APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Belenggu Pernikahan Sang Mafia

Belenggu Pernikahan Sang Mafia

Demi menebus dosa masa lalu sang ayah, Leonard, Aveline Harper yang berusia 21 tahun dipaksa menikahi Gabriel Alaric. Di balik pernikahan dingin ini, Gabriel menjadikan Aveline sebagai alat balas dendam, meski batinnya sendiri tersiksa oleh rahasia kelam. Di tengah badai emosi dan kebencian suaminya, Aveline mencoba bertahan dan memahami luka masa lalu Gabriel. Akankah dendam membara ini membawa kehancuran bagi mereka, atau justru menumbuhkan cinta tak terduga?
Bab
Bagikan

Bab 1

Aveline berdiri dengan tubuh gemetar di depan altar. Gaun pengantin putih yang seharusnya melambangkan kebahagiaan malah terasa seperti penjara baginya. Di sebelahnya, Gabriel Alaric berdiri dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun senyuman di wajahnya. Lelaki itu tampak sempurna dengan setelan jas hitam yang pas di tubuh tegapnya, tetapi dinginnya tatapan mata birunya cukup untuk membuat siapa pun merasa terintimidasi.

"Dengan ini, aku nyatakan kalian resmi menjadi suami dan istri." Suara pendeta terdengar lantang di gereja yang sepi.

Gabriel mengulurkan tangannya ke arah Aveline, bukan dengan kelembutan seorang pengantin pria, melainkan seperti memerintahkan seorang bawahan. Aveline menelan ludah, merasa tak punya pilihan lain selain menggenggam tangannya. Sentuhan dingin itu membuat tubuhnya merinding.

"Jangan terlalu senang, Aveline," bisik Gabriel dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Aveline. "Ini bukan akhir dari penderitaanmu. Ini baru permulaan."

Aveline menundukkan kepala, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya. Kenapa aku harus menikah dengan pria seperti ini? pikirnya dengan putus asa.

Ketika upacara selesai, Gabriel menarik Aveline keluar dari gereja tanpa basa-basi. Ia bahkan tidak menghiraukan tamu-tamu yang menunggu untuk memberi ucapan selamat.

"Gabriel, kita harus..." Aveline mencoba berbicara, tetapi kata-katanya terhenti ketika Gabriel menoleh tajam.

"Kita harus apa? Berpura-pura menjadi pasangan bahagia? Jangan bodoh, Aveline," ucapnya dingin. "Pernikahan ini hanya untukku, bukan untukmu."

Aveline tidak menjawab. Ia tahu setiap kata yang keluar dari mulut Gabriel selalu dilapisi racun. Mobil limousine hitam sudah menunggu mereka di depan gereja. Gabriel membuka pintu dengan kasar dan memerintahkan Aveline masuk.

Di dalam mobil, suasana sunyi terasa mencekam. Aveline duduk dengan tangan yang meremas gaunnya, sementara Gabriel sibuk dengan ponselnya. Wajah pria itu tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Kenapa aku?" Suara Aveline akhirnya pecah di tengah keheningan. Ia memberanikan diri untuk menatap suaminya.

Gabriel mendongak dari ponselnya, menatap Aveline dengan tatapan menghina. "Kenapa kau? Karena kau adalah putri Leonard Harper, pria yang menghancurkan keluargaku."

Aveline mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Ayahku..."

"Jangan menyebutnya ayahmu di depanku!" bentak Gabriel, suaranya bergema di dalam mobil. "Dia bukan seorang ayah. Dia monster. Dan sekarang, kau akan menanggung semua akibat dari perbuatannya."

Air mata Aveline akhirnya jatuh. Ia tidak mengerti apa kesalahannya hingga harus menjadi korban kebencian Gabriel. Tetapi ia tahu, tidak ada gunanya melawan pria itu.

Sesampainya di rumah megah Gabriel, yang lebih mirip istana, Aveline hampir tidak bisa percaya bahwa ia harus tinggal di tempat sebesar ini. Namun, suasana mencekam dari mansion itu membuatnya merasa seperti sedang berjalan menuju penjara.

Gabriel tidak menunggu lama untuk menunjukkan sikap dinginnya. "Ini kamarmu," ucapnya sambil membuka sebuah pintu. Kamar itu besar dan mewah, tetapi dingin, tanpa sentuhan kehangatan.

"Dan kau?" tanya Aveline dengan suara kecil.

Gabriel tertawa kecil, tetapi tawa itu tidak mengandung kebahagiaan. "Aku? Aku akan tinggal di kamarku sendiri, tentu saja. Jangan berpikir aku akan tidur di ranjang yang sama denganmu. Aku tidak akan pernah menyentuhmu, Aveline. Aku tidak akan menyentuh sesuatu yang kubenci."

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hati Aveline. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sakit di dadanya.

"Mulai sekarang, kau hanya akan melakukan apa yang kuperintahkan," lanjut Gabriel tanpa belas kasihan. "Jangan harap ada cinta atau perhatian dariku. Kau ada di sini hanya karena aku ingin menghancurkan ayahmu. Itu saja."

Gabriel meninggalkan Aveline di kamar itu tanpa memberi kesempatan untuk membalas. Pintu tertutup dengan suara keras, meninggalkan Aveline sendirian dengan rasa hancur yang tak terlukiskan.

Aveline duduk di tepi ranjang besar itu, air matanya mengalir deras. Ia tidak tahu bagaimana ia akan menjalani hari-harinya sebagai istri Gabriel Alaric, seorang pria yang penuh kebencian dan dendam.

Namun di balik semua rasa sakit itu, Aveline berjanji pada dirinya sendiri. Jika ia harus bertahan di neraka ini, ia akan menemukan alasan di balik kebencian Gabriel. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, pikirnya dengan penuh tekad, meski hatinya masih gemetar.

Di luar kamar, Gabriel berdiri di depan pintu dengan rahang yang mengeras. Ia mendengar isak tangis Aveline, tetapi ia memaksa dirinya untuk tidak peduli.

"Ini hanya permulaan, Leonard Harper," gumamnya dengan dingin. "Aku akan membuatmu menyesali semua yang telah kau lakukan pada keluargaku."**Bab 1: Dendam yang Membara**

Aveline berdiri dengan tubuh gemetar di depan altar. Gaun pengantin putih yang seharusnya melambangkan kebahagiaan malah terasa seperti penjara baginya. Di sebelahnya, Gabriel Alaric berdiri dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun senyuman di wajahnya. Lelaki itu tampak sempurna dengan setelan jas hitam yang pas di tubuh tegapnya, tetapi dinginnya tatapan mata birunya cukup untuk membuat siapa pun merasa terintimidasi.

"Dengan ini, aku nyatakan kalian resmi menjadi suami dan istri." Suara pendeta terdengar lantang di gereja yang sepi.

Gabriel mengulurkan tangannya ke arah Aveline, bukan dengan kelembutan seorang pengantin pria, melainkan seperti memerintahkan seorang bawahan. Aveline menelan ludah, merasa tak punya pilihan lain selain menggenggam tangannya. Sentuhan dingin itu membuat tubuhnya merinding.

"Jangan terlalu senang, Aveline," bisik Gabriel dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Aveline. "Ini bukan akhir dari penderitaanmu. Ini baru permulaan."

Aveline menundukkan kepala, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya. **Kenapa aku harus menikah dengan pria seperti ini?** pikirnya dengan putus asa.

Ketika upacara selesai, Gabriel menarik Aveline keluar dari gereja tanpa basa-basi. Ia bahkan tidak menghiraukan tamu-tamu yang menunggu untuk memberi ucapan selamat.

"Gabriel, kita harus..." Aveline mencoba berbicara, tetapi kata-katanya terhenti ketika Gabriel menoleh tajam.

"Kita harus apa? Berpura-pura menjadi pasangan bahagia? Jangan bodoh, Aveline," ucapnya dingin. "Pernikahan ini hanya untukku, bukan untukmu."

Aveline tidak menjawab. Ia tahu setiap kata yang keluar dari mulut Gabriel selalu dilapisi racun. Mobil limousine hitam sudah menunggu mereka di depan gereja. Gabriel membuka pintu dengan kasar dan memerintahkan Aveline masuk.

Di dalam mobil, suasana sunyi terasa mencekam. Aveline duduk dengan tangan yang meremas gaunnya, sementara Gabriel sibuk dengan ponselnya. Wajah pria itu tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Kenapa aku?" Suara Aveline akhirnya pecah di tengah keheningan. Ia memberanikan diri untuk menatap suaminya.

Gabriel mendongak dari ponselnya, menatap Aveline dengan tatapan menghina. "Kenapa kau? Karena kau adalah putri Leonard Harper, pria yang menghancurkan keluargaku."

Aveline mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Ayahku..."

"Jangan menyebutnya ayahmu di depanku!" bentak Gabriel, suaranya bergema di dalam mobil. "Dia bukan seorang ayah. Dia monster. Dan sekarang, kau akan menanggung semua akibat dari perbuatannya."

Air mata Aveline akhirnya jatuh. Ia tidak mengerti apa kesalahannya hingga harus menjadi korban kebencian Gabriel. Tetapi ia tahu, tidak ada gunanya melawan pria itu.

Sesampainya di rumah megah Gabriel, yang lebih mirip istana, Aveline hampir tidak bisa percaya bahwa ia harus tinggal di tempat sebesar ini. Namun, suasana mencekam dari mansion itu membuatnya merasa seperti sedang berjalan menuju penjara.

Gabriel tidak menunggu lama untuk menunjukkan sikap dinginnya. "Ini kamarmu," ucapnya sambil membuka sebuah pintu. Kamar itu besar dan mewah, tetapi dingin, tanpa sentuhan kehangatan.

"Dan kau?" tanya Aveline dengan suara kecil.

Gabriel tertawa kecil, tetapi tawa itu tidak mengandung kebahagiaan. "Aku? Aku akan tinggal di kamarku sendiri, tentu saja. Jangan berpikir aku akan tidur di ranjang yang sama denganmu. Aku tidak akan pernah menyentuhmu, Aveline. Aku tidak akan menyentuh sesuatu yang kubenci."

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hati Aveline. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sakit di dadanya.

"Mulai sekarang, kau hanya akan melakukan apa yang kuperintahkan," lanjut Gabriel tanpa belas kasihan. "Jangan harap ada cinta atau perhatian dariku. Kau ada di sini hanya karena aku ingin menghancurkan ayahmu. Itu saja."

Gabriel meninggalkan Aveline di kamar itu tanpa memberi kesempatan untuk membalas. Pintu tertutup dengan suara keras, meninggalkan Aveline sendirian dengan rasa hancur yang tak terlukiskan.

Aveline duduk di tepi ranjang besar itu, air matanya mengalir deras. Ia tidak tahu bagaimana ia akan menjalani hari-harinya sebagai istri Gabriel Alaric, seorang pria yang penuh kebencian dan dendam.

Namun di balik semua rasa sakit itu, Aveline berjanji pada dirinya sendiri. Jika ia harus bertahan di neraka ini, ia akan menemukan alasan di balik kebencian Gabriel. **Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,** pikirnya dengan penuh tekad, meski hatinya masih gemetar.

Di luar kamar, Gabriel berdiri di depan pintu dengan rahang yang mengeras. Ia mendengar isak tangis Aveline, tetapi ia memaksa dirinya untuk tidak peduli.

"Ini hanya permulaan, Leonard Harper," gumamnya dengan dingin. "Aku akan membuatmu menyesali semua yang telah kau lakukan pada keluargaku."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ayah Si Preman Sekolah
9.0
Aku tidak pernah menyangka akan berakhir di atas meja, berhadapan langsung dengan ayah dari preman sekolah yang kerap menggangguku. Pria matang itu tampak terpelajar namun memancarkan aura berbahaya khas mafia yang tak bisa disembunyikan. Ketika ketegangan intim di antara kami memuncak, langkah kaki sang putra tiba-tiba terdengar mendekat. Demi menyembunyikan keberadaanku, pria itu memaksaku berlindung di bawah meja sebelum dia dengan tenang mulai membuka ikat pinggangnya sendiri.
Sampul Novel GADIS BIASA VS BOSS MAFIA
8.6
Anne Mary, gadis jenius 18 tahun, menyaksikan cinta pertamanya dihabisi oleh bos mafia kejam, Marcio Lamparska. Dituduh sebagai pelaku, ia diculik ke Spanyol untuk ditempa menjadi petarung. Di tengah rencana balas dendamnya, benih cinta justru tumbuh di hati Anne untuk Marcio. Situasi kian rumit saat musuh Marcio yang posesif, Iosef, datang menyelamatkannya. Kini, Anne yang telah menjelma jadi pembunuh tangguh harus memilih antara dendam masa lalu atau cinta.
Sampul Novel Manis di Bibir, Pahit di Takdir
9.4
Devan Atmadja berulang kali mengkhianati Viona dengan dalih kesetiaan pada mendiang sahabatnya. Mulai dari pernikahan rahasia dengan Keira Maheswari, menjadikannya nyonya besar demi aliansi mafia, hingga kehamilan yang diklaim sebagai kecelakaan. Setelah berkali-kali mengalah dan memaafkan janji manis Devan, Viona akhirnya tersadar bahwa hubungan mereka tidak memiliki masa depan. Di tengah jaringan intrik dan dusta ini, Viona memilih untuk melepaskan diri dan pergi selamanya.
Sampul Novel Saat Aku Bukan Lagi Pilihanmu
8.8
Setelah sepuluh tahun menderita dalam pernikahan dingin bersama Bram akibat jebakan obat bius saudara tirinya, sang protagonis mendapat kesempatan kedua setelah sebuah tragedi banjir merenggut nyawanya. Terbangun kembali di masa lalu, tepat di hari ia dikurung bersama Bram yang sedang menderita, ia kini bertekad untuk tidak lagi menjadi obat penawar bagi pria tersebut demi mengubah takdir tragis mereka di masa depan.
Sampul Novel Terjerat Cinta Mafia Kakak Beradik
9.5
Savana terpaksa diserahkan sang ibu kepada Luca Zeno demi melunasi utang. Bukannya takut, ia justru terpikat kebaikan Luca yang mengajaknya menikah kontrak dua tahun untuk donor sel telur. Namun, keadaan berantakan saat Savana mengandung. Terungkap bahwa ayah biologis bayi itu adalah adik kandung Luca, Ziv Zeno. Kini, dua bersaudara dari klan mafia tersebut saling bersaing ketat dan ekstrem demi merebut hati serta menguasai Savana sepenuhnya.
Sampul Novel Wanita Pilihan Mafia
9.2
Salwa terpaksa merantau demi membiayai pengobatan sang ayah dan kebutuhan adik-adiknya. Karena situasi mendesak, ia terpaksa berutang besar kepada majikannya, Sean Arthur. Alih-alih pengabdian seumur hidup, sang mafia justru menuntut raga Salwa sebagai bayaran. Demi menyelamatkan ayahnya, Salwa mengajukan syarat pernikahan siri yang dapat diakhiri kapan saja. Kini, ia terjebak dalam kesepakatan berbahaya dengan pria tersebut.