APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Awan Tenang, Angin Membawa Cinta

Awan Tenang, Angin Membawa Cinta

Setelah delapan tahun menjalin hubungan, Wulan mendapati kenyataan pahit saat keluar dari rumah sakit. Jordan, kekasihnya, ternyata telah membohonginya mengenai penyakit maag agar bisa mendonorkan sumsum tulang Wulan secara rahasia kepada Maya, cinta masa kecil Jordan. Alih-alih meluapkan kemarahan atas pengkhianatan kejam ini, Wulan memilih bersikap tenang. Ia segera menghubungi orang tuanya di luar negeri dan menyatakan kesediaannya untuk menikah dengan anggota keluarga Lunarman.
Bab
Bagikan

Bab 7

Keesokan paginya, begitu Wulan membuka mata, ia sudah mendengar tawa manis dari lantai dua.

Ia bangkit dan berjalan keluar kamar, dari kejauhan sudah bisa melihat Jordan sedang mengajari Maya merangkai bunga di aula lantai dua.

Keduanya berdiri sangat dekat, Jordan menjelaskan dengan lembut cara memangkas berbagai jenis bunga.

Melihat pemandangan hangat itu, Wulan mendadak merasa linglung.

Dulu, saat Jordan masih cacat, karena khawatir ia akan bosan, Wulan sempat inisiatif mengajarinya merangkai bunga.

Ingatan pria itu sangat baik. Cukup sekali diajari, langsung bisa.

Sejak itu, dia akan menyuruh asistennya memesan bunga, dan setiap pagi, hal pertama yang dia lakukan setelah bangun tidur adalah merangkai seikat bunga dan meletakkannya di samping ranjang Wulan.

Tapi sejak Maya pulang dari luar negeri, kebiasaan itu tak pernah terjadi lagi.

Bulu mata Wulan sedikit menunduk, menutupi kesepian yang mengambang di matanya.

Ia melangkah turun, berniat sarapan.

Namun baru berjalan beberapa langkah, sebuah vas bunga berat tiba-tiba jatuh menimpanya.

"Buukk!"

Tengkoraknya langsung retak, darah segar mengalir dari kepalanya, rasa sakit yang luar biasa membuat tubuhnya meringkuk di lantai.

Dalam pandangan yang mulai kabur, ia melihat Maya perlahan menuruni tangga dari lantai dua, wajahnya dipenuhi senyum.

“Aduh, Kakak Ipar, aku cuma mau nunjukin bunga yang baru aku rangkai, tapi tanganku nggak sengaja lepas, vasnya malah jatuh ke kepalamu.”

“Gimana, ya? Kepalamu penuh darah, serem banget deh lihatnya. Gimana kalau aku panggil ambulans? Tapi aku takut banget sampai nggak bisa angkat ponsel. Kau nggak marah, kan? Kakak Ipar, tahan sedikit lagi ya…”

Wulan belum sempat mendengar semua kata-kata Maya, sudah lebih dulu pingsan karena kesakitan.

Belakangan, seorang pembantu yang menemukannya. Saking terkejutnya, ia buru-buru membawa Wulan ke rumah sakit.

Saat Wulan sadar kembali, waktu sudah menunjukkan tengah hari.

Kepalanya dijahit hingga tiga puluh jahitan, tampak sangat mengerikan.

Dokter mengatakan ia mengalami gegar otak ringan, disertai kebutaan sementara pada mata kanannya.

Jordan berdiri di samping ranjang, membungkuk dengan wajah khawatir, menanyakan apakah Wulan merasa sakit, lalu dengan penuh perhatian membantunya duduk dan menyuapkan air.

Dari tindakannya, memang terlihat seperti sedang merawat istri yang terluka. Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya, justru memihak Maya.

“Maya sudah sadar salah, dia juga sangat menyesal, barusan hampir pingsan karena terlalu merasa bersalah.”

“Saat pembantu mengantarmu ke rumah sakit, ada wartawan gosip yang memotret. Sekarang mereka semua menunggu kau memberi klarifikasi.”

“Wulan, nanti bilang saja pada publik kalau kamu jatuh sendiri dan kepalamu terbentur. Dengan begitu, Keluarga Hendrawan juga akan berterima kasih padamu. Kau tahu sendiri, Maya itu penyanyi bisu, dan dia pernah menyelamatkan nyawaku waktu itu…”

Wulan membalikkan badan, menarik selimut hingga menutupi kepalanya.

Entah rasa sakit dari luka di kepala, atau dari luka di hati, air matanya mulai mengalir diam-diam di balik selimut.

Ia teringat masa lalu, ketika kesehatannya memburuk dan sering demam ringan tanpa sebab. Saat itu, Jordan sampai menyewa tiga dokter pribadi untuk berjaga selama 24 jam secara bergantian, demi memastikan kondisinya selalu aman.

Dulu, setiap kali Wulan sakit perut saat datang bulan, Jordan akan memanjakannya seharian penuh. Ia tak membiarkan Wulan turun dari ranjang, bahkan makan dan minum pun semua disiapkan.

Tapi kini, lelaki yang berdiri di hadapannya, sudah bukan lagi pria yang dulu.

Jordan menyadari Wulan sedang menangis pelan di ranjang, dadanya ikut terasa sesak. Baru saja ia ingin membujuknya, seorang perawat tiba-tiba masuk dengan panik.

“Tuan Jordan, gadis yang tadi pagi datang bersama Anda tiba-tiba pingsan karena menangis. Anda mau melihatnya sekarang?”

Begitu mendengar bahwa Maya pingsan karena menangis, Jordan langsung mengabaikan Wulan dan buru-buru melangkah keluar menuju lorong.

Tak lama, suasana kamar kembali sunyi.

Hening dan sepi, hanya menyisakan Wulan seorang diri.

Sepuluh menit kemudian, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari akun bernama “Maya Happy”.

[Meski kepalamu dijahit tiga puluh jahitan, dan mata kananmu buta… lalu kenapa? Aku bahkan nggak perlu menangis, dia sudah langsung lari mencariku.]

[Wulan, aku pergi beberapa tahun, lalu kembali dan hanya bilang aku ingin mengandung anaknya, dan dia langsung setuju. Kau pikir, mungkin nggak sih dia nggak mencintaiku?]

Tak lama berselang, Wulan kembali menerima kiriman, kali ini berupa video.

Dalam video itu, Jordan sedang membujuk Maya yang menangis pelan, kedua matanya memerah karena cemas.

“Sayang, jangan salahkan dirimu sendiri. Aku ‘kan sudah bilang, aku akan selalu melindungimu.”

“Wulan cuma luka di kepala, bukan masalah besar. Dia nggak akan bilang ke publik kalau kau yang melempar vas itu. Sekarang kau sedang hamil, fokus jaga kesehatan. Hal-hal sepele begini nggak perlu kamu pikirkan.”

Setelah menonton video itu, jari-jari Wulan menggenggam telapak tangannya erat-erat hingga hampir menancap ke kulit.

Ia memaksakan diri bangkit dari ranjang, lalu pergi meninggalkan rumah sakit seorang diri.

Masih tersisa enam jam sebelum waktu keberangkatannya.

Wulan pergi ke Kuil Sentosa, tempat ia dulu menuliskan harapan dengan tangannya sendiri.

[Ingin menikah dengan Jordan, menjadi istrinya.]

Ia menggunting pita harapan itu dengan tangannya sendiri.

Angin dingin berhembus kencang di halaman kuil.

Dua pita harapan yang dulu ditulis Jordan ikut terbang tertiup angin dan jatuh tepat ke telapak tangan Wulan.

Ia mengambilnya dan melihat sekilas.

Pita pertama bertuliskan:

[Menikahi Wulan sebagai pengantin lima tahun dari sekarang.]

Pita kedua bertuliskan:

[Asal kamu kembali, kapan pun itu, aku akan tetap memilihmu.]

Wulan menatap dua harapan itu, lalu tertawa kecil, penuh ironi.

“Selamat ya, Jordan. Harapanmu tercapai.”

Tak lama, Wulan kembali ke vila.

Ponselnya terus bergetar, penuh dengan pesan-pesan provokatif dari Maya.

Wulan hanya melirik sekilas, lalu duduk di depan meja tulis dan mulai menulis sebuah surat perpisahan.

Di dalamnya, ia juga menyelipkan foto Weldy, sang penyanyi bisu.

Setelah selesai, ia mengambil koper dan turun ke lantai bawah.

Cincin pertunangan yang dulu Jordan berikan saat melamarnya di rumah sakit, ia masukkan ke dalam kotak beludru abu-abu.

Kemudian, ia menyerahkannya pada kepala pelayan.

“Nanti kalau Jordan pulang, tolong berikan ini padanya. Sampaikan juga, ada surat yang aku tinggalkan di atas meja kerja.”

Kepala pelayan melihat dengan jelas bahwa Wulan baru saja melepas cincin pertunangannya.

Ia tampak terkejut, mulai bisa menebak apa yang sedang terjadi.

“Nyonya, Anda ini mau...”

“Terima kasih, Paman Arthur, atas semua bantuanmu selama ini. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu.”

Wulan melambaikan tangan, lalu menarik koper dan naik taksi menuju bandara.

Satu jam kemudian, di gerbang bandara, sahabatnya, Angel Sunarta, memeluk Wulan erat-erat dengan enggan berpisah.

“Wulan, kalau kau udah pergi, jangan pernah kembali lagi.”

“Hiduplah dengan baik di luar negeri. Jangan pernah pedulikan si bajingan Jordan itu seumur hidupmu!”

Mata Wulan memerah. Ia memeluk Angel erat, lalu menatap kota Linkin yang berdiri di kejauhan. Perlahan, dagunya terangkat sedikit, sorot matanya penuh keteguhan.

Selamat tinggal, Linkin.

Dan untukmu, Jordan, biarlah kita tak pernah bertemu lagi.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akhir Cinta yang Getir
9.7
Menunggu selama tiga jam sia-sia, Arissa harus menghadapi kenyataan pahit tentang kekasihnya, Eldino Marven. Pria miliarder itu rupanya berpura-pura lumpuh demi menghindari pernikahan dengan Arissa, yang hanya dianggapnya sebagai pengasuh gratis. Kebohongan Eldino terbongkar lewat video mesra bersama Adena Horian, yang bahkan memakai gaun pengantin rancangan Arissa. Merasa dikhianati setelah melihat kemesraan mereka, Arissa membuang kuenya dan memutuskan menyerah. Ia langsung menghubungi ibunya untuk menerima tawaran kencan buta.
Sampul Novel Balas Dendam Seorang Adik yang Tersakiti
9.2
Terusir dari kos akibat kesulitan finansial, Aura, seorang penyanyi dangdut, menumpang di kediaman kakaknya, Maya. Di sana, ia berhadapan dengan Baskara, sang kakak ipar yang berwatak dingin. Ketertarikan Aura memicu insiden kamar yang melanggar batas moral. Setelah dihina dan direndahkan, Aura tidak tinggal diam. Ia bertekad membalas rasa sakit hatinya serta membuktikan kekuatannya, memicu konflik yang siap mengancam keharmonisan rumah tangga kakaknya.
Sampul Novel Belenggu Mantan
9.6
Nasib Diandra berbalik total setelah dipaksa menikah dengan Dave Airlangga, pewaris tunggal Aerles Corporation. Sayangnya, prahara akibat salah paham fatal merusak pernikahan mereka hingga berujung perceraian. Di antara luka ego dan bayang-bayang masa lalu yang belum usai, mampukah mereka berdua mengatasi keretakan yang ada? Ikuti kisah emosional perjuangan mereka dalam menyatukan kembali puing-puing rumah tangga yang sempat hancur.
Sampul Novel Cinta Datang Terlambat
9.4
Hamil enam bulan tidak membuat seorang istri mendapat perlindungan dari keluarganya. Ketika sang adik mengalami kecelakaan dan membutuhkan transfusi darah mendesak, hanya golongan darahnya yang cocok. Meski lelah akibat mual kehamilan, ia dipaksa mendonorkan darah. Harapan terakhirnya runtuh saat sang suami justru berpaling dan mendukung paksaan tersebut demi masa depan adik iparnya. Kecewa atas pengkhianatan ini, sang istri pingsan pascaoperasi. Begitu tersadar, ia langsung memutuskan untuk mengaborsi kandungannya.
Sampul Novel Jangan Hancurkan Hatiku
8.2
Evelyn Carter awalnya dikagumi karena dinikahi Victor Blake, pewaris Beaumont yang berjanji menjaganya terlepas dari keterbatasan fisiknya. Sialnya, mimpi indah itu sirna ketika Evelyn tahu bahwa cacat di kakinya adalah akibat perbuatan suaminya sendiri. Merasa dikhianati oleh sosok yang paling ia percayai, ia menolak untuk terus terpuruk. Kini, Evelyn bertekad menata ulang hidupnya dan bangkit demi membalaskan semua rasa sakit hati yang telah ia lalui.
Sampul Novel KURELAKAN SUAMIKU
8.5
Kehidupan mapan tak menjamin kebahagiaan Alwi. Di tengah gelimang materi, rasa bosan mulai merayap dan mengancam keutuhan rumah tangganya. Padahal, ia memiliki istri yang sangat rupawan dan seorang putra. Kisah ini mengulas bagaimana kejenuhan menjadi ujian kesetiaan yang berat bagi hubungan mereka. Di era modern ini, Alwi harus menghadapi badai yang mengikis komitmen pernikahannya saat segalanya terasa hambar.