APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Be My Husband

Be My Husband

Kiran Naomi Tanaka memiliki satu tujuan hidup yang mutlak, yaitu menikah dengan Evan Davaro Saga. Sejak awal bertemu, ia bertekad memikat hati pria dingin yang juga putra dari sahabat ayahnya tersebut. Sayangnya, Evan yang sangat gila kerja selalu bersikap acuh tak acuh. Ia bahkan kerap meminta Kiran untuk lebih fokus belajar matematika ketimbang memikirkan pernikahan. Di tengah perbedaan usia mereka yang cukup jauh, sanggupkah kegigihan Kiran meluluhkan Evan, atau ia justru akan patah hati?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kiran!"

Seruan lekingan seseorang ketika aku baru saja berjalan melewati gedung perpustakaan membuat langkahku terhenti. Aku menarik napas sejenak, mengetahui siapa itu tanpa harus berbalik badan.

"Aduh Kiran, aku panggil kenapa nggak nyahut sih," ujar Ruri kini berdiri di hadapanku.

Aku berkacak pinggang menatapnya. "Apa Ruri sayang?"

Ruri mendengkus pelan. "Pasti kau belum cek Instagram kan hari ini?" tanyanya dengan mata menyipit.

Aku menggelengkan kepala. "Kuotaku habis pagi ini. Ada apa?" Mataku sedikit melebar membayangkan sesuatu hal. "Ada berita dating dari anggota BTS?"

Ruri telah memutar bola matanya. "Aduh bukan itu, tapi Soraya dan Fahmi baru saja posting foto yang sama."

Aku mengangkat sebelah alis. "Terus?"

Entah melihatku kesal atau apa, tiba-tiba Ruri maju selangkah dan memukul pelan lenganku. "Artinya mereka pacaran! Mantanmu Fahmi yang baru putus bulan lalu," tandasnya menegaskan setiap kata dalam ucapannya.

"Aku tahu, kau tidak perlu heboh seperti itu," balasku melanjutkan langkah kakiku.

Bagaimana mungkin aku tidak tahu tentang kabar kencan antara Soraya yang merupakan anak ekstrakulikuler tari yang terkenal dengan Fahmi yang anak basket sekaligus mantan pacarku.

Fahmi tiga hari lalu mengajakku untuk balikan dengannya, namun kutolak mentah-mentah. Alasan kami putus pun, karena aku mendapatinya berbohong, di mana dia berkata sedang nongkrong bersama temannya. Namun ternyata jalan bersama Soraya.

"Kiran, hampir seluruh teman angkatan dan junior satu tingkat di bawah kita membicarakan ini. Katanya kau telah dicampakkan," kata Ruri mengikutiku, mencoba mensejajarkan dirinya.

"Biarkanlah, mati satu tumbuh seribu."

Akhirnya kami sampai di depan kelas, Ilmu Alam tiga. Begitu aku melangkah masuk, bisa kulihat pandangan teman sekelasku, terutama para murid perempuan dan sekarang aku mengerti maksud Ruri tadi.

"Apakan yang kubilang," bisik Ruri kemudian berjalan duluan menuju bangku kami.

Aku hanya memandang datar sekeliling dengan tidak peduli, lalu ikut duduk di sebelah Ruri yang adalah teman sebangkuku juga. Masih ada waktu sebelum waktu istirahat berakhir. Lalu ketika aku mulai membenahi rambutku melalui kamera depan ponselku, suara berbisik teman satu kelasku menggema.

"Ini buku catatan Fisikanya."

Jreng! Tiba-tiba sebuah buku tulis di mana bagian depannya terdapat nama Deril di sana. Aku mendongak mendapati pemilik buku tersebut menatapku datar.

Siapa yang tidak mengenal Deril. Anak Ilmu Alam satu yang pintarnya tiada dua dalam sekolah kami, SMA Nusantara Semesta. Juara lomba Sains, Matematika hingga debat bahasa Inggris. Belum lagi kenyataan bahwa dia anak orang kaya.

"Oh oke, makasih," balasku mengambil buku tersebut dan memasukkannya ke dalam tasku. Sedangkan Deril hanya membalas dengan anggukkan kepala, lalu keluar dari kelasku.

Seketika murid perempuan heboh mengobrol satu sama lain. Termasuk Ruri kini mulai mendekatkan dirinya padaku.

"Ki, apa itu tadi?" tanya Ruri yang sepertinya sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"See? Mati satu tumbuh seribu," jawabku dengan nada sombong sambil mengendikkan bahu acuh tak acuh.

Padahal kedatangan Deril adalah sesuatu yang sangat terencana. Hal itu bermula ketika aku masuk ke ruang guru untuk mengumpulkan LKS Biologi, lalu tanpa sengaja melihat Deril salah mengumpulkan buku tugas. Ketika lelaki keluar dari ruang guru, dia menjatuhkan kunci mobilnya dan beruntung aku yang menemukannya. Kami pun membuat kesepakatan, bahwa aku akan mengembalikan kunci mobilnya sepulang sekolah nanti apabila Deril datang membawakanku buku catatan yang salah itu. Dan aku berkata akan mengembalikannya besok.

Tujuan kulakukan hal itu adalah untuk meredam gosip tentang bagaimana diriku yang dicampakkan oleh Fahmi. Padahal para murid tidak tahu yang sebenarnya. Entah Deril terlalu tidak peka atau bermasa bodoh, sehingga menuruti permintaanku itu.

Bel terakhir berbunyi, setelah dua jam aku harus menonton film dokumenter sebagai pengganti kelas mata pelajaran sejarah. Aku meraih tas ransel pada sandaran bangku, namun langkahku tertahan oleh tangan Ruri yang terlentang lebar di depanku.

"Ada apa lagi?" tanyaku malas. Aku yang sudah lelah hari ini, ditambah cuaca yang begitu terasa panas. Membuatku ingin segera masuk ke dalam menyalakan AC sambil berbaring.

"Kau belum jelasin tentang bagaimana Deril dengan gagahnya masuk dan menghampirimu serta memberikan buku catatannya itu."

"Bagaimana mungkin kami tidak saling kenal? Aku dan dia satu kelas sewaktu kelas satu, kemudian … kami satu angkatan dan jurusan juga," balasku memberi penjelasan yang masuk akal.

Ruri berdecak lidah. "Tapi kita bicara tentang Deril, lelaki yang selama ini lebih suka sendiri ke mana-mana dan menyendiri di perpustakaan. Bahkan teman laki-lakinya pun hanya dihitung jari, dan … seorang Kiran murid perempuan yang lebih banyak menghabiskan waktunya di kantin daripada di perpustakaan, kenal dengan sang jenius SMA ini?"

Entah mengapa ucapan Ruri sedikit membuatku tersinggung. Aku mengakui, dibandingkan nilai dan prestasiku daripada Deril, tentu kami jauh berbeda. Deril bukanlah jenis murid cupu yang menghabiskan waktunya di perpustakaan, karena tidak punya teman, tetapi memang lelaki itu saja begitu adanya. Namun bukan mustahil juga bagiku dengan Deril untuk kenal satu sama lain bukan?

"Sudah, sudah. Aku capek, kau perlu menunggu Reni bukan?" ujarku membahas tentang adik perempuan Ruri yang juga bersekolah di sini. Reni sendiri masih kelas satu SMA.

Ruri mendesah. "Ah benar, padahal aku ingin segera pulang melihat serial Teenwolf yang baru rilis season terbarunya.

"Baiklah, aku duluan ya," balasku menepuk bahu Ruri sebelum berjalan menuju gerbang sekolah.

Namun langkahku kembali tertahan begitu sebuah tangan memegang tanganku dari arah belakang. Aku berbalik badan dan terkejut menyadari bahwa itu adalah Deril. Yang lebih mengejutkan lagi, karena sedang jam pulang sekolah, sehingga banyak murid yang melihat kami. Oh tidak, ini terlalu menarik perhatian.

"Mana kunci mobilku?"

Mataku menatap tajam lelaki itu. "Kenapa harus di sini?" Aku sedikit mendesis.

"Kau bukannya mau pulang bukan? Jika lupa, aku yang tidak bisa pulang," balasnya santai.

Aku baru menyadari tanganku masih dipegangnya ketika akan merogoh isi tasku untuk mengambil kunci mobilnya.

Deril reflek melepas tanganku yang mungkin baru menyadarinya juga. Setelah memberikan kunci mobilnya, lelaki itu mulai berjalan pergi. Namun baru beberapa langkah dia kembali ke arahku.

"Nggak mau sekalian aku antar?" tanyanya membuat mataku membulat.

Aku tersenyum kikuk. "Nggak deh, aku pakai taksi daring saja."

Kulihat Deril tampak berpikir sambil menatapku. "Yakin? Nantikan rumor bahwa kau dicampakkan kedua kalinya akan kembali terdengar."

Aku melongo tidak percaya mendengar ucapan Deril. Apakah gosip dicampakkannya diriku begitu terkenal hingga sosok seperti Deril saja tahu? Lelaki itu bahkan tersenyum tipis setelah mengatakannya.

"Ayo," ajaknya berjalan duluan.

Aku memerhatikan sekitarku, di mana masih banyak teman angkatanku yang melihat ke arahku dan Defil. Namun ketika mataku menangkap sosok Fahmi yang berjalan bergandengan dengan Soraya, membuatku pada akhirnya mengikuti Deril menuju parkiran.

"Makasih tumpangannya," ujarku menoleh menatap Deril, setelah mobilnya berhenti tepat di depan gerbang rumahku.

Lelaki itu hanya mengangguk singkat. "Jadi bukuku mau kau kembalikan besok atau sekarang?"

"Oh iya ya, aku berkata untuk besok karena kupikir tidak akan bertemu denganmu lagi tadi," balasku kemudian mengeluarkan buku catatan miliki lelaki itu.

"Ternyata rumahmu dekat dengan rumahku," ujar Deril setelah melempar bukunya ke kursi belakang.

Aku mendengkus pelan, lalu tersenyum. "Kenapa? Mau jemput besok?" tanyaku bercanda.

"Mau?"

Aku yang sudah memegang pegangan pintu mobil kembali berbalik menatap kaget Deril atas balasan ucapanku. Kulihat dia malah tertawa pelan, membuatku ikut tertawa. Tidak kusangka lelaki itu bisa bercanda juga, padahal selama ini terlihat dingin.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arus yang Membuatku Liar
9.6
Novel romantis modern Arus yang Membuatku Liar mengisahkan tindakan kejam seorang suami yang tega mengaktifkan alat pengontrol pada tubuh istrinya ke tingkat tertinggi saat berada di tempat umum. Di tengah keramaian, sang istri seketika kehilangan kekuatan hingga terjatuh lemas di lantai. Alih-alih mendapatkan pertolongan tulus, ia justru menjadi pusat perhatian dan dikelilingi oleh pria-pria asing dengan niat buruk yang mulai mendekatinya dalam situasi tak berdaya tersebut.
Sampul Novel Brave Heart
8.7
Kecelakaan tragis membuat fisik Seruni Arkadewi cacat. Kemalangan tak berhenti di situ; sang kekasih berkhianat dengan sahabatnya, dan ayah tirinya tega menjualnya kepada pria tua kaya. Menolak menyerah pada nasib, Seruni memilih melarikan diri demi membuktikan bahwa ia mampu mandiri. Langkahnya ini dinilai konyol oleh Antonio Brata Kesuma, konglomerat yang sangat antipati pada kelemahan fisik. Namun, kegigihan Seruni yang menolak belas kasihan perlahan menantang pandangan Antonio.
Sampul Novel DIBUANG SUAMI DISAYANG AYAH MERTUA
8.4
Elsa, gadis desa yang polos, harus menjalani pernikahan dingin dengan Landon, sang pewaris Parker Group. Demi memenuhi wasiat sang kakek, Landon justru tega menyiksa Elsa hingga terpuruk. Di tengah penderitaan tersebut, sang ayah mertua, Alex Parker, datang mengulurkan tangan demi tanggung jawabnya. Namun, interaksi yang intens memicu ketertarikan terlarang bagi sang miliarder. Mampukah Alex meredam gairahnya pada Elsa, atau ia justru akan menyerah pada godaan tersebut?
Sampul Novel Gairah Nakal Sang Billionaire
8.5
Raisa Aquila Nazara, gadis berusia 25 tahun, dijebak oleh Helena, ibu dari kekasihnya sendiri. Rencana jahat itu membawanya masuk ke kamar Raka Mirza Bramantyo, seorang CEO tampan berumur 27 tahun yang terkenal playboy. Kejadian tak terduga di malam itu memaksa Raisa menghadapi konsekuensi pahit dari perbuatan mereka. Apakah peristiwa memalukan ini akan menghancurkan hidup Raisa, atau justru menjadi babak baru dalam hubungannya dengan Raka?
Sampul Novel Lovely Rivalry
8.5
Di SMA Melody, Kayana Setyawan, si Ratu Es kaya raya, terlibat rivalitas sengit dengan Naruga Indra, pemuda sederhana yang genius fisika. Perbedaan kasta memicu perseteruan tajam di antara mereka. Namun, sebuah insiden berdarah di sekolah memaksa keduanya bersatu. Memadukan kekuasaan harta Kayana dan logika tajam Ruga, mereka menyelidiki misteri siswa yang koma. Di tengah persaingan ini, benih cinta tak terduga mulai menguji integritas dan menyatukan perbedaan dunia mereka.
Sampul Novel Pacar Online-ku Adalah Bosku
8.5
Menjalani hubungan virtual tanpa mengetahui identitas asli satu sama lain membawa kejutan besar bagi seorang karyawan saat menyadari pacar online-nya adalah bosnya sendiri. Karena terus menolak ajakan bertemu, ia akhirnya memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Keputusan ini membuat sang bos patah hati hingga meluapkan kekesalannya dengan memaksa seluruh staf lembur. Demi menyelamatkan kesehatan fisik dan mentalnya dari siksaan pekerjaan, ia kini berpikir untuk balikan dengan sang atasan.