
Apakah Ini Cinta?
Bab 2
Rasa posesif yang dimiliki Tristan sudah mencapai tingkat psikopat. Dia bahkan menyuruhku memakai gelang pelacak yang hanya bisa dibuka olehnya. Di bawah pengawasannya, tidak ada seorang pun lawan jenis yang ada di sisiku.
Sekarang, Tamara malah menuduhku berselingkuh dengan pria lain? Apa aku memiliki kemampuan seperti itu? Awalnya, aku mengira Tamara akan takut setelah aku mengingatkannya mengenai alasan dia diusir dari rumah. Tak disangka, dia malah menamparku lagi.
“Mau berdalih lagi? Dengan kemampuan aktingmu ini, kamu sudah bisa jadi bintang film! Hari ini, aku pukul kamu karena sudah punya bukti kamu selingkuh!”
Seusai berbicara, Tamara mengeluarkan sebuah folder yang berisi setumpuk foto, lalu melemparkannya ke arahku. Itu adalah foto pria dan wanita yang berpakaian terbuka sambil berpelukan, berciuman, dan melakukan hal-hal lain yang memalukan. Hal yang paling mencengangkan adalah, wajah wanita di foto itu sama persis dengan tampangku.
Teman-teman Tamara menatapku dengan penuh peremehan.
“Dasar nggak tahu malu! Bisa-bisanya kamu selingkuh sama begitu banyak pria yang berbeda! Kamu nggak takut kena penyakit menular seksual!”
“Dia itu pada dasarnya memang orang rendahan yang miskin. Meski sudah nikah sama orang kaya, sifat aslinya ya tetap nggak berubah.”
“Tampangnya saja yang kelihatan polos! Ternyata, dia segatel itu!”
Makian sekelompok wanita ini sudah sepenuhnya membuatku marah. Sejak kecil, aku tidak pernah menerima penghinaan seperti ini.
Foto-foto ini terlihat jelas adalah hasil editan. Namun, mereka masih menganggapnya sebagai bukti. Aku tahu aku tidak bisa menyadarkan sekelompok wanita yang memang sengaja datang mencari masalah ini, juga malas berdalih lagi.
Aku langsung mengeluarkan ponselku untuk menelepon Tristan. Ini adalah kakaknya, aku mau dia pulang dan menangani hal ini sendiri. Namun, Tamara malah langsung merebut ponselku dan melemparkannya ke arah teman-temannya. Kemudian, ada seseorang yang langsung menyimpan ponselku ke dalam tasnya.
Aku merasa sangat terkejut atas sikap mereka yang semena-mena ini.
“Tamara, tindakanmu hari ini sudah melanggar hukum. Kuperingati kamu untuk yang terakhir kalinya, cepat pergi dari sini!”
Salah satu teman Tamara memaki, “Ini pertama kalinya aku ketemu sama orang yang begitu nggak tahu malu setelah ketahuan selingkuh! Tamara, kamu harus kasih pelajaran sama wanita jalang ini! Biar dia tahu siapa sebenarnya pemimpin Keluarga Lukita!”
Tamara langsung terprovokasi dan menarik kalung berlian yang kupakai sampai putus.
“Sekarang, kamu bisa hidup enak berkat Keluarga Lukita! Kalau bukan karena adikku menyukaimu, kamu mungkin masih jualan di area kumuh! Apa hakmu mengusirku!”
Kalung itu adalah kalung yang dibeli Tristan untuk menyenangkanku dari acara lelang dengan menghabiskan sejumlah uang yang besar. Tindakan Tamara ini langsung membuat sekelompok wanita itu bersorak.
Aku menatap sekelompok wanita gila itu dengan dingin.
Salah satu wanita itu menepuk bahu Tamara dan berkata, “Tamara, lihat! Wanita jalang ini lagi pelototi kamu! Kayaknya, dia masih nggak mau tunduk. Menurutku, dia baru bisa jera kalau dikasih sedikit pelajaran.”
Setelah mendengar ucapan itu, Tamara menoleh ke arahku. Kemudian, dia berjalan ke arahku dengan tatapan kejam.
Jumlah mereka banyak, sedangkan aku hanya sendiri. Aku tahu aku tidak akan mampu melawan mereka. Jadi, aku buru-buru berlari ke luar. Namun, Tamara malah langsung menjambak rambutku. Selanjutnya, lututku tiba-tiba terasa sakit. Aku pun berseru kesakitan dan langsung berlutut di lantai.
Anda Mungkin Juga Suka





