APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bayangan Luka di Balik Seragam Putih

Bayangan Luka di Balik Seragam Putih

Demi membersihkan nama baik sang adik yang tewas dalam fitnah, Aldian menyelidiki seorang guru bereputasi bersih yang ternyata menyimpan rahasia kelam. Di tengah misi balas dendam itu, ia bertemu Aluna, putri guru tersebut yang hidupnya tertekan oleh ambisi sang ibu. Meski awalnya berniat memanfaatkan Aluna, Aldian menyadari gadis itu juga memendam luka yang sama. Kini, ia bimbang antara menuntaskan dendamnya atau memilih cinta yang tumbuh di tengah kebenaran pahit.
Bab
Bagikan

Bab 2

Langit mendung menggantung di atas sekolah itu, seolah tahu bahwa ada sesuatu yang belum selesai di tempat ini.

Aldian berdiri di luar pagar besi tua, menunggu momen yang tepat untuk masuk.

Bel pulang akan berbunyi sebentar lagi. Suara riuh para siswa di dalam mulai terdengar samar.

Ia memilih berdiri di bawah pohon ketapang, menyamar di balik bayangannya, topi hitam menutupi sebagian wajah.

Sudah hampir sebulan sejak ia terakhir ke sini.

Kali ini, ia tidak datang sebagai keluarga korban.

Ia datang sebagai penyidik- bukan polisi, bukan wartawan, hanya seorang kakak yang kehilangan, yang mencium bau kebohongan dari setiap kalimat yang diucapkan guru- guru itu saat pemakaman.

Ia membawa buku harian Aruna di dalam tas kecilnya.

Sudah dibacanya berulang kali.

Setiap kalimatnya membakar satu demi satu kepercayaan pada sistem yang katanya "melindungi siswa."

Dan hari ini... ia ingin mulai dari ruang guru.

Saat bel sekolah berbunyi, gerbang dibuka. Siswa- siswi keluar berbondong- bondong.

Ia menyelinap masuk, mengikuti arus, langkahnya ringan, matanya mengamati. Tidak ada guru yang memperhatikan- semua sibuk menertibkan barisan, mengawasi murid- murid.

Ruang guru berada di sayap kiri gedung.

Ia tahu jalan ke sana. Dirinya pernah ke sana dulu. Pernah duduk di kursi tunggu, menanti wali kelas Aruna keluar sambil tersenyum palsu, menyampaikan "tak ada yang perlu dikhawatirkan".

Hari ini, Aldian yakin senyum palsu itu akan mulai dikupas satu persatu.

Namun langkahnya terhenti sesaat.

Di ujung lorong, tepat di depan ruang guru.

Seseorang tengah berdiri membelakanginya.

Seorang gadis. Rambut di kuncir kuda dengan seragam rapi tanpa ada lipatan yang nampak pada seragamnya.

Punggungnya tegak seperti tiang bendera. Ia sedang berbicara dengan guru lain, entah tentang apa, suaranya pelan tapi tegas.

Dan saat guru itu pergi, gadis itu berbalik.

Matanya langsung bertemu dengan milik Aldian.

'Gadis itu tampaknya tak asing' Batin Aldian tanpa sadar.

Untuk sesaat, waktu seperti menahan napas Aldian.

Aldian terpaku. Dadanya bergetar pelan.

Dia tidak pernah bertemu langsung sebelumnya.

Aldian ingat pernah melihat foto gadis itu di dokumentasi sekolah, dan sekali dalam layar laptop saat mencari nama- nama guru.

Tapi melihatnya dari dekat... seperti ada sesuatu yang mengganggu.

Gadis itu tampak berbeda dari gadis kebanyakan.

Matanya tajam, tapi kosong.

Langkahnya rapi, tapi kaku.

Wajahnya cantik dalam cara yang kedinginan.

Seolah segala yang ada dalam dirinya sudah diprogram sejak kecil, belajar, les, prestasi, disiplin dan..... diam.

Mereka saling menatap dalam beberapa detik.

Aldian refleks menunduk, menyibak pandangan.

Tapi Gadis itu tetap memandangnya.

Seperti tahu, seperti curiga.

"Kakak siswa baru ya?" tanyanya.

Suaranya jernih. Netral. Tidak ramah, tapi tidak juga mengusir.

Aldian ragu sejenak.

"Iya... Aku cuma mau... cari ruang tata usaha," jawabnya cepat, berbohong sehalus mungkin.

Gadis itu mengangguk kecil.

"Dari gerbang, belok kanan. Ruang TU- nya di belakang perpustakaan."

Nada bicaranya seperti robot. Sopan. Efisien. Tidak ada emosi.

Seperti dilatih.

"Makasih," balas Aldian, menatap cepat lalu melangkah pergi.

Tapi di langkah ketiga, ia menoleh sekali lagi.

Gadis itu masih berdiri di tempat. Matanya masih memandang.

Tatapan yang kosong... tapi entah kenapa terasa familiar bagi Aldian

Tatapan seperti milik adiknya, di hari- hari terakhirnya.

Dan dalam hati Aldian seolah tahu.

Gadis itu... mungkin akan jadi kunci.

Entah sebagai korban...

...atau sebagai bagian dari kebenaran yang selama ini dikubur rapi.

Langkah Aldian menyusuri lorong menuju ruang tata usaha terasa sunyi dan berat.

Derap sepatunya nyaris tak terdengar di atas lantai keramik yang sudah sedikit kusam.

Jam menunjukkan hampir pukul delapan pagi, namun suasana sekolah belum terlalu ramai-hanya beberapa guru yang melintas cepat dan beberapa staf yang sibuk dengan dokumen.

Ia sempat berdiri di depan pintu ruang TU, berpura- pura menunggu seseorang sambil sesekali melirik ke dalam. Matanya seolah- olah mencari- cari seseorang.

Namun setelah beberapa menit berlalu, Aldian menghela napas.

Lelaki itu pun memutar arah, wajahnya menegang.

"Kalau nggak ada bukti di sini, aku bisa mulai dari area sekitar dulu," pikirnya cepat.

Tanpa membuang waktu, Aldian melangkah lebih dalam ke kompleks sekolah.

Menyusuri lorong- lorong belakang yang tampak jarang dilewati.

Ia melewati ruang guru, lalu menuju ke arah bangunan gudang tua yang berada di dekat taman belakang sekolah.

Pintu gudang itu sedikit terbuka, dan dengan sigap ia mendorongnya perlahan.

Dalam gelap dan debu, ia mengedarkan pandangan. Tumpukan alat peraga, kardus- kardus berlabel, dan bangku rusak memenuhi ruangan itu.

Tangannya menyibak tirai laba- laba di sudut atas kardus, mencari- cari-mungkin, petunjuk kecil, catatan, atau benda yang tertinggal dari masa adiknya. Tapi tidak ada apa- apa. Hanya debu dan kesunyian.

Saat ia hendak berbalik dan keluar, tiba- tiba terdengar suara langkah kaki cepat dan berat di luar gudang. Langkah yang tidak biasa. Langkah seorang pria dewasa- berat, dan tergesa.

Aldian membekukan diri.

"Siapa di dalam?" suara itu terdengar keras.

Seorang satpam.

Tanpa menunggu, Aldian langsung mencari tempat bersembunyi di balik tumpukan kardus tinggi.

Detak jantungnya memukul keras dadanya. Napasnya ditahan sedalam mungkin.

Pintu gudang terbuka lebar. Suara sepatu satpam menghantam lantai beton.

"Seperti aku tadi melihat ada bayangan masuk ke sini barusan," gumam sang satpam curiga.

Langkahnya semakin dekat.

Ia berhenti hanya beberapa meter dari tempat Aldian bersembunyi.

"Siapa pun kamu, ini area terlarang untuk murid. Kalau kamu bukan staf atau siswa, saya akan laporkan ke kepala sekolah," ucapnya tegas, sembari menyalakan senter dan menyorot ke segala penjuru.

Cahaya hampir mengenai wajah Aldian. Tangannya mengepal erat. Ia tahu satu gerakan salah saja bisa membuatnya ketahuan.

Namun tak lama kemudian, suara handy talky di sabuk satpam itu menyala.

"Pak Wawan, segera ke gerbang depan. Ada wali murid yang butuh bantuan."

Satpam itu mengumpat pelan, mematikan senternya.

"Huft... nanti balik lagi saja."

Langkahnya menjauh. Pintu gudang tertutup kembali dengan bunyi berderak.

Begitu suara itu hilang sepenuhnya, Aldian langsung keluar dari persembunyian, menarik napas berat yang sejak tadi ia tahan.

"Nyaris saja.." bisiknya pada dirinya sendiri, wajahnya masih tegang.

Aldian mengambil langkah cepat, menyelinap keluar gudang sekolah.

Melewati tembok- tembok tinggi di sisi selatan sekolah dan memanjat pagar kecil yang mengarah ke area kosong di samping kompleks.

Bajunya sedikit sobek, tapi itu tak penting bagi dirinya.

Untuk saat ini dia harus segera melarikan diri sebelum satpam tadi menemukan dirinya.

Dua hal yang pasti.

Hari ini ia nyaris tertangkap. Dan ia belum menemukan apa pun.

Namun tekadnya tak surut sedikit pun.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata yang Kutumpahkan
9.0
Demi menjaga nama baik keluarganya, Keira Prawirajaya bersedia menikahi Panji Wicaksana setelah kembaran identiknya, Keisha, melarikan diri. Namun, situasi berubah pelik ketika Keisha kembali dan menyebarkan fitnah kejam. Panji, yang masih terpikat oleh cinta masa lalunya, tega menuduh Keira berselingkuh demi bisa bercerai. Di tengah kepungan dusta, Keira kini dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan kehormatan keluarga atau memperjuangkan harga dirinya dari kekejaman suami dan saudaranya.
Sampul Novel Cinta, Kebohongan, dan Anjing yang Mematikan
9.7
Kehidupan seorang wanita hancur ketika ibunya kritis akibat diserang anjing milik Helena. Bara, tunangannya yang kaya raya, justru membela hewan tersebut dan pamit pergi ke luar negeri demi pekerjaan. Namun, kebenaran pahit terungkap setelah sang ibu meninggal. Bara berbohong; ia tidak ke Singapura, melainkan berlibur mewah dengan Helena di Maladewa. Di makam ibunya, wanita ini sadar bahwa cinta sang miliarder palsu belaka. Pengkhianatan keji ini pun mengakhiri hubungan mereka.
Sampul Novel GAIRAH PRIA IMPOTEN
9.8
Mela, wanita malang yang diusir ibu tirinya dan menjadi korban pelecehan, terpaksa bekerja sebagai wanita penghibur. Di sana, ia mendapat misi khusus untuk memikat seorang pria impoten yang penuh misteri. Hubungan tak terduga ini justru membuat Mela hamil anak dari pria tersebut. Kini, ia terjebak dalam dilema besar mengenai masa depan janinnya, di tengah pusaran rahasia besar yang menyelimuti kehidupan mereka berdua.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa untuk pembaca usia 21 tahun ke atas ini menyoroti sisi tersembunyi kehidupan yang penuh luka, dilema, dan kerinduan di balik topeng kesucian. Melalui narasi realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan diri di tengah kegelapan untuk menemukan cahaya. Sebuah hiburan mendalam tentang pencarian makna hidup serta cinta yang berliku, menyajikan perspektif baru bagi Anda.
Sampul Novel KETIKA ISTRI GENDUT JADI LC
8.4
Dulu dihina dan dianggap menjijikkan oleh suaminya karena berbadan tambun, Maemunah kini bertransformasi menjadi Maya. Ia bekerja sebagai pemandu lagu karaoke demi membiayai pengobatan sang anak sekaligus memulihkan harga dirinya yang hancur. Namun, dunia malam yang gemerlap ini penuh jebakan. Di balik cahaya lampu, bayang-bayang masa lalu siap membongkar kembali luka lama yang belum sembuh.
Sampul Novel Masa Depan Kita
7.9
Dalam kisah romantis modern ini, seorang tokoh utama memilih memendam perasaan cintanya dalam-dalam. Ia memutuskan untuk terus menyembunyikan rasa itu dari siapa pun demi melindungi sosok yang sangat ia sayangi. Pengorbanan tulus ini ia lakukan dengan ikhlas demi menjaga kebahagiaan dan menghargai orang yang paling berharga dalam hidupnya, meskipun ia sendiri harus menapaki jalan yang sunyi.