APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Because That Night

Because That Night

Menyesali hidupnya, Ariel Anata nekat menyerahkan kesucian kepada Sean Rinadi di kelab malam. Meski berjanji berpisah selamanya, takdir justru mempertemukan mereka kembali saat Sean hadir sebagai calon tunangan Vania, kakak Ariel. Sean memanfaatkan situasi ini demi mengejar cinta Ariel. Sebaliknya, Ariel yang selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya memilih memanfaatkan Sean sebagai alat balas dendam kepada keluarganya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ariel berjalan pelan memasuki rumahnya. Hari masih begitu pagi, beruntung yang membukakannya pintu adalah seorang. asisten rumah tangga. Ariel pun berjalan acuh tak acuh melewati ruang tamu, menuju ruang tengah.

"Darimana saja kamu jam segini baru pulang?"

Ariel tersentak mendengar seruan mamanya yang tiba-tiba. Ia menoleh dan wanita paruh baya namun masih memiliki raut kecantikan di wajahnya itu sedang duduk di sofa ruang tengah, tengah memandangnya dengan pandangan nanar.

Ariel berusaha tampak santai. "Aku main bersama teman-temanku."

Mamanya melototkan matanya. "Sampai pagi?"

"Kami nginap di hotel," jawab Ariel berusaha santai, "karena sudah terlalu malam jadi kami memilih untuk tidur di hotel."

Mama Ariel memandang Ariel dengan pandangan menyelidik. Ia lalu menghela napas dan memegang pelipisnya. "Kamu ini ... papamu sedang ada di luar kota. Apa kau tidak bisa diam di rumah menemani kakakmu?"

"Aku bosan di rumah," balas Ariel, "aku punya teman-teman di luar dan aku senang bersama mereka."

"Oh ... teman-temanmu yang membuatmu main hingga tak pulang semalam?"

Ariel memutar bola matanya, rasanya ia malas beradu pendapat dengan ibunya.

"Kamu ini ... beda sekali dengan kakakmu!" ucap wanita itu.

"Sudahlah, Ma ... aku capek!" kata Ariel, "aku mau ke kamar dulu." Ariel pun langsung berlari menaiki tangga dan meninggalkan mamanya.

"Ariel, mama belum selesai!" teriak wanita itu. Ia lantas mendengus marah, anak bungsunya itu selalu saja membangkang dan tak mau mendengar ucapannya. Wanita itu memijit-mijit pelipisnya yang mulai sakit akibat ulah anak bungsunya itu, ia bertanya-tanya kenapa anaknya itu tak bisa bertingkah manis dan penurut seperti kakaknya?

Ariel yang tak mengubris lagi mamanya, membuka pintu kamarnya. Ia melempar handphone-nya di ranjang lalu ia menuju kamar mandi. Saat ia buang air kecil, ia merasakan perih di bagian kemaluannya. Ia lalu melepaskan pakaiannya dan mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringatnya maupun keringat pria yang telah bercinta dengannya semalam.

Selesai mandi Ariel mengenakan baju kaos dan celana pendek. Ia lalu meraih handphone-nya dan mengecek notifikasi chat yang masuk di handphone-nya. Ada chat dari Suzy, salah satu sahabatnya.

'Ariel, kau kemana saja? Tiba-tiba kau hilang di kelab dan tidak mengangkat teleponku. Kau baik-baik saja, kan?'

Ariel pun segera membalas chat dari sahabatnya itu.

'Iya aku ada di rumah sekarang.'

Tidak lama kemudian Suzy membalas chat Ariel.

'Syukurlah, nanti siang kita mau ngumpul-ngumpul di Cafee. Kamu ikut, kan?'

Ariel menimbang-nimbang. Jujur, ia masih lelah apalagi area kemaluannya masih terasa sakit. 'Maaf, ya ... kapan-kapan saja. Mamaku sangat marah waktu aku pulang. Tidak apa-apa, kan?'

Suzy langsung membalas chat Ariel.

'Oh ... begitu. Tidak apa-apa, aku ngerti, kok.' Ariel meletakkan handphone-nya di atas nakas lalu ia membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia memejamkan matanya, masih terbayang-bayang dengan jelas apa yang ia lakukan bersama Sean semalam, begitu menyakitkan namun sekaligus memberinya kenikmatan bercinta.

Ia pun tak menyangka bahwa keperawanannya telah ia serahkan kepada pria yang baru ia kenal, rasanya apa yang ia lakukan benar-benar gila. Ariel memejamkan matanya. Bagaimanapun ia harus melupakan kejadian semalam dan ia tak akan pernah lagi bertemu dengan pria bernama Sean itu.

***

Wajah Sean tampak begitu serius menatap tumpukan berkas-berkas yang lama ia tunda untuk ditandatanganinya. Ia bukannya sengaja tak ingin segera menyelesaikan tugasnya untuk menandatangani semua dokumen di atas meja itu tapi ia tak bisa fokus membaca isi dari berkas-berkas itu. Ia tak mungkin asal menandatanginya karena semua dokumen ia anggap penting tapi ia benar-benar tak bisa konsentrasi tiap membaca isi semua berkas-berkas itu.

Tok tok tok.

"Masuk!" seru Sean.

Pintu terbuka dan seorang wanita cantik masuk dengan membawa beberapa dokumen. Wanita itu pun menghadap ke Sean.

"Apa itu?" tanya Sean dengan kening mengerut tajam.

"Ini dokumen yang harus Bapak tanda tangani.

"Dokumen lagi? Sean makin mengernyit melihat dokumen yang dibawa oleh sekretarisnya itu. Belum juga ia menandatangi berkas-berkas beberapa hari yang lalu dan sekarang ada dokumen baru lagi yang harus ia baca dan tanda tangani.

"Taruh saja di sana!" perintah Sean.

"Baik, Pak," jawab wanita cantik itu. Ia menaruh dokumen-dokumen itu di meja lalu ia membungkuk hormat ke arah Sean sebelum ia melenggang keluar dari ruangan pria itu.

Sean menghela napas, ia lalu memutar kursi kerjanya ke belakang hingga ia menghadap ke arah dinding kaca yang menjulang dari lantai hingga ke langit-langit ruangan itu. Sebulan telah berlalu namun ia belum juga bisa melupakan kejadian malam itu. Gadis bernama Ariel itu benar-benar menguasai pikirannya. Sean sangat ingin bertemu lagi dengan gadis itu. Ia bisa saja menghubungi teman-temannya yang mengundangnya ke kelab di malam itu dan menanyakan hal tentang Ariel, namun ia mengingat kesepakatan ia dan Ariel bahwa mereka tak akan bertemu setelah malam itu berlalu.

Sean bimbang, ia ingin sekali tahu keadaan gadis itu dan ingin mengenalnya lebih jauh. "Akankah kita bertemu lagi ...?" gumam Sean begitu lirih.

Malam telah tiba, Sean tiba di rumah milik keluarganya yang begitu megah. Ia masuk dan disambut oleh Ayah dan ibu sambung Sean yang masih tampak muda.

"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya seorang pria paruh baya yang terlihat amat bijaksana. Pria itu duduk di sofa bersama istrinya yang cantik.

"Seperti biasa, baik," jawab Sean agak cuek.

"Kuperhatikan akhir-akhir ini kau terlihat kacau," tebak pria bernama Tirta Rinaldi itu.

"Ayah tahu darimana?" tanya Sean dengan kening mengerut, "aku biasa saja," kelitnya.

"Kau sudah makan?" tanya wanita cantik bernama Angel.

"Ya, aku makan di luar tadi," jawab Sean. "Tumben kalian menyambutku di sini," ucapnya.

"Bisakah kau duduk sebentar bersama kami?" kata Angel.

Sean berjalan menuju sofa dan duduk berhadapan dengan ayahnya. "Sean, apa kau punya pacar?" tanya Tirta.

"Tidak. Memangnya kenapa?" Sean malah bertanya balik.

"Baguslah, Ayah punya teman lama yang sangat baik. Kebetulan dia punya anak gadis yang amat cantik."

"Oh, ya?"

"Ayah berniat menjodohkanmu dengannya," kata Tirta.

Sean menghela napas. "Ayah tidak perlu melakukan itu, aku bisa mencari gadis untuk aku nikahi."

"Apa salahnya kau mengenalnya dulu?" kata Tirta. "Dia gadis yang cantik, berprestasi dan dibanggakan oleh keluarganya," kata Angel, "kau yakin mau menolak gadis seperti itu?" lanjutnya.

Sean menghela napas lagi. Memang tidak ada salahnya jika dia mengenal gadis yang katanya cantik, baik, berprestasi dan kebanggaan keluarganya itu. Namun, rasanya ia tak ingin membuka hatinya saat ini. Karena ia masih memikirkan Ariel.

"Baiklah," kalian susun rencana saja kapan kalian mau memperkenalkan aku dengan dia," kata Sean, "tapi aku tidak janji akan tertarik dengan gadis idaman kalian.

" Wanita cantik itu tersenyum puas. "Baiklah, kami akan merencanakan kapan kalian akan bertemu."

"Tidak ada lagi, kan, yang harus dibicarakan?" kata Sean. Ia lalu beranjak dari sofa dan berlari menuju tangga.

"Dasar anak itu! Selalu saja bersikap seperti itu," gerutu ayah Sean.

"Sabar, Sayang ... yang penting dia mau menuruti kita saat ini," ucap wanita cantik itu. "Angel, tolong ambilkan aku obat!" kata pria itu pada istrinya, "kepalaku tiba-tiba sakit."

"Baiklah, tunggu sebentar."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cintanya dan Hartaku
9.2
Saat hendak menyetor uang ke bank, sebuah unggahan media sosial mengubah hidupku. Seorang netizen mengaku telah menikah diam-diam dengan cinta pertamanya, sementara pacarnya yang naif terus mengisi rekening bersama mereka hingga mencapai 1,3 miliar rupiah. Sang pengunggah bahkan berencana menguras habis uang itu saat mencapai 1,6 miliar. Begitu memeriksa saldo yang bernilai sama persis, aku menyadari kenyataan pahit bahwa kekasihku sendiri yang telah melakukan pengkhianatan besar ini.
Sampul Novel (bukan) Perempuan Biasa #buku ketiga
9.6
Kehidupan mapan Davina Hadinata runtuh usai menjalin kasih dengan Aria Wardana yang ternyata telah beristri. Tak cukup difitnah Aria hingga kehilangan pekerjaan, bisnis ayah Vina pun hancur akibat skandal kakaknya. Petaka kian memuncak ketika istri Aria nekat mengakhiri hidup. Hal ini memicu murka Rajata Bagaskara yang ingin membalas dendam atas kematian keponakannya. Rajata menodai Vina hingga hamil. Di tengah kemiskinan dan penderitaan mendalam, Vina harus berjuang bertahan hidup.
Sampul Novel DENDAM dan JERAT PESONA GADIS yang KUCULIK
9.7
Anggara menculik Almaira demi membalas dendam atas kematian ibunya. Ia ingin membuat ayah gadis itu menderita karena kehilangan putrinya selamanya. Namun, saat menyekap Almaira, benih cinta justru tumbuh di hati Anggara. Kini ia terjebak di antara kebencian masa lalu dan perasaan barunya. Akankah cinta mampu memadamkan amarahnya, sementara Almaira sendiri sangat membenci sang penculik?
Sampul Novel Gairah Suami Perkasa
8.0
Marvin Rock adalah pria kaya raya dan berkuasa yang memiliki segalanya. Walau banyak wanita hebat memuja status sosialnya, bagi Marvin, ketulusan hati tetaplah hal terpenting. Hidupnya diwarnai gairah serta dominasi yang kuat, bahkan sang istri dengan bangga mengakui keperkasaan suaminya tersebut. Kisah ini mengulas kekuatan, kekayaan melimpah, dan pesona memikat dari sosok lelaki yang tak tertandingi di dunianya.
Sampul Novel Hold My Hand
8.0
Kepergian orang tua angkat menyisakan duka sekaligus gejolak rasa yang tak biasa dalam diri Khanza kepada kakaknya, Barra. Kendati tanpa hubungan darah, ikatan persaudaraan mereka melahirkan konflik batin yang menyiksa. Di tengah kebimbangan cinta terlarang itu, ujian berat menghampiri. Keadaan menjadi sangat genting ketika Barra dituduh terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan misterius, mengancam masa depan sekaligus rahasia terdalam yang mereka simpan.
Sampul Novel Kakakku, Pengkhianatku
9.2
Kehidupan Raya hancur saat empat kakak kandungnya berbalik mengasihani Luna, gadis asing yang merebut posisinya. Meski Raya berjuang menghadapi berbagai intrik licik Luna demi membuktikan kebenaran, usahanya selalu sia-sia. Sikap tidak adil yang terus ia terima perlahan mengikis habis rasa sayangnya pada sang kakak. Lelah terus disakiti, Raya akhirnya memilih menyerah dan pergi menjauh untuk meninggalkan semua luka dalam yang telah merusak hidupnya.