APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Dua Pilihan

Antara Dua Pilihan

Bagi Sabrina, jodoh sepenuhnya misteri Ilahi. Ia selalu konsisten mendoakan satu pria yang diimpikan jadi suaminya. Sayang, impian itu runtuh ketika sang ayah tiba-tiba menjodohkannya dengan Agam, sosok asing yang tak pernah ia ketahui. Kini, setelah terikat pernikahan yang dingin tanpa rasa cinta, Sabrina dihadapkan pada pilihan sulit. Mampukah ia melupakan sosok di masa lalunya dan belajar menerima serta mencintai Agam seutuhnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Allah memang akan mengabulkan doa hamba-Nya. Pertanyaannya, cepat atau lambat doa itu akan terkabul?"

🍁🍁🍁

Assalamualaikum, Zaky.

Sedang apa kamu sekarang?

Apakah saat ini kau tengah memikirkanku, seperti aku memikirkanmu?

Bagaimana dengan perasaanmu?

Apakah sama dengan perasaanku?

Aku jadi teringat ceramah Bu Indana waktu kita masih duduk di bangku SMA dulu, ceramah mengenai soal jodoh.

"Ketika ada seorang laki-laki yang menyatakan cintanya pada wanita. Bukankah wanita itu cenderung menerimanya? Walaupun pada awalnya wanita itu tidak mencintai lelaki tersebut, namun setelah mendengar pernyataan cinta dari lelaki itu, dia jadi terbawa suasana, hingga akhirnya jatuh cinta pada lelaki tersebut. Ya. Itu memang wajar, karena pada dasarnya wanita itu sifatnya memang suka bila dicintai."

Aku melirik Zaky yang ternyata juga tengah melirikku. Buru-buru aku memalingkan wajah. Walau sahabat, tapi kami juga harus membatasi pergaulan kami. Menjaga pandangan kami.

"Ibuk dulu punya temen yang sudah berdoa tentang jodohnya sejak SMA. Bukan karena dia ingin segera menikah. Tapi karena dia tahu, bahwa Allah akan mengabulkan doa-doa hambanya cepat maupun lambat. Nah, kita kan tidak tahu, kapan Allah akan mengabulkan doa kita. Iya kalau cepet, kalau lama? Kalau kita berdoa tentang jodoh kita di usia 23 tahun, dan ternyata Allah mengabulkan doanya setelah 10 tahun bagaimana? Keburu tua dong? Maka dari itu, dia mulai berdoa akan jodohnya sejak SMA. Agar kelak, dia tidak perlu menunggu lama lagi supaya jodohnya segera datang."

Sejak mendengar nasehat dari Bu Indana, aku memberanikan diri untuk berdoa tentang jodohku. Ya. Berdoa tentangmu. Itulah pertama kalinya aku menyebut namamu di dalam doaku Zaky.

Tiba-tiba ponsel yang ada dalam genggaman tanganku bergetar. Menyadarkanku dari lamunan.

Ku lihat di layar ponsel, ternyata ummi yang menelepon. Aku pun segera mengangkatnya.

Sabrina : Assalamualaikum ummi

Ummi : Waalaikumsalam nak

Sabrina : Ada apa ummi? Kenapa menelepon?

Ummi : Kamu bisa pulang ke rumah sekarang gak?

Sabrina : Bisa ummi, insyaallah. Ini Sabrina baru aja mau keluar dari kampus. Memangnya ada apa ummi?

Ummi : Ada hal penting yang ingin abah dan ummi sampaikan padamu

Sabrina : Baiklah ummi Sabrina akan segera pulang.

Ummi : Ya sudah, ummi tunggu ya? Assalamualaikum

Sabrina : Iya ummi, waalaikumsalam

Aku menutup sambungan telepon. Lantas kembali melangkahkan kakiku menyusuri lorong-lorong kampus.

"Astaghfirullah" pekiku saat kepalaku menubruk sesuatu tanpa sengaja. Tadi aku terlalu terburu-buru, hingga saat di tikungan lorong tak sengaja menabrak sesuatu. Eh, tunggu. Itu bukan sesuatu, tapi seseorang.

Mataku membulat sempurna saat mengetahui objek yang baru saja ku tabrak adalah dosen baru itu. Ya. Pak Agam.

"Maaf pak, saya tidak sengaja." ucapku pelan seraya menundukkan kepalaku semakin dalam. Berharap dia tidak mengenaliku.

"Iya, tidak apa-apa. Lain kali hati-hati." jawabnya lembut.

Nah, kan? Dia bicara lembut? Bisa-bisanya Arini bilang bahwa Pak Agam dingin sama cewek. Memang gosip murahan.

"Sore pak Agam." sapa salah seorang mahasiswi yang kebetulan lewat.

"Sore." Pak Agam menjawab. Namun kali ini nada bicaranya terdengar berbeda. Tidak lembut seperti tadi, terkesan.....sedikit cuek?

Entahlah itu benar atau hanya pikiranku saja yang mulai melantur.

"Ehm, pak. Saya duluan ya?" pamitku berniat ingin pergi.

Tanpa menunggu jawaban darinya, aku segera berjalan menuju gerbang keluar kampus. Namun baru beberapa langkah berjalan, aku terpaksa berhenti karena mendengar ucapannya.

"Mau kemana?"

Aku menggigit bibir bawahku menahan kegelisahan.

Aduh, jangan-jangan dia ingin menghukumku karena kejadian di bus tadi pagi.

Habislah........Habislah.........

"Mau.....pulang pak" jawabku ragu-ragu.

Ku lihat Pak Agam melangkah mendekatiku, membuatku semakin gugup saja.

"Ehm, Pak. Maaf kalau waktu di bus tadi pagi, saya bersikap tidak sopan pada bapak." kataku sedikit terbata.

Tanpa diduga-duga, Pak Agam malah tersenyum.

"Tidak usah dipikirkan."

Lagi-lagi dia menjawab lembut. Tapi tetap saja aku gugup.

"Kamu mau pulang? Mau saya antar?" tawar Pak Agam.

Hah? Apa dia bilang tadi? Mengantar? Memangnya dia tidak ada kerjaan lain apa!

"Mohon maaf pak, bukannya saya menolak. Tapi, bukankah tidak baik jika seorang lelaki dan perempuan hanya berdua saja?" ragu-ragu aku memberi alasan.

"Saya juga, tidak enak dengan mahasiswi lainnya pak. Nanti malah timbul fitnah. Takutnya mereka mengira kita ada hubungan lagi." lanjutku.

"Hem"

Jawaban apa itu?

"Ya, aku akan segera menghalalkanmu agar tidak timbul fitnah." gumamnya pelan.

Apa katanya? Menghalalkanku? Gila apa! Kita baru sehari ini bertemu, tapi dia sudah berkata ingin menghalalkanku? Dasar buaya! Seperti ini kok dibilang religius!

"Ya sudah kalau begitu, saya duluan." pamitnya.

Apa-apaan ini? Belum sempat aku bertanya, tapi dia sudah pergi begitu saja?

**********

Aku memasuki pekarangan rumahku dengan langkah santai. Ku lihat di halaman rumah ada sebuah mobil berwarna putih.

Mengapa mobil ini ada disini? Mobil Abah kan warnanya hitam. Jadi, ini mobil siapa dong? Jangan-jangan ada tamu lagi, makanya ummi tadi menyuruhku untuk pulang.

Benar saja apa yang ku duga tadi. Rupanya memang ada tamu.

"Assalamualaikum" ucapku memberi salam.

"Waalaikumsalam" Abah dan ummi menoleh menatapku lantas tersenyum.

"Ini dia orangnya." ucap ummi. Dia memberi kode padaku untuk mendekat.

Aku pun menurutinya. Saat sudah dekat, barulah aku sadar siapa tamu itu. Tante Citra dan Om Adi. Tumben sekali mereka datang bertamu, ada apa ya?

Loh, ada Pak Agam juga? Mengapa dia disini? Apa yang sedang dilakukannya?

Ahhh, aku terlalu pusing untuk menebak-nebak.

"Sabrina, Abah mau bicara" ucap Abah terdengar lembut.

"Iya Abah" balasku lantas duduk disampingnya.

"Sabrina, Abah kan udah tua, udah lama sakit-sakitan." kata Abah mengawali pembicaraan. Aku hanya diam mendengarkan.

"Tugas abah kini adalah mencarikan jodoh yang baik untukmu. Abah ingin menjalankan tugas terakhir seorang ayah. Abah ingin melihat kamu menikah." lanjut Abah. Aku meneguk salivaku susah payah. Perasaanku mulai tidak enak sekarang.

"Nak Agam ini anaknya Tante Citra. Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya di Mesir. Abah yakin, Agam adalah laki-laki yang baik. Abah juga yakin, dia dapat menjadi imam yang baik untukmu."

Aku bahkan tidak tahu jika Tante Citra dan Om Adi mempunyai anak laki-laki. Setahuku mereka malah tidak memiliki anak, mengingat bahwa selama ini Tante Citra dan Om Adi tinggal berdua saja.

Ahhh, sungguh begitu sempit pemikiranku ini.

Tapi tunggu, Abah bilang apa tadi? Menikah? Imam yang baik untukku? Jadi pembicaraan ini membahas tentang perjodohan antara diriku dengan Pak Agam? Aku? Dengan Pak Agam? Bagaimana mungkin?

'Ya, aku akan segera menghalalkanmu agar tidak timbul fitnah.'

Jadi ini, maksud dari perkataanya di kampus tadi?

**********

Instagram : @iney_calysta

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO LEBAY
8.3
Richard tewas usai kalah memperebutkan Claudia. Di akhirat, protesnya atas nasib buruk berbuah kesempatan hidup kedua dari Tuhan. Ia pun bangkit berkat doa tulus seorang gadis, lengkap dengan ingatan masa lalu yang luar biasa. Kini, Richard menguasai banyak bahasa, seni, serta lokasi harta karun. Sembari mengejar Claudia dengan kekayaan barunya, ia mulai bimbang apakah obsesi itu benar atau justru ada cinta lain yang jauh lebih tulus untuknya.
Sampul Novel Cinta Sejatimu Kembali
8.7
Pernikahan empat tahun dan kehadiran buah hati tak mampu membuat Lina memiliki hati Rian sepenuhnya. Sang suami masih dibayangi kenangan masa lalu yang belum usai. Luka hati Lina kian mendalam ketika cinta pertama Rian tiba-tiba hadir kembali. Sadar bahwa ketulusannya selama ini tidak pernah berbalas cinta, Lina kini harus mengambil keputusan tersulit. Ia dihadapkan pada pilihan pahit untuk merelakan Rian pergi demi mengejar kebahagiaannya sendiri.
Sampul Novel Cinta yang Telah Kandas
9.4
Pernikahan lima tahun hancur saat Nathan memaksa istrinya menggugurkan kandungan demi melindungi anak dari wanita simpanannya, Lucia. Tak cukup sampai di situ, Nathan bersekongkol dengan dewan direksi untuk mencopot sang istri dari jabatan wakil direktur agar bisa digantikan oleh Lucia. Namun, sang istri tidak tinggal diam menerima penindasan ini. Dengan penuh keberanian, dia melakukan perlawanan fisik dan konfrontasi langsung untuk membongkar kebenaran di balik pengkhianatan mereka.
Sampul Novel Dear Clarissa
7.9
Dua tahun Clarissa bertahan di kerasnya dunia malam Jakarta demi menjaga dirinya. Namun, ketenangannya terusik oleh Arga, pelanggan tetap yang sangat terobsesi padanya. Meski Clarissa benci pria dan terus menghindar, kuasa Arga membuatnya tak berkutik. Di sisi lain, perjuangan Arga meluluhkan Clarissa terhalang penolakan keras saudaranya yang memicu konflik besar. Akankah Clarissa akhirnya takluk pada pria yang kini terus membayangi hidupnya itu?
Sampul Novel Harga yang Harus Dibayar : Sugar Baby
8.0
Arina adalah gadis pintar nan ambisius yang hidupnya berubah drastis setelah berurusan dengan Alvaro. Pria awal 40-an tersebut merupakan bos mafia yang memimpin jaringan bisnis ilegal raksasa di kota. Terobsesi untuk memiliki Arina sepenuhnya, Alvaro tanpa ragu mengerahkan segala kekayaan dan pengaruh kekuasaannya. Kini, Arina terjebak dalam dunia gelap, diperlakukan layaknya permata berharga oleh sang penguasa yang dominan tersebut.
Sampul Novel Istri Tawanan Tuan Muda
8.4
Miliarder angkuh bernama Evan Halbert bertekad membalas dendam kepada Sonny Wilson yang telah mengkhianati ayahnya. Untuk melancarkan aksinya, Evan menikahi Caitlyn Wilson, putri musuhnya, lalu menyekap dan memperlakukannya dengan sangat kejam. Namun, di tengah kobaran amarahnya, benih-benih cinta justru tumbuh di hati Evan untuk Caitlyn. Kini ia didera kebimbangan besar, apakah rasa cinta itu sanggup meluluhkan dendam masa lalu yang membara?