APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Arti Dalam Pernikahan

Arti Dalam Pernikahan

Haura menolak keras dijodohkan dengan Rainer karena ingin menjaga cintanya pada Ali. Penolakan ini memicu kemarahan Rainer. Terbakar cemburu dan rasa dikhianati, Rainer menyebarkan video asusila demi menghancurkan nama baik Haura serta merusak hubungannya dengan Ali. Di tengah badai skandal yang mengancam masa depannya, keteguhan hati Haura benar-benar diuji dalam menghadapi niat jahat tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 3

Rasa sakit itu perlahan merayap ke dalam hati lantaran Haura lebih mencintai Ali dari pada dirinya.

Hal itu membuatnya semakin menumbuhkan rasa benci yang kian menguasai dalam jiwa.

Berkat kekuasaannya bisa memiliki koneks yang kuat bisa membuat hidup seseorang lebih muram.

Rainer telah melakukan sesuatu hingga membuat Ali berakhir dengan pemecatan kerja.

Tentu saja Rainer memiliki tujuan tertentu dalam membuat keputusan itu.

Karena hal itu agar Ali tidak sering bertemu lagi dengan gadis impian.

Ia terlalu lengah untuk menjaga gadis pujaannya. Ia pikir, tidak akan ada seorang pun yang menyukai Haura karena wajah gadis itu memakai cadar. Namun, anggapannya ternyata keliru.

Sudah sejak lama ia mencium gelagat aneh dari keduanya yang mencurigakan.

Keduanya sangat dekat satu sama lain layaknya sebuah perangko.

Seperti memiliki hubungan lebih dari sekedar rekan kerja.

Rainer tidak terima dengan kedekatan mereka yang dinilai terlalu berlebihan.

Ia merasa cemburu ...

Untuk memberikan pelajarannya, Rainer sudah meminta pada setiap perusahaan untuk tidak menerima lamaran kerja Ali.

Biarlah lelaki itu menikmati hidup tanpa pekerjaan dan uang.

Itulah akibatnya jika berani macam-macam pada seorang Rainer!

"Bagaimana perasaanmu melihat Ali yang kamu cintai kehidupannya sekarang sedang melarat?"

Haura menggelengkan kepala seraya terisak. "Kenapa kamu tega melakukan ini, Rai? ucapnya dengan suara sengau.

"Kalau saja waktu itu kamu menerimaku, mungkin kehidupan Ali tidak akan seperti sekarang,"

"Tapi sekarang aku menerimamu, jadi aku mohon hentikkan semua ini?!"

Jari telunjuk milik Rainer mengacung seraya berputar tepat di depan bola mata Haura, "No, No, No, tidak semudah itu,"

"Ali tidak pernah melakukan kesalahan sama kamu, kenapa kamu membawanya ke dalam masalah kita? Ini tentang kita,"

"Yeahhh .. kamu benar, ini tentang kita antara aku," menunjuk dadanya sendiri, "kau .. " menunjuk dada milik Haura, "dan dia!" ucap Rainer dengan jari telunjuk mengarah ke samping.

"Dia datang sebagai penghancur! Dia ... Dia telah mengambil kamu dariku, aku tidak terima! Perubahan sikapmu Membuatku malu di depan semua orang. Jadi biarlah ini pelajaran untuknya agar tidak berani macam-macam lagi denganku,"

"Kamu bukan siapa-siapa aku, tapi kamu selalu saja mengaturku, menuntutku! kamu tahu, aku tidak suka itu!"

"Dari dulu juga kamu enggak suka, kan, sama aku? Aku dari dulu sudah bersikap baik sama kamu, memberikan barang mewah, apapun yang keluargamu mau aku selalu kasih, tapi malah ini balasan yang aku dapatin dari kamu,"

Bola mata yang sudah berair itu menatap Rainer lekat-lekat, "Aku tidak pernah meminta apapun dari kamu, kamunya aja yang ngasih sendiri tanpa aku minta, jadi gak usah ngasih lagi kalau ujungnya diungkit lagi!"

Kedua tangan Rainer meremas bahunya Haura. Membuat gadis itu terperanjat.

Tegang, dan panik. Itu yang gadis itu tengah rasakan.

"Katakan, apa alasan kamu tidak menyukaiku? Aku memiliki wajah tampan, bisnisku sudah sukses, punya rumah yang besar, juga mobil mewah, aku bingung dengan seleramu disaat perempuan lain berlomba-lomba untuk mendapatkanku. Tapi sayangnya aku lebih memilih kamu. Sedangkan Ali? Bahkan pria itu tidak memiliki apa-apa. Dan aku yakin, masa depannya tidak akan menjamin bisa membahagiakanmu!" Rainer melepaskan cengkraman dari bahu milik Haura.

Haura menutup kedua telinganya beriringan bola matanya tertutup.

Gadis itu seakan tidak kuat untuk mendengarkannya, "Cukup!"

Haura tidak tahan mendengarkan tentang nasib kehidupan Ali yang dibuat hancur oleh Rainer.

Rainer mengatupkan bibirnya dengan rapat.

Perlahan kelompak mata basah itu terbuka, dan semakin berembun. "Tolong, hentikan, Rai. Aku mohon ... " pinta Haura dengan nada getir.

***

"Ali, kamu enggak kerja, Nak?" tanya wanita paruh baya yang bermana Lela.

Dia adalah Ibu kandung Ali yang tengah berjuang melawan penyakit misterius yang di deritanya selama ini.

Penyakit yang menggerogoti tubuhnya, membuatnya terus berbaring tak berdaya.

Sudah lama ia harus menanggung penyakitnya. Membuat segala aktivitasnya sangat terbatas.

Ali sudah berusaha membawanya ke beberapa Dokter. Namun, penyakitnya memang tidak terdeteksi. Sehingga ia hanya bisa memberikan resep obat dari Dokter untuk mengurangi rasa sakitnya.

Semenjak Ibunya sakit, Ali yang harus menjadi tulang punggung untuk membiayai pengobatan sang Ibu, juga biaya tanggungan sekolah adiknya yang bernama Mira.

Ia telah bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik buat ke depannya. Impiannya melihat sang Ibu bisa tersenyum kembali dengan bahagia, dan bukan ringkihan yang harus ia lihat seperti sekarang. Ia tidak sanggup.

Rasanya tidak sanggup melihat Ibunya kesakitan karena penyakit misterius yang terus menggerogotinya.

Harapqnnya, Ia menginginkan Ibu sehat seperti semula dengan wajah berserinya. Ia merindukan itu.

Ali menghapus air matanya yang sudah menggenang di dalam kelompak mata.

Apa yang harus ia katakan?

Sekarang, ia tidak bisa lagi untuk bekerja di toko busana muslim. Ia telah di pecat satu bulan yang lalu, dan tanpa alasan yang jelas. Membuatnya jadi pengangguran yang tak berkesudahan.

Sudah bersusah payah mencari pekerjaan ke sana ke mari. Tapi, tidak ada hasilnya.

Tampaknya semua perusahaan menolak lamaran kerja dengan alasan sedang tidak membutuhkannya.

Entah, apa yang terjadi dengannya? Padahal ia sangat pintar dan memiliki skill pengalaman di bidang manapun. Bahkan ia pernah terpakai dan selalu dipercayai oleh para Boss perusahaan sebelumnya.

Namun, kini hidupnya semakin menyusahkan dan menyedihkan!

Mira, adiknya terpaksa harus berhenti sekolah karena masalah biaya yang menunggak selama beberapa bulan.

Ali benar-benar sedih dengan kehidupan yang sekarang seperti apa.

Serba kekurangan.

Untuk makan saja harus minjam pada para tetangga.

Nasib yang sungguh memilukan.

Bahkan orang yang sangat ia cintai kini telah berpindah hati pada pria lain.

Ia mencintai Haura, gadis bercadar yang mempunyai sikap lembut dan murah hati. Sudah sejak lama ia mengaguminya.

Rasanya ingin untuk memiliki dan segera untuk menghalalkannya di umur yang sudah sama-sama berusia Dua puluh Tahun.

Keduanya cukup dewasa dan sangat cocok untuk berlanjut ke jenjang yang lebih serius.

Namun, ia seolah dibuat ragu pada kenyataannya. Ia merasa belum mampu untuk berpikir sampai ke situ.

Masih banyak tanggungan mengurus Ibu dan adik perempuannya untuk segala biaya kebutuhan sehari-hari.

Mengetahui Rainer juga mencintai Haura, Ali pikir, mereka memang terlihat cocok.

Haura pantas untuk bersamanya mengingat sosok Rainer adalah orang yang terpandang.

Dan ia memilih mundur dari kehidupan Haura.

Demi Rainer, ia harus mengubur rasa cinta yang sudah tumbuh di dalam hatinya untuk Haura.

Walau bagaimana pun, wanitanya harus bahagia.

Ia pun akan ikut bahagia.

Meski kenyataannya dibalik sikap tenang, ada rasa putus asa dan sempat menyalahkan takdir atas nasibnya yang pilu dan menyedihkan.

"Kenapa menangis, Nak?" Tanya Lela sembari mengusap Air matanya Ali, anak sulungnya.

Rasa sakit yang di deritanya membuat segala energi dalam tubuh sudah terkuras habis. Wajah Lela kian kusut dan lemah. Ia hanya bisa terduduk di pembaringan seraya menatap sang anak dengan penuh linangan air mata.

Tapi, Lela sangat hebat bisa bertahan sejauh ini dalam melawan penyakit. Ini semata demi kedua anaknya.

Hatinya belum siap untuk meninggalkan kedua anak kesayangan.

Jika ia pergi, ia tidak akan sanggup membayangkan bagaimana kedua anaknya hidup tanpa dirinya? Itu sangat mengkhawatirkannya.

Terlebih Ayah mereka yang lebih dulu pergi karena sebuah kecelakaan. Membuat Lela semakin ingin untuk menjaga Ali dan Mira untuk tetap hidup.

"Ceritalah sama Ibu, Nak? Apa yang terjadi sama kamu?"

Ali menggelengkan kepalanya. Bibirnya tersungging lebar dengan matanya yang semakin berkilau. "Tidak Ibu, tenang saja. Aku sedang libur kerja. Akan aku hubungin Boss lagi untuk mempertanyakan kapan aku mulai masuk lagi,"

Harus kah ia berbohong untuk alasan agar sang Ibu tidak mengkhawatirkannya?

Rasanya Ali tidak tahan .. Berkali-kali air matanya terjatuh membasahi pipi.

Tapi Ali cukup pintar berbohong bahwa air matanya jatuh karena terharu.

Terharu karena masih bisa bersama sang Ibu. Ia tengah berusaha keras untuk kesembuhan sang Ibu agar dirinya tetap hidup.

"Semoga saja ini benar ya, Nak. Kamu tidak sedang membohongi Ibu,"

DEG!

Bibirnya bergetar seiring hatinya kian rapuh. Ia segera memeluk tubuh Ibunya yang sudah terlihat kurus kering. "Bu, Ali hanya ingin kesembuhan Ibu. Aku sedang berusaha. Jadi aku mohon, Ibu jangan banyak berpikiran yang tidak-tidak. Ibu lihat, kan, aku masih mampu membelikan Obat untuk Ibu, biar Ibu segera sembuh. Jadi patuhi semua atas saran Dokter agar bisa pulih secepatnya,"

Lela tidak tahu bahwa uang yang dimiliki Ali untuk berobatnya adalah hasil dari meminjam pada orang lain.

Ia juga tidak tahu bahwa Mira, putrinya sudah putus sekolah karena masalah biaya yang sudah menunggak.

Ali sengaja meminta kepada Mira untuk tidak memberitahunya pada Ibu mereka soal ini.

Walau bagaimana pun, Ali tidak ingin sampai Ibunya banyak pikiran.

Ibunya sudah sangat lemah.

Biarlah ia pikul sendiri segala tanggung jawab dan berperan seperti tidak terjadi apa-apa.

Rasanya tidak tega melepar beban berat pada Ibunya pasti akan semakin parah.

Ali tidak ingin hal itu sampai terjadi.

"Bang?"

Ali menoleh pada Mira yang baru saja datang sembari memanggil. "Iya, Mir, kenapa?"

Lela pun memperhatikan kedatangan Mira.

"Ada tamu di tengah rumah,"

Kedua alis milik Ali tertaut. "Siapa?"

"Kak Sera. Teman kerja Abang di toko busana muslim,"

Ali melirik ke arah Lela. "Bu, aku tinggal dulu sebentar, ya. Ada yang ingin kami bicarakan. Lebih baik Ibu istirahat. Nanti Siang Ibu harus makan obat lagi sesuai anjuran Dokter,"

Lela mengangguk senyum. Ia mengubah posisinya jadi berbaring dengan dibantu oleh Ali juga Sera.

Dalam hati, Lela merasa ini terlalu merepotkan kedua anaknya. Ia sangat mengharapkan dirinya agar segera sembuh, dan bisa kembali melakukan aktivitasnya. Ia tidak pernah berhenti untuk berdoa.

Ali menutupi tubuh wanita paruh baya itu dengan selimut tebal. Lalu, ia mencium pipi sang Ibu sebagai tanda bakti.

"Mir, tolong jaga Ibu, Abang mau nemuin Sera," pinta Ali pada Mira.

Mira mengangguk senyum. "Iya, Bang. Jangan khawatirkan soal Ibu. Aku akan menjaganya. Lebih baik abang temui saja Kak Sera. Sudah sedari tadi dia menunggu di ruang tamu,"

Ali mengacak-acak pucuk rambut kepala Mira seraya terkekeh walaupun bola matanya tampak berembun.

Terkadang ia sering jail kepada adiknya. Suka banget kalau mancing keributan dengan sang adik dan berakhir dirinya dimarahi sang Ibu. Terlepas dari itu, Ali sangat menyayangi Mira sebagai adik satu-satunya.

Apapun keinginan sang adik selalu ia penuhi.

Tapi untuk sekarang, tidak ada lagi yang harus ia lakukan untuk adiknya. Impian sang adik terpaksa harus terkubur. Ia merasa sedih karena hal ini.

Ali sedih karena merasa belum menjadi Abang terbaik untuk sang adik.

Maafkan Abang ya adikku, Abang belum bisa mewujudkan segala impian untuk masa depanmu ...

Tapi jangan khawatir, Abang akan selalu berusaha dengan cara apapun. Abang ini pantang sekali untuk menyerah ...

Semua yang Abang lakukan untukmu, juga untuk Ibu kita ...

Abang harap, kalian bisa sabar menunggu sesuatu yang indah ...

Kita harus yakin akan keajaiban ini dari Tuhan kita ...

Bersambung ...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dikira Pelayan Miris, Ternyata Pewaris
9.2
Kehidupan Danny Laksana runtuh usai dikhianati sang kekasih dan kehilangan orang tua dalam sebuah tragedi tragis. Di tengah kepedihan, ia mendapati kenyataan bahwa dirinya adalah pewaris tunggal dinasti bisnis terkaya. Demi membalas dendam pada mantan pacarnya serta membongkar misteri kematian orang tuanya, Danny memilih menikah. Tanpa ia sadari, dalang kejahatan yang selama ini ia incar ternyata berada sangat dekat di lingkaran terdekatnya.
Sampul Novel Kisah Cinta sang Kurir
8.0
Menjadi kurir pesan antar membawa protagonis pada situasi tidak terduga saat ia mengirimkan pesanan dari toko mainan dewasa. Di lokasi pengantaran, ia mendapati seorang wanita cantik tanpa busana tengah berlutut di ranjang dengan pakaian dalam minim. Keadaan kian mengejutkan ketika sebuah pesan masuk di aplikasi pengirimannya. Sang pemesan menawarkan bonus sebesar 200 juta rupiah jika ia bersedia mengeluarkan mainan elektrik tersebut untuk membuat wanita itu merasa nyaman.
Sampul Novel Koleksi Kisah Nakal (21+)
9.2
Menyajikan dinamika hubungan modern, antologi romansa dewasa ini mengungkap berbagai rahasia tak terduga dalam setiap pertemuan. Pembaca akan diajak menelusuri liku gairah serta emosi mendalam lewat momen-momen intim yang penuh kejutan di tiap babak. Di sini, situasi biasa dapat berubah menjadi peristiwa menggoda yang sangat berkesan bagi para tokohnya. Kisah-kisah ini mengeksplorasi hasrat yang tak terbayangkan sebelumnya.
Sampul Novel Mantan yang Tak Terlupakan
8.9
Di hari jadi ketujuh, Divya mendapati kenyataan pahit lewat media sosial Liam. Suaminya ternyata masih mencintai sang mantan, Destinee. Ukiran di cincin kawin mereka, bahkan tanggal pernikahan yang dipilih, semuanya didedikasikan Liam untuk wanita tersebut. Menghadapi sikap acuh tak acuh Liam saat rahasia ini terbongkar, Divya mengambil keputusan besar. Dengan kepala dingin, ia memilih untuk mengakhiri hubungan pernikahan mereka dan menuntut perceraian.
Sampul Novel Penipuan Bayi Miliaran Suamiku
9.2
Lima belas tahun aku merelakan mimpi menjadi ibu demi cinta dan kutukan keluarga suamiku. Namun, demi melahirkan pewaris bisnis sesuai tuntutan kakeknya, dia menyewa ibu pengganti yang mirip denganku. Janji bahwa ini hanyalah prosedur medis biasa hancur saat dia mulai tidur dengannya dan mengabaikanku. Pernikahan kami pun runtuh ketika dia melupakan momen penting kami demi perempuan asing itu.
Sampul Novel Satu-PD184
8.9
Niat baikku mengantar Lee ke Thailand demi cinta pertamanya justru dibalas dengan pengkhianatan kejam. Malam itu juga, ia menculik kedua orang tuaku sebagai sandera untuk memeras informasi tentang keberadaan wanita tersebut. Lewat layar monitor, aku dipaksa menyaksikan ayah dan ibuku tergantung terbalik dari sebuah pesawat. Saat perintah diberikan, sebutir peluru ditembakkan ke tali pengikat yang mulai rapuh. Kini, nyawa mereka benar-benar berada di ambang kematian.