APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar

Balas Dendam Lima Anak Kembar

Isabella Ardhani terusir setelah malam tragis bersama bos mafia, Rafael Damar, membuatnya mengandung lima bayi kembar jenius. Demi membesarkan anak-anaknya, ia melarikan diri ke luar negeri. Tahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai sosok wanita yang sangat berkuasa. Takdir pun mempertemukannya lagi dengan Rafael. Namun, kali ini kelima anak kembarnya yang cerdas telah mempersiapkan sebuah rencana balas dendam besar untuk ayah kandung mereka sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Isabella menatap tajam ke arah pria di depannya, napasnya tertahan sejenak. Rafael Damar berdiri di sana, tampan, kuat, dan sama menakutkannya seperti yang ia ingat. Pakaian rapi, ekspresi dingin, dan aura yang memaksa semua orang di sekitarnya menunduk. Ia tidak berubah-atau justru semakin berbahaya.

"Kau..." suara Isabella serak, antara marah dan takut. Kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Rafael menatapnya tanpa berkedip. "Isabella Ardhani. Masih sama seperti dulu, angkuh dan menantang." Nada suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang menusuk hati.

Isabella menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia menolak membiarkan lelaki itu melihat betapa rapuhnya ia sebenarnya. "Aku tidak di sini untuk bicara masa lalu," katanya tegas. "Dan kau harus mengerti, aku... aku sudah melupakan malam itu."

Rafael tersenyum tipis, hampir mengejek. "Melupakan? Kau pikir bisa begitu saja melupakan sesuatu yang menghasilkan lima nyawa?" Ia mengerutkan alis, menatap Isabella dengan tajam. "Lima anak kembar. Anakku."

Jantung Isabella hampir berhenti. Lima anak? Kata itu seakan menghantamnya. Ia mengerti maksud Rafael-ia memang sudah membesarkan anak-anak itu sendirian, dan setiap malam, ia berdoa agar mereka tidak pernah mengetahui siapa ayah mereka. Tapi kini, di hadapannya, Rafael bukan hanya ingin bicara-ia ingin masuk ke kehidupan mereka.

"Kau... kau tidak bisa begitu saja masuk ke kehidupan mereka!" Isabella menegaskan, suaranya mulai meninggi. Orang-orang di sekitar mulai menoleh, tapi ia tidak peduli. "Mereka aman. Mereka bahagia. Dan aku... aku akan melindungi mereka dengan cara apapun!"

Rafael mendekat selangkah, aura dominannya membuat Isabella terhuyung sedikit ke belakang. "Kau pikir aku datang untuk mengambil mereka darimu? Tidak. Aku hanya ingin... mereka tahu ayah mereka, mengetahui siapa aku. Itu saja."

Isabella menelan ludah. Ia ingin menampar lelaki itu, tetapi sadar tubuhnya masih terasa lemah ketika bertemu pria itu. "Kau tidak mengerti. Kau tidak pernah mengerti apa artinya menjadi orang tua sejati. Lima anak itu... mereka membutuhkan cinta, perhatian, bukan kekuasaan dan ketakutan!"

Rafael menatapnya dengan mata yang tidak menunjukkan emosi. "Lima anak itu lahir dari malam kesalahan kita. Kau melarikan diri, membesarkan mereka sendiri... tapi mereka akan tahu siapa aku. Dan kau... kau akan tahu bahwa aku tidak akan menyerah begitu saja."

Isabella menekannya dalam hati. Dulu ia tidak punya kekuatan, tapi kini ia bukan lagi gadis yang mudah dipermainkan. "Kalau kau pikir aku takut padamu, Rafael... kau salah besar."

Sementara itu, di ruang yang lebih jauh, lima anak kembar Isabella-Adriel, Aurora, Alara, Aiden, dan Aris-sedang berkumpul. Mereka tumbuh cerdas, jenius, dan penuh rasa ingin tahu. Tingkah laku mereka kadang tak terduga, selalu menimbulkan tanya di kepala Isabella.

"Mama... siapa ayah kita?" tanya Aurora tiba-tiba, matanya menatap Isabella dengan serius. Gadis itu baru berusia sepuluh tahun, tapi cara dia mengamati dunia selalu lebih dewasa dari usianya.

Isabella terdiam sejenak, menunduk, lalu tersenyum tipis. "Ah... itu... mungkin suatu hari nanti kalian akan tahu. Tapi sekarang, fokus pada belajar kalian, oke?"

Alara, yang paling nakal di antara mereka, menepuk bahu kakaknya. "Kami kan pintar, Mama. Kami bisa tahu sendiri siapa dia."

Adriel, kakak tertua, menatap Isabella dengan pandangan penuh pertanyaan. "Tapi kenapa Mama selalu menghindar kalau kami menanyakan tentang ayah?"

Isabella menelan ludah. Ia tahu mereka cerdas, dan rasa penasaran mereka akan menjadi kekuatan yang bisa membahayakan atau melindungi mereka. Ia harus pintar menghadapi pertanyaan mereka, karena setiap jawaban bisa membuka pintu masa lalu yang ingin ia tutupi.

Kembali ke Rafael, ia berdiri di dekat Isabella, menatap anak-anak yang mulai memperhatikan mereka dari kejauhan. "Mereka pintar," gumamnya sendiri. "Tapi rasa penasaran mereka... itu akan menjadi masalah bagi Isabella."

Isabella merasakan ketegangan di udara. Ia tahu Rafael cerdas, licik, dan penuh strategi. Anak-anaknya adalah target empuk untuk lelaki seperti itu-atau mungkin mereka justru akan menjadi ancaman bagi Rafael sendiri.

"Tapi kau tidak boleh menyakiti mereka," kata Isabella tegas, menatap mata Rafael langsung. "Jika kau melakukan itu, aku tidak akan ragu. Aku akan menghadapi kau... apapun yang terjadi."

Rafael mencondongkan kepala sedikit, seperti mengamati. "Kau masih sama seperti dulu. Tegas, berani, dan... keras kepala. Aku... menyukai itu," katanya singkat. Seketika, Isabella merasakan amarahnya memuncak, bercampur dengan rasa jijik.

Di sisi lain, anak-anak mulai berbicara di antara mereka.

"Kau lihat, Mama? Dia itu..." Aiden menunjuk Rafael, suaranya lirih tapi jelas. "Dia... dia pasti ayah kita."

Isabella menatap mereka, hatinya campur aduk. Ia ingin menjelaskan, tapi juga tahu bahwa kebenaran bisa menghancurkan dunia mereka jika belum siap.

"Mama... kenapa dia terlihat seperti kau kenal?" tanya Aris, paling kecil tapi selalu observatif.

Isabella tersenyum getir. "Itu... cerita panjang, Nak. Suatu hari Mama akan ceritakan semuanya."

Rafael, dari kejauhan, memperhatikan interaksi itu dengan pandangan dingin tapi penuh perhitungan. "Mereka penasaran. Baik. Semakin cepat mereka tahu, semakin cepat permainan dimulai," gumamnya sendiri.

Pertemuan malam itu berakhir tanpa kesepakatan. Isabella membawa anak-anaknya pergi ke mobil, menatap Rafael sekali lagi dari balik kaca. Ia tahu ini bukan pertemuan terakhir. Rafael tidak akan pergi begitu saja, dan anak-anak... mereka akan selalu ingin tahu lebih banyak tentang ayah mereka.

Di dalam mobil, anak-anak mulai bertanya lagi, kali ini dengan suara lebih polos tapi tak kalah tajam.

"Kenapa dia menatap Mama seperti itu?" tanya Aurora.

Isabella menatap jalanan gelap yang dilewati mobil. "Itu... hanya orang dewasa. Kadang mereka tidak selalu bisa kita pahami," jawabnya hati-hati.

"Tapi Mama... aku ingin tahu tentang ayah," ujar Alara. "Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya."

Isabella menarik napas panjang. Kata-kata itu menusuk hatinya. Ia tahu bahwa saatnya akan tiba-anak-anaknya akan menemukan kebenaran, dan Rafael... akan berada di tengah semuanya.

Dan malam itu, ketika hujan mulai reda, sebuah pertaruhan telah dimulai. Isabella, Rafael, dan lima anak kembar yang cerdas itu-semua berada di garis awal permainan yang penuh intrik, balas dendam, dan rahasia yang belum terungkap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bound by Destiny
8.5
Elice Danurdara terpuruk dalam kehancuran setelah dicampakkan dan dipermalukan dengan sangat kejam. Di tengah keputusasaan yang hampir membuatnya menyerah, takdir mempertemukannya dengan sosok asing bernama Garettinus Hardiyata. Lewat kehadiran, tutur kata lembut, serta sentuhannya, Garettinus membuktikan bahwa Elice adalah wanita yang sangat berharga. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Elice untuk bangkit dari keterpurukan hidupnya.
Sampul Novel Keanehan Keluarga Pacarku
7.9
Niat hati menemani sang kekasih pulang kampung, protagonis justru terjebak dalam pusaran misteri yang mencekam di Keanehan Keluarga Pacarku. Kejanggalan bermula saat ia menemukan adik pacarnya dipenuhi luka memar misterius, disusul peringatan mengerikan dari seorang nenek setempat untuk segera melarikan diri. Situasi kian membingungkan ketika ia melihat sahabat lamanya yang telah lama hilang berada di kediaman paman pacarnya. Di tengah kepungan rahasia gelap ini, tatapan sang kekasih pun mulai berubah drastis.
Sampul Novel Mantan Tapi Menikah?
8.5
Bagi banyak orang, mantan adalah masa lalu yang harus dihindari. Namun, takdir justru mendekatkan kembali dua orang yang saling membenci setelah hubungan mereka kandas. Akibat permainan truth or dare yang dirancang oleh sahabat dekat, mereka terjebak dalam sebuah perjodohan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Kini, keduanya terpaksa menghadapi kenyataan pahit untuk kembali bersama dan menjalani kehidupan dalam ikatan pernikahan.
Sampul Novel My Soulmate From My Heart (Series 2)
9.5
Demi menghindari perjodohan dengan Cheryl yang sudah dianggapnya adik sendiri, Arland nekat menjalin hubungan palsu dengan Kiran. Rencana yang semula hanya sandiwara ini perlahan berubah menjadi cinta yang sungguh-sungguh. Namun, saat Arland mulai benar-benar menyayangi Kiran, hubungan mereka justru dihadapkan pada ujian berat. Sang mama menentang keras kedekatan mereka dan menolak memberikan restu.
Sampul Novel Promise
9.6
Demi menghindari pertikaian keluarganya, Elphia memilih mengasingkan diri ke desa sunyi. Di sana, ia menyendiri dan melukis untuk memulihkan batinnya. Takdir lalu mempertemukannya dengan pemuda misterius yang perlahan mengusir rasa sepinya. Namun, kedamaian itu runtuh ketika pria tersebut mendadak pergi tanpa penjelasan. Kini, hanya sebuah janji tersirat yang tersisa. Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Sampul Novel When We Were In Love
8.2
Alice Reeves didera kepedihan akibat cinta tak berbalas kepada Douglas Handerson, saudara tiri sekaligus sahabatnya yang memutuskan pergi. Di tengah luka hati tersebut, Maximilliam Callyps datang menawarkan kesembuhan dan mencoba merebut hati Alice. Saat Alice mulai mempertanyakan arti kebahagiaan sejatinya, Douglas justru dilingkupi penyesalan atas keras kepalanya dahulu. Akankah babak baru bersama Maximilliam terwujud, ataukah bayang-bayang masa lalu Douglas tetap tak tergantikan?