APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich

Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich

Hans, penerus takhta Adalrich yang terlihat sempurna, sebenarnya memendam trauma mendalam terhadap wanita. Untuk menyembunyikan rasa jijiknya, ia selalu berlagak sombong dan dingin. Namun, dinding pertahanannya runtuh sejak berjumpa Sashenka, anak dari musuh bebuyutan bisnisnya. Sosok gadis tersebut rupanya sanggup menyalakan kembali gairah Hans yang telah lama padam. Di tengah sengitnya konflik keluarga, Hans kini harus berjuang keras demi mendapatkan cinta Sashenka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keesokan paginya.

"Astaga! Ini orang maunya apa, sih?" seru Mila sambil menatap layar ponselnya.

"Kenapa sih, Mil? Pagi-pagi udah ngomel. Pamali, ntar rezekimu dipatuk ayam," omel Shenka sambil menarik selimutnya kembali.

"Salah, itu untuk orang yang malas bangun pagi kayak kamu," ralat Mila.

"Oh, iyakah? Hehehe," cengir Shenka. "Trus, apa yang bikin kamu sewot?"

"Manajer kelab ini lho, pagi buta SMS aku lagi, bilang aku ga jadi dipecat, tapi harus menghadap bos besar nanti malam," jelas Mila.

Shenka terduduk dengan cepat.

"Pria yang aku pukul tadi malam?" tanyanya untuk memastikan.

"Iya."

"Kalau begitu gak usah datang. Dia pasti mau ngerjain kamu," cetus Shenka.

"Trus kerjaan aku gimana?" sahut Mila.

"Kan aku udah bilang, ntar kita cari lagi di tempat lain," jawab Shenka pula.

"Cari kerja itu ga mudah, Shen. Apa lagi untuk gadis yang nggak berpendidikan seperti aku," kata Mila dengan wajah sedih.

"Tenang aja. Aku yakin sebentar lagi kamu pasti dapat kerja di tempat yang lain. Santai sajalah, hari ini mari kita anggap kamu sedang berlibur," tukas Shenka dengan semangat.

"Oke deh kalau begitu. Disuruh santai siapa yang nolak. Tapi ... kamu yang belanja, ya."

"Sip, tenang aja. Sekarang kamu bersihin kamar mandi, gih," ujar Shenka.

"Katanya disuruh bersantai," protes Mila.

"Iyaaa, tapi bukan molor juga kaleee," sahut Shenka.

"Sial. Ya, udah pergi belanja sana. Aku udah lapar, nih."

Shenka pun pergi ke minimarket terdekat. Setelah memastikan cukup jauh dari rumah, ia mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang.

"Temanku butuh perkerjaan. Tolong carikan perkerjaan yang cocok untuk gadis tamatan SMA," pintanya pada seseorang, lalu menutup sambungan telepon itu.

***

Malamnya di kelab miliknya, Hans datang dengan langkah tergesa mendekati Rovan, sang manajer.

"Mana karyawan itu? Apakah dia sudah datang?" tanya Hans, begitu dirinya sampai di dekat pria itu.

"Belum, Pak. Sepertinya ... dia tidak akan datang," jawab Rovan pesimis.

"Kenapa? Apakah dia sudah tidak butuh perkerjaan?" tanya Hans dengan nada remeh.

"Hanya feeling saja, Pak. Saya rasa temannya itu pasti keberatan Mila kembali berkerja," jelas Rovan.

Hans mengencangkan rahangnya, tidak suka dengan kemungkinan yang Rovan katakan.

"Mana biodata karyawan itu? Berikan padaku," pintanya diiringi dengusan kesal.

Manajer itu berlalu dengan ribuan pertanyaan menggantung di kepala. "Ada apa dengan bos besar? Tidak biasanya dia meminta data karyawan kelab," katanya di dalam hati.

Hans pergi pun bergegas pergi setelah manajer kelab itu mengatakan sudah mengirimkan file yang ia minta melalui email.

Di dalam lift, ia membuka email lewat ponselnya, lalu membaca data Mila yang terlampir. Sudut bibirnya naik setelah mendapatkan alamat Mila. Tanpa membuang waktu, Hans bergerak cepat menuju tempat parkir.

Tidak sampai tiga puluh menit, Hans menemukan alamat rumah Mila. Dengan santai ia memarkir mobil di depan rumah itu. Sebuah rumah berukuran kecil, dengan pagar besi yang catnya sudah mengelupas. Dari balik kemudi, Hans mengamati sekitar rumah sementara otaknya berpikir mencari cara agar bisa bertemu dengan Mila dan Shenka.

Suara tawa mengusik lamunan Hans, ia melihat dua orang gadis berjalan beriringan sambil bersenda gurau menuju rumah tersebut.

"Ah, itu ... Shenka ... gadis yang kemarin," bisik Hans dengan hati berdebar. Gelenyar asing itu kembali menyapa tubuhnya.

"Hanya dengan melihatnya saja tubuhku sudah bereaksi begini? Kenapa, ya?" tanya Hans bingung.

Tawa kedua gadis itu masih terdengar jelas bahkan setelah tubuh mereka menghilang di balik pintu.

Hans ingin menghampiri Shenka, tetapi ia tidak memiliki alasan yang pas untuk menemuinya. Dalam keadaan bingung, tiba-tiba Hans melihat Shenka kembali berjalan keluar rumah. Gadis itu terlihat sedang menelepon seseorang.

Hans ingin turun untuk menyapa, tapi ia urungkan niat karena beberapa saat kemudian ia melihat seseorang datang menghampiri gadis itu, memberikan sesuatu lalu bergegas pergi.

"Wow, apa itu?" tanya Hans dengan tatapan curiga.

Dari tempatnya berdiri Hans melihat Shenka memperhatikan benda itu lalu memasukkannya ke dalam saku baju. Hans tak tahan lagi, rasa penasaran menggelitiknya begitu kuat. Tanpa berpikir panjang lagi, ia pun turun dari mobilnya. Dengan kaki panjangnya, Hans menghampiri Shenka, meraih lengan gadis itu lalu menyeretnya menjauhi rumah.

"Hei, siapa kau? Apa yang kau lakukan?" protes Shenka marah.

"Ssst, diamlah jika kau tidak ingin teman baikmu itu menyusul keluar," ancam Hans.

Shenka mengenali suara Hans. Bahkan dari postur tubuh pria itu Shenka sudah bisa menebak identitasnya.

"Kau ... pria dari keluarga Adalrich itu, kan?" tebak Shenka.

Hans melepaskan tangannya, memutar tubuhnya dengan cepat, memposisikan dirinya tepat di hadapan gadis itu.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku dari keluarga Adalrich?" tanya Hans heran.

"Kenapa? Apa tebakanku salah?" Shenka balik bertanya.

"Kau ... bisa sopan sedikit, tidak?" tegur Hans tidak senang.

"Anda sopan, saya pun segan. Aku bersikap tergantung bagaimana sikap Anda, Tuan," jawab Shenka tanpa takut.

"Mengapa kau tidak meminta maaf padaku? Padahal jelas-jelas kau sudah salah orang malam itu. Kau telah menyerang orang yang salah, Nona," kecam Hans.

"Well ... awalnya aku ingin meminta maaf, tetapi begitu ingat perlakuanmu malam itu, aku merasa tidak ada hutang permintaan maaf lagi padamu."

Kata-kata Shenka mengingatkan Hans pada ciuman mereka malam itu, debaran jantungnya langsung berdetak tak menentu. Terlebih lagi, tepat di hadapan Hans saat ini bibir mungil Shenka seolah memanggil untuk disentuh.

Hans memejamkan mata, menahan gejolak di dalam dirinya yang semakin liar.

"Kau ... telah menguji kesabaranku. Tidak bisakah kau sedikit menurut?" kata Hans geram.

Kata-kata Hans tak ayal membuat Shenka terbahak.

"Kau bukan siapa-siapaku, Tuan. Saudara bukan, teman bukan, pacar pun bukan. Mengapa aku harus menurutimu?" jawab Shenka balik bertanya.

"Kau tahu siapa aku, kan?"

"Tahu."

"Puluhan wanita mengantre ingin jadi kekasihku. Jika dikumpulkan, mungkin mereka sudah bisa dimasukkan ke dalam etalase jodoh yang bisa aku pilih kapan saja," kata Hans dengan sombongnya.

"Maaf jika mengecewakan Anda, Tuan Adalrich yang terhormat. Tetapi aku bukan gadis-gadis itu, dan aku tidak tertarik untuk menjadi salah satu dari mereka," balas Shenka tak mau kalah.

Hans merapatkan tubuhnya pada Shenka, memaksa gadis itu melangkah mundur hingga berakhir pada tembok yang ada di belakangnya.

"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Shenka terbata.

"Aku hanya ingin memastikan ... apakah kau benar-benar tidak tertarik padaku?" tanya Hans seraya bergerak semakin mendekat pada wajah Shenka.

Berada pada jarak yang begitu intim membuat dada Shenka langsung bergemuruh. Bagaimanapun juga, ciuman yang dilakukan Hans malam itu adalah yang pertama baginya. Jelas Shenka tidak akan bisa melupakannya dengan mudah.

Shenka memalingkan wajahnya yang semakin merona.

"Aku tidak tertarik padamu, menjauhlah," cicit Shenka.

Sudut bibir Hans naik beberapa derajat. Ia tahu gadis muda itu juga tertarik padanya. Hans meraih dagu Shenka, lalu memutar wajahnya sehingga sepasang mata mereka bertemu. Gelenyar asing semakin kuat mendera tubuh mereka.

"Aku menginginkanmu, Shenka. Jadilah kekasihku."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Itu Luka
8.9
Kehidupan Nur Alia runtuh setelah kehilangan lima calon bayinya. Bukannya dikuatkan, ia malah ditekan dan dituduh mandul oleh sang suami. Kehadiran orang baru yang diharapkan membawa kesembuhan justru menggoreskan kepedihan yang lebih dalam. Di tengah rasa putus asa dan hilangnya kepercayaan pada cinta, sebuah keajaiban besar hadir. Tuhan mempercayakan dua malaikat kecil untuk tumbuh di rahimnya yang selama ini dianggap telah rapuh.
Sampul Novel HATE BEING A RICHMAN
8.3
Tsabit, yatim piatu sukses yang rendah hati di Woodela, harus menghadapi kenyataan pahit saat rahasia kelam orang tuanya terungkap. Dunianya hancur ketika mengetahui bahwa Shakeela, wanita yang ia cintai, ternyata adalah saudara kandungnya sendiri. Hubungan terlarang ini membuat Tsabit membenci kekayaannya dan menyesali takdir pertemuan mereka. Meski dosa masa lalu memisahkan keduanya, ikatan tulus yang telah terjalin membuat mereka sangat sulit untuk saling melepaskan.
Sampul Novel Kursi Panas di Kantor
8.9
Giselle Putri Natapradja, konsultan senior ambisius di The Converge, harus merelakan posisi partner impiannya direbut oleh Akira Hangga Aryanto, pria kompeten dari firma ternama. Keadaan kian pelik karena Akira adalah sosok dari masa lalu yang pernah terlibat cinta satu malam dengannya. Kini, di tengah rivalitas kerja yang sengit untuk membuktikan kapasitas diri, mereka juga harus berjuang keras menahan kembali gejolak asmara lama yang perlahan mulai membara.
Sampul Novel Marriage Agreement
9.2
Demi melunasi utang besar sang ayah kepada Ruben Manasye, Aileen Benyamin terpaksa menikahi Samuel Manasye. Walau baru sekali berjumpa, mereka sepakat bersandiwara dalam pernikahan dengan rencana hamil palsu, adopsi anak, lalu bercerai. James, kekasih Aileen, merestui siasat ini namun mengajukan syarat yang sangat berat. Mampukah pernikahan pura-pura ini bertahan, atau justru tuntutan sulit dari James yang akan mengacaukan segalanya?
Sampul Novel Pengantin SMA
8.4
Akibat tertangkap basah berduaan di kamar, Laura dan Kavin terpaksa menikah muda di masa SMA demi menuruti kemauan keluarga. Di balik perbedaan sifat yang kontras, kehidupan pernikahan ternyata sangat rumit bagi emosi labil remaja mereka. Meski sama-sama mendambakan perceraian, keduanya belum cukup berdaya untuk berpisah. Sambil menanti momen itu tiba, mampukah pasangan muda ini bertahan dan menjaga kewarasan saat harus hidup bersama?
Sampul Novel Terpaksa Nikah SMA
9.1
Mila memimpikan pernikahan bahagia dengan suami kaya yang sangat mencintainya. Namun, kenyataan pahit menghancurkan harapan itu ketika Arjuna menorehkan luka mendalam. Akibat kehamilan di luar nikah, mereka terpaksa menjalani pernikahan dini yang penuh konflik dan air mata. Dibayangi masa lalu yang menyakitkan, kini Mila dihadapkan pada pilihan sulit di persimpangan jalan: terus bertahan dalam hubungan ini atau menyerah dan melepaskan segalanya.