APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balas Dendam Seorang Adik yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Adik yang Tersakiti

Terusir dari kos akibat kesulitan finansial, Aura, seorang penyanyi dangdut, menumpang di kediaman kakaknya, Maya. Di sana, ia berhadapan dengan Baskara, sang kakak ipar yang berwatak dingin. Ketertarikan Aura memicu insiden kamar yang melanggar batas moral. Setelah dihina dan direndahkan, Aura tidak tinggal diam. Ia bertekad membalas rasa sakit hatinya serta membuktikan kekuatannya, memicu konflik yang siap mengancam keharmonisan rumah tangga kakaknya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sore hari di rumah Baskara terasa tenang. Sinar matahari keemasan menyusup melalui jendela besar, menyebarkan kehangatan di lantai marmer yang dingin. Aura merasa lengket dan tidak nyaman setelah bermain di luar bersama Kian seharian. Ia ingin mandi, menghapus sisa keringat dan debu yang menempel di kulitnya.

Ia masuk ke kamar mandinya yang mewah. Aroma sabun mahal tercium, dan ia sudah membayangkan sensasi air hangat yang membasuh tubuhnya. Aura membuka keran shower, menunggu air hangat keluar. Ia menunggu, dan menunggu lagi.

Air yang keluar hanya berupa tetesan pelan, lalu benar-benar berhenti.

"Sial!" gumam Aura kesal.

Ia memutar keran ke kanan dan ke kiri berkali-kali, menggedor dinding shower, tetapi tidak ada yang terjadi. Airnya mati. Di hari sial yang sama, ia diusir dari kos, dan sekarang, ia tidak bisa mandi di rumah semewah ini? Ini benar-benar puncak kekesalan.

Aura tidak punya pilihan. Ia melilitkan sehelai handuk tebal berwarna putih di tubuhnya. Handuk itu melilit dari dada ke paha, tidak lebih. Kain itu menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Payudaranya yang besar terangkat dan ditekan oleh lilitan handuk, dan potongan pendek handuk itu memamerkan kakinya yang panjang dan bokongnya yang padat. Dalam kondisi darurat dan penuh amarah ini, ia tidak memikirkan penampilannya, tetapi nalurinya yang bar-bar mendorongnya untuk segera mencari siapa pun yang bisa membantu.

Ia membuka pintu kamar. Ia hanya bisa menghela napas. Jalan keluarnya hanya satu: Baskara.

Aura melangkah cepat menuju ruang keluarga. Dari kejauhan, ia mendengar suara tawa Kian.

Ketika ia tiba, ia melihat pemandangan yang tak terduga. Baskara sudah kembali dari kantor. Pria itu sudah berganti pakaian menjadi celana training dan kaus abu-abu, sepertinya baru saja selesai berolahraga atau sekadar mengganti setelan formalnya. Ia sedang berbaring di karpet ruang keluarga, bermain mobil-mobilan dengan Kian sambil tertawa kecil. Aura belum pernah melihat pria itu tertawa.

Melihat pria yang begitu dingin itu memiliki sisi hangat sebagai ayah membuat emosi Aura kembali bergejolak, bercampur dengan rasa iri dan hasrat yang terlarang.

"Mas Baskara!" panggil Aura, suaranya sedikit meninggi karena kesal.

Suara Aura yang tiba-tiba membuat Baskara dan Kian menoleh serempak.

Baskara langsung membeku. Tawa di wajahnya lenyap, digantikan oleh ekspresi terkejut yang nyata. Matanya langsung melebar saat melihat penampilan Aura.

Aura berdiri di sana, hanya dibalut handuk. Handuk putih itu, yang seharusnya menutupi, justru terasa seperti memamerkan. Rambutnya basah karena keringat, dan wajahnya menampilkan raut marah yang tidak tertahankan.

Mata Baskara yang tajam menyapu seluruh tubuh Aura, mulai dari bahu mulusnya, lilitan handuk yang tertekan di bagian dada, hingga kaki jenjangnya. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup lama untuk membuat Aura merasakan gelombang panas merambat di kulitnya. Ekspresi dingin Baskara kini tertutup oleh lapisan ketegangan dan kontrol diri yang sangat kuat.

"Aura?" tanya Baskara, suaranya terdengar tercekat dan lebih serak dari biasanya. Ia segera duduk tegak. "Ada apa? Kenapa kamu... hanya memakai ini?"

Aura tidak peduli dengan rasa malunya. Ia sedang marah.

"Airnya mati!" sembur Aura, berjalan mendekat. "Shower di kamarku tidak berfungsi. Aku butuh mandi sekarang. Aku merasa lengket dan tidak nyaman. Bisakah Anda perbaiki?"

Baskara mengalihkan pandangannya dari tubuh Aura, fokus pada wajah wanita itu, tetapi matanya terasa sulit dikendalikan.

"Aku... aku akan telepon teknisi," ujar Baskara, mencoba kembali ke sikap dingin dan datar. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping karpet.

"Telepon teknisi? Sekarang? Ini sudah sore, Mas! Aku butuhnya sekarang!" Aura meletakkan kedua tangan di pinggul, gerakan yang secara alami menonjolkan lekuk tubuhnya lebih jauh. "Aku enggak mau menunggu lama lagi! Itu artinya aku harus menunggu besok pagi!"

Kian, yang tadinya asyik dengan mobil-mobilannya, kini ikut mendongak, merasakan ketegangan di antara orang dewasa.

"Papa," panggil Kian polos. "Bukankah Papa bisa perbaiki airnya? Waktu itu, keran di kamar mandi atas bocor, Papa yang perbaiki. Papa bisa semuanya, kan?"

Pertanyaan lugu Kian menusuk tepat sasaran. Aura menatap Baskara dengan tatapan penuh selidik dan curiga. Kian benar. Pria sekaya dan sepintar Baskara, yang mengatur perusahaan raksasa, pasti memiliki kemampuan dasar perbaikan rumah.

Baskara terdiam. Ada perjuangan yang jelas terlihat di matanya. Antara mempertahankan citra CEO yang berjarak, dan membiarkan diri terlibat dalam situasi pribadi yang penuh godaan ini.

Akhirnya, dengan helaan napas yang keras, Baskara meletakkan ponselnya. Ia menatap Aura dengan ekspresi datar yang kembali, tetapi lebih intens. Tatapan itu seolah berbisik, 'Kau membuatku melakukannya, dan kau akan menyesal.'

"Baiklah," kata Baskara dingin. "Aura, tunggu di kamarmu. Aku ambil peralatan di gudang."

Lima menit kemudian, Baskara berdiri di ambang pintu kamar mandi Aura. Ia membawa tas peralatan kecil dan sebuah senter. Kausnya yang ketat semakin menonjolkan otot-ototnya.

"Minggir," perintah Baskara tanpa basa-basi.

Aura berdiri di samping pintu shower yang terbuat dari kaca, tubuhnya masih terbungkus handuk. Ruangan sempit itu terasa dipenuhi oleh aura dominan Baskara. Ia membungkuk, berjongkok di dekat dinding shower, mencari katup utama atau masalah pada pipa.

Aura memperhatikan punggung lebar Baskara. Ia melihat garis otot yang menegang saat pria itu berkonsentrasi. Pria itu tampak sangat fokus pada masalah pipa, mengabaikan fakta bahwa ia hanya berjarak beberapa inci dari wanita yang hanya berbalut sehelai kain.

Baskara mulai mengutak-atik sambungan di balik panel kecil. Bunyi ketukan logam dan gesekan terdengar.

Tiba-tiba, terdengar suara 'kretek!' dan air yang tadinya mampet tiba-tiba menyembur keluar dari shower head dengan tekanan tinggi.

Air itu langsung menyiram tubuh Baskara yang sedang jongkok dan juga membasahi handuk yang melilit tubuh Aura.

"Aduh!" seru Aura, sedikit terkejut, tetapi di otaknya, sebuah ide jahil langsung menyala.

Baskara terhuyung mundur sedikit karena semburan air yang tiba-tiba.

Saat itulah Aura menjalankan rencananya. Dengan gerakan dramatis yang terlalu dilebih-lebihkan, Aura berteriak, "Aduh! Aku terpeleset!"

Aura berpura-pura kehilangan keseimbangan di lantai keramik yang basah. Ia menjatuhkan tubuhnya ke depan, menuju Baskara.

Baskara, yang tidak siap dan masih terkejut dengan semburan air, hanya sempat berbalik setengah badan.

Aura jatuh, dan dalam prosesnya, ia sengaja menjatuhkan handuknya ke lantai.

Maka, tubuh Aura yang sepenuhnya telanjang jatuh menimpa tubuh Baskara yang terhuyung ke belakang.

Gedebuk!

Baskara jatuh telentang di lantai kamar mandi yang basah. Tubuh Aura yang panas dan telanjang menindih tubuhnya.

Kejadian itu begitu cepat dan keras. Aura yang jatuh di atasnya sedikit terengah-engah, tetapi matanya menatap Baskara dengan intensitas yang mengancam.

Pipi Baskara memerah. Wajahnya yang tegang dan basah karena air shower kini terkunci dalam ekspresi kaget yang bercampur dengan nafsu.

Aura dengan sengaja melakukan manuver berikutnya. Ia mengangkat tubuhnya sedikit, lalu menjatuhkan kepalanya-dan otomatis payudaranya yang besar-ke wajah Baskara.

"Ma-Maaf, Mas! Aku benar-benar jatuh!" kata Aura, nadanya terdengar panik palsu.

Baskara hanya bisa mengerang pelan, napasnya terputus.

Aura merasa kemenangan. Ia tahu, meskipun pria itu dingin, tidak ada pria normal yang akan acuh tak acuh dalam situasi seperti ini. Aura menekan tubuhnya lebih erat, secara tidak sengaja menggerakkan pinggulnya sedikit di atas selangkangan Baskara.

Konflik dalam diri Baskara memuncak. Ekspresi datarnya runtuh. Ia menutup matanya, rahangnya mengeras, seolah berusaha melawan godaan yang membakar. Tangannya terangkat, bukan untuk mendorong Aura, melainkan untuk mencengkeram lantai kamar mandi.

Aura tidak memberi kesempatan. Ia membiarkan kontak yang terjadi, membiarkan Baskara merasakan setiap lekuk tubuhnya.

Tiba-tiba, mata Baskara terbuka. Mereka dipenuhi dengan kilatan amarah dan hasrat yang tak terbendung.

"Aura, hentikan!" desis Baskara, suaranya parau.

"Aku sudah bilang aku jatuh, Mas!" tantang Aura.

Baskara menolehkan wajahnya ke samping, menjauhkan dirinya dari tubuh Aura. Pria itu berusaha mati-matian untuk mengendalikan dirinya.

Dengan kekuatan yang luar biasa, Baskara meraih bahu Aura dan membalikkan posisi mereka, membuat Aura yang kini terbaring di lantai. Ia beranjak berdiri dengan cepat, wajahnya merah padam.

Baskara segera melangkah mundur, menjauh dari Aura. Ia basah kuyup dan tampak sangat marah-marah pada situasi, marah pada Aura, dan yang paling utama, marah pada dirinya sendiri.

"Pakai pakaianmu, sekarang!" Baskara berteriak, suaranya menggelegar di kamar mandi kecil itu. Aura belum pernah mendengar Baskara berbicara sekeras itu. "Jangan pernah, pernah kamu ulangi hal ini di rumah ini. Aku tidak akan segan-segan mengusirmu, bahkan sebelum Maya kembali."

Baskara memalingkan wajah, tidak ingin menatap Aura yang telanjang di lantai. Ia mengambil handuk Aura yang tergeletak dan melemparkannya kembali ke tubuh Aura dengan kasar.

"Airnya sudah benar. Aku akan mengunci kamar ini jika kamu berani lagi bertingkah," kata Baskara, dengan suara yang kembali dingin, tetapi bergetar. Ia berbalik dan meninggalkan kamar mandi, menutup pintu dengan bunyi 'Brak!' yang keras.

Aura terbaring di lantai basah, terengah-engah. Ia berhasil memancing reaksi yang sangat besar dari pria es itu. Ia merasa sakit di pinggulnya, tetapi hatinya dipenuhi campuran ketakutan, gairah, dan kemenangan.

Aku berhasil. Aku menghancurkan sikap datarnya.

Aura meraih handuk itu. Ia tahu ia telah melanggar batas yang sangat serius. Baskara bisa saja menendangnya keluar malam itu juga. Tetapi di sisi lain, ia juga tahu, pria itu tergoda. Godaan itu adalah senjata Aura. Dan ia tidak akan berhenti sampai ia benar-benar bisa mengendalikan Baskara, setidaknya untuk mengembalikan harga dirinya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Wanita Malam
9.8
Kehidupan Sania di SMA Brawijaya mendadak gempar sejak Gevan, kakak kelas idola, menjemputnya di kos. Namun, ketenangan Sania di kelas XI IPS 2 seketika terusik oleh kehadiran Bara, siswa baru yang sangat dingin. Pertemuan perdana mereka langsung memicu ketegangan saat Bara mengungkap dusta Sania di hadapan guru. Kini, Sania terjebak di antara pesona hangat Gevan dan sikap sinis Bara yang penuh misteri.
Sampul Novel Gairah Liar Setelah Menikah
9.6
Kebahagiaan seorang miliarder membubung setelah berhasil menikahi wanita muslimah impiannya. Namun, baru satu pekan berjalan, sang istri mulai merasa kewalahan menghadapi hasrat suaminya yang begitu membara. Pria itu kerap meminta bermesraan di berbagai tempat, mulai dari ruang tamu hingga area dapur saat istrinya memasak. Sempat menolak karena sibuk, ia akhirnya pasrah pada keinginan suaminya. Ketangguhan sang suami yang luar biasa pun membuatnya lemas tak berdaya.
Sampul Novel Maduku Putri Konglomerat
9.4
Demi keluar dari jerat kemiskinan, Hilman memilih mengkhianati janji sucinya. Ia diam-diam menikahi putri dari keluarga kaya raya demi meraih takhta materi dan kemewahan. Keputusan egois ini seketika menghancurkan hati sang istri pertama, meninggalkan luka batin yang teramat dalam akibat pengkhianatan pria yang sangat ia sayangi. Kini, ia harus berjuang menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya lebih memilih harta dibanding kesetiaan cinta mereka.
Sampul Novel Sang Pengantin Pengganti: Membuat Kenangan Tentang Kita
8.9
Demi melunasi utang, seorang wanita terpaksa menikah untuk menggantikan posisi orang lain. Ia harus menghadapi suaminya, seorang pria berkuasa yang kejam dan sangat ditakuti. Meski awalnya terjebak dalam pernikahan penuh paksaan dan ketakutan, pesona sang istri perlahan mampu meluluhkan kekerasan hati suaminya. Pria itu pun mulai terjerat dalam gairah yang tak bisa ia lepaskan. Akankah hubungan yang berawal dari keputusasaan ini akhirnya berubah menjadi cinta sejati?
Sampul Novel Tanpamu, Hidupku Makin Bersinar
8.0
Pernikahan lima tahun yang Rebecca kira sempurna hancur seketika saat dia mengetahui bahwa akta nikahnya hanyalah kepalsuan. Di balik kelembutan tulus sang suami, pria itu rupanya telah menikahi gadis lain yang dia besarkan di Andoria—sebuah negara dengan aturan pernikahan sekali seumur hidup. Meski cinta dan kasih sayang suaminya selama ini nyata, Rebecca harus menghadapi kenyataan pahit bahwa hati suaminya terbagi untuk dua wanita sekaligus dalam romansa penuh misteri ini.
Sampul Novel Terjerat Kawin Kontrak Dengan CEO
7.8
Menghadiri pesta elit bersama Niko, sang sahabat, menjadi penyesalan terbesar bagi Nea. Keputusan itu justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak dengan Aciel Cale, CEO raksasa konstruksi yang sangat berkuasa. Di saat banyak orang merasa iri dengan nasib baiknya, Nea justru merasakan hal yang berbeda. Menjadi istri dari pria berpengaruh tersebut bukanlah sebuah anugerah, melainkan awal dari mimpi buruk yang mengancam ketenangan hidup yang selama ini ia jalani.