempuan ini bertahan melewati badai rintangan yang terus menguji kesetiaan dan kehidupan asmara mereka?
Sampul Novel Cinta dari Pria yang Tak Terduga
9.1
Panggilan polisi seketika menghancurkan hidup Emily yang damai. Ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Jaka Guntur, kekasihnya, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Di tengah badai emosi tersebut, sebuah ketidaksengajaan membawa Emily ke dalam hubungan satu malam bersama Jacob, paman dari Jaka. Kini, ia terjebak di tengah konflik rumit dan dilema asmara antara sang mantan kekasih dengan pria berkuasa yang merupakan paman mantannya itu.
Sampul Novel Duda Pilihan Papa
9.6
Anwar Mahendra terhimpit utang besar hingga nyaris kehilangan putri tunggalnya, Ashiqa, yang diincar rentenir. Demi menyelamatkan sang anak, Anwar meminta Rama, seorang duda kaya yang berutang budi padanya, untuk menikahi Ashiqa. Ashiqa terpaksa menerima pernikahan mendadak ini. Di sisi lain, Rama kini terjebak dalam dilema besar: mencoba mencintai istri mudanya atau justru merelakan Ashiqa pergi demi mengejar kebahagiaan sejati wanita itu sendiri.
Sampul Novel Mendadak Disuruh Nikah
8.8
Demi menggantikan sang adik angkat, Raihan terpaksa menikahi Nico dari keluarga Kuiper. Pernikahan mendadak ini bahkan hanya dipersiapkan dalam waktu dua hari. Nico sendiri awalnya tidak menyangka bahwa sosok yang menjadi istrinya ternyata sangat menawan. Pesona Raihan pun sukses memikat Nico setelah mereka sah menikah. Meski Raihan mengizinkan Nico menyentuhnya, ia sempat gemetar saat didekap dengan agresif. Raihan lalu meminta Nico untuk memulai malam pertama mereka secara perlahan.
Sampul Novel Nathan & Aubree
9.3
Sejak pertama kali bertemu, Aubree telah menyerahkan seluruh hatinya kepada Nathan. Sayangnya, Nathan masih tenggelam dalam kepedihan masa lalu dan rasa patah hati yang belum pulih. Walau kasih sayangnya tidak terbalas dan kerap menerima penolakan yang menyakitkan, Aubree tetap bertahan. Ia bertekad untuk terus berjuang mencairkan kebekuan hati pria itu. Akankah keteguhan Aubree berhasil merobohkan tembok pertahanan Nathan, atau ia akan selamanya tersisih dalam kisah yang rumit ini?