APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bad Duda

Bad Duda

Trauma mendalam membuat Edeline takut berinteraksi fisik dengan pria. Di tengah perjuangannya, ia harus menjadi dokter magang di rumah sakit milik Elvis Dalton, duda angkuh dan kejam. Walau awalnya saling membenci, hubungan mereka perlahan berubah karena rasa saling membutuhkan yang tumbuh. Dua jiwa yang sama-sama terluka oleh masa lalu ini dipertemukan oleh takdir. Akankah luka mereka terobati dan bersatu, ataukah takdir justru kembali memisahkan keduanya?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Get the fuck out of here!”

Langkah Edeline seketika terhenti oleh bentakan memekik yang mengundang perhatian. Dia berhenti penuh kepedulian terhadap seorang wanita yang didorong hingga terjatuh oleh si pengumpat kejam di ambang pintu.

Edeline Johnson—gadis cantik berusia 22 tahun itu baru saja tiba di Manchester akibat pekerjaan. Dia mendapatkan fasilitas sebuah kamar dari hotel mewah di hari pertama kedatangannya—di mana dirinya tidak sengaja menjadi penonton dadakan atas sebuah kekerasan.

Awalnya, Edeline hanya ingin menuju kamarnya. Tetapi, dia dihadang oleh seorang wanita yang didorong kasar hingga terjatuh. Tatapan gadis cantik itu melihat adegan yang membuatnya kesal.

“Kenapa kau kasar sekali? Aku ini bukan orang asing bagimu!”

“Don’t play dumb! Kau sangat tahu aku menganggapmu itu apa?!” pria tampan itu membalas kejam dengan tatapan dingin yang tak berhati.

Wanita cantik yang masih terduduk sakit di lantai itu sudah menangis dihujani kalimat sarkasme yang menegaskan ketidaksukaan. Tatapannya menatap lirih pria tampan yang memprilakukannya dengan sangat kasar.

Edeline berdecak atas tontonan tidak mengenakkan di depan mata. Dia tidak bisa menutup mata—lalu pergi. Sebab, situasi kejam di depan mata bagaikan dejavu nyata yang menyakiti jiwa Edeline.

Mata cantiknya memindai wanita itu. Emosi gadis berambut cokelat terang itu memuncak ke ubun-ubun ketika mendengar rintihan kesakitan serta luka di telapak tangan wanita yang terluka itu.

“Kau terlalu sempurna untuk pria sampah itu.” Bibir mungil Edeline dengan sadar mengeluarkan penghinaan yang membela.

Gadis berpakaian casual itu menghampiri wanita yang menoleh ke arahnya. Dia berlutut lalu memapah wanita yang terjatuh itu untuk berdiri tegak—tanpa peduli pada sorot tajam dari pria di ambang pintu.

“Kau tidak pantas menangis dan merendahkan diri pada pria sampah dan bodoh sepertinya.” Edeline mengulas senyuman manis pada wanita yang bingung menatapnya.

“Stay away!”

Edeline menolehkan pandangan pada pria yang menghardik sinis itu. Sorot matanya menajam ketika memindai pria itu. “Mulut sampahmu menjatuhkan nilai wajah tampanmu,” ucapnya berani menghina.

Edeline langsung memalingkan pandangan. Dia tidak peduli pada ekspresi pria itu. Bagi gadis cantik itu, menghibur wanita di dekatnya adalah pilihan yang baik.

Untuk sejenak, Edeline teralihkan ketika tangan merogoh ke dalam tas miliknya yang bertengger di bahu kiri. Perhatiannya kembali fokus pada wanita itu saat sebuah alcohol swab dikeluarkan dari dalam tas—yang kemudian digunakan untuk membersihkan luka di telapak tangan wanita itu.

“Jika seorang pria tidak bisa mengontrol emosi, berkata dan bersikap kasar, menjatuhkan dan menginjak harga dirimu ...” Edeline terhenti sejenak saat samar-samar menghela napas sembari menutupi luka di telapak itu dengan sebuah plester.

“Please ... stop! Berhenti mendapatkan balasan dari pria bodoh dan tak bermoral seperti itu. Perasaanmu dan harga dirimu lebih penting dari apa pun,” lanjut Edeline menasihati yang penuh dengan sindiran sinis.

Tidak perlu dijelaskan kepada siapa sindiran sinis itu ditujukan. Edeline pun tidak menghiraukan bagaimana perasaan dari seseorang itu. Ujung bibir itu tertarik—yang membuat bibir mungilnya menipis oleh senyuman manis yang mengembang. Wajah cantiknya pun berseri—menunjukkan ketulusan pada wanita di depannya yang kaku tidak percaya diri.

“Tadi kau terjatuh sangat keras. Sebaiknya segera memeriksakan diri. Atau ...” Edeline memalingkan wajah—yang bersamaan senyuman ramahnya berubah sinis ketika menatap pria di ambang pintu. “Lakukan visum dan laporkan pria ini. Aku bersedia menjadi saksi jika kau membutuhkan.”

Pria tampan itu terkekeh kesal sembari menahan emosi yang telah bergejolak di dalam jiwa. Sementara itu matanya telah tajam membidik Edeline—gadis aneh yang berani ikut campur akan urusannya. “Kau ini masih kecil, tapi sungguh berani ikut campur urusan orang lain. Apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan-santun?”

Mata Edeline mendelik mendapatkan kata-kata tajam pada pria tampan itu. “Aku tahu bersikap sopan dan menghargai dibandingkan orang dewasa yang tidak punya akal!” Edeline tidak mau kalah.

What the fuck? Anak kecil? Apakah tubuhnya terlalu mungil sampai dibilang anak kecil? Ingin rasanya Edeline memaki pria tampan di hadapannya itu. Memang dia akui bahwa pria berperawakan tampan itu pasti sudah berusia matang. Menurut tafsirannya pria tampan itu sudah berusia di atas 30 tahun. Tentu jika dibandingkan dengannya, dia pasti akan seperti anak kecil.

Pria tampan itu menipiskan bibir—mengukir seringai sinis. “Bercermin dahulu sebelum membuat cermin untuk orang lain. Selain itu, tanyakan pada wanita yang kau bela itu! Apa yang dia lakukan sehingga aku mengusirnya dengan kasar?!”

Alih-alih mencari tahu, Edeline malah mengulas seringai sinis yang mengejek. “Yang dilihat oleh mata lebih nyata dibandingkan—”

“Wanita yang kau bela itu memaksa masuk ke dalam kamar seorang pria. Di dalam kamarku, dia membuka pakaiannya—entah itu untuk menggoda atau apa pun itu, aku benci wanita murahan seperti itu!” sela pria tampan itu bernada lugas dan tanpa jeda.

Edeline membisu dengan perasaan yang berkecamuk, antara malu dan tidak percaya diri. Namun, logikanya berusaha menghibur wanita cantik itu yang kemudian menasihati akalnya untuk mencari tahu.

Edeline menatap wanita itu. Dan ... ah, sial! Wanita itu merunduk guna menyembunyikan wajahnya yang memucat takut. Itu menandakan bahwa memang orang yang dia bela adalah orang yang bersalah.

Astaga! Memalukan! Edeline bahkan membela orang yang bersalah. Maksud hati ingin membela orang yang lemah, tapi apa-apaan ini? Dia sangat malu! Jika seperti ini, rasanya dia ingin masuk saja ke dalam jurang.

“Apa kau diajak bekerja sama dengannya?”

Suara tenang pria itu itu mengusik perhatian Edeline, membuat gadis cantik itu kembali menoleh ke arahnya.

“Aku tidak mengenalnya.”

Pria terkekeh mengejek bantahan Edeline. “Benarkah? Mengingat betapa liciknya wanita yang kau bela itu, aku tidak percaya. Berapa kau menerima uang dari dia? Sehingga kau bisa memainkan akting sempurna seperti tadi.”

Gigi Edeline menggertak akibat api emosi yang membara. Pria tampan yang di depannya itu sungguh cerdik mempermainkan emosinya. Dia bisa saja meledakkan amarah dan membela diri agar tak terkalahkan dari pria yang berusia jauh dari dirinya.

Akan tetapi, kenyataan di depan mata telah menyadarkan Edeline tak akan bisa menang dari pria itu. Selain itu, wanita yang takut dan tidak percaya diri di sampingnya turut menyadarkan Edeline untuk mengibarkan bendera putih tanda mengalah.

“Enyahlah dari hadapanku! Aku tidak akan memperpanjang masalah ini. Tujuanku datang ke sini untuk tidur dengan nyaman! Jangan ganggu aku!”

Seolah tahu maksud jelas pernyataan pria itu, wanita cantik di samping Edeline seketika pergi tanpa berpamitan. Tidak ada sederet kalimat penjelasan apalagi sepatah kata pamit kepada Edeline.

Dalam sedetik, keheningan menguasai di sekitar Edeline. Gadis cantik itu juga disapa oleh rasa canggung yang tidak nyaman untuk lama-lama diresapi. Namun sekejap kemudian, perasaan itu lenyap oleh suara tenang dari pria itu yang merendahkan keberadaan Edeline.

“Kau tidak ikut dengannya? Atau kau masih mau meneruskan aktingmu?” pria itu memasang senyuman menghina dan menjengkelkan.

Tangan Edeline mengepal kuat menatap tajam pria itu. Dia memalingkan tatapan kesal. Lebih baik memilih mundur dan menjernihkan pikiran dari pria menyebalkan itu.

Sayangnya, keberuntungan belum memihak Edeline. Ketika dia terburu-buru untuk pergi, roda dari koper yang ditariknya menyangkut pada karpet tebal yang menyelimuti lantai koridor kamar. Pun di saat bersamaan langkah Edeline ikut tak terkendali sehingga Edeline jatuh di hadapan pria itu.

Edeline mengeluh kesal di dalam hati. Isi dari tas yang ikut jatuh telah berantakan. Cepat-cepat Edeline mengutip dan memasukkan pernak-pernik isi di dalam tasnya itu. Tetapi, Edeline membeku ketika pria itu dengan lancang mengutip id card milik Edeline.

“Edeline Johnson?” pria itu bersuara tenang, namun tidak menutupi rasa penasaran yang mengundang.

“Kembalikan milikku!” Edeline mendikte tegas sembari berdiri tegak.

“Ah, rupanya kau seorang dokter? Dokter magang di Omega Hospital, huh?” setelah membaca id card itu, ekspresi pria itu menajam seolah menakuti Edeline untuk tidak membantah. “Kau baru datang ke Manchester?” lanjutnya penasaran.

Pria tampan itu menarik ujung bibirnya membentuk seringai tipis, di kala melihat id card milik Edeline. Tatapan mengejek dan mencemooh. Dia sama sekali tak mengira kalau gadis yang ingin menjadi pahlawan merupakan dokter magang di Omega Hospital.

“Bukan urusanmu!” Edeline membentak, pun dia berhasil merampas benda berharga itu dari pria menyebalkan itu.

“Perhatikan tingkahmu. Jangan seperti gadis liar yang tidak tahu aturan.” Pria tampan itu berkata sarkas. “Kau sangat tidak tahu arti sopan santun.”

Edeline melayangkan tatapan bermusuhan yang lantang pada pria itu. Seujung kuku pun nyali Edeline tidak ciut oleh mata tajam pria itu yang berpadu ke matanya. “Lalu bagaimana denganmu? Apa kau memiliki kesopanan setelah merampas dan membaca identitas orang tanpa permisi?”

Bibir pria itu menguraikan senyuman kejam. “Minta maaf padaku!” ucapnya menuntut.

“Harusnya aku yang berkata seperti itu! Kau yang harus minta maaf padaku!” Edeline bersikeras tidak mau disalahkan.

“Minta maaf padaku sekarang atau kau menyesal, Dokter Edeline Johnson!” Nada bicara pria tampan itu menajam, seolah memberikan ancaman yang tak main-main.

Edeline tertegun. Seketika keterkejutan tanpa bisa dikontrol telah merayapi tubuh, merusak kenyamanan di jiwa sampai merasuki pikiran pada senyar ketakutan.

Perubahan emosional itu bukan karena bentakan bengis pria yang egois itu. Melainkan pergelangan tangan kurus Edeline dicengkram kencang—tubuh rampingnya telah dihimpit ke dinding oleh pria yang memiliki tubuh gagah.

“Cepat! Minta maaf padaku,” pria itu berdesis rendah di depan wajah Edeline yang memucat.

“L-le-lepaskan ... lepaskan aku.” Bibir mungil Edeline gemetaran berkata-kata.

Tubuh gadis cantik itu gemetaran diserang situasi dejavu yang menggiring pikiran pada hal-hal menakutkan dan menjijikkan. Keringat dingin telah menetes di balik rambut yang menutupi dahi.

“L-lepaskan aku. A-aku katakan ... lepaskan aku!”

Edeline memberontak sekuat tenaga setelah mengumpulkan keberanian. Tangannya yang satu memukul tangan pria itu—sampai Edeline tidak menyadari kukunya telah melukai sesuatu yang mencoreng kesempurnaan di wajah.

Koper yang tadi terlepas telah dipungut oleh Edeline. Gadis muda itu berlari sambil melirik-lirik ke pintu-pintu kamar. Setelah menemukan kamar tujuannya, Edeline masuk dan menenggelamkan diri di kamar itu tanpa ingin keluar sedetik pun.

Sementara itu, pria kejam yang Edeline tinggalkan masih berdiri tegak sembari melayangkan tatapan tajam ke arah pintu kamar Edeline. Dia mengerang kesal, kemudian jemari kanannya menyentuh sisi wajah yang terluka akibat kekejaman kuku Edeline.

“Sialan!” gumamnya kesal dengan ekspresi penuh dendam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benang yang Tak akan Pernah Putus
9.2
Kaiyo Wrasasana bertekad kuat menghapus keberadaan sang ibu dari hidupnya. Demi memutus ikatan batin tersebut, Yoyo bahkan rela menempuh jalan paling menyakitkan. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, benang takdir yang menghubungkan mereka berdua terlalu kokoh untuk dipatahkan. Tanpa disadari, upaya kerasnya untuk menjauh justru melukai ibunya secara mendalam, sekaligus menggoreskan luka yang jauh lebih perih di dalam hatinya sendiri.
Sampul Novel Bertemu Karena Jodoh
8.2
Kehidupan mewah Nasyira sebagai anak konglomerat seketika sirna saat keluarganya jatuh miskin. Sang papa mengalami kebangkrutan total akibat dikhianati secara kejam oleh adik kandungnya sendiri. Kini, Nasyira harus menerima kenyataan pahit bahwa sosok terdekat dalam keluarganyalah yang telah menghancurkan seluruh harta dan kejayaan mereka tanpa sisa.
Sampul Novel Broken
9.5
Dunia Risa Aulia runtuh saat suaminya, Danuarta Prasetya, berselingkuh dengan Karina Jelita yang merupakan sahabatnya sendiri. Saat duka kehilangan sang ayah belum reda, Risa harus tertatih menyembuhkan luka batinnya seorang diri. Di tengah keterpurukan, kehadiran pemuda blasteran bernama Dio Al Gazali perlahan membawa secercah harapan. Namun, jalan pemulihan Risa terusik ketika Danu tiba-tiba datang lagi untuk memohon kesempatan kedua guna memperbaiki rumah tangga mereka.
Sampul Novel Gadis Ternoda
8.1
Diana dikhianati sahabatnya sendiri hingga terjebak dalam malam kelam bersama pria asing. Peristiwa itu menyisakan kehamilan tak terduga. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali dipertemukan dengan ayah kandung anaknya. Keadaan kian pelik saat Diana mengetahui bahwa pria tersebut kini menjalin kasih dengan sepupunya. Kini, Diana dihadapkan pada pilihan sulit: membongkar rahasia darah daging mereka atau tetap diam demi keutuhan keluarganya.
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Istriku yang Seorang Taipan
9.5
Tiga tahun pernikahan hanya memberi Stephanie sikap dingin dari Erik. Ketika niat buruk suaminya menghancurkan harapannya, ia bangkit hingga menjadi wanita terkaya di dunia. Erik terkejut melihat transformasi sang mantan istri dan mencoba mengejarnya kembali. Namun, bagi Stephanie, pria kini hanyalah penghambat kesuksesan. Erik Palmer yang dulu angkuh kini rela merendahkan diri di depan umum demi membujuk Stephanie agar mau membangun kembali rumah tangga bersamanya.
Sampul Novel Ketika Dendam Berbicara
8.2
Demi menyembuhkan migrain bawaan istrinya setelah tiga tahun menikah, seorang suami berhasil menciptakan obat khusus. Namun, saat mengantarkan obat dan bekal ke kantor sang istri, Nadya, ia justru dituduh sebagai sopir penggoda oleh sekretaris istrinya. Di depan umum, sekretaris itu menumpahkan makanan ke kepalanya, merobek pakaiannya, dan menginjak obat berharga tersebut hingga hancur. Tanpa rasa bersalah, sekretaris itu justru dengan bangga melapor kepada Nadya bahwa dia telah berhasil mengusir sopir yang mencoba menggodanya.