
Apakah Ini Cinta?
Bab 4
Demi anak dalam kandunganku, aku mau tak mau harus menunduk pada Tamara dan memohon, “Kak, ini benar-benar anak Tristan. Aku mohon ampunilah dia ....”
Ini adalah pertama kalinya aku memanggil Tamara dengan sebutan kakak sejak menikah. Namun, aku melakukan hal ini malah demi memohonnya untuk mengampuni keponakannya sendiri.
Tamara menjawab dengan ekspresi tidak sudi, “Jangan panggil aku kakak! Tristan begitu baik padamu, tapi kamu malah berselingkuh dan mengandung anak pria lain!”
Aku menggeleng. “Aku nggak selingkuh. Foto-foto itu hasil editan!”
Tamara langsung meludahiku. “Jangan bohongi aku! Felicia yang kirimkan foto-foto itu padaku! Mana mungkin itu palsu!”
Felicia adalah sahabat Tamara, juga teman masa kecil Tristan. Sebelum Tristan bertemu denganku, dia adalah satu-satunya wanita yang setidaknya diperlakukan dengan cukup baik oleh Tristan. Namun, setelah dia menyiramku dengan anggur merah, Tristan pun sepenuhnya mengabaikannya.
“Felicia sengaja mengedit foto-foto itu pasti untuk balas dendam sama aku ....”
Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Tamara menendangku lagi. “Dasar wanita jalang! Sudah khianati adikku, kamu masih berani fitnah sahabatku!”
Setelah itu, dia lanjut menendangku sambil berseru, “Sejak kamu nikah sama Tristan, Tristan cuma peduli sama kamu. Dia bahkan nggak peduli sama kakak kandungnya lagi!”
Aku meringkuk dan memeluk perutku dengan erat untuk melindungi anakku. Aku sama sekali tidak peduli pada makiannya.
Kemudian, dia memberi perintah pada teman-temannya, “Tarik tangan wanita jalang ini! Jangan biarkan dia lindungi anak haram itu!”
Dalam seketika, ada 4 orang yang menghampiriku, lalu menarik tanganku secara paksa. Aku tidak berhenti menangis dan memohon pada mereka, “Jangan ... jangan ....”
Tamara hanya tersenyum sinis, lalu menggunakan kekuatan penuh untuk menendang perutku.
“Ah!” Aku pun berteriak kesakitan.
Namun, dia tidak berhenti menendangku. Tubuhku terasa sakit sampai mati rasa, tetapi aku bisa merasakan ada cairan yang mengalir dari bawah tubuhku.
Semua orang di sekitar pun berseru, “Darah! Dia sudah alami pendarahan ....”
Darah dalam jumlah yang banyak langsung menodai gaun putihku. Aku bisa merasakan anakku perlahan-lahan meninggalkanku.
Setelah melihat aku mengalami pendarahan, mereka akhirnya melepaskanku. Aku memegang perutku dengan susah payah sambil menangis.
‘Nak, maaf, Ibu nggak bisa lindungi kamu. Jangan salahkan Ibu, ya.”
Kemudian, aku memelototi sekelompok wanita itu dengan penuh kebencian. Tampang kejam mereka sudah sepenuhnya terpatri dalam benakku. Aku berkata sambil menggertakkan gigiku, “Tamara, aku pasti akan buat kamu tanggung konsekuensi berat!”
“Sekarang, kamu seharusnya pikir mau gimana jelaskan hal ini ke adikku. Kamu sudah berselingkuh dan mengandung anak pria lain!”
Tamara mengayunkan ponselnya yang menunjukkan bahwa dia sedang menelepon suamiku. Namun, yang terdengar hanyalah suara operator.
Setelah mengusir Tamara sekeluarga, Tristan langsung memblokir nomor telepon mereka semua. Tamara pun merasa malu, lalu menendangku lagi. “Ini semua gara-gara kamu!”
Tepat pada saat ini, sebuah mobil hitam yang mewah berhenti di depan vila. Begitu pintu mobil dibuka, terlihat Tristan turun dari tempat duduk belakang.
Tamara buru-buru menghampirinya. “Tristan, akhirnya kamu pulang juga!”
Seiring dengan Tamara yang menyingkir ke samping, Tristan langsung melihat aku yang tergeletak di lantai. Kedua pipiku sudah bengkak dan merah, sedangkan bagian bawah tubuhku berlumuran darah.
Pada detik selanjutnya, dia langsung mendorong Tamara dan berlari ke arahku. Berhubung terlalu panik, dia hampir terjatuh. Dia memelukku dengan kedua tangan yang gemetar dan berkata, “Yuna, ka ... kamu kenapa?”
Anda Mungkin Juga Suka





