APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Asmara Panas JANDA MUDA

Asmara Panas JANDA MUDA

Saat berlibur di desa sang nenek, Bayu justru terpikat oleh pesona Lina, seorang janda muda yang sangat memikat. Kehadiran Lina membangkitkan gairah besar dalam diri Bayu, meskipun ia sebenarnya sudah mempunyai pacar yang menunggu di kota. Pertemuan ini memicu gejolak batin yang hebat pada diri Bayu. Haruskah ia mempertahankan kesetiaannya, atau justru menyerah pada godaan cinta terlarang yang begitu membara? Ikuti dinamika hubungan mereka yang penuh emosi.
Bab
Bagikan

Bab 1

Namaku Bayu, seorang fotografer lepas yang sedang ingin rehat dari hiruk-pikuk kota. Mumpung ada waktu luang, aku memutuskan pergi ke kampung nenek di lereng gunung. Udara di sini sejuk, pemandangannya indah, dan rasanya tepat untuk menambah koleksi foto-foto pemandangan alamku.

Pada saat tiba di rumah nenek, suasana kampung itu langsung membuatku merasa tenang. Namun, yang menarik perhatianku bukan hanya pemandangan pegunungan atau ladang-ladang hijau yang terhampar luas di depan rumah. Ternyata, di sebelah rumah nenekku, tinggal seorang perempuan yang sulit menggambarkannya. Namanya Lina. Wajahnya cantik, dia sederhana tapi hal itu yang membuatnya sangat menarik.

Setelah bertanya sama nenekku, ternyata Lina adalah seorang janda muda, dan dia punya anak kecil yang usianya mungkin sekitar dua tahun. Aku sempat melihatnya bermain dengan anaknya di halaman depan rumahnya yang sederhana, sambil tersenyum lebar meski dengan wajah letih. Sesuatu dalam dirinya menggugah hatiku. Aku tahu, tak seharusnya aku merasa tertarik seperti ini, mungkin karena dia tampak berbeda dari perempuan-perempuan kota yang biasa kutemui.

Pakaian Lina sederhana Namun, justru di situlah daya tariknya. Bukan kemewahan, melainkan kesederhanaannya yang begitu menggoda. Setiap kali aku melihatnya, rasanya ada dorongan untuk mendekat, untuk mengenal dia lebih dalam. Aku tak tahu pasti kenapa aku merasakan ini. Mungkin karena cara dia tersenyum pada anaknya, mungkin juga karena tatapan matanya yang penuh dengan kehidupan, meski jelas dia memikul beban berat sebagai seorang ibu tunggal.

Secara diam-diam dari jendela rumah nenek, atau pada saat aku berjalan di sekitar kampung untuk mengambil foto. Entah apa yang harus kulakukan. Aku selalu teringat dengan Lina.

Sore itu, aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Matahari sudah mulai turun, meninggalkan warna jingga yang lembut di langit. Aku melihat Lina duduk di depan rumahnya, memangku anak kecilnya yang tertawa riang. Momen itu tampak sempurna di mataku, dan aku tahu ini kesempatan yang tepat.

Aku berjalan mendekat dengan hati berdebar. Saat jarakku sudah cukup dekat, Lina mengangkat kepalanya, menyadari kehadiranku. Senyum lembut tersungging di wajahnya, membuatku merasa sedikit lebih nyaman.

"Selamat sore, Mbak Lina, ya?" Aku membuka percakapan, berusaha menjaga nada suaraku tetap santai.

Lina mengangguk sambil tersenyum.

"Iya, sore juga. Maaf, Mas siapa ya?" tanyanya dengan suara lembut yang membuatku merasa hangat.

"Bayu, Mbak. Aku tinggal di rumah sebelah, rumah nenek," jawabku sambil menunjuk ke arah rumah nenek.

"Kebetulan lagi liburan di sini."

"Oh, cucunya mbah Darti?" Lina tersenyum lebih lebar.

Aku mengangguk, merasa percakapan berjalan lebih lancar dari yang kukira,"Iya, aku baru ke sini lagi, Mbakmu. Lagi cari suasana baru, sekalian hobi fotografi aku bisa tersalurkan di sini"

"Oh, hobi motret? Bagus itu," sahutnya sambil mengelus kepala anaknya yang mulai menguap, tanda kelelahan.

"Di sini banyak pemandangan bagus buat difoto."

"Iya, itu juga yang bikin saya betah di sini." Aku terdiam sebentar, lalu melanjutkan dengan sedikit ragu.

"Kalau Mbak Lina enggak keberatan, suatu waktu mungkin bisa saya fotoin"

Dia tertawa pelan, suara tawanya begitu lembut,"Aku? Aduh, enggak pantas difoto. Sudah ibu-ibu begini"

Aku tersenyum dan menggeleng,"Justru itu, Mbak. Kesederhanaan dan kealamian itu yang paling indah buat difoto. Lagi pula mbak itu cantik kok, natural banget malah"

Dia tampak tersipu, wajahnya sedikit memerah, tapi senyumnya tetap ramah,"Wah, bisa saja Mas Bayu. Tapi, nanti boleh deh, kalau anak saya enggak rewel"

Pembicaraan itu terus mengalir dengan ringan. Lina ternyata orang yang sangat ramah, lembut bicaranya, dan meskipun ada kesedihan di matanya, dia tetap tampak kuat. Anak kecilnya yang duduk di pangkuannya sesekali menarik perhatianku, dan Lina dengan sabar menenangkan anaknya setiap kali dia mulai merengek.

Setelah beberapa saat, aku merasa hubungan kami sedikit lebih dekat. Aku pamit karena hari sudah mulai gelap, dan Lina pun harus masuk untuk menidurkan anaknya.

"Sampai jumpa, Mbak" ucapku sebelum berbalik.

"Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan, ya."

Lina tersenyum lagi, tatapan matanya hangat,"Iya, Mas Bayu. Terima kasih."

Aku berjalan kembali ke rumah nenek dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Entah bagaimana, pertemuan sederhana itu membuatku merasa ada sesuatu yang berubah. Aku ingin mengenal Lina lebih dalam, bukan sekadar perempuan tetangga. Ada sesuatu dalam dirinya yang menarikku, dan aku merasa... aku harus lebih dekat dengannya.

**

Sekitar jam tujuh malam, suasana di kampung semakin tenang. Aku duduk di depan rumah nenekku yang terbuat dari papan kayu, menikmati secangkir kopi hangat sambil menghisap rokok. Malam itu angin berhembus lembut, membawa aroma khas pegunungan yang menenangkan. Langit sudah gelap, tetapi bintang-bintang mulai muncul satu per satu.

Pada saat itu, aku melihat sosok yang sangat aku harapkan. Lina keluar dari rumahnya dengan secangkir teh di tangannya. Senyumnya yang manis memancarkan kehangatan malam yang dingin. Dia tampak anggun dengan pakaian sederhana, rambutnya yang panjang terurai sedikit. Hatiku berdebar, dan aku berusaha menata pikiranku sebelum menyapanya.

"Malam, Mbak Lina!" sapaku, berusaha terdengar santai.

"Malam, Mas Bayu." Lina mendekat, wajahnya cerah diterangi cahaya rembulan.

"Mas lagi ngapain?"

"Ini, lagi menikmati kopi sambil meresapi suasana. Kampung ini benar-benar indah," jawabku, menyilangkan kaki.

Dia tertawa lembut,"Iya, memang enak sekali. Sederhana, tapi damai"

Kami berdua terdiam sejenak, menikmati keheningan malam. Aku melihat dia menyesap tehnya perlahan, lalu terlintas ide di kepalaku.

"Mau bergabung? Bisa kita bicarakan tentang kampung ini atau apa pun yang Mbak suka."

"Boleh juga, ya." Lina tersenyum, lalu duduk di bangku yang ada di sampingku.

"Kampung ini punya banyak cerita loh"

Mendengar itu, semangatku bangkit,"Cerita yang menarik? Aku pasti ingin mendengarnya."

Dia mulai bercerita tentang kehidupannya di kampung, tentang bagaimana dia mengurus anaknya, tantangan yang dihadapi sebagai seorang janda muda, dan segala hal yang menyertainya. Suaranya lembut dan menenangkan, dan aku bisa melihat ketulusan di wajahnya saat dia berbicara.

"Kadang, iya aku merasa kesepian," ucapnya, menatap jauh ke arah bintang-bintang.

"Tapi, anakku menjadi alasan untuk terus berjuang. Dia sumber kebahagiaanku," imbuhnya pelan.

Aku merasakan ada kedalaman dalam setiap kata yang Lina ucapkan.

"Itu sangat luar biasa, Mbak. Tentu bukan hal yang mudah," ucapku, berusaha menunjukkan empati.

"Tapi, sepertinya anak itu sangat beruntung punya ibu sepertimu, Mbak," ucapku sambil menatapnya dalam-dalam.

Dia menatapku dengan mata yang bersinar,"Terima kasih, Mas Bayu"

Percakapan kami mengalir begitu alami, seolah-olah kami sudah saling mengenal lama. Setiap tawa dan cerita dari Lina membuatku semakin tertarik padanya. Rasa ketertarikan itu semakin menguatkan tekadku untuk mengenalnya lebih dalam.

"Bagaimana kalau kita sering berbincang seperti ini? Mungkin aku bisa membantu Mbak Lina dengan fotografi, atau apa pun yang bisa saya lakukan," tawarku, berusaha tidak terdengar terlalu memaksakan.

Lina menatapku, sepertinya merenungkan tawaranku,"Itu ide yang bagus, Mas. Aku suka jika ada teman untuk berbagi cerita"

Malam semakin larut, tetapi kami berdua tetap terbenam dalam obrolan, membangun ikatan yang belum pernah kukira akan terjadi. Perasaan di dalam diriku tumbuh lebih kuat, aku ingin menjadi bagian dari hidupnya, membantu meringankan beban yang dia pikul. Sepertinya, malam ini adalah awal dari sesuatu yang indah.

"Mbak, boleh aku tanya sesuatu?"

"Ya boleh lah, Mas. Tanya aja... Emang mau tanya apaan?" balasnya, terlihat tidak keberatan. Tetapi aku sendiri yang merasa gugup.

**

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Punya Ragamu Tapi Tidak Hatimu
8.4
Silvi dan saudara kembar identiknya, Silva, mencintai pria yang sama bernama Kenzo. Sebelum wafat di usia dua puluh tahun akibat penyakitnya, Silva meminta Silvi untuk menggantikan dirinya menikah dengan Kenzo. Demi rasa cinta yang dipendamnya, Silvi bersedia memenuhi wasiat terakhir tersebut. Namun, kehidupan pernikahan yang dijalani Silvi ternyata penuh liku. Bisakah ia merebut hati Kenzo yang jiwanya masih terbelenggu oleh kenangan mendalam bersama mendiang kakaknya?
Sampul Novel Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich
8.9
Hans, penerus takhta Adalrich yang terlihat sempurna, sebenarnya memendam trauma mendalam terhadap wanita. Untuk menyembunyikan rasa jijiknya, ia selalu berlagak sombong dan dingin. Namun, dinding pertahanannya runtuh sejak berjumpa Sashenka, anak dari musuh bebuyutan bisnisnya. Sosok gadis tersebut rupanya sanggup menyalakan kembali gairah Hans yang telah lama padam. Di tengah sengitnya konflik keluarga, Hans kini harus berjuang keras demi mendapatkan cinta Sashenka.
Sampul Novel Cinta Ellina
9.7
Mimpi Ellina sangat sederhana: ia ingin menikah di hari Valentine dan hidup bahagia selamanya. Namun, keceriaan perempuan ramah ini seketika sirna saat suaminya hanya memberi kebahagiaan palsu. Bayang-bayang cinta pertama sang suami terus mengusik pernikahan mereka, membuat Ellina berada di titik terrapuhnya. Kini, ia dihadapkan pada ketidakpastian. Akankah sang suami kembali ke masa lalu, ataukah impian indah Ellina akan terwujud?
Sampul Novel Fantasi Tukar Pasangan Ranjang
9.2
Kehidupan pernikahan Maya-Adrian serta Sinta-Rizky yang terlihat ideal ternyata terasa hampa. Guna mengatasi kejenuhan tersebut, mereka nekat melakukan kesepakatan ekstrem untuk bertukar pasangan. Walau diliputi rasa canggung dan cemas di awal, keputusan ini justru menyingkap hasrat tersembunyi mereka. Melewati badai konflik dan kecemburuan, keempatnya dipaksa menghadapi realitas serta memulihkan luka masa lalu demi membangun kembali fondasi cinta yang lebih kokoh.
Sampul Novel Mantan Istri Saya Seorang Konglomerat?
8.3
Tiga tahun mengabdi dihina, Loraine akhirnya menceraikan Marco demi mengklaim warisan triliunan miliknya. Publik yang sempat mencemooh terbungkam saat tahu Loraine adalah miliarder termuda. Kini, ketika melihat mantan istrinya didekati banyak pria tampan, Marco menyesal dan mengemis rujuk demi aliansi bisnis. Namun, rasa cinta Loraine telah sirna, menyisakan tatapan jijik untuk sang mantan suami.
Sampul Novel Menjadi Istri Pengganti Untuk Suami Kakakku
9.3
Pernikahan Calista dan Fadli terancam kehilangan warisan dari Papa Zahid karena belum memiliki anak setelah sepuluh tahun. Di tengah desakan waktu untuk mendapat keturunan, Calista mengajukan rencana nekat agar Fadli menghamili adik kandungnya, Jihan. Walau Fadli sangat marah, Calista tetap berniat membeli rahim adiknya yang sedang kesulitan keuangan. Akankah Jihan bersedia menerima bayaran itu dan menjadi istri pengganti?