APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel BAHAGIA SETELAH DUKA

BAHAGIA SETELAH DUKA

Cinta Gabriel dan Nadya terbentur restu keluarga karena keyakinan mereka berbeda. Demi menikahi Nadya yang taat beragama, Gabriel memilih berpindah keyakinan dan bertekad menjadi imam yang baik. Namun, keputusan besar ini menuntut pengorbanan yang sangat berat. Gabriel seketika kehilangan hak sebagai ahli waris Indofarma Grup, bahkan namanya dihapus sepenuhnya dari silsilah keluarga besarnya.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Ma ....”

“Tidak!”

“Ma, biarkan aku menyelesaikan dulu ucapanku!”

“Tidak! Mama bilang sekali tidak ya tidak!” Gloria Liem menyentak. Nada bicaranya kian tinggi dan ketus.

Gabriel mengusap wajah piasnya yang terasa kebas. Skenario ini memang sudah dipikirkannya sejak tadi, sebelum dia datang ke rumah ini. Pasti jelas keluarga besar takkan setuju atas keputusan yang diambilnya. Seharusnya Gabriel juga tidak perlu datang ke sini, malam ini. Buat apa? Buang-buang waktu saja. Toh, pada akhirnya, tetap saja—Mama, Papa, Cici dan adiknya takkan setuju dengan hal ini.

Rencana meminta restu buat menikahi perempuan muslim sebaik dan secantik Nadya, pilihan Gabriel bukanlah perkara mudah. Nyatanya, dia takkan pernah dapat restu dari kedua orang tuanya. Sejak awal mereka memang tidak pernah menyukai Nadya. Bagi keduanya, Nadya hanyalah penghambat masa depan Gabriel.

Gabriel melirik Nadya yang duduk di sebelahnya. Gadis itu meremas lutut. Mukanya kelihatan tegang, menahan segalanya. Mulai dari rasa takut, gugup, berdebar dan bergetar hingga panas dingin karena ujung-ujungnya rencana minta restu untuk menikah tidak dikabulkan. Gagal total. Tidak sesuai harapan.

Gabriel menatap Liem Ko-en—Papanya, kemudian. “Pa ..., tolong izinkan aku menikahi Nadya!”

Koen Liem menggeleng. “Tidak, Gabriel. Kami tidak akan merestui pernikahan kalian. Kamu seharusnya tahu kalau sejak awal kami tidak akan pernah setuju dengan rencana ini!”

“Tapi aku mencintai Nadya, Pa!” Gabriel menekan kata-katanya. Dia menegaskan bahwa tidak ada wanita yang lebih baik daripada Nadya saat ini untuk menjadi calon istrinya. Tidak akan pernah ada!

“Cinta macam apa yang berani menentang restu orang tua, Iyel? Cinta macam apa, itu?” Gloria berseru kesal. “Kalau kamu mencintai dia dan dia mencintai kamu, seharusnya kalian mengerti kalau kalian tidak akan pernah bersama. Perbedaan agama yang kita anut akan jadi penghalang besar dalam perjalanan rumah tangga kalian. Seharusnya kamu paham itu!”

Gabriel menggeleng, muka tegangnya kian memerah. “Tidak, Ma. Ini tidak akan menghalangi kami. Aku ....”

Gabriel menelan ludah tercekatnya sekali, ditatapnya wajah kedua orang tua. Gloria sejak tadi menahan tangisan dan kesal bersamaan, kemudian Koen Liem diam tidak bersuara karena dia bosan mendengar perdebatan soal pernikahan yang tidak kunjung berakhir sejak berminggu-minggu lalu. Cici Gina dan Gamaliel hanya memerhatikan, tidak sanggup berkomentar sejak tadi. Lagi pula, kata-kata apa yang hendak mereka katakan malam itu.

Tak ada. Sebab suara mereka takkan diterima oleh Gabriel. Saat ini yang pria itu butuhkan adalah restu dari Koen Liem dan Gloria. Itu saja. Tidak banyak. Dia juga tidak datang ke rumah ini karena menuntut harta warisan. Jauh dari itu semua, Gabriel tidak butuh harta.

“Aku telah pindah keyakinan. Aku yakin aku akan menikahi Nadya. Jadi aku memutuskan akan masuk ke dalam agama Islam, meninggalkan kepercayaan keluarga kita!” Gabriel melanjutkan ucapannya. Jelas ketika dia mengatakan itu, reaksi pertama orang-orang yang menatapnya adalah terkejut bukan kepalang.

“Apa?” Gloria berteriak lantang. Lantas reflek berdiri. “Apa kamu gila, Gabriel? Kenapa kamu melakukan itu, hah? Kenapa hanya mau menikahi dia, kamu sampai-sampai meninggalkan agama kita. Kamu tahu Gabriel, kita adalah penganut agama Kristen yang taat. Tidak sepatutnya kamu meninggalkan semua ini hanya karena ingin bersama dia. Kamu benar-benar bodoh, Gabriel!”

“Ma .... Jika itu satu-satunya cara supaya aku bisa menikah Nadya, maka itu cara satu-satunya juga yang harus aku lakukan agar bisa bersama dia. Aku yakin atas keputusan yang aku ambil sekarang!”

“Di luar sana banyak wanita yang jauh lebih baik dari Nadya, Gabriel. Banyak! Bahkan kalau kamu mau, kamu bisa memilih satu-persatu. Theresia juga adalah pilihan yang terbaik. Tapi tidak dengan perempuan ini! Mama bilang ya, dia memang cantik. Dia baik. Dia berpendidikan. Dia masuk tipe keluarga ini sebagai calon menantu. Mungkin dia menantu idaman buat para mertua di luar sana. Tapi latar belakang agama kita beda, Gabriel! Maka dari itu Mama tidak akan pernah setuju dengan rencana kamu yang tolol ini!”

“Ma ...!”

“Keluar!” Gloria berseru marah. Amarahnya saat ini benar-benar menggebu tak tertahan. Bahkan suasana terasa mencekam manakala dia tidak bisa menahan emosi.

Sekali lagi Gabriel mengusap wajah piasnya yang terasa kebas. Beginilah jadinya jika dia berusaha meminta restu. Alih-alih dapat restu, dia malah dimaki dan diteriaki kasar. Hal paling tidak enak didengar ini memang sudah Gabriel pikirkan sejak berhari-hari lalu.

“Pa ....” Gabriel kembali menatap Koen Liem, berharap ayahnya itu bisa menerima keadaan ini. Sayangnya, jawaban Koen Liem masih sama. Dia setuju dan sepemikiran dengan Gloria.

“Apa yang kamu harapkan dari Papa, Gabriel? Kamu berharap Papa akan setuju dengan permintaan kamu? Memangnya apa yang kamu dapatkan setelah pindah agama.” Koen Liem mengembuskan napas sengal-samar, “Jika itu keputusan kamu, sebaiknya kamu pergi dari sini. Karena kami tidak akan pernah memberikan restu sama sekali.”

Gabriel mengeraskan rahangnya. Sejujurnya dia kesal.

Namun tidak bisakah Papanya tidak mengatakan hal itu di depan Nadya atau bahkan di depan mukanya? Mau bagaimanapun saat ini Gabriel telah memilih memasuk Islam, bukan lagi beragama Kristen seperti yang dianut kedua orang tuanya. Tidak perlu menghina begitu. Apalagi di depan Nadya, calon istrinya. Baiklah, jika itu keputusan mereka, maka Gabriel akan tetap pada pendiriannya.

“Papa boleh mengatakan segala keburukan tentang aku. Tetapi tolong, jangan pernah mengatakan apapun tentang keyakinanku saat ini. Karena itu tidak ada kaitannya dengan semua ini.” Gabriel menelan ludahnya sekali lagi. Kemudian dia berdiri, tangannya menggamit tangan Nadya. “Aku tidak butuh restu kalian lagi saat ini kalau pada akhirnya masih saja begini keputusan kalian. Aku bisa melakukan segalanya sendiri, bahkan tanpa kalian. Jika ini keputusan yang kalian pilih, maka aku juga akan memilih keputusanku sendiri.”

“Ya, silakan. Tapi perlu kamu ingat, Gabriel. Setiap apa yang kamu inginkan pasti ada konsekuensinya. Kamu harus tahu ini.” Koen Liem mengingatkan.

Gabriel yang akan beranjak pergi selintas melirik sang Papa. Nada bicara orang tua ini kedengarannya seperti mengancam. Namun Gabriel tidak ambil pusing sama sekali. Apa yang akan terjadi kedepannya, dia akan menanggung segala resiko itu.

••••

“Soal tadi ....”

“Jangan dipikirin!” Gabriel memotong kalimat Nadya.

Dua orang itu sudah berada di dalam mobil, menuju kepulangan. Gabriel akan mengantar Nadya pulang selepas keluar dari rumah kedua orang tuanya. Kendaraan yang Gabriel kemudi sudah masuk di jalan tol dalam kota. Jalan agak lengang, langit hitam bertabur bintang gemintang nan terang. Kota kami bermandikan cahaya malam itu.

Nadya menghela napas sengal. “Setelah aku pikir-pikir, sepertinya lebih baik kita batalkan saja acara pernikahan ini. Aku tidak bisa melawan restu. Papa dan Mama Koko tidak menerima keadaanku dan itu menjadi bumerang untukku. Jadi sebaiknya, lebih baik kita akhiri saja rencana ini. Aku tidak bisa melanjutkannya kalau ada pihak yang tidak setuju dengan pernikahan kita!”

Mendengar ucapan Nadya barusan, Gabriel yang sedang mengemudikan mobilnya segera menepikan kendaraan ke bahu jalan. Untungnya jalan tidak terlalu ramai lalu lalang kendaraan lainnya. Gabriel menatap tak senang wajah Nadya, calon istrinya malam itu. Wajah Gabriel kentara geram.

“Kamu bilang mengakhiri? Kamu bilang kita usai di sini? Kamu serius?”

“Aku hanya tidak mau mengambil kamu dari Tuhan kamu, Ko. Dan begitu sebaliknya. Mama kamu benar soal tadi. Cinta kita terhalang oleh tembok pembatas yang berbeda.”

“Tapi aku yang memutuskan, Nad. Kamu harus tahu, perjuanganku buat mendapatkan kamu itu sulit. Belum lagi meyakinkan Abi (ayah Nadya) kalau aku serius ingin menikahi kamu. Meyakinkan Mas Angga. Juga satu keyakinan demi bisa bersama kamu. Demi bisa pernikahan kita diterima negara, dicatat oleh pengadilan agama. Dan demi bisa se-amin dan seiman dengan kamu. Bahkan aku tidak peduli kalau harus meninggalkan Tuhanku. Aku telah memikirkan segalanya. Namun apa yang kamu bilang barusan? Kamu bilang mau mengakhirnya. Coba kamu pikir, jadi di sini hanya aku sendiri yang berjuang buat kita? Cuma aku yang peduli soal pernikahan ini?”

Gabriel men-jeda kalimatnya sejenak. Menatap mata sendu Nadya yang tidak melontarkan secuil kalimat apapun.

“Nad, aku bisa sampai ditahap ini karena kita. Karena kebersamaan kita. Aku tidak peduli tentang Mama dan Papa yang tidak setuju soal pernikahan kita. Bahkan kalau dunia menolak pun, aku akan tetap memilih bersama kamu. Aku nggak masalah kalau aku menjadi anak pembangkang, itu semua kulakukan demi kamu. Tapi coba kamu pikirkan langkah kita sejauh ini, masa harus berhenti begitu saja. Berhenti setengah jalan!”

“Ko ....”

“Setop, Nad. Kamu nggak usah bilang apapun. Kamu pasti kecapean karena kepikiran ucapan Mama dan Papa tadi. Aku akan cepat mengantar kamu pulang. Kamu butuh istirahat.” Gabriel lagi-lagi memotong kalimat Nadya.

Otomatis ucapan pria ini membuat Nadya harus menahan semua perkataan yang hendak dilontarkan. Gabriel melanjutkan perjalanan kendaraan, sebentar lagi mereka akan tiba di rumah Abi, ayahnya Nadya. Gadis ini tinggal berdua bersama ayahnya, tanpa sang ibu. Karena Nadya sudah menjadi anak piatu sejak kecil. Sedangkan Mas Angga, dia tinggal bersama istrinya, di rumah lain. Mereka kan mandiri.

Nadya itu anak seorang yang taat beragama. Abi seorang dosen agama sekaligus dewan kemakmuran mesjid di tempat tinggal mereka. Mas Angga seorang pengusaha, yang sama-sama punya ilmu pendidikan agama yang tinggi. Nadya pun sama. Mereka dididik untuk taat pada perintah Tuhan.

Melihat betapa damainya keluarga Nadya, Gabriel yang notabene-nya seorang keturunan Tionghoa penganut kepercayaan protestan, merasa bahwa apa yang dipilihnya sudah tepat. Nadya adalah perempuan yang sempurna untuk Gabriel, bukan Theresia yang dijodohkan Mama untuknya.

“Oke, kita jangan bahas apapun saat ini.” Nadya berkata lirih. Gabriel melanjutkan perjalanan kendaraan. Sudah tugasnya mengembalikan Nadya ke rumah Abi sebelum pukul sepuluh malam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dinikahi Mas Pandu
7.8
Zita memulai hidup baru di kota tempat Pandu bekerja setelah lamaran kilat dan pernikahan kilat dalam empat jam. Meski sering dibuat kesal, Zita bertekad mengabaikan godaan sang suami yang masih sabar menanti malam pertama mereka. Namun, prinsipnya goyah saat melihat Pandu bersikap kelewat ramah pada orang lain. Cemburu mulai membakar hatinya. Akankah pertahanan Zita runtuh oleh rasa cemburu, atau ia sanggup bertahan?
Sampul Novel Gadis Rahasia Kapten
8.7
Saat Rusia mengumumkan perang, Kapten Anatoly menyembunyikan turis Jerman bernama Helen di kediamannya. Tak disangka, benih cinta tumbuh di hati sang kapten yang dingin di tengah situasi mencekam. Namun, kedamaian mereka sirna ketika Helen terungkap sebagai putri dari musuh besar negaranya. Kini, Anatoly dihadapkan pada pilihan sulit yang menyiksa batinnya: tetap setia pada tanah airnya atau mempertaruhkan segalanya demi melindungi wanita yang sangat ia cintai.
Sampul Novel Janjinya, Penjaranya
9.6
Bebas dari penjara setelah tujuh tahun menebus kesalahan Keysha, kakak angkatnya, sang protagonis justru dikhianati. Orang tua kandung dan Dion, tunangannya, tega membuangnya ke gudang kotor demi Keysha. Di tengah penderitaan ini, sebuah email misterius hadir menawarkan pekerjaan dan identitas baru. Kesempatan emas ini langsung ia ambil untuk melarikan diri, siap menyusun rencana demi membalas dendam atas segala rasa sakit yang mereka perbuat.
Sampul Novel Pacar Kedua.
9.7
Hubungan David dan Reta kini dilingkupi keraguan besar. David menaruh curiga bahwa kekasihnya itu telah membagi hati dengan lelaki lain di belakangnya. Enggan terus dirundung rasa penasaran dan kecurigaan yang menyiksa, David pun mengambil tindakan. Ia mulai mengusut gerak-gerik misterius Reta secara diam-diam. David bertekad mengumpulkan bukti-bukti konkret demi membongkar dugaan perselingkuhan yang selama ini mengusik ketenangannya.
Sampul Novel STRANGE DESTINY
8.7
Sebuah kecelakaan tragis mengubah sosok Alexa secara drastis, memicu dilema moral dalam diri Adrian saat perasaan terlarang mulai tumbuh di luar batas persaudaraan. Sementara itu, peristiwa mematikan menyeret Kaylee, pengawal profesional berumur 30 tahun, ke dalam situasi tidak masuk akal yang mempertemukannya dengan Adrian. Bagaimana jalinan nasib akan mempertautkan mereka? Sebuah takdir asing menanti untuk membongkar misteri terdalam dari jiwa mereka.
Sampul Novel Tulisan, Basket, & Piano
9.2
Aura Latisha, seorang gadis penulis yang asing dengan dunia asmara, tak pernah punya keberanian untuk menyatakan cintanya. Kehadiran pemuda asal Bandung di hidupnya membawa perubahan besar. Bukannya berjuang mendekat, Aura justru meminta pemuda itu menolaknya secara langsung. Keputusan tidak biasa ini menjadi titik balik bagi Aura yang selalu menutup diri dari romansa. Inilah kisah unik tentang pilihan hati dan keberanian.